Sejak berkenalan dengannya di Borobudur tahun 2017 yang lalu, kami menjadi akrab. Setiap kegiatan, saya coba selalu melibatkan dirinya.

Hans Stefan Danerek. Seorang Doktor dari Swedia. Dia menekuni pada tradisi lisan di Indonesia. Sebuah kamus bahasa Palu’e telah dihasilkan olehnya. Salah satu bahasa daerah di pulau Palu’e Nusa Tenggara Timur yang hampir punah.

Stefan, demikian biasa kami memanggilnya, bercerita banyak tentang negerinya. “Di Swedia, pendidikan tidak terlalu sulit sebagaimana di Indonesia. S2 cukup 1 tahun di sana,” ujarnya, membandingkan dengan S2 di Indonesia.

Setengah minggu, kami mengambil viewers untuk film dokumenter Jejak-jejak Cak Durasim. Saya melihat bibirnya pecah-pecah mengering, tertimpa panas di padang tebu. Dia begitu yakin pada setiap undangan yang saya ajak, tanpa ada persekot, dia akan datang tepat waktu. Sudah beberapa event dan kegiatan, saya selalu melibatkanya.

Stefan adalah teman baik. Saya diperkenalkan kepada istrinya yang baik, Rara. Seorang perempuan cantik dari ibu asal Mojokerto dan ayah asal Bukittinggi. Hampir seminggu berada di rumahnya hingga keberangkatannya pulang ke Swedia. Rara mengirim foto-foto yang cantik dari Swedia. Janji saya, tahun depan akan ikut pula berlibur ke Swedia. Mengharap bisa menikmati caviar ikan Salmon di sana.

Citayam, 24 Juli 2018.

Categories: Sosialita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *