Sosok yang dikenal legendaris di Jawa Timur ini meninggal dunia pada masa penjajahan Jepang tahun 1943. Ia menggelorakan semangat juang Nasionalisme melalui Loedroek Organisatie, sebuah badan di bawah organisasi Partai Indonesia Raya (PARINDO) di bawah pimpinan Dr. Soetomo di Surabaya.

Menghidupkan Sosok yang Mati

Sosok yang dikenal legendaris di Jawa Timur ini meninggal dunia pada masa penjajahan Jepang tahun 1943. Ia menggelorakan semangat juang Nasionalisme melalui Loedroek Organisatie, sebuah badan di bawah organisasi Partai Indonesia Raya (PARINDO) di bawah pimpinan Dr. Soetomo di Surabaya.

gayatrimedia.co.id

Melalui kesenian ludruk, sebuah drama tradisional Jombang, Cak Durasim mengekspresikan perlawanan dan pergerakannya. Ia membuat sebuah parikan (sajak) yang terkenal: pagupon omahe doro, melu Nippon tambah sengsoro. 

Menelisik perjuangan ini kemudian, Pemerintah Kota Surabaya menetapkan Cak Durasim sebagai Pahlawan Budaya yang diabadikan dengan pendirian Taman Budaya Cak Durasim.

Cak Durasim memang memiliki akar budaya masyarakat Jombangan. Ia dilahirkan di Desa Kaliwungu, timur stasiun keretaapi Kota Jombang.

Masyarakat Jombang memiliki tipikal unik yang spontan. Hal ini dapat dilihat dari bahasa yang tidak memiliki struktur sebagaimana bahasa Jawa Mataraman.

Adapun kesenian ludruk yang hidup di masyarakat Jombang adalah kesenian drama spontan sebagai ekspresi kondisi masyarakat setempat. Ludruk adalah budaya Jawa pada umumnya yang sudah sejak lama ada. Ludruk adalah sama halnya dengan ndagel atau melawak. Ludruk merupakan ekspresi spontan (lerok) yang menjadi kebiasaan sehari-hari.

Ekspresi spontan tersebut mengalami strukturalisasi menjadi episode drama empat babak ketika kesenian drama Belanda (tonil) mulai dikenal masyarakat. Ludruk yang bersifat terbuka pada unsur-unsur baru menerima tonil sebagai bentuk baku ludruk. Adapun drama empat babak tersebut terdiri dari: tari remo, kidungan, lawak, dan cerita.

Kesenian ludruk yang bersifat spontan (bisa tanpa panggung) tersebut bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu desa ke desa yang lain. Yang kemudian dikenal dengan ludruk gedongan.

Ludruk gedongan biasanya digerakkan oleh sekolompok seniman ludruk yang meninggalkan rumah secara nomaden.

Sejalan waktu, ludruk pun mengenal panggung dan dipanggil masyarakat sebagai hiburan. Sehingga kemudian ludruk model inipun dikenal sebagai ludruk tanggapan (performance). 

Kota Surabaya sebagai panggung sejarah nasional yang menghimpun segenap ragam budaya Nusantara turut berperan dalam memperkenalkan ludruk model tanggapan ini. Ludruk yang semula menjadi model hidup berpindah menjadi model yang memiliki tempat dan waktu yang tetap.

Model-model cerita yang diangkat ke dalam ludruk bervariasi bentuknya. Bisa cerita sakral seperti Besudan atau cerita kepahlawanan seperti Cak Syarif atau Untung Surapati.

Demikian, melalui ekspresi kesenian ludruk, Cak Durasim menyampaikan pesan kepada masyarakatnya saat itu yang mengakibatkan Pemerintah Jepang menangkapnya.

Ada beberapa versi yang menyebutkan tentang kematian Cak Durasim. Ia terbunuh di atas panggung setelah disamurai oleh tentara Jepang di atas panggung. Ia mati tertembak di Pasar Peterongan ketika sedang pentas. Dan, ada yang mengatakan ia meninggal dunia setelah disiksa di penjara Jepang.

Dalam bentuk apapun kematian Cak Durasim, ia adalah salah satu pahlawan yang menyuarakan kemerdekaan tanah air Indonesia.

Ngawi, 15 Juli 2018.

==========================

Penulis: M. Sakdillah (author, director, culture activities)

Categories: Film

1 Comment

ADEL · Sab 8 Desember 2018 at 23:51

nice post, good

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *