DIAKUI atau tidak, sesungguhnya bahasa dan sastra Jawa sesungguhnya identik dengan ‘bahasa rasa’. Hal itu berbeda, misalnya, dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dalam hal ini, Bahasa Indonesia lebih cenderung disebut sebagai ‘bahasa intelektual’ atau ‘bahasa pengetahuan’, sehingga ketika seseorang menjelaskan suatu ilmu dengan menggunakan Bahasa Indonesia akan lebih mudah. Sementara, Bahasa Inggris adalah bahasa pergaulan, sedang Bahasa Arab meliputi keseluruhannya (bahasa rasa, bahasa pergaulan, maupun bahasa pengetahuan).
Dalam Bahasa Jawa ini memang terdapat tiga tingkatan atau struktur, yaitu;
1. Basa ngoko
2. Basa krama
3. Basa krama inggil

Bagi orang yang tidak senang terhadap Sastra dan Bahasa Jawa, mereka gampang saja mengkritik bahwa Bahasa Jawa itu terkesan feodal alias ningrat atau elitis, membeda-bedakan penggunaan bahasa (Jawa) antara seseorang dengan orang lain yang dianggap lebih tinggi derajatnya. Padahal, dalam hal ini mengandung suatu pengertian mengenai sikap andhap asor (rendah hati), yakni dengan cara merendahkan diri sendiri, tetapi memuliakan orang lain.
Contoh suatu kalimat: Bapak makan nasi rawon. Dapat diterjemahkan sebagai berikut:
1. Ngoko: Bapak mangan sega rawon.
2. Krama: Bapak nedha sekul rawon.
3. Krama Inggil: Bapak dhahar sekul rawon.

Begitu seterusnya, ada rambu-rambu penting bagi kita sebagai generasi muda, hendaknya jangan menggunakan basa krama inggil untuk menyebut diri kita, misalnya “Kula sampun dhahar”, “Kula nembe sare”, “Kula badhe tindak”, dan sebagainya. Sebaliknya kita harus mengatakan, “Kula sampun nedha”, “Kula nembe tilem”, “Kula badhe kesah”, dst.
Jika kita mengatakan kepada orang yang lebih tua atau patut dihormati, sebaiknya kita menggunakan basa krama inggil, misalnya “Panjenengan badhe tindak pundi?” “Panjenengan menapa sampun siram?” “Panjenengan sampun dhahar?” dst.
Dan, berbicara tentang Bahasa dan Sastra Jawa, maka tak dapat kita lupakan pula mengenai Aksara Jawa, yakni;
1. “Hana caraka” artinya ada utusan!
2. “Data Sawala”; artinya kenyataannya atau datanya tidak sama atau berlainan, tidak sinkron, tidak sejalan, tidak seide, atau terjadi perbedaan, yaitu ada perselisihan paham atau pertengkaran keyakinan. Atau jika diungkapkan dalam Bahasa Jawa; benceng cuweng (tidak cocok)!
3. “Padha Jayanya”; artinya sama-sama kuat atau sama-sama perkasa!
4. “Maga Bathanga”; artinya terserah kepada masing-masing (terserah pilihan Anda)! Dan, hal itu sinkron dengan firman Allah Swt di dalam Surah Al-Kafirun: “Lakum diinukum waliyadin” yang artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Perkembangan Sastra Jawa
Sastra Jawa mengalami apa yang disebut dengan kencana rukmi (masa keemasan) yaitu pada era tahun 1970-1980 an. Dikatakan mengalami masa keemasan atau kejayaan karena pada masa itu banyak tokoh penulis sastra Jawa kawakan seperti Tamsir AS, Suparto Brata, Any Asmara, Djayus Pete, Tiwiek SA dan sebagainya yang karya-karya mereka sering menghiasi berbagai majalah Jawa, antara lain Panjebar Semangat, Jaya Baya, Jaka Lodhang, Mekar Sari, dan sebagainya. Majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya terbit di Surabaya (Jawa Timur), sedang Mekar Sari dan Jaka Lodhang di Yogyakarta. Tak ayal, banyak para pembaca di Jawa Timur dan Yogyakarta yang mengapresiasi karya-karya para sastrawan Jawa itu.
Setelah itu lahir pula Majalah Jawa Anyar yang terbit di Solo (Surakarta) yang ikut meramaikan jagad sastra Jawa. Hanya saja, sayangnya hanya beberapa tahun saja Majalah Jawa Anyar memberikan ruang ekspresi bagi para sastrawan Jawa, setelah itu gulung tikar.

Memang, permasalahan utama maju dan berkembangnya media massa (majalah dan koran) pada penjualan oplah-nya dan iklan. Dan, hingga saat ini yang masih tetap survive (bertahan) yaitu Majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya di Surabaya (Jawa Timur) serta Jaka Lodhang di Yogyakarta. Dalam hal ini, mereka hanya ‘bertahan hidup’, bukan semata-mata mengembangkan bisnis. Dan, yang paling utama adalah berusaha menghidupkan sastra Jawa di tengah maraknya berbagai media massa yang menggunakan Bahasa Indonesia, terlebih menghadapi ancaman media online yang berbasis internet. Dengan makin maraknya media online berbasis internet dewasa ini, faktanya banyak media massa yang menggunakan bahan baku cetakan kertas yang mengalami kerugian besar.

Meski kehidupan sastra Jawa melalui media massa atau majalah ber-Bahasa Jawa boleh dikatakan mengalami penurunan omzet atau oplah, tetapi untungnya sejak pemerintahan Presiden Jokowi-JK ini pelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Jawa (Bahasa Daerah) juga diberikan atau diajarkan kepada siswa SMA/SMK. Padahal sebelumnya hanya diajarkan kepada siswa SD dan SMP saja. Dengan demikian banyak sekolah terutama di tingkat SMA/SMK yang membutuhkan tenaga pengajar jurusan Bahasa Daerah (Bahasa Jawa).

Menulis Itu Gampang
“Sebenarnya menulis itu sangat gampang!”
Barangkali ungkapan tersebut tidak berlebihan terutama bagi para penulis, apalagi penulis senior yang telah banyak makan asinnya garam dalam dunia tulis-menulis. Bahkan, bagi seorang penulis profesional, menulis merupakan suatu “kebutuhan” yang tak terelakkan sebagaimana Anda butuh makan-minum, butuh pakaian, rekreasi bersama keluarga, dan seterusnya. Hal itu berarti, jika ia tidak menulis dalam beberapa hari, misalnya, kemungkinan besar ia akan mengalami pusing atau penat.

Meski kenyataannya banyak para mahasiswa yang kebingungan ketika mendapat tugas membuat karya ilmiah atau para mahasiswa tingkat akhir yang kelabakan ketika mengerjakan tugas akhir membuat skripsi, tetapi sekali lagi menulis itu sebenarnya sangat gampang.

Mengapa gampang? Bagaimana dikatakan gampang? Bagaimana tidak gampang, sedang menulis itu sesungguhnya sekadar aktivitas merangkai huruf, lalu menjadi kata. Kata demi kata pun dirangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat yang dirangkai kemudian menjadi satu paragraf (alinea). Sedang, paragraf yang satu dengan paragraf yang lain jika digabungkan akan menjadi satu bab tulisan sebuah buku. Dan, bab demi bab tersebut kemudian benar-benar menjadi sebuah buku yang utuh. Oleh karena itu, agar Anda tidak terlalu pusing memikirkan buku yang tebal, hendaknya Anda memandang bahwa buku tersebut hanyalah berisi kumpulan bab demi bab atau kumpulan tulisan pendek saja. Sementara, bab atau tulisan pendek itu sendiri hanyalah kumpulan dari paragraf (alinea), sedang paragraf itu sendiri hanya kumpulan dari beberapa kalimat, kalimat hanya kumpulan dari beberapa kata, dan kata hanyalah kumpulan dari beberapa huruf.

Nah, dengan demikian terlihat sederhana bukan?!
Sekali lagi, jika Anda dapat merangkai huruf-huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, merangkai kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf (alinea), merangkai paragraf-paragraf (alinea-alinea) menjadi sebuah tulisan pendek atau satu bab, dan merangkai beberapa bab atau beberapa tulisan pendek, maka Anda sudah dapat membuat sebuah buku yang utuh. Sesederhana itulah, sehingga menulis sebenarnya sangatlah gampang.

Lebih dari itu, mengapa menulis dikatakan gampang, setidaknya hal itu menyangkut jam terbang. Artinya, semakin Anda giat berlatih menulis, menulis, dan menulis setiap hari, tentu Anda pun akan menjadi terlatih dan trampil dalam menulis. Hal itu tak ubahnya sebagaimana anak-anak kecil ketika belajar naik sepeda, meski kerapkali mengalami jatuh-bangun, tetapi lama-kelamaan benar-benar menjadi trampil. Demikianlah bahwa menulis itu memang membutuhkan suatu proses, sering berlatih dan berlatih, menulis dan menulis secara istiqomah hingga akhirnya benar-benar menjadi trampil atau mahir.

Menulis dengan Hati, Menulis Merdeka
Aktivitas apa saja yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati, terlebih lagi dalam urusan menulis, niscaya hasilnya tidak bagus. Hal itu seperti dinyatakan oleh Stephen King: “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.”

Para pengarang novel hebat, seperti Ahmad Tohari dengan karyanya “Ronggeng Dukuh Paruk”, Andrea Hirata dengan “Laskar Pelangi”, Habiburrahman dengan “Ayat-Ayat Cinta”, Pramoedya Ananta Toer dengan ‘Arok-Dedes’, Gunawan Muhammad dengan ‘Catatan Pinggir’-nya, Emha Ainun Nadjib dengan karya-karya esainya, Quraish Shihab dengan buku-bukunya dan sebagainya telah menunjukkan hal itu, sehingga karya-karya mereka diminati banyak orang. Mereka dengan totalitas penuh saat menulis novel, saat berkarya.

Oleh karena itu, sebelum berkarya menulis, sebaiknya Anda menenangkan diri terlebih dahulu. Jika Anda sudah dapat menguasai diri dengan melibatkan sepenuh hati serta dengan totalitas penuh, niscaya tulisan-tulisan Anda akan dapat mencerahkan, memberi inspirasi, membangun jiwa, atau memberi pengetahuan dan seterusnya bagi pembaca Anda.
Ketahuilah bahwa sebenarnya menulis itu merupakan sebuah kemerdekaan bagi setiap orang, termasuk Anda! Kita semua berhak menulis apa saja, tentu maksudnya menulis yang bersifat positif. Dan, karena menulis adalah ekspresi kemerdekaan, maka Anda jangan merampas kemerdekaan orang lain. Jangan pula, misalnya Anda membuat tulisan yang isinya mengancam keselamatan orang lain, menghina dan menghujat, mengumbar seksualitas, menebarkan api kebencian, menodai agama dan kepercayaan orang lain, dan seterusnya.

Saya yakin bahwa semua penulis akan merasa senang, girang hati dan bahagia tatkala tulisannya—entah berupa artikel, cerpen, atau easy—dimuat di media massa (majalah, koran), apalagi ketika naskah buku Anda diterbitkan oleh penerbit! Bahkan, para wartawan yang tulisan beritanya 99 persen akan dimuat di medianya, toh mereka tetap merasa senang ketika melihat tulisannya dimuat di majalah/koran mereka. Makanya pagi-pagi ketika koran datang, tentu yang dilihat oleh para wartawan yaitu tulisan mereka sendiri.

Berbeda dengan di era globalisasi dewasa ini, Anda dapat mengirim tulisan berupa puisi, cerpen, easy, artikel dan dijamin pasti dimuat atau ditayangkan, misalnya di jejaring sosial, seperti facebook atau kompasiana, dan sebagainya. Kalau Anda mempunyai uang lebih, maka Anda pun bisa menerbitkan buku di penerbitan indie. Bukan hanya penerbit indie saja, bahkan penerbit besar pun sekarang ini mau menerbitkan tulisan orang lain termasuk soal pembiayaannya. Tak mengherankan jika kesempatan itu dimanfaatkan oleh para politisi yang hendak membangun citra diri untuk kepentingan Pilkada II dan I, pilihan legislatif, dan seterusnya. Tetapi, puaskah jika Anda melakukan hal seperti itu? Sebab, sejelek apapun naskah tulisan Anda, karena Anda sendiri yang menanggung biayanya, tentu naskah buku Anda itu dapat diterbitkan oleh penerbit berskala nasional dengan kelengkapan ISBN-nya pula.

Menurut saya, karena menulis merupakan wahana kemerdekaan setiap individu, maka kesempatan itu hendaknya kita pergunakan sebaik mungkin. Misalnya bagaimana kita dapat membuat suatu tulisan yang bersifat informatif, menggugah kesadaran agar bangkit berkarya, mencerahkan, membangun jiwa, memberikan penyadaran untuk menemukan diri, menebarkan ilmu pengetahuan yang positif, dan seterusnya. Pendek kata, Anda dapat menyampaikan pesan positif melalui buku yang Anda buat, entah buku fiktif (novel) atau non fiktif.

Rahasia dalam Menulis Buku
Disadari atau tidak sesungguhnya kedudukan seorang penulis adalah sebagai seorang yang menguasai ilmu pengetahuan. Betapa tidak! Bayangkan, bagaimana kita akan dapat menulis bila tanpa menguasai ilmu pengetahuan? Atau, katakanlah bagaimana kita akan dapat menuangkan pemikiran kita bila tidak menguasai suatu ilmu apapun?

Idealnya, seorang penulis memang menguasai suatu ilmu tertentu (spesifik), sebagaimana jalur akademik di perguruan tinggi yang kalau digambar bentuknya seperti piramida. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka ia akan semakin mengerucut (khusus). Seorang lulusan S-3 (Doktor) adalah seorang yang menguasai pada satu bidang secara khusus, yang lebih spesifik daripada lulusan Sarjana S-1 dan S-2. Atau, istilahnya seorang pakar atau seorang ahli adalah “mengetahui banyak terhadap sedikit hal”. Sedangkan saya, maaf, dalam kapasitas sebagai penulis ini, sesungguhnya sangat kurang ideal karena latar-belakang saya sebagai wartawan, maka saya menggunakan teori; “mengetahui sedikit terhadap banyak hal”.

Meski demikian, tentu siapapun boleh menjadi penulis, termasuk Anda semua. Dalam hal ini, tak berlebihan kiranya jika kita dituntut untuk terus belajar dan belajar, terutama berkaitan dengan minat-bakat yang kita senangi. Betapa banyaknya orang-orang yang bukan sarjana, ternyata mereka memiliki kemampuan hebat dalam menulis. Sebaliknya, betapa masih banyak pula kalangan intelektual dari akademisi yang merasa kesulitan menuangkan pemikirannya melalui tulisan atau buku!

Sebelum menulis buku, banyak orang yang memulai menulis artikel, opini, easy, cerpen atau resensi yang kemudian dikirimkan ke media massa. Lama-kelamaan, setelah terbiasa dan terlatih menulis cerpen, misalnya, dia akan melanjutkan menulis novel (fiksi) hingga diterbitkan oleh penerbit. Demikian halnya yang terbiasa menulis artikel (opini) di koran-koran, lama-kelamaan mereka pun akan terlatih dan mahir menulis buku non fiksi.
Lalu, apa rahasianya agar kita dapat menulis buku?

Dalam hal ini, menurut hemat saya, ada dialektika atau hubungan timbal-balik yang tidak boleh dilupakan yaitu membaca dan menulis. Ini merupakan ‘kata kunci’ penting yang musti dijaga oleh para calon penulis. Dengan banyak membaca, membaca apa saja seperti buku, majalah, koran, browsing internet, dan seterusnya tentu akan memudahkan kita mendapatkan inspirasi atau informasi yang mencerahkan. Apalagi, membaca merupakan perintah pertama Tuhan, sebagaimana ternukil dalam ayat pertama dalam Surah Al-‘Alaq (al-Qur’an), yaitu iqra’ (bacalah!). Jelas hal itu mengisyaratkan bahwa membaca merupakan sesuatu yang sangat penting bagi umat manusia.

Bahkan, disadari atau tidak, sesungguhnya pola pikir dan tindakan kita pun akan diwarnai oleh buku apa yang kita baca! Betapa ruginya jika kita telah membaca banyak hal yang merupakan input, tetapi kita tidak mampu menuliskannya sebagai out put atau produk yang Anda hasilkan. Renungkanlah penuturan Stephen King: “Membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis”.

Bahkan, Hernowo Hasyim, seorang penulis dan praktisi kepenulisan mengatakan, “Penulis yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik”.

Dalam hal ini Hernowo Hasyim menandaskan tentang pentingnya ‘mengikat makna’, yakni mengikat ilmu pengetahuan yang Anda baca dengan menuliskannya. Membaca memang baik dan penting, tetapi jika hanya membaca tanpa menulis, tentu tidak menjadi sempurna. Bukankah menulis lebih baik daripada sekedar membaca saja? Hal itu nampaknya identik dengan hadits Nabi Saw: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Imam al-Ghazali yang dikenal dengan sebutan ‘Hujjatul Islam’ mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Yang jelas, pernyataan Imam al-Ghazali tersebut mengisyaratkan bahwa menulis merupakan amal sholeh dalam kehidupan sehari-hari. Dan, dalam sejarahnya karya buku Imam al-Ghazali sebanyak 313 buah, sedang yang sudah masuk ke Indonesia hanya sekitar 18 buku. Salah satu karya Imam Ghazali yang paling kesohor yaitu berjudul Ihya’ Ulumuddien.

Kalau, misalnya, Anda sudah membaca buku atau majalah dan koran, menonton televisi, berselancar ke dunia maya (internet) dan seterusnya, tetapi belum mendapatkan inspirasi tentang tema apa yang hendak Anda tulis, barangkali ada baiknya Anda berdiam diri di tempat yang sunyi untuk melakukan perenungan (kontemplasi). Dan, jangan heran ketika Stephen King mengatakan: “Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu, kita sendirilah yang menciptakannya”!
Dan, menurut Stephen King, ketika seorang penulis hanya menunggu dan menunggu datangnya inspirasi itu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri. Di sinilah pentingnya bagi seorang penulis untuk mengetahui minat-bakatnya sejak awal, sehingga mengetahui benar tentang apa yang harus ia tulis, termasuk siapa gerangan segmen (pangsa pasar) pembaca dari karya buku yang Anda hasilkan.

Yang paling penting yaitu bahwa menulis, menurut Sastrawan Pramoedya Ananta Tour identik bekerja untuk keabadian. Betapa pun seseorang sangat pandai, bahkan bergelar Profesor Doktor sekalipun, tetapi jika dia tidak membuahkan karya tulis berupa buku, niscaya dia tak akan dikenang dalam sejarah. Dengan menulis, maka karya Anda akan dapat dinikmati sepanjang masa oleh generasi sesudah kita hingga anak-cucu kelak dan seterusnya.

Hal-hal Penting dalam Menulis
Patut dicatat bahwa bagi para calon penulis diharapkan memiliki kebiasaan diskusi, yang sejatinya merupakan perwujudan berpikir itu sendiri. Artinya, para calon penulis diharapkan sangat kreatif, berpikir kritis, cerdas, memiliki daya kontekstual hebat dalam menggabungkan antara teori dan kenyataan di masyarakat.
Para calon penulis buku tidak saja dituntut menguasai teknik-teknik menulis yang baik dan benar, bahkan mereka diharapkan dapat menghadirkan “ruh” pada karya tulis (buku) yang mereka buat. Harapannya agar tulisan Anda bukan saja enak dibaca, tetapi juga penting. Bahkan, karya tersebut dijadikan referensi bagi penulis lain, dikoleksi di perpustakaan umum, dijadikan pegangan akademisi, dan terlebih dapat mencerahkan para pembaca Anda.

Lalu, hal-hal apa saja yang patut diperhatikan oleh para calon penulis buku?
Setidaknya ada beberapa hal penting sebagai rambu-rambu yang patut diperhatikan bagi para calon penulis buku, yaitu;
1). Membangun Keyakinan
Bahwa buku kita akan diterima publik, dapat memberikan inspirasi dan menggugah orang lain atau bahkan menjadi best seller, sebenarnya dalam hal ini memiliki peluang yang sama dengan penulis hebat sekali pun. Jadi, antara penulis pemula dengan penulis senior tak ada bedanya.
2). Persepsi Menulis Buku Mudah
Ini penting, sebab orang yang tidak memiliki persepsi bahwa menulis buku itu sebenarnya mudah, maka ia akan menganggap bahwa menulis buku itu sulit. Kalau demikian, selamanya ia merasa sulit menulis buku.
3). Memilih Tema Yang Tepat
Dalam memilih tema ini disesuaikan dengan kesenangan atau minat Anda dalam menulis buku. Selain itu, bolehlah jika kita menengok tentang tema buku yang sedang ngetren atau menjadi best seller saat ini. Dan, jika Anda mampu menuliskannya, mengapa tidak?
4). Membuat Outline atau Kerangka Tulisan

Pembuatan outline atau kerangka tulisan ini tujuannya agar penulisan kita menjadi efektif, lebih fokus dan tidak melebar. Tetapi, bagi Anda yang dapat menulis tanpa membuat outline atau kerangka tulisan, hal itu juga tidak masalah.5). Memiliki Gaya Penulisan Sendiri.
Boleh jadi, pada saat awal latihan menulis, Anda (boleh) meniru gaya penulis yang Anda senangi, seperti gaya Gunawan Muhammad, Emha Ainun Nadjib, Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy dan sebagainya. Setelah berulangkali Anda menulis seperti gaya penulis idola, maka Anda berusaha menjadi menjadi diri Anda sendiri. Artinya, Anda sudah mempunyai gaya penulisan sendiri, sehingga berbeda dengan gaya penulis idola Anda sebelumnya.
6). Menguasai Teknik Penulisan
Sebagai seorang penulis, maka kita dituntut untuk menguasai teknik penulisan berdasarkan pilihan kita, apakah kita hendak menulis buku fiksi atau non fiksi.
7). Mengalirkan Gairah, Semangat, Visi dan Misi
Salah satu rahasia keberhasilan buku-buku bestseller adalah pada kemampuannya dalam “berbicara” atau menjalin hubungan emosional dengan para pembacanya. Buku yang mengesankan adalah buku yang mampu memengaruhi dan menggerakkan pembacanya, miscalnya dengan mengungkapkan pikiran-pikiran atau ide-idenya. Dengan demikian penulis mampu mentransfer antusiasme, keyakinan, visi-visi, dan kejujurannya kepada pembaca.
8). Menguasai Teknik Pengayaan Dan Penyuntingan Naskah
Setelah kita selesai melakukan penulisan buku, hendaknya kita lakukan pengolahan atau editing naskah kita sehingga menjadi sempurna. Dalam hal ini termasuk mengecek lagi tentang penyuntingan dan pengayaan, istematika tulisan, judul bab dan sub bab, ketepatan teori dan pendekatan, kelengkapan data maupun variasi contoh kasus, pengembangan gaya bahasa populer, dan termasuk editing bahasa.
9). Memilih Judul yang Tepat
Judul-judul buku seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, atau buku-buku saya; Cermin Hati, Kontroversi Ajaran Kebatinan, Perdebatan Langit Dan Bumi, Brawijaya Moksa, dan seterusnya, menurut saya sudah bagus. Diharapkan paling banyak tiga kata, tidak lebih. Kalau lebih dari tiga kata, jadinya malah membosankan. Setidaknya, dengan tiga kata, maka judul tersebut dapat memberi kesan positif kepada pembaca.
10). Mencari Penerbit yang Sesuai
Langkah terakhir jika buku kita sudah selesai, yakni mencari penerbit yang memiliki misi yang sesuai dengan isi tulisan kita. Semakin besar penerbit tersebut, maka akan semakin terbuka peluang buku kita diterima pubik atau menjadi laris-manis di pasaran, syukur best seller.

Rambu-Rambu Menulis Artikel di Media Massa
Agar tulisan artikel kita dapat dimuat di media massa, tentu ada rambu-rambu yang musti kita perhatian, di antaranya yakni;
1. Mengangkat suatu tema yang aktual (hangat). Hal ini bukan berarti bahwa tema tulisan yang tidak aktual tidak bisa diterbitkan di media massa, tetapi tema yang aktual lebih berpeluang diterima.
2. Menyesuaikan dengan visi-misi suatu media (majalah, koran, dll) yang kita pilih.
3. Menyampaikan analisa dalam tulisan artikel kita secara argumentatif (memberikan alasan kuat) dan persuasif (bersifat membujuk dan tidak menggurui)
4. Memberikan sumber-sumber bacaan yang valid dan terpercaya
5. Hendaknya tidak menggunakan bahasa yang kaku (formal), tetapi yang luwes, mengena pada sasaran, dan seterusnya.
6. Menguasai materi tulisan
7. Dan sebagainya.

=========================

Penulis:

Wawan Susetya (tinggal di Tulungagung)

*Tulisan disampaikan dalam Diskusi & Pelatihan Literasi dan Videografi di Ponpes Sulaiman Gandusari Trenggalek pada 7-9 April 2018.

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *