Meskipun keruntuhan dan kejatuhan terkadang memang tidak bisa dihentikan. Faktanya, tidak ada peradaban yang tidak mengalami kemunduran, bahkan keruntuhan. Sunnatullah menghendaki demikian. Tetapi memahami dan menyadari bahwa suatu bangsa memiliki kejayaan dalam sejarah pendahulunya, membuat mereka memiliki semangat untuk bangkit dan kembali jaya.

Oleh Ali Mazhar
(Staf Pengajar Pasca Sarjana STAINU Jakarta).

Sejarah bukan saja “useful” tetapi “essential”, begitu kata Penelope J. Corfield. Ya, sejarah bukan saja berguna, tetapi sangat penting. Maka tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Bahkan Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi pedoman umat Islam, dipenuhi dengan kisah-kisah orang dan peradaban di masa lalu.

Ketika orang Islam mempelajari agamanya, ia harus belajar tentang sunnah-sunnah Rosulullah saw dan tradisi-tradisi yang berlaku pada zaman salaf saleh. Semua itu adalah sejarah. Orang Islam tidak akan mengerti makna dan maksud dari ayat-ayat Al-Qur’an jika para ulama tafsir tidak menjelaskan sejarah penggunaan kata dan istilah yang ada dalam ayat-ayat tersebut. Mereka akan kesulitan memahami makna Al-Qur’an jika sejarah tentang sebab-sebab turunnya suatu ayat tidak dijelaskan oleh para ahli.

Dalam kacamata sosiologis-antropologis, manusia bisa menjalani hidup sebagaimana keadaanya sekarang, dengan sistem politik, ekonomi, dan tatanan sosialnya, dengan cara mengambil manfaat dari pencapaian-pencapaian orang di masa lalu. Kecanggihan teknologi yang disaksikan oleh manusia pada abad ini tidak terlepas dari kreativitas intelektual orang-orang pada masa sebelumnya. Orang-orang kreatif yang melakukan penelitian dan mendapatkan penemuan-penemuan saintifik tersebut, tidak akan mencapai prestasi-prestasi yang didapatkannya tanpa mempelajari sejarah ilmu pengetahuan serta sejarah para peneliti di masa lalu.

Maka, benarlah apa yang dikatakan para sejarawan bahwa history is inescapable. Tak ada yang bisa lari dari sejarah. Sejarah bukanlah benda mati. Sejarah merupakan link yang menghubungkan berbagai hal dalam bentangan waktu. Hubungan itu sangat penting untuk diketahui dan difahami karena masa kini adalah legasi masa lalu. Dan siapapun yang ingin mengembangkan dan memperbaiki masanya, ia harus memahami hubungan-hubungan tersebut.

Pencapaian hari ini adalah pijakan bagi perbaikan di masa datang, dan semua yang kita punyai hari ini adalah warisan masa lalu. Tidak ada tokoh besar dalam bidang apapun yang buta sejarah. Memahami sejarah berarti memahami dunia. Sejarah politik dan sejarah sosial dipenuhi dengan pengulangan-pengulangan kisah dan skenario dengan tokoh yang berbeda.

Intrik politik, tumbuh-kembangnya peradaban, terjadinya berbagai macam peperangan, serta kejatuhan berbagai macam peradaban dan kekuasaan memiliki pola yang hampir sama sepanjang masa. Karena kemiripan pola-pola yang terjadi dalam perjalan sejarah manusia itu, para ahli dalam filsafat sejarah, mulai dari Ibnu Khaldun sampai Arnold Toynbee, dan lainnnya dapat membuat kesimpulan mengenai faktor-faktor utama yang menentukan mengapa suatu peradaban dapat tumbuh, lalu mencapai puncak kejayaanya, sampai pada tahap pembusukan, lalu kejatuhannya.

Memahami sejarah peradaban dan geopolitik menjadi syarat penting bagi para pemimpin yang ingin memajukan bangsanya. Kalau dalam biologi ada genome yang merupakan varian dari template warisan genetik, di dalam kehidupan sosio-politik ada kultur dan mentalitas bangsa yang mempunyai keterkaitan sangat erat dengan para pendahulunya. Siapapun yang ingin memimpin Indonesia misalnya, harus mengetahui sejarah sosial-politik bangsa ini, minimal sejak kerajaan Sriwijaya.

Perjalanan sosio-politik bangsa Indonesia selama empat belas abad ke belakang bisa memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada siapapun yang hendak memimpin dan mengelola negeri ini. Bentangan sejarah bangsa Indonesia itu akan mengabarkan kepada kita tentang berbagai macam hal yang perlu diketahui dan dijadikan pelajaran. Kisah-kisah kepahlawanan sampai pengkhianatan, sejarah para pembela kebenaran sampai para bajingan, sejarah para pemersatu sampai para penipu, kisah tentang para ulama yang benar-benar berdakwah sampai kaum zealot yang suka memecah belah, serta semua catatan mengenai intrik politik dan keculasan dalam perebutan kekuasaan, juga keadilan dan kebijakan para pemimpin yang sesungguhnya, semua dapat kita pelajari dari sejarah bangsa kita yang membentang selama ribuan tahun.
Mengetahui sejarah peradaban bisa menghindarkan kita dari keburukan-keburukan yang pernah terjadi di masa lalu.

Meskipun keruntuhan dan kejatuhan terkadang memang tidak bisa dihentikan. Faktanya, tidak ada peradaban yang tidak mengalami kemunduran, bahkan keruntuhan. Sunnatullah menghendaki demikian. Tetapi memahami dan menyadari bahwa suatu bangsa memiliki kejayaan dalam sejarah pendahulunya, membuat mereka memiliki semangat untuk bangkit dan kembali jaya.
Dalam The Fifth Mountain, sebuah novel adopsi dari Bible yang mengisahkan tentang Elijah, Paulo Coelho mengatakan bahwa tempat-tempat yang pernah menjadi kota besar dan peradaban besar akan bangkit kembali dan jaya. Kolonialis Belanda sadar bahwa bangsa yang mengerti sejarah kehebatan pendahulunya akan sulit dikuasai. Maka kaum inlander yang mau dikuasai ini harus diputuskan dari sejarah pendahulunya.

Dengan berbagai macam cara, termasuk menyembunyikan karya-karya tulis bangsa Indonesia di masa lalu, Belanda meyakinkan bangsa kita bahwa nenek moyang kita adalah orang-orang bodoh, buta huruf, tidak berperadaban, bahkan tidak pernah menggosok gigi dan tidak mengenal pakaian yang layak sebelum orang Eropa datang. Bangsa ini dibuat percaya bahwa mereka adalah bangsa rendahan yang sebaiknya menerima saja dijajah dan diatur oleh orang Eropa. Untuk lebih memantapkan indoktrinasi ini, pada saat orang Belanda berkuasa di negeri ini, bangsa Inlander ditempatkan pada strata sosial terrendah di bawah bangsa China, Arab, dan Eropa. Strategi ini berhasil, sehingga bangsa ini membutuhkan waktu yang lama untuk akhirnya berhasil mengusir para penjajah tersebut. Yang lebih menyedihkan lagi, sampai hari ini masih ada bumiputera yang merasa minder dan inferior terhadap suku Cina, Arab, dan orang “bule”.

Pada dasarnya manusia akan kalah dalam sebuah persaingan atau peperangan apabila spirit, atau semangat dan mentalitasnya sudah dimatikan terlebih dulu. Di sini terbukti betapa mengetahui jati diri suatau bangsa melalui kajian sejarah merupakan sesuatu yang sangat penting.

Jika kita mau berfikir sedikit kritis saja, kita tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh para penjajah itu. Beberapa daerah di Indonesia memiliki huruf asli seperti “ha na ca ra ka”. Tidak mungkin suatu bangsa memiliki alfabet sendiri jika di situ tidak terdapat budaya literasi yang maju. Margaret Kartomi, dalam sebuah penelitian di bidang ethnomusicology, menyatakan bahwa alat musik gamelan merupakan instrumen asli bangsa kita. Gamelan ini memiliki dua macam scale; pelog dan slendro yang juga original hasil cipta karya nenek moyang bangsa Indonesia. Para antropolog dan soiolog sepakat bahwa majunya kesenian dan literasi pada sebuah bangsa merupakan pertanda bahwa bangsa tersebut adalah bangsa yang berperadaban tinggi.

Kolonialis Belanda juga menggunakan cara lain untuk mengaburkan sejarah pendahulu bangsa ini. Mereka memproduksi apa yang disebut dengan “sastra kolonial”, yakni karya-karya tulis pesanan para penjajah, yang ditulis oleh sastrawan yang bersedia menerima upah untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Maka muncullah beberapa karya tulis yang isinya menjelek-jelekkan para tokoh di masa lalu yang dicintai dan dijadikan panutan oleh bangsa ini. Terdapat pula karya-karya tulis yang isinya menghasut dan menyulut kebencian dan permusuhan antar-suku.

Sampai sekarang, tidak banyak yang tahu tentang sejarah kehebatan bangsa ini di masa lalu, sebagaimana disaksikan oleh penjelajah Eropa Tomé Pires, yang ketika mengunjungi pantai utara Jawa pada 1513, sangat terkesan oleh kemegahan istana yang dilihatnya. Sebagaimana dikutip Ricklefs, Pires mencatat:

“Mereka menggunakan keris, pedang, dan tongkat dengan beragam jenisnya, kesemuanya bersepuhkan emas, pelana berhiaskan emas, hal-hal yang tidak ditemukan di tempat lain manapun di dunia.”

Pires juga menceritakan tentang seorang bangasawan Jawa yang dikenalnya dengan mengatakan:
“(Memiliki) Tiga ekor kuda berpelana cantik dengan pijakan kaki yang indah, yang pakaiannya dihiasi beragam ornamen dari emas, dengan abah-abah yang sangat indah.”

Pires menggambarkan dengan kata-kata “tidak ditemukan di tempat lain manapun di dunia”. Sebuah penggambaran yang sangat kuat memberikan kesan bahwa keadaan masyarakat Jawa yang dilihatnya saat itu sungguh luar biasa makmur dan maju. Fakta-fakta seperti ini hanya bisa kita ketehui melalui penelaahan sejarah. Dengan pengetahuan seperti ini, kita akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bangkit. Kita akan memiliki mentalitas kuat sebagai bangsa yang memiliki akar sejarah nan hebat di masa lalu. Dan dengan itu, fikiran-fikiran positive dan optimisme akan semakin tumbuh dan mewarnai alam fikir bangsa ini.

Catatan militer Portugis, sebagaimana diungkap oleh sejarawan Agus Sunyoto, juga menyatakan bahwa kegagalan Portugis pada usaha pertama menaklukkan Malaka adalah karena adanya para “Juru mudi bedil besar” dari Jawa yang melindungi Malaka. “Bedil besar” yang dimaksud ini adalah meriam-meriam berukuran besar buatan Jawa dan dioperasikan oleh orang Jawa yang disewa oleh kerajaan Malaka.

Ratusan tahun yang lalu, kita telah mampu membuat persenjataan yang canggih berupa meriam yang menakutkan para musuh. Tetapi ketika bangsa ini kemudian berhasil dikalahkan, sejarah kehebatan nenek moyang itu dihapus agar bangsa ini tidak berani melawan.

Sejarah dunia mengajarkan kepada kita bahwa tumuh-kembangnya peradaban di berbagai tempat ternyata memiliki pola dan siklus. Tujuh abad setelah Sriwijaya yang kehebatannya banyak dijumpai dalam berbagai macam catatan sejarah, muncul Majapahit yang lebih hebat lagi. Jika siklus ini terus berlaku, maka tepat jutuh abad dari kejayaan Majapahit, abad di mana kita sekarang hidup, bisa jadi saatnya bangsa ini bangkit kembali menjadi bangsa yang hebat.

Mentalitas dan spirit adalah modal utama suatu bangsa untuk bangkit dan berjaya. Keduanya akan lebih mudah dibangkitkan apabila suatu bangsa menyadari kehebatan para pendahulunya. Untuk mengetahui semua itu, orang harus mengerti sejarah bangsanya. Bangsa yang tidak memiliki sejarah, bukan saja bangsa yang benar-benar tidak lahir dari para pendahulu yang hebat, tetapi bangsa manapun yang tidak mengerti sejarah bangsanya. Padahal dengan sejarah itulah sebuah bangsa bisa benar-benar “hidup”, sebagaimana perkataan para ulama:

“Suatu kaum yang tidak memiliki sejarah adalah kaum yang tidak memiliki eksistensi, karena dengan sejarahlah suatu bangsa ditegakkan, ia hidup jika ia memiliki sejarah, dan ia mati jika ia tidak memiliki sejarah.”
Wallahu A’lam Bisshowaab.

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *