31-40

sempat berbaring, namun serangan yang jauh lebih kuat justru terjadi di pintu gerbang itu. Di mana para prajurit semula berada, maka di tempatnya itu pula ia berbaring.

Serangan rasa kantuk yang sangat dahsyat itu ternyata tidak terlawan oleh siapa pun dan apa pun. Di seluruh sudut kota, tak seorang pun yang sadar, semua tertidur lelap, dengan demikian tak seorang pun yang menyadari apa yang telah terjadi.

Lalu bagaimana dengan di lingkungan istana?

Satu-satunya orang yang sama sekali tak terpengaruh oleh sergapan kantuk itu hanyalah Rajapadni. Biksuni Rajapadni Gayatri justru terbuka matanya ketika kekuatan sirep menyebar di segala penjuru. Akan tetapi perempuan berderajad pendeta Budda itu menganggap apa pun yang terjadi itu tidaklah penting. Itu sebabnya Biksuni Gayatri memilih melanjutkan kembali taba bratanya. Wajahnya yang sejuk menyatu dengan kepalanya yang gundul terlihat tenang dan damai, bahkan lintang alihan jatuh di depannya sekali pun tidak mengusik samadinya. Air telaga di depannya terlihat tenang dengan ratusan ekor taranggana yang menyala terang.

Kunang-kunang itu hinggap di sekujur tubuhnya, merambati kepala gundulnya namun sama sekali tidak membuatnya merasa risih.

Seluruh kerabat istana, tidak ada yang terjaga. Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardani tak mampu melawan sergapan rasa kantuk itu, pun demikian pula dengan suaminya. Di istana yang lain, Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa juga lelap di pelukan suaminya.

Di wisma kepatihan, bahkan Gajah Mada yang memiliki kemampuan oleh kanuragan yang tidak ada pesaingnya, laki-laki berbadan gempal itu juga tertidur.

Beberapa waktu sebelumnya Sang mahamantrimukya Rakrian Mapatih Gajah Mada masih terjaga. Lelaki perkasa mantan pimpinan tertinggi pasukan Bhayangkara itu masih melek dan berniat tidur menjelang pagi. Namun Gajah Mada yang segagah itu tergelimpang juga. Sebelum kesadarannya hilang terampas tidak jelas entah oleh siapa, Gajah Mada sempat mengayunkan langkah kakinya menuju ke pembaringan.

Demikianlah keadaan saat benda tak dikenal berukuran lebih kecil dari taranggana akan tetapi bercahaya lebih terang yang jumlahnya ribuan itu melayang tegak lurus di atas, bahkan tegak lurus di atas tubuh Raden Tetep yang tidur lelap, meringkuk dengan damai.

Cahaya berpendar yang semula melayang-layang itu kemudian turun dan merapat, lalu menggumpal seukuran kelapa, perlahan ia turun seolah ada keraguan. Turun semakin rendah dan semakin rendah, yang tidak seorang pun yang tahu. Cahaya itu menembus atap bangunan kesatrian, lalu melayang di atas tubuh yang terbujur damai.

Cahaya hinggap di keningnya, dan kemudian menghilang.

Hayam Wuruk terbangun.

Ia kebingungan, namun merasa tak jelas bingung masalah apa.

Hayam Wuruk bangkit dari tidurnya, ketika kemudian ia membuka pintu, ia terheran-heran karena melihat pada prajurit bergelimpangan. Hayam Wuruk mengernyit karena sama-sekali tak kunjung paham. Remaja itu melintas ke halaman, mestinya ia mendapati dua orang prajurit yang sedang bertugas menjaga pintu istana kesatrian, namun prajurit itu tidak berada di tempat.

Hayam Wuruk semakin kebingungan mendapati keadaan yang sama di mana-mana.

Anak lelaki pertama buah perkawinan Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardani dengan Penguasa Singasari itu terheran-heran mendapati kenyataan itu. Bahwa ada yang terasa aneh, ia meyakininya ketika langkah kakinya di Tatag Rambat Bale Manguntur mendapati seluruh prajurit bergelimpangan seolah mati.

Oleh rasa penasarannya, Hayam Wuruk meraba tubuh mereka, namun semua sungguh-sungguh kehilangan kesadaran.

Berlarian Hayam Wuruk mendatangi para tubuh bergelimpangan kehilangan kesadaran. Hayam Wuruk berusaha membangunkannya, namun tidak ada gunanya.

Sebuah gagasan tiba-tiba mletik di benaknya, ia berlari menuju ke sebuah kentongan menggantung di sudut lapangan. Dengan sekuat tenaga, ia pun mengayunkan alat pemukul dan menghajar kentongan itu dengan sekuat tenaga.

Remaja itu menghajar dengan keras kentongan yang menggantung, yang menyebabkan terdengarnya suara amat keras.

Akan tetapi kekuatan sirep itu demikian kuatnya meringkus semua otak dengan sangat kuat, menyebabkan tak seorang pun yang terbangun. Cemas menghadapi keadaan itu, remaja itu berlari menuju ke istana kediaman ibunya. Dengan takjub yang bergerak menuju ke takut, Hayam Wuruk juga mendapati para prajurit bergelimpangan di pintu istana, juga di sudut-sudut-sudut pendapa.

Hayam Wuruk memasuki bilik kedua orang tuanya yang tidak terkunci, bergegaslah ia menyentuh tubuh ibunya lalu mengguncangnya dengan sangat kuat. Ia tak terkejut mendapati ibunya sama seperti orang-orang yang lain yang berubah seperti mati. Sekuat tenaga remaja itu berusaha menyadarkan ibunya, namun upayanya itu tidak ada manfaatnya. Merasa sia-sia, ia beralih ke ayahnya.

Namun keadaan ayahnya ternyata sama dengan keadaan ibunya.

Setelah merasa usahanya sia-sia, Hayam Wuruk keluar ruangan dan bertanya-tanya di dalam hati. Ia masih belum bisa memahami keadaan aneh yang terjadi. Ia mulai terganggu oleh pertanyaan, bagaimana kalau semua orang itu tak bisa bangun untuk selamanya?

Pikiran bocah remaja berwajah tampan itu mletik.

Ia berlari ke patirtan buatan di belakang Tatag Rambat Bale Manguntur di mana di sana ada ratusan ekor kunang-kunang sedang beterbangan.

Dengan langkah hati-hati Raden Tetep mendatangi eyang putri yang amat dihormatinya yang sedang duduk semadi dalam sikap darmacakramudra. Sejak dari kejauhan Raden Tetep berjalan jongkok, cara berjalan yang diajarkan ibunya ketika menghadap eyang putrinya yang telah menyerahkan sisa hidupnya pada Swang Budda.

Raden Tetep menduga, Eyang putri yang sangat dihormatinya itu juga berkeadaan sama seperti yang lain.

Namun dugaannya salah.

“Kau tidak ikut terlibas rasa kantuk, Hayam Wuruk?”

Hayam Wuruk kaget.

Semula ia menduga dirinya yang akan berbicara lebih dulu, ternyata ia salah.

“Bakti hamba, Eyang Putri,” kata Hayam Wuruk,

Kedamaian menguar dari tubuh neneknya, menularinya untuk tak perlu khawatir. Anak Tribuanatunggadewi menyembah.

“Mendekatlah kemari,” kata Gayatri.

Hayam Wuruk mendekat lebih dekat lagi. Dengan lembut neneknya membusai pipinya, menggerayangi wajahnya. Perempuan yang semula memejamkan matanya itu memperhatikan cucunya dengan mata gemerlap.

“Anugerah Widdi telah melekat padamu rupanya,” kata perempuan ningrat itu.

 

9.

Prapanca turun dari kuda tunggangan yang entah milik siapakah itu sejak dari gerbang Purawaktra dan langsung mendapati kejanggalan ketika mendapati semua orang tertidur. Tak ada seorang pun yang dalam keadaan siaga, semua lelap. Sia-sia upayanya membangunkan, diguncang dengan cara macam apa pun ntak ada gunanya.

Prapanca merasa yakin, semua itu pasti ada hubungannya dengan temuan aneh yang ia lihat sebelumnya. Prapanca mengedarkan pandangan matanya berusaha mencari-cari, namun tidak ada apa pun yang mencuri perhatiannya, jejak aneh cahaya yang jatuh dari langit itu tak ada jejaknya, murca entah ke mana.

Prapanca kebingungan, Prapanca tidak habis pikir. Bergegas pimpinan pemeluk agama Budda itu mendatangi Tatag Rambat Bale Manguntur yang ternyata menemukan kenyataan yang sama, tak seorang pun yang dalam keadaan sadar seolah tak ubahnya semua mati.

“Jagad Dewa Batara, apa yang terjadi ini.”

Mengulang apa yang sebelumnya dilakukan Hayam Wuruk, Prapanca bergegas meraih alat pemukul kentongan dan dengan sekuat tenaga ia mengayunkan alat pemukul itu ke tubuh kentongan yang menggantung. Seketika koyak kedamaian malam saat itu oleh suara yang tiba-tiba bergetar.

Namun meski diayunkan sekuat apa pun, sama sekali tidak ada pengaruhnya.

Prapanca kemudian menyerah dan memilih menempatkan diri menunggu.

 

10.

Prapanca mencatat dan mencatat.

Kejadian semalam, sangat memberangus ketenangan hatinya, namun ternyata ia harus melihat kenyataan bahwa kejadian semalam itu hanya untuk dirinya, hanya ia yang tahu, atau tepatnya rahasia aneh itu bagaikana dititipkan hanya kepadanya. Prapanca merasa, harus ada orang yang diajaknya berbincang berbagi beban, orang itu adea, hanya Gajah Mada.

Pagi yang datang, serasa tak terjadi apa-apa. Semula dengan sangat kuat, kekuatan sirep itu memberangus semua otak, namun kemudian perginya dengan lembut bahkan amat lembut malah. Para prajurit tak ada yang merasa curiga di antara sesama mereka karena bangun tidur yang terjadi berlangsung bersamaan.

Pun demikian pula dengan Gajah Mada di wisma kepatihan, di menjelang terang tanah, patih hamangkubumi itu sudah bangun dari tidurnya dan siap-siap melaksanakan tugasnya. Ia ada banyak rencana yang harus dikerjakan dengan sangat tidak sabar, ia ingin memiliki bala pasukan berkekuatan besar dengan tidak sabar, ia juga ingin lapangan Bubad yang sangat luas itu segera selesai dengan tidak sabar.

Pada suatu ketika kelak, di ujung mimpi yang dibangun bergegas itu akan didirikannya sebuah negara besar dan berwibawa. Negara yang memiliki bala tentara besar, yang bisa ia gunakan untuk memaksa para negara di sekitarnya untuk bersatu padu dalam sebuah ikatan, ikatan itu adalah gula kelapa. Gula berwarna merah, kelapa berwarna putih. Di bawah panji-panji bendera merah putih nantinya Nusantara akan bisa disatukan. Hanya dengan cara itulah kekuatan serakah yang pernah datang dari utara itu harus dihadang jangan sampai terulang lagi.

Gajah Mada membersihkan diri di pakiwan (pakiwan, kata ini telah digunakan, akan tetapi masih sering ditemukan penggunakanya di wilayah Yogyakarta, kamar mandi), bagai tak sabar ia ingin segera berada di Bubad dan bersama dengan seluruh relawan membangun alun-alun itu agar segera bisa digunakan.

Seorang abdi kepatihan telah bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan.

Pernah mengumandangkan sumpah palapa, bukan berarti menghindari jenis makanan tertentu, seperti misalnya tidak makan daging. Amukti palapa yang berarti menjalankan laku prihatin, mempunyai makna akan bekerja bersungguh-sungguh, bukan berarti menghindari jenis makanan tertentu. Sebab bagaimana pun ia bekerja keras dalam keadaan lapar. Untuk bisa membawa Majapahit menjadi sebuah negara yang besar, hanya apabila memiliki temaga dan kekuatan laksana hesti (hesti, Jawa, gajah). Sangat tak mungkin memimpikan Majapahit yang besar dalam keadaan kelaparanh.

Semua harus makan. Untuk bisa makan maka kebutuhan pokok harus tersedia dalam jumlah melimpah. Itu sebabnya bidang pertanian digenjot habis-habisan. Selain jenis tanaman yang lain, para petani juga diminta untuk menanam padi dan diwajibkan memiliki lumbung-lumbung sebagai tempat untuk menyimpan beras atau ketika masih berwujud gabah. Rakyat juga diminta beternak berbagai macam hewan, itu sebabnya sapi tersedia dalam jumlah yang melimpah, kerbau juga dalam jumlah melimpah. Pun demikian pula dengan jenis ternak yang lain.

Di bawah kendali sang prabu putri Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardani, Majapahit menjilma menjadi negara yang makmur. Rakyat hidup berkecukupan, dengan lumbung bahan makanan dibangun di mana-mana.

Dengan dukungan kekayaan yang melimpah macam itulah, Mahapatih Gajah Mada pun mulai membangun bala tentaranya. Bahwa Trowulan, tempat di mana ibu kota Majapahit itu berada berada jauh dari pantai, telah dibangun sebuah kolam raksasa yang digunakan berlatih para prajurit. Selanjutnya dengan dibangunnya sebuah lapangan sangat luas, dengan panjang satu krosa dan lebar satu krosa, di tempat itulah nantinya sebuah pasukan berkekuatan segelar sepapan dibangun, yang akan digunakan menghadapi musuh yang akan datang dari utara, dan sekaligus pasukan itu bisa digunakan memaksa negara negara di sekitarnya untuk bergabung menjadi satu menjadi sebuah kesatuan besar.

Gajah Mada berencana, nantinya akan mendatangi negara-negara tetangga itu untuk tak merasa ragu bergabung.

“Jika menolak, apaboleh buat harus dipaksa,” demikian kata Gajah Mada suatu hari, ia ucapkan itu dalam sesorahnya di Tatag Rambat Bale Manguntur.

Langit timur mulai bercahaya.

Gajah Mada terkejut ketika sepagi itu, sudah ada orang yang menghadangnya di pintu kepatihan. Dari pakaian yang dikenakannya Gajah Mada mengenalinya sebagai Prapanca. Ia segera menyimpulkan, kedatangan Prapanca sepagi itu pasti membawa sebuah berita yang amat penting.

Gajah Mada mempersilahkan naik ke pendapa dan duduk berhadapan.

“Pasti ada sesuatu yang sangat penting,” Gajah Mada membuka percakapan.

Nadendra menyempatkan menelusuri seluruh sudut pendapa dari sudut memutar, lalu kembali ke arah awal. Prapanca mengarahkan pandang matanya ke wajah tuan rumah.

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat, silahkan menyampaikan apa keperluan Bante (bante, panggilan untuk pendeta Budda) sepagi ini menemui saya,” kata Gajah Mada lugas.

Prapanca masih mendahulukan batuknya, “Tengah malam tadi, terjadi peristiwa yang luar biasa. Sulit dipahami.”

Gajah Mada menunggu dan merasa jengkel karena Prapanca tidak kunjung berbicara ke warta yang dibawanya.

Prapanca melanjutkan.

“Saya sedang meraut bilah bambu untuk menulis, saat tiba-tiba ada yang meminta saya menemuinya menggunakan caranya yang aneh. Dua ekor kunang-kunang membimbing saya untuk mengikuti gerak terbangnya. Saya ikuti kunang-kunang itu yang ternyata membimbing langkah kaki saya menuju seekor kuda yang entah milik siapa yang kemudian membawa saya menuju ke timur melintasi gapura Waringin Lawang, setelah perjalanan setengah krosa, saua ternyata berada pada jarak yang amat dekat dengan bintang jatuh.”

Cerita itu ternyata sangat menarik dan menyita perhatian Gajah Mada.

Dengan ringkas namun jelas, Prapanca menceritakan pengalamannya.

Gajah Mada tersita perhatiannya.

“Antar saya ke sana sekarang juga,” kata Gajah Mada.

Gajah Mada ternyata amat tertarik pada kisah aneh itu, ia mengeluarkan dua ekor kuda yang salah satu diserahkannya pada Prapanca. Dalam berkuda, Prapanca terpaksa harus ikut berderap kencang karena Gajah Mada memacu kudanya seperti sedang mengejar penjahat. Di dalam hati Prapanca mengeluh karena tidak lincah dan terlatih dalam berkuda.

Akhirnya, sampailah keduanya di tempat tujuan, ketika langit timur terbakar membara.

“Itu jejaknya,” kata Prapanca.

Gajah Mada manggut-manggut. Ia memperhatikan dengan penuh minat. Rasa tertarik Patih Hamangkubumi itu amat besar bila berhubungan dengan kekuatan dari langit. Dari atas pula ia pernah bermimpi mendapatkan kekuatan yang apabila ia pukulkan ke laut, maka asat laut itu, dan apabila ia gunakan menghantam gunung, maka akan runtuh gunung itu.

Kini ia saksikan sendiri menurut penuturan Prapanca, kekuatan dahsyat dari langit te;ah turun dan sebagaimana ia melihat, kekuatan itu telah turun ke istana. Entah menyatu dengan tubuh entah siapa.

Gajah Mada meminta Prapanca mengulang ceritanya.

“Benda bercahaya itu berasal dari mana?” ia bertanya.

“Sana.”

“Bagaimana dengan cahayanya?”

“Sangat terang, seperti surya berukuran kecil.”

Gajah Mada manggut-manggut dan mengelus elus janggutnya yang tak berambut.

“Lalu?”

“Sebagaimana kau lihat, benda itu jatuh dan berhenti di tempat itu. Menimbulkan asap yang mendesis.”

Dengan melihat langsung ke tempat kejadian itu, Prapanca mengulang kembali cerita dan pengalamannya. Dengan penuh minat Gajah Mada mencoba menarik kesimpulan yang paling sesuai dan masuk akal. Gajah Mada turun dari kudanya lalu mendekati tempat di mana bongkahan benda pijar dari langit itu berhenti. Jejak kedukan tanah yang memanjang itu benar-benar memberikan gambaran, apa yang akan terjadi jika benda itu menerjang rumah para penduduk.

Tak ada bongkahan benda apa pun di bekas kedukan besar itu. Gajah Mada masih tak berbicara apa pun ketika akhirnya kembali mendekati kudanya.

“Pulang?”

“Ya,” jawabnya.

Tanpa banyak berbicara Mahamantrimukya Gajah Mada melompat ke atas punggung kudanya yang kemudian disusul Prapanca, keduanya kemudian berderap kembali balik arah. Di sepanjang perjalanannya, Prapanca melihat seolah tidak pernah terjadi apa-apa, kegiatan apa pun berlangsung wajar tidak terpengaruh kejadian semalam.

Tiba-tiba Gajah Mada membalap.

Teriaknya, “Saya akan langsung ke Bubat, silahkan bawa kudanya atau dikembalikan ke kepatihan.”

Saat Prapanca mengira, jatuhnya lintang alihan itu merupakan peristiwa penting, namun kejadian apa pun itu, ternyata bukanlah jenis cerita yang penting bagi Gajah Mada. Orang itu terlalu bernafsu untuk mewujudkan sumpahnya.

Bagi Gajah Mada, waktu sungguh sangat berharga.

 

11.

Tiada senyum sejuk sesejuk senyum Rajapadni.

Senyum itu mengembang ketika pagi itu menerima kedatangan pemikul tandunya yang kali ini datang tak sendiri, namun membawa calon istrinya yang cantik jelita. Sungguh itulah keadaan yang janggal bukan kepalang. Lelakinya buruknya bukan kepalang sebaliknya sang wanita cantiknya bukan kepalang.

Rajapadni Gayatri masih dalam sikap semadinya, senyumnya mengembang di keadaan macam apa pun. Gembira tersenyum, sedih pun tersenyum. Bagi Gayatri yang melepaskan diri dari ikatan duniawi, juga ikatan perasaan, tak lagi ada duka, tidak ada gembira, Gayatri telah jauh meninggalkan segala hal yang bersifat duniawi. Karena memang demikian hakikat terputusnya mata rantai segala hal yang bersifat duniawi, hakikat terputusnya karma.

“Hamba menghadap Tuan Putri,” kata pemikul tandunya sambil memberikan hormat.

Gayatri membalasnya dengan senyum.

Atmajantara mengulangi sembahnya.

“Bagaimana kabarmu Atmajantara?” tanya Biksuni Gayatri.

“Hamba Tuan Putri, hamba tak kurang suatu apa.”

“Dan siapakah perempuan yang kau hadapkan pada saya?”

“Sebagaimana permintaan Tuan Putri.”

“Ooo, calon istrimu?”

“Hamba Tuan Putri. Namanya kiranaratih .”

Gayatri memberikan senyumnya yang paling tulus. Perempuan itu tersenyum saat mana memperhatikan raut wajah Kiranaratih yang benar-benar memiliki wajah cantik jelita, itulah wajah yang ia melihat seperti lapisan klobot. Klobot adalah kulit jagung, yang saat dikelupas ternyata masih menyembunyikan klobot lagi, yang ketika dikelupas masih menyembunyikan wajah yang lain lagi.

Namun apa yang ia lihat itu sama sekali tak mengubah cara Gayatri memandang, yang tetap sejuk penuh kedamaian.

“Apa pekerjaanmu?” tanya Gayatri.

Kiranaratih menyembah amat penuh penghayatan. Gayatri menerima penghormatan itu dengab senyum dan anggukan.

Gayatri bertanya, “Siapakah nama kamu? Nyai?”

Kiranaratih menunduk penuh dengan rasa hormat. Sikap perbuatannya menunjukkan ia pesinden yang tahu tata krama, tahu bagaimana cara bersikap saat berada di istana. Melihat sikap pesinden cantik itu, Gayatri amat berkenan.

“Nama Hamba Kiranaratih , Tuan Putri,” jawabnya.

Gayatri mengembalikan arah pandangnya ke raut muka pemikul tandunya.

“Kau beruntung Atmajantara, karena calon istrimu cantik jelita.”

“Hamba Tuan Putri,” jawab Atmajantara, “mohon Tuan Putri Rajapadni berkenan memberi nasihat dan arahan dalam kami akan menjalani rumah tangga.”

Gayatri mengangguk.

Gayatri yang semula duduk dalam sikap darmacakramudra bermaksud mengakhiri tapa brata yang dilakukannya. Perempuan berjubah kuning itu memberi isyarat pada sang pemikul tandunya untuk berdiri, Dengan sigap Kiranaratih membantu dengan memegang tangannya. Gayatri memberinya senyum sambil memperhatikan wajah Kiranaratih yang jelita, juga pada tangannya yang demikian halusnya, ibarat apabila ada lalat yang hinggap, akan menyebabkan lalat itu jatuh terpeleset.

Dibimbing Armajantara dan calon istrinya, Gayatri melangkah pelan menuju istana.

“Antar saya ke istana Prabu Putri, setelah itu tgengah malam nanti datanglah kembali ke patirtan, saya akan membekalimu dengan beberapa nasehat, langkah dan tindakan untuk meraih kebahagiaanmu.”

Atmajantara menjawab, “Hamba Tuan Putri.”

12.

Majapahit kian menggeliat.

Udara sangat hangat memberi semangat kepada siapa pun untuk menggeliat memeras keringat. Dengan tidak perlu membawa bekal rakyat Majapahit berdatangan membawa alat-alat untuk memebersihkan tempat calon dibuatnya lapangan Bubat. Untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan kekarnya otot, diserahkan pada para lelaki untuk mengerjakannya, wanita juga boleh memberikan sumbangan tenaga untuk jenis pekerjaan tertentu terutama membantu menyiapkan sarapan untuk mereka yang bekerja. Untuk keperluan itu semula Gajah Mada tak ingin ada penyiapan makanan, sebab semua orang yang datang bisa membawa bekal masing- masing dari rumah. Akan tetapi Sang Prabu Putri berpendapat berbeda dan tak busa dibantah, semua kebutuhan makanan ditanggung oleh negara.

Pagi yang datang itu pagi yang mendesis oleh angin yang berhembus dari arah Gunung Penanggungan. Hembusan itu kadang muncul dan menghilang, menyebabkan putaran baling-baling yang diletakkan tak jauh dari sepasang pohon beringin kadang berputar dan kadang tak bergerak.

Di atas punggung kudanya, sepagi itu Gajah Mada telah hadir di bawah baling-baling itu sambil berpikir pekerjaan macam apa yang nantinya akan dikerjakan. Suara jeritan baling-baling itu amat menghibur hati Gajah Mada. Semakin deras ia berputar membuat hatinya kian senang. Semakin kencang putarannya seperti bunyi shangkakala yang ditiup di medan perang yang menggelorakan semangat.

Namun alis Gajah Mada segera mengernyit. Angin tiba-tiba berhembus deras. Gerak goyangan baling-baling itu bisa menyebabkan tiang-tiang penyangganya berantakan. Gajah Mada terus memperhatikan gerakan liar itu. Jika tiang penyangga itu berantakan maka ayun bilah bambu itu bisa menerjangnya, dengan kekuatan yang sangat mungkin lebih keras dari ayunan pedang.

Dari arah kiri, dua ekor kuda datang berderap.

Namun dari arah belakangnya seekor kuda lagi datang berderap. Namun yang membuat Gajah Mada berbinar adalah ketika mengenali siapa sosok berkuda yang datang belakangan. Dulu ia seorang prajurit Bhayangkara yang pilih tanding, namun karena rasa kecewanya yang tidak tertahan, ia memilih keluar dari pasukan khusus Bhayangkara. Akan tetapi turangga itu bukanlah kuda biasanya. Warnanya berbeda.

Ia seorang sahabat sepenanggungan, yang oleh sebuah hal menyebabkan memili berada di luar lingkaran.

Gajah Mada sangat terkenang pada ucapannya, “Untuk mengabdi kepada negara tidak harus menjadi prajurit.”

Setelah peristiwa yang menyakiti hatinya, saat seorang temannya dihukum mati padahal tak melakukan kesalahan dan menjadi korban fitnah, ia secara tegas memutuskan keluar dari kesatuan khusus Bhayangkara. Meskipun demikian, meski berada di luar kesatuan pasukan itu ia tetap mencintai Majapahit dan memberikan cintanya kepada negaranya dengan caranya sendiri.

Ia Pradhabasu. Berderap di depannya Bhayangkara Gajah Geneng.

Sudah dua bulan lamanya, Gajah Mada tidak melihatnya, pertemuan terakhir terjadi di makam Troloyo, di mana Pradhabasu hadir untuk memberikan penghormatan pada kematian orang tua Bhayangkara Panjang Sumprit, itupun terjadi setelah setahun lebih ia menghilang tidak ada kabarnya. Padahal, Pradhabasu tinggal tidak jauh dari kotaraja. Hanya saja laki-laki perkasa itu pernah mengancam untuk jangan datang menengoknya, juga jangan ada prajurit bhayangkara yang lain datang ke rumahnya.

Gajah Geneng tiba lebih dulu, ia melompat turun.

Gajah Mada menyambutnya dengan tidak tersenyum.

“Kau lihat di belakangmu, siapa itu?”

Gajah Geneng rupanya tak melihat di arah belakangnya, ketika menoleh ia terkejut dan tersenyum lebar, bagi Gajah Geneng, Pradhabasu adalah teman yang baik, ia pun merindukan mantan prajurit pilih tanding itu. Gajah Mada yang masih berada di atas punggung kudanya ikut turun dan menempatkan diri menunggu.

Gajah Mada jarang tersenyum, namun dalam menyambut kedatangan sahabatnya yang mudah tersinggung namun sesungguhnya hatinya sangat baik itu, ia tersenyum lebar. Itulah sikap yang Gajah Geneng memahatnya dalam hati. Gajah Geneng mencatat, bahkan kepada dirinya Gajah Mada bukan orang yang mudah diajak bergurau. Saklek dan kaku. Namun pada Pradhabasu, Gajah Mada orang yang bisa dengan mudah menyunggingkan senyum.

“Angin apa yang membawamu kemari? Pradhabasu?” Mahapatuh Gajah Mada bertanya sambil tersenyum lebar.

Sebaliknya Gajah Geneng melihat, justru Pradhabasulah yang tidak mudah tersenyum. Dulu ketika masih bersama-sama menjadi bagian dari pasukan khusus Bhayangkara, ia ingat, Pradhabasu adalah prajurit yang periang dan banyak omong. Namun sejak kematian sahabat karibnya yang sekaligus adik iparnya oleh ketidak cernatan Gajah Enggon, Pradhabasu telah berubah menjadi sosok yang berbeda sama sekali. Pradhabasu menjadi orang yang tak ramah dan menjadi pendiam.

Pradhabasu sangat kecewa saudara iparnya itu dihukum mati, padahal ia hanya kurban kelicikan mata mata Rakrian Kuti.

“Sepertinya itu bukan kudamu? Benarkah?” tanya Gajah Mada.

Pradhabasu tidak segera menjawab.

Kuda yang selama ini menemaninya sudah seperti bagian dari keluarganya, kuda yangb sejak sepekan lalu sakit itu akhirnya pergi mendahului majikannya. Namun begitu kudanya telah mati, Pradabasu langsung mendapatkan gantinya. Seorang tetangganya yang memiliki kuda menawarkan padanya dengan harga yang pantas.

“Ada sesuatu yang akan saya sampaikan padamu. Mungkin bagimu tidak penting, akan tetapi bisa saja kamu menganggapnya penting.”

Gajah Mada mengangguk.

“Namun sebelumnya,” Gajah Mada berkata, “bolehkah saya berwarta bagaimana kabar istri dan anakmu?”

Pradhabasu memandang tajam.

Jawabnya, “Mereka baik.”

Gajah Geneng ikut bertanya, “Kau sudah memiliki tambahan momongan? Lama sekali kita tidak bertemu sehingga saya tidak tahu bagaimana dengan keadaanmu, apakah kau sudah mempunyai momongan?”

Tak jelas mengapa, pertanyaan macam itu justru membuat Pradhabasu merasa senang. Ia menjawab dengan gelengan kepala.

“Doakan saja,” jawab Pradhabasu ramah.

Gajah Mada menyimak.

Pradhabasu kembali berbicara, “Kau pernah mendengar kisah tentang sebuah bencana sangat besar dan mengerikan yang menimpa Blambangan di akhir zaman Kediri?”

Gajah Mada menggeleng, ucapnya, “Bagian mana yang kau maksud?”

Pradhabasu mengedarkan pandang matanya menjelajahi seluruh sudut tanah luas yang nantinya akan dijadikan lapangan besar itu. Lelaki itu tidak mengembalikan arah pandangnya dan memusatkan perhatiannya ke arah baling-baling yang berputar demikian kencang seolah akan merontokkan pilar-pilar penyangganya.

Seolah tahu apa yang akan terjadi, Pradhabasu yang turun dari kudanya segera menjauh mencari aman. Pandangan ketiga mantan Bhayangkara itu tertuju pada baling-baling bambu yang berputar sangat kencang. Angin berhembus sangat kencang, lebih kencang dari biasanya menyebkan putaran baling-baling itu akhirnya tidak tertahan oleh pilar-pilar penyangganya. Mantan Bhayangkara Pradhabasu memandang dengan curiga, ia bahkan meyakininya.

Patah berderak pilar-pilar bambu yang menyangga ambyar berantakan. Sebagaimana ia merasa yakin pada apa yang akan terjadi, bagian baling-baling yang terlepas itu melesat cepat ke arahnya. Pradhabasu segera melenting mengambil jarak menghindar, hal yang dilakukan juga oleh Gajah Mada dan Gajah Geneng.

Kekuatan angin itu rupanya mempunyai tenaga dorong yang kuat, yang menyebabkan baling-baling itu melesat jauh.

“Lanjutkan ceritamu,” kata Gajah Mada.

Pradhabasu mengembalikan arah pandang berhadap-hadapan.

“Seratus tahun yang lalu,” kata Pradhabasu, “sebuah bintang bernyawa jatuh di wilayah Blambangan yang menimbulkan bencana…”

Gajah Mada memotong, “Cerita tentang itu saya sudah tahu. Saya bahkan jauh lebih tahu dari kamu atau siapa pun. Orang dari masa lalu yang terlibat dalam upaya mengalahkan angin lesus itu, saya bahkan mewarisi ilmunya. Apa yang kau maksud?”

Pradhabasu menatap sangat larut, tajam dan mengiris. Namun yang ia pandang adalah Gajah Mada yang memiliki ketebalan wajah mengerikan yang menyebabkan siapa pun yang mencoba menatap wajahnya terpaksa harus berpaling.

“Kenapa?”

Pradhabasu berputar, menempatkan diri berdiri di sebelah Gajah Geneng. Ia tak merasa sungkan untuk membalas dengan tatapan mata tak kalah tajam.

“Semalam,” kata Pradhabasu, “saat saya tidur saya justru terbangun oleh kekuatan sirep yang rupanya sedang menyihir seluruh orang di Kotaraja, saya keluar rumah, ternyata saya menjadi saksi sebuah peristiwa yang luar biasa. Sebuah bintang jatuh dari langit barat melesat jatuh tak jauh dari mana saya berada. Namun ketika saya mendekati tempat di mana bintang jatuh itu berada, saya berpapasan dengan serombongan benda-benda bercahaya yang sangat mirip dengan kunang-kunang namun ia bukan kunang-kunang. Cahayanya berwarna-warni tak terukur indahnya. Benda itu bercahaya itu melesat terbang melintasi di mana saya berada. Sayang sekali saya tidak bisa mengejarnya, ia bergerak sangat cepat, melintas melebihi gerak angin atau kuda. Sayang sekali kuda saya sakit dan saya tak bisa mengejarnya. Kuda saya itu kemudian mati.”

Gajah Mada terbungkam mulutnya dan tak berbicara. Sikapnya yang demikian sangat dikenali oleh kedua sahabatnya itu.

Gajah Mada ingat pagi sebelumnya. Ingat pada pertemuannya dengan Prapanca.

Gajah Mada berkisar sambil meliukkan badan.

“Pagi sekali saya sudah berada di tempat itu,” katanya, “saya hanya menemukan jejak memanjang jatuhnya lintang alihan. Apabila kau mengatakan, justru terbebas dari rasa kantuk pada saat serangan rasa menyerang, sebaliknya saya berada di pusat serangan. Tidak seorang pun yang mampu melawan ketika sirep yang maha kuat itu menerjang. Akan tetapi meskipun demikian, ada seseorang yang rupanya terpilih untuk menjadi saksi dan menyaksikan. Orang itu adalah Empu Prapanca.”

Mendengar ucapan itu, sedikit berubah wajah Pradhabasu.

Dengan demikian ia akhirnya tahu, orang berkuda yang membalap kencang sekali saat kejadian itu adalah Prapanca. Pradhabasu bisa menerima, Prapanca adalah pemuka agama yang jiwanya pasti sangat peka. Jatuhnya bintang dari langit itu bisa dianggap sebagai turunnya wahyu, pasti telah terbaca oleh ketajaman mata hatinya.

Mahapatih Gajah Mada melanjutkan, “Orang yang memberitahu saya soal jatuhnya benda tak dikenal itu Danghyang Nadendra. Akan tetapi saya tak peduli, entah apa maksud dan tujuan jatuhnya benda apa pun itu, tak akan mengubah sikap saya untuk menentukan arah tujuan Majapahit.”

Pradhabasu mengangguk.

“Jika demikian, ijinkan saya minta diri, saya merasa harus mengetahui apa arti jatuhnya benda tak dikenal yang berubah menjadi serpihan cahaya yang melayang masuk ke istana itu. Saya minta pamit.”

Gajah Mada menatap tajam.

Ia ingin berbincang lebih lama dengan sahabatnya itu, akan tetapi Gajah Mada sangat mengenali siapa Pradhabasu dengan sikapnya yang mengambil jarak.

Di tahun-tahun menjelang terbunuhnya Jayanegara Kalagemet oleh Rakrian Tanca yang meracuninya, Pradhabasu telah menyampaikan sikapnya dengan tegas, bahwa ia mengambil jarak, tidak akan melibatkan diri pada apapun.

Namun Gajah Mada tertawa melihat, Pradhabasu justru melakukan banyak hal yang tak terduga di luar lingkungan keprajuritan sebagai pengabdiannya kepada negara. Tanpa banyak cakap dan bicara, Pradhabasu melibatkan diri saat Keta dan Sadeng melakukan makar. Oleh tindakan diam-diam yang dilakukan Pradhabasu itulah, maka amat memudahkan Gajah Mada dalam meredam makar yang mereka lakukan.

Diam-diam Pradhabasu membimbing para petani di Porong. Pradhabasu yang mumpuni dalam olah pertanian, dengan suka rela ia membimbing para petani bagaimana cara menanam padi dengan benar. Puncaknya saat Pradhabasu yang menggunakan nama lain, membimbing para petani melakukan gropyokan hama tikus. Sepak terjang Pradhabasu yang demikian itu sangat menarik perhatian Prabu Putri, akan tetapi ketika didatangi, Pradhabasu menghilang tak ada jejaknya.

Ketika semua orang kebingungan menerka siapa sebenarnya orang yang berhati mulia itu, satu-satunya yang tahu hanya Gajah Mada. Namun Gajah Mada sama sekali tidak berniat membongkar rahasianya.

Mahapatih Gajah Mada tahu, bahwa diam-diam sahabatnya itu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya menjadi tugas para prajurit. Itulah sebabnya perampokan yang terjadi di wilayah yang jauh dari kotaraja bisa ditumpas, pelakunya telah dibikin jera.

Setidaknya, pengabdian yang dilakukan di luar lingkungan istana itu memberi sumbang sih nyata atas ketenteraman para kawula. Apabila berurusan dengan orang yang membuat onar, Pradhabasu selalu menyelubungi wajah dengan topeng atau ada kalanya mengenakan jubah panjang. Para pembuat onar itu, perampok dan penjarah benar-benar dibikin jera tanpa harus dibunuh.

Namun Pradhabasu memiliki kebencian khusus pada pemerkosa. Bila terdengar berita tentang pemerkosaan, Pradhabasu akan melacak dan menemukannya.

Untuk pemerkosa macam itu, Pradhabasu akan membantainya tanpa ampun.

Tanpa banyak bicara, Pradhabasu melompat ke atas punggung kudanya. Lelaki perkasa itu menyempatkan mengarahkan perhatiannya pada reruntuhan baling-baling bambu yang tak lagi berbentuk. Dengan sambil berteriak ia menarik tali kendali kudanya, menyebabkan kuda itu terlonjak dan berlari kencang.

“Sudah berapa tahun tetapi sikapnya tak berubah,” kata Gajah Geneng,

“Ketika kita membutuhkan sosok pahlawan, maka Pradhabasulah sosok pahlawan yang sesungguhnya,“ jawab Gajah Mada.

Sang waktu bergeser sedikit siang saat orang-orang para pekerja suka rela berdatangan. Para pemuda yang sebelumnya membuat baling-baling kaget mendapati penyangganya yang semula sudah dihitung amat kuat berantakan. Tanpa mendapat perintah, mereka bekerja keras memperbaikinya. Berdebar-debar para pemuda itu ketika Gajah Mada mendekatinya.

By Langit Krisna Hariyadi’s Novel.

Categories: Koleksi

1 Comment

NOVIAN · Sab 22 Desember 2018 at 07:33

Siapa Rajapadmi Gayatri itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *