Ilustrasi gambar ini dicuplik dari panel komik Bunga Telasih Banjarwaru,
sejarah spektakuler kampung Karangwaru, karya Garjon.

Dari Penulis

Kisah Jaka Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya menjadi bagian yang menarik di antara beragam khazanah kekayaan cerita Nusantara. Kisahnya menjadi cerita tutur yang menina bobo, bahkan film yang berseri-seri. Pro dan kontra, karena ada yang setuju dan tidak, meningkat menjadi polemik ideologis.

Sebagai pembanding—lakon antagonis, Arya Penangsang pun bermunculan—untuk mengimbangi “kesan salah” yang selama ini sudah terlanjur menjadi keyakinan publik. Cerita-cerita tentang Jaka Tingkir mulai di-counter dengan asumsi terbalik. Dan, menjadi perhatian kembali guna memperkuat dan mencari dalih-dalih baru. Seolah Jaka Tingkirlah yang menjadi otak pembunuhan Arya Penangsang.

Namun demikian, sebagai makhluk sejarah, kedua lakon tersebut telah memerankan diri sesuai kehendak zaman. Tidak di antara salah satunya merasa disalahkan, masing-masing tentu memiliki alasan sendiri-sendiri. Sehingga membenarkan pendapat: sejarah ditulis oleh yang menang. Namun sekali lagi, sejarah tidak mengenal kalah menang, jika dipandang dari cerita yang berimbang. Cerita yang diakronik, dari dua arah.

Demikian, dialektika peradaban dipandang perlu untuk dihadirkan, bukan semata untuk melihat siapa benar dan siapa salah, melainkan juga konstruksi yang melatarinya.

Yogyakarta, 26 Agustus 2016.
Penulis,

Raden Larasehan.

BAYANG-BAYANG WILWATIKTA

Senja di Amparan Jati

1. Kabar dari Demak Bintara

Kanjeng Susuhunan Jati alias Syarif Hidayatullah usai menunaikan salat maghrib di mesjid Ciptarasa. Dirinya dikitari oleh majelis Walisanga yang telah bersimpuh, duduk melingkar di hadapannya. Raden Syahid, Sunan Bonang, Syekh Maulana Magribi, Sunan Drajat, Raden Umar Said, Sayyid Jakfar Shodiq, Pangeran Bejagung, dan Syekh Bentong. Ia tampak paling sepuh di antara delapan wali yang lain, setelah Raden Rahmat alias Sunan Ampel mangkat.

Kanjeng Sunan Jati mengurut-urut jenggotnya yang putih. Matanya sedikit sayup di bawah temaram lampu sentir yang menggantung di tengah amparan mesjid. Jubah dan sorban putih yang melingkar di mustakanya, memperlihatkan dirinya semakin anggun dan berwibawa. ”Lingsire mangsa, zaman sedang bergeser,” katanya membuka percakapan.

Hening. Deru nafas saling bersahutan. Angin berhembus perlahan.

”Kanjeng Sunan Ampel telah lama mangkat. Kerajaan Demak gonjang-ganjing, kendati aman tenteram. Ketegasan Sultan Trenggana telah membuat para perwira dan abdi dalem menjadi sungkan. Kita harus bersyukur. Di usia senja kita ini masih bisa menyaksikan ketenteraman negeri,” ujar Kanjeng Sunan, pelan. ”Hanya saja yang membuatku merasa risau adalah tentang perselisihan di antara putera-putera raja di Demak Bintara yang bakal terjadi.”
”Pandangan waskita Kanjeng Sunan menjadi panutan kami,” ujar Raden Syahid, mendahului.

”Ya, begitu pula hamba,” sahut Raden Umar Said.

Semua menyahut serupa, kecuali Sayid Jakfar Shodiq.

Beberapa jenak, Kanjeng Sunan Jati menghela nafas. Seolah ia tengah menanti jawaban Sayid Jakfar Shodiq. Di sudut kerling matanya, ia melihat kegelisahan.

Merasa diperhatikan, Sayid Jakfar Shodiq pun angkat bicara, ”Begitu pula hamba, Kanjeng Sunan,” katanya, mantap.

Jawaban Sayid Jakfar Shodiq menegarkan pundak Kanjeng Sunan Jati. Matanya yang awas, tajam menembus kegelapan malam. Pimpinan Walisanga setelah Sunan Ampel itu mendesah panjang. Lalu, ”Malam sudah memasuki Isya. Rambang merah telah hilang. Saat kita salat Isya,” katanya, sembari berdiri.
Syekh Bejagung sigap berdiri dan memapah Kanjeng Sunan Jati.

Salat Isya berjalan khusyu. Suara binatang malam saling bersahutan. Kemarau masih panjang. Udara laut utara Pulau Jawa berhembus, menerpa daun-daun jati hingga berguguran.
Dari senyap malam, seseorang datang menunggang kuda. Berhenti di halaman mesjid. Ia memapas para wali yang hendak turun dari mesjid. “Hatur sembah Susuhunan,” ujarnya, memberi munjung di depan Kanjeng Sunan Jati.

Kanjeng Sunan Jati menganggukkan kepala. “Ada apa Kisanak malam-malam begini datang kemari?”
“Ampun seribu ampun, Kanjeng Sunan. Hamba Ki Gede Sura dari Demak.”
Para Walisanga saling bertukar pandang dengan tatapan tanda tanya.

Di bawah sinar rembulan yang redup.
”Ada kabar apa gerangan?”

”Telah terjadi keributan di keraton Demak…,” jawabnya dengan nafas tersengal.

Tamu itu dipersilakan duduk di teras mesjid. Rombongan Walisanga kembali duduk melingkar. Seorang Wong Kemit sigap menyuguh air minum dari kendi kecil.

Setelah reda.

”Sok, ceritakan yang telah terjadi!” ujar Kanjeng Sunan Jati, kemudian.

Ki Gede Sura menarik nafas berulang kali. ”Sebenarnya, Sultan sangat mengharapkan kehadiran para wali. Beliau membutuhkan penyelesaian secara musyawarah. Namun, niat itu terhalang, karena Pangeran Surawiyata terkabar telah tewas terbunuh.”

”Bagaimana bisa terbunuh?” tanya Sayid Jakfar Shodiq, cepat.

”Sepertinya telah terjadi bentrokan tak seimbang.”

Kanjeng Sunan Jati memandang dan menyimak seksama seraya mengelus-elus janggutnya. ”Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus segera berangkat ke Demak,” ujarnya kepada wali-wali yang lain.

”Sendika dawuh, Kanjeng Sunan,” jawab wali-wali yang lain, serentak.

”Mari kita bergegas!”

Beberapa Wong Kemit telah menyiapkan kuda-kuda tunggangan. Dan, satu regu pengawal telah berbaris rapi.

2. Putera Sang Mahaputera

Suara seruling memecah keheningan. Seorang putera gembala duduk di tepi pematang. Berulang kali, ia menghentikan tiupannya. Suara itu terdengar dari sesayat hati.

Pemuda tanggung itu tak menghirau, ketika seorang berbalut cawat mendekatinya. Tubuhnya bertelanjang dada. Satu iket menutupi kepalanya. “Nak Mas, sudah saatnya kita kembali,” kata lelaki paruh baya dengan suara serak.

Pemuda tanggung menoleh sebentar.
Ia tersenyum membagi suka. “Paman, sungguh mengagetkan,” katanya, sembari menyambut lelaki paruh baya dengan menggeser tempat duduknya.

”Daku masih menikmati sore yang rawan ini, Paman.”

“Karena rawan, dirimu tak selayak lagi masih berada di sini.”

”Benar, sebentar lagi langit gelap. Di saat, serigala-serigala malam berkeliaran.”

”Ayo kita pulang, Nak Mas!”

Tanpa dua kali, pemuda tanggung itu mengikuti langkah lelaki paruh baya.

Keduanya menelusuri tebing yang tandus. Pohon jati hanya terlihat satu dua. Rerumputan sudah mengering. Seandai tersilap sepercik api, pastilah punggung bukit itu akan memerah saga. Seperti senja itu. Tapi, kerbau-kerbau yang mereka giring kembali pulang, seakan tak peduli rermuputan itu tetap hijau atau telah mongering.

Pemuda tanggung itu masih belum belasan. Masih sepinggang lelaki paruh baya. Dari kulit yang bersih tampak dirinya bukan orang sembarang. Meski lelaki paruh baya itu tampak legam kulitnya dan berkilat oleh keringat.

Keduanya terus menelusuri jalan setapak. Menuruni tanah landai. Sepi. Hanya burung-burung gemak yang bersembunyi di bebalikan semak. Mungkin, sedang mencari belalang. Mungkin juga mencari sarang tempat berlindung, ketika kerbau-kerbau melintas. Tak ada kata-kata yang terucap. Keduanya sibuk dalam kalut masing-masing, ketika melintasi bebatuan tajam yang menusuk kaki-kaki tak beralas. Tak seperti biasa, pemuda tanggung itu tak menunggangi kerbau-kerbau itu.

Setelah melintasi tiga gundukan bukit, mereka tiba di sebuah lembah. Ada sungai kecil yang telah menyusut. Kering. Sebuah sendang air jernih di sebelah kanan sungai. Seandai tak ada pohon beringin sebesar lima rangkulan orang dewasa itu, mungkin sendang itu turut kering pula. Masa kemarau itu telah tiga purnama berlalu. Dan, setiap purnama masih saja tampak memerah darah. Bukan seperti Dewi Malam yang sedang menari. “Untung kita bisa menyimpan jagung-jagung itu. Beberapa purnama ke depan masih cukup untuk perbekalan kita. Tapi, jika kemarau ini menahun, sungai dan sendang mengering, terpaksa kita harus mencari tempat penghidupan baru,” kata lelaki separuh baya, sembari memantik batu di atas kayu dan daun-daun kering. Asap pekat muncul ketika daun-daun itu mulai terbakar. Perlahan api mulai menyala, ketika malam mulai gelap. Ketika kerbau-kerbau mereka telah melenguh di pelataran lembah.
Pemuda tanggung telah tiba dari sendang. Ia menurunkan tabung bambu berisi air dari punggungnya.

Tubuhnya berkeringat. Sesekali, ia menyeka. Tebing terjal itu, meski tak terlalu tinggi, telah menguras tenaga mudanya. Tubuhnya yang masih kecil itu seakan sedang belajar menyesuaikan diri.

Ketika malam mulai gelap, rasa capai telah mengantar pemuda tanggung terlelap. Hanya suara binatang-binatang malam yang bernyanyi.

Sementara lelaki paruh baya masih duduk di samping perapian. Memandang jauh ke kegelapan yang seolah tak pernah ada ujung. Sesekali ia memandang pemuda paruh baya yang tertidur pulas di sampingnya. Memandang wajah tak berdosa. Seperti bayi yang tak pernah dewasa. ”Kasihan dirimu, Nak Mas. Harus tersisih jauh dari keramaian. Dari kehidupan yang selalu memanjakanmu.”

”Paman,” panggil pemuda tanggung. ”Paman Dadung….”

”Iya, Nak Mas. Paman di sini.”

”Paman tak segera tidur? Esok, pagi-pagi sekali, kita harus mencari padang rumput yang lebih jauh dari hari ini.”

”Iya, Nak Mas. Sebentar lagi paman akan tidur.” Lelaki paruh baya itupun berbaring. Tapi, matanya masih belum lepas memandang ke langit hitam.

Bintang-bintang bergemerlapan. Terang, namun udaranya kering. Sejak kemarau itu, kulit terasa bersisik dan bercampur debu.

***

Pagi-pagi sekali, keduanya sudah terjaga. Berkemas rapi seusai salat Subuh. Nun jauh di ufuk timur, langit merekah dan mencercah.

“Nak Mas Karebet, kita akan mencari padang rumput di sebelah mana perkiraanmu? Tempat kemarin adalah yang terjauh, arah tenggara dari sini. Kalau ke utara, kita akan menemukan hutan jati yang tak ada rumputnya. Kalau ke selatan, kita akan menemukan perkampungan terdekat, berarti akan banyak orang tahu tentang keberadaan kita di sini. Itu berbahaya bagi keselamatan Nak Mas. Kalau ke barat apalagi? Di sana ada jalur ke arah kota kerajaan. Satu-satunya arah yang harus kita tempuh adalah ke timur, tapi dengan tanggungan nyawa yang tak kalah membahayakan. Karena, wilayah itu rawan dengan para perampok. Kita pasti akan ditawan oleh mereka. Kerbau-kerbau milik kita pasti akan dirampas juga. Nak Mas memilih yang mana?”

”Kita ke timur,” kata Karebet, memandang jauh. Matanya yang tajam seolah mata elang itu tak berkedip sedikitpun. ”Kita akan menerima tanggungan para perampok itu.”

”Tapi, Nak Mas…,” suara Dadung tertahan, “kita pasti tak akan bisa melawan jumlah mereka. Kita akan menjadi tawanan mereka.”

Seperti tak hirau, Karebet menggiring kerbau-kerbau menuju ke arah timur.

Dadung tercekat. Matanya terbelalak. Tapi, tak mampu mulutnya mencegah ataupun menolak. Meskipun enggan, ia tetap tak mampu melawan kehendak tuannya.

Matahari perlahan mulai meranjak. Karebet meniup serulingnya. Terkadang, ia berjalan. Terkadang pula ia menunggangi kerbau-kerbaunya.

Dengan tenaga yang besar, Dadung berlari-lari mengikuti langkah Karebet dan kerbau-kerbaunya.
Di pinggir hutan yang ditumbuhi oleh pohom-pohon: mahoni, sengon, dan juga jati. Terlihat semak-semak rerumputan yang masih hijau, meskipun sebagian daun-daun tua sudah menguning. Kerbau-kerbau itupun berlari saling berkejaran.
Namun, bukan para perampok yang muncul. Langit perlahan mendung. Gelap sebagian, dan terang menyilaukan mata sebagian yang lain. Baik Dadung maupun Karebet terlalu asik bermain-main setelah merasa nyaman. Hujan tiba-tiba turun, meskipun hanya gerimis. Firasat Dadung yang sejak mula sudah khawatir, menghentikan tawanya sesaat kemudian. Sesosok makhluk menggerendeng di belakang Karebet yang berdiri tepat di depannya. Dadung tercekat. Mulutnya terbuka lebar. Matanya melotot. Ingin berteriak, tapi tertahan. Tangannya gemetar seraya menunjuk ke arah belakang punggung Karebet.
Seandai saja Dadung masih ingat di pinggangnya terselip keris Lembu Sengkelat, wajahnya pasti tak akan sepucat itu. Atau, ia ingat sebuah azimat yang tergantung di lehernya, pasti pula ia akan bangkit berdiri menantang. Namun ketakutan jelas memenuhi perasaannya. Ia tercekat dan tak mampu berkata. Seolah sedang menanti takdir, ia tak bergerak menanti adegan selanjut.
Begitupun Karebet. Ia masih tertawa menggoda Dadung. Tak hirau atau bahkan tak sadar dirinya sedang diintai bahaya. Ia tak melihat wajah Dadung di depannya tiba-tiba berubah pasi. Ia benar-benar tak tahu. Sekujur tubuhnya berkeringat, karena terlalu riang. Suaranya gegap gempita seolah di medan perang.

Dan, hujan itu disertai panas. Petanda makhluk itu keluar. Entah, panggilan, entah pula sengaja. Tiba-tiba, ia menggerendeng. Suaranya menggetarkan daun-daun. Bukit-bukit seperti hendak runtuh. Pohon-pohon bergetar, lalu diam. Terkesima oleh suara yang menggema. Sebuah auman di siang bolong.
Karebet mendadak tersadar. Dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, seraya menunduk seperti sedang bersujud. ”Paman Daduuung…!” teriaknya, ketakutan.
Dadung tak berkutik. Celananya basah. Hingga terkapar tak sadarkan diri.

Namun, kerbau-kerbau membuat barisan. Memasang tanduk-tanduk, mengarah ke arah raja hutan yang berdiri di belakang Karebet.
Tapi, Karebet tetap tak berkutik. Ia menelungkup di tanah. Kedua tangannya menutup kedua belah telinganya.

Raja hutan loreng-loreng itu berbalik arah. Kini, ia menghadap kawanan kerbau yang telah berbaris rapi, menanti serangannya.

Pertarungan seperti tak seimbang. Namun, sang raja hutan pun seperti tak pernah gentar. Ia maju menerjang kawanan kerbau.
Kawanan kerbau menyambut dengan serentak. Puluhan tanduk tajam menjadi perisai.

Sementara Karebet telah mendakati Dadung yang pingsan dan coba membangunkannya.

Satu dua tusukan tanduk kerbau nyaris membobol perut sang macan. Namun, sang raja hutan gesit menghindar. Ia melindungi diri dengan cakaran-cakaran dan auman panjang. Suara gerendeng itu membentur dinding-dinding bukit kecil.

Kerbau-kerbau itu tak putus asa. Mereka maju serentak menyerang.
Naluri makhluk pemburu tak menghilangkan perhatiannya. Ia mencari titik terlemah dari kawanan kerbau itu. Sembari menggerendeng, sang raja hutan mengamati salah satu dari kerbau yang berdiri di barisan kedua.

Kerbau itu terkurung dalam himpitan kerbau-kerbau bertanduk panjang. Dia seolah sedang mencari titik aman dari ancaman. Berlindung di balik punggung-punggung sebagai tameng hidup.

Macan loreng itu menatap tajam. Dari jarak beberapa tombak dari kawanan kerbau yang membentengi diri itu, ia merunduk, siap menerkam. Kuku-kukunya mencengkeram tanah. Membuat goresan-goresan. Entah, pada hitungan dan kejap yang keberapa. Laksana kilat, ia sudah melesat sangat cepat. Meskipun tanduk-tanduk runcing itu terhunus siap menancap dan membobolkan perutnya, naluri tajam yang sudah lama terlatih itu tepat menghitung jarak dan sasaran. Seekor kerbau lengah di tengah kerumunan menjadi sasarannya. Kuku dan taringnya mencengkeram leher kerbau naas itu. Roboh dalam gigitan.

Semua kerbau berbalik arah dan membuat lingkaran mengurungi macan loreng. Tanduk-tanduk itu mengarah ke tengah, tempat sang macan tengah mencengkeram kuat sang kerbau naas.
Macan loreng yang sudah terlihat sudah tua itu. Surai dan kumisnya yang putih, sabal, dan runcing, tak sedikitpun menampakkan lemah kegarangannya.

Di saat itu, Dadung dan Karebet sudah berada di tempat tertinggi di sebatang pohon. Keduanya mengamati dari kejauhan pertarungan sengit dan tak seimbang itu. Mereka melihat salah seekor kerbau mereka yang akan menjadi korban macan loreng hutan Jatipurwa. Hutan angker di dekat lereng, sebelum naik ke gunung Merbabu. Pun, tanduk-tanduk kerbau yang sudah terhunus rapi, siap kembali menyerang sang raja hutan.
Seperti tak hirau. Gigi, taring, dan kuku macan loreng itu mencabik-cabik kerbau naas. Setelah menggigit leher dan membuat lumpuh mangsanya, macan itu tetap menyantap mangsanya pelan-pelan.
Tapi agaknya, ancaman menghunus tanduk itu hanya bersifat perlindungan diri saja. Bukan untuk menyerang lawan. Meskipun tetap dalam sigap mengurung, tapi kawanan kerbau itu tidak bertindak maju selangkah pun.

Hal itu sudah menjadi perhitungan sang raja hutan yang sudah kenyang berburu. Ia tampak tenang menyantap korbannya. Tak merasa terusik, apalagi terganggu oleh kehadiran kerbau-kerbau yang lain.

Dadung sesekali berkata gusar. Meracau dengan ucapan yang tak keruan. Namun, Karebet mengamati sang macan dengan tenang. Tak terlukis ketakutan lagi di wajahnya. Ia seperti asik. Seperti tak merasa rugi, karena kerbaunya telah menjadi korban mangsa.
Matanya tak berkedip. Adegan demi adegan, ia mengikuti setiap gerakan sang raja hutan. Dan, sedikit terganggu oleh suara-suara berisik Dadung. ”Paman, diamlah!” tegurnya.
”Hey, kau menegurku?” tanya sang paman, mendelik. ”Kau melihat apa? Apa tak melihat salah seekor kerbau kita telah menjadi korban, hah? Kita rugi, Bet…rugi….”

Karebet tak membalas ucapan pamannya. Ia masih terlalu asik mengamati macan loreng yang hampir selesai menyantap kerbaunya.
Ternyata, tidak semua bagian tubuh kerbau yang disantap oleh macan loreng. Ia hanya memakan bagian isi dalam perut. Itu sudah membuatnya seperti kekenyangan.

Sekali lagi, macan itu mengaum, memecah keheningan hutan. Ia merebahkan tubuhnya di rerumputan.
Sementara kawanan kerbau itu masih berdiri menanti. Siap menanti bahaya dan merapatkan barisan.
Setelah beberapa jenak, macan itu kembali berdiri. Ia mengaum keras, menggetarkan daun-daun.

Kawanan kerbau merapatkan barisan, menanti kemungkinan.

Dadung nyaris terpeleset, karena kaget dari pokok pohon. Ia memeluk erat.

Macan loreng kembali mengaum sampai terakhir ia melompat, menghilang di balik semak-semak dan dedaunan.
Suasana menjadi hening.

Karebet dan Dadung mulai turun dari pokok pohon setelah menanti waktu benar-benar aman. Keduanya beranjak dan menggiring kawanan kerbau itu pulang.

Di keremangan malam.

“Paman, apakah kita akan selalu aman di dalam perlindungan?” tanya Karebet.

Yang ditanya sedang asik meniup api.

”Paman!” Karebet berkata keras.
“Ya, Nak Mas.”

“Apakah kita akan selalu aman di dalam perlindungan?”

”Ya, Nak Mas,” jawab Dadung, pelan.
“Seperti tadi kita di atas pohon?”
“Ya, Nak Mas,” sahut Dadung tanpa memberi ketegasan.

“Apakah paman bisa menjamin, kalau besok macan loreng itu tidak akan kembali dan mengancam kerbau-kerbau kita lagi?”

Dadung tak menjawab.

”Besok atau besok lusa, macan loreng itu akan datang dan memangsa kerbau kita lagi. Kita akan kembali naik ke atas pohon dan berlindung di atasnya. Kita selamat, tapi kerbau kita satu per satu akan hilang.”

”Itu yang paman katakan rugi tadi kepadamu. Waktu di atas pohon sudah paman katakan.”

”Iya, tapi kita tidak punya kemampuan untuk melawan, paman. Salah-salah, kita yang menjadi korban berikut.”

”Lalu, apa yang sedang engkau pikirkan, Nak Mas?”

”Yang sedang aku pikirkan, paman belum tentu setuju.”

”Tentang apa?”

”Meringkus macan loreng tadi,” kata Karebet, tenang.

”Gila! Kau gila Nak Mas!” Dadung menunjukkan sikap menolak.

”Sudah saya katakan, paman belum tentu setuju.”

”Baiklah, kalau paman setuju bagaimana caranya? Dan, kalau paman tidak setuju, apa yang akan dirimu lakukan?”

”Paman harus setuju,” ujar Karebet.

”Harus?” tanya Dadung seraya memandang kening Karebet. Ada seutas sinar tiba-tiba muncul. Tidak lama, tapi telah membuat Dadung terkesiap.

“Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi dalam perlindungan. Sebab, untuk sementara memang aman, tapi kita akan terus merugi dan kehilangan kesempatan.”

”Saya mengikuti kehendak Nak Mas. Apa yang menjadi keinginan Nak Mas?”

”Jangan hanya mengikut, paman! Paman juga harus membantu saya.”
“Semampu saya, Nak Mas.”

“Baiklah, kita akan membuat jerat mulai sekarang. Kita harus menangkap macan loreng itu.”

“Lalu?”

“Kita akan aman dalam waktu lama. Macan loreng itu tidak akan mengganggu kerbau-kerbau kita. Dan, kita pun tidak merasa terancam olehnya. Tugas paman adalah mengintai gerak-gerik macan loreng itu. Dia pasti akan menemukan kita di sini. Dia akan memburu kerbau-kerbau kita.”

”Hah? Mengintai…”

”Ya, sementara aku membuat jaring perangkap.”

”Dirimu memang cerdas dan pintar, Nak Mas. Tapi, pekerjaan itu berbahaya bagi diriku,” keluh Dadung.

“Lantas, apakah paman yang membuat jaring, sementara aku yang melakukan tugas mengintai macan loreng?” Karebet balik bertanya.

“Itu maksud saya.”

“Paman curang! Ingin cari selamat sendiri.”

“Tidak, Nak Mas. Paman akan membuat jaring perangkap yang kuat. Ikatan tangan mungilmu tidak akan mampu membuat jaring yang kokoh. Sementara dengan tubuhmu yang ringan, engkau bisa cepat naik pohon dan mudah mengintai macan loreng itu. Biasa, macan bersembunyi dalam goa. Di dalam hutan itu pasti ada goa. Dirimu bisa mengamatinya dari atas pohon di mulut goa itu.”

Karebet mengiyakan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Dan, sejak keesokan hari, Karebet menelusuri tepian hutan dan mencari goa persembunyian sang macan.
Sementara Dadung telah menganyam kulit-kulit kayu Pulai untuk dijadikan jaring perangkap. Dua hari selesai.

Pekerjaan itu tidak mudah. Keduanya harus menghitung dengan cermat. Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, apabila meleset dalam menghitung perkiraan macan loreng itu tertangkap.

Dadung ternyata memiliki pengalaman yang panjang. Sebagai bekas prajurit Kadipaten Pengging, ia cukup pandai mengatur kemungkinan. ”Kita akan memasang jaring ini tepat berada di mulut goa. Pemberat-pemberat di semua sisi harus siap ketika jaring ini diinjak oleh macan loreng. Dan… kita harus memasang umpan agar macan loreng mau keluar dari goa,” jelas Dadung kepada Karebet.

”Bagaimana kita menggiring kerbau umpan itu, paman?”

Dadung tampak gelisah sesaat. ”Apa saranmu, Nak Mas?”

”Kalau menurutku, kita tidak harus memasang jaring tepat di depan mulut goa. Agak sedikit jauh, tak apa. Asalkan macan itu bisa terpancing keluar. Dari jarak yang sedikit jauh, kita bisa mengatur perangkap dan umpannya, paman.”
Dadung tampak termangu. ”Baiklah, itupun lebih baik. Kita harus bertindak cepat. Jangan sampai macan itu kelaparan dan mendatangi kita!”

Karebet mengangguk setuju.
(Bersambung).

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *