Ketika ditanya olehnya tentang sikap eksploratif bangsa Barat tersebut, dengan kening berkerut Stefan menjawab singkat, “Orang yang sudah beradab butuh diperadabkan lagi.”

Tidak banyak pondok pesantren yang mengapresiasi budaya. Sebuah ungkapan terima kasih dinyatakan oleh sastrawan senior, Ahmad Tohari (AT), kepada pengasuh Pondok Pesantren Sulaiman Desa Sukorejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek, KH Musyaroh Utsman, ketika menggelar kegiatan orasi budaya dan workshop: jurnalistik dan videografi di pesantrennya.

Sejak pagi tanggal 7 April 2017 di alun-alun Kabupaten Trenggalek, acara tersebut resmi dibuka oleh Asisten Bupati bidang Pemerintahan, ….. Pembukaan diisi oleh kesenian dan lagu oleh siswa-siswa madrasah dan santri-santri pondok pesantren.

Orasi Budaya 2017 ini mengangkat tema “Menegaskan Kembali Visi Kebangsaan Hadratusysyekh KHM Hasyim Asy’ari”. Sebagaimana telah diterbitkan berbagai kitab yang ditulis oleh Hadratussyekh, beserta tafsiran-tafsiran pada tindakannya. Sehingga muncul pemahaman, Hadratussyekh adalah sosok yang skripturalis. Kaku di dalam pemikiran. Bahkan, dia melarang diadakan ulang tahun kematian (haul) untuk dirinya. Sebuah sikap yang berbeda dari kebiasaan ulama-ulama besar lainnya. Bagi kalangan skripturalis, hal ini mendukung pandangan mereka yang identik dengan pemikiran ala Ibn Taymiah. Jika Hadratussyekh adalah orang yang benar-benar anti bidah.

Padahal tidak demikian, Hadratussyekh mengambil sikap hati-hati (ikhtiyath) seperti yang biasa dilakukan oleh ulama-ulama Asy-Syafi’iyah. Demikian dijelaskan oleh KH Fahmi Amrullah, salah satu cucu Hadratussyekh yang turut hadir mengisi acara workshop tersebut.

Membincang Identitas

Era globalisasi telah menuntun masyarakat kian terbuka dari informasi-informasi dunia. Sehingga dampak yang terjadi adalah pengikisan budaya dan seni tradisi lokal sebagai identitas. “Kita sekarang berada dalam masa globalisasi,” tutur KH Agus Sunyoto dalam Orasi Budaya (8/4/2017) yang diselenggarakan Pondok Pesantren Sulaiman Desa Sukorejo Kecamatan Gandusari di alun-alun Kabupaten Trenggalek. “Di mana pengaruh globalisasi sudah masuk ke desa-desa dan orang akan dihilangkan oleh globalisasi,” tegasnya.

“Globalisasi itu menghilangkan identitas-identitas: etnis, bahasa, budaya, dan agama. Itu dihilangkan semua. Jadi, tradisi-tradisi lokal harus menjadi global, hilang. Itulah salah satu cara program globalisasi supaya berhasil menggunakan terma-terma agama. Contohnya dalam agama, ada kelompok agama yang dibayari oleh orang yang menjalani program globalisasi ini. Kenapa? Agar identitas lokal ini hilang. Muncul kelompok-kelompok agama yang mengatakan selametan ini bukan ajaran Islam, bidah, harus dihapus. Hilang identitas. Tahlilan bidah. Hilang. Yasinan bidah. Semuanya bidah. Islamnya hanya satu, trans nasional. Ini kelompok agama bayaran semua ini. Jadi, jangan sampai hilang. Kita pertahankan identitasnya.

Oleh karena itu, program yang dijalankan NU sekarang ini adalah mempertahankan Islam Nusantara, Islam Indonesia. Islam warisan walisanga. Kenapa? Karena, dalam program globalisasi itu sudah jadi girik (agunan, red.). Islam paripurna itu adalah Islam teroris. Islam yang suka membunuh. Islam yang intoleran. Islam break down seperti ISIS, Al-Qaidah, Taliban, Boko Haram, ya mau digiring ke situ. Dan, sejak 2009, mulai dialihkan ke Indonesia. Pesantren-pesantren mulai dianggap sebagai sarang teroris. Ini mulai digiring ke situ.”

Di satu sisi, memang Islam dipandang dari dua sudut: formal-syariah dan informal-sufistik. Secara dikotomis, kedua pandangan ini sering bersinggungan secara tajam. Padahal, pada hakikat kesejatian keduanya tidak bisa dipisahkan. Seperti tubuh dan baju. Membedakan tubuh dan baju ini yang belum bisa menjadi pemahaman merata bagi kaum muslimin Indonesia secara umum. Sementara di sisi yang lain, Islam memiliki universalitas, di setiap tempat memiliki kesesuaian dengan aturan-aturan syariah.

Oleh karena itu, Islam tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Menurut KH Agus Sunyoto, “Sangat keliru kalau seni Islam hanya sesuatu yang bersifat seni Arab, seperti samrah, hadrah… di luar itu bukan Islam. Seluruh kesenian yang bercirikan rakyat adalah seni Islam Nusantara yang dipelopor sejak zaman walisanga.

Orang-orang dulu selalu menggunakan istilah-istilah Jawa kuno, meskipun maksudnya tidak Islam (Arab, red.). Contoh wilayah ini di zaman kuno disebut Kampak. Zaman Islam diubah menjadi Tranggalek. Tranggalek itu bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno. “Trangga” artinya bintang, “lek” artinya bulan sabit. Perlu diingat, ya, bintang dan bulan sabit. Sejak zaman Menak Sopal, nama Tranggalek digunakan. Kalau bulan saja namanya Candra. Ini nama yang luar biasa. Menunjukkan ini ciri-ciri ke-Islaman zaman kuno. Trenggalek itu sudah sangat kuno. Jauh sebelum Kediri. Kediri itu baru belakangan.

Itu sebabnya semangat kerakyatan di Trenggalek ini dijiwai Islam. Nah, karena para wali dulu menyebarkan Islam lewat kesenian rakyat, maka sudah menjadi tugas dari para kiai dan pesantren-pesantren sebagai penerus ajaran walisanga untuk tetap melestarikan kesenian-kesenian warisan walisanga,” terangnya. “Madura itu pusatnya pesantren, tapi di daerah-daerah tertentu, seperti Di Ambuluten daerah Sumenep, Kiai Suhel dan kiai-kiai lain mempertahankan kesenian sambur yang menggunakan gamelan.”

Secara geopolitik, sebuah kawasan wilayah memang memengaruhi peradabannya. Hal ini yang jarang dimengerti dalam memaknai pepatah lama: lain padang lain ilalang. Perbedaan kultur, adat, pengalaman dan penghayatan tradisi tidak bisa disamaratakan. KH Agus Sunyoto menyebutkan, “Berarti, Indonesia itu sangat berbeda dengan Timur Tengah, Islam kita itu kompromis. Islam yang pluralis, Islam yang lekat dengan budaya. Tidak pernah ada konflik keagamaan. Jadi, di situlah, program Islam Nusantara diglobalkan oleh NU. Sampai, Alhamdulillah, sekarang dunia ini mengenal dua jenis Islam. Pertama, Arabian moslem, kedua Indonesian moslem. Arabian moslem ini pemarah, suka teror, suka bom bunuh diri, yang menakutkan-menakutkan itu. Sementara Indonesian moslem, ya Islam Nusantara, yang ramah, yang toleran, itu tu juga seperti itu. Bahkan, kita lihat, jangankan di Timur Tengah, orang-orang Arab di Indonesia saja tidak menunjukkan bagaimana… sedikit-sedikit kafir, sedikit-sedikit…. Itu bukan watak dari sini Islam Indonesia…. Islam Indonesia sangat terbuka… seperti itu budaya… itu bagian kita…. Jangan dihilangkan! Mengapa? Itu identitas kita. Kalau tidak, kita habis. Kita bertahan betul dari serangan globalisasi. Karena, tanpa sadar globalisasi sudah menyerang kita. Jadi, beberapa penelitian di basis-basis NU, itu sudah menunjukkan sebagian besar orang NU sudah terpengaruh. Dilihat dari apa terpengaruh global? Anak-ank yang lahir mulai 2005 sampe berikutnya tidak lagi menggunakan nama-nama daerah, nama-nama lokal. Anak Jawa sudah tidak lagi diberi nama Sudirman, Sumaji, Kartono, Khoirul… ndak ada lagi nama itu. Sudah global: Kenzo, Arvando, Jhoni, Ronaldo, bahkan itu nama-nama…. Yang perempuan juga sudah berubah, nggak ada lagi anak dinamai Juariah, Sringatun, Ngatemi, nggak ada… namanya sudah berubah. Cornelia, Ardelia. Dan, tidak satupun anak yang manggil ibunya dengan sebutan emak, apalagi embok. Mama, mami, papa, papi. Manggil paman, bibi, nggak ada lagi: om, tante. Berubah.”

Demikian, proses Islamisasi bersifat sangat kultural. Terjadi proses asimilasi dan akulturasi yang alami. Bukan dalam proses yang memaksakan kehendak dengan keseragaman. Sebagaimana disebutkan olehnya, “Di satu sisi, ada lagi proses Arabiasi. Seolah-olah Islam itu adalah Arab. Kalau tidak arab, bukan Islam. Kalau Indonesia itu harus ukurannya tu arab, Islam di Indonesia sama sekali tidak menunjukkan identitas ke-Arab-an mulai awal. Ya, seperti ini tadi, Jaminan Islam tidak ada di Timur Tengah. Sejak awal. Bahkan, ketika walisanga berdakwah, itu tidak ada satupun nama tempat di Indonesia yang berubah menjadi nama Arab. Satu-satunya Kota Kudus. Itu saja nama Arab. Di luar itu tetap nama Jawa. Bahkan, walisanga nulis tidak dalam Arab pegon, tapi nulis dalam huruf Jawa, hanacaraka itu. Jadi, di Lesbumi PBNU itu mengumpulkan naskah mulai akhir Majapahit, zaman Demak, zaman walisanga. Zaman Pajang sampe zaman Mataram. Itu sudah terkumpul 6.528 naskah. Ternyata, zaman Demak sampe Pajang belum ada tulisan Arab pegon. Tulisan Jawa semua. Itu wali-wali itu nulis dalam tulisan Jawa. Dalam bentuk tembang dan seterusnya. Kehebatan wali-wali seperti itu. Jadi, sama sekali tidak menunjukkan pengaruh Arab. Ini ni yang perlu kita catat. O, Islam Indonesia itu seperti ini sejak awal. Dan, kita dalam kehidupan sehari-hari seperti ini.”

Proses Islamisasi yang tidak mengabaikan kultur lokal yang sudah hidup dan berkembang di masyarakat. Tidak serta menghapus hubungan sosial yang sudah berjalan. “Saya ambil contoh, saya tu tinggal di Surabaya, karena lahir di Surabaya. Kalau ada orang mati di Surabaya, itu ada peringatan selamatan tiga hari tujuh hari. Yang meninggal itu yang mati orang Islam. Tapi, yang datang slametan itu orang Katolik. Orang Kristen itu datang. Kenapa? Ya, memang tradisi budaya kita kayak begitu. Meskipun mereka tidak ikut berdoa, tapi datang. Untuk menghormati.”

Hanya saja, perkembangan dunia informasi melalui medi sosial dewasa ini telah membuat wajah gerakan-gerakan kecil menjadi seolah besar. Pandangan masyarakat yang harmonis telah dikalahkan oleh pandangan media yang berhasil membangun stigma baik dan buruk. Tanpa mempertimbangkan lebih dalam pada hal sebenar. “Bagaimana setelah itu kita dipecah oleh orang-orang, bahwa Islam itu harus Arab. Kalau bukan Arab, bukan Islam. Itu sama sekali di luar fakta, di luar kenyataan. Kenapa? Karena Arab tidak identik dengan Islam. Kita ambil contoh, Palestina 40 persen penduduk palestina itu Kristen agamanya. Jangan dianggap negara muslim Palestina itu. Mesir? Itu ada 20 persen penduduk Kristen Koptik. Suriah Kristen Ortodoks. Di Libanon ada Kristen Maronit.

Sastrawan Libanon, Kahlil Gibran, itu jangan dianggap muslim! Dia Kristen Katolik. Meskipun orang-orang muslim sangat menyukai. Jadi, jangan dianggap, bahwa Islam itu pasti Arab. Tidak. Karena di dalam sejarahnya tidak seperti itu. Dan, di Indonesia memang tidak menunjukkan, bahwa bersimbol Arab itu ada di Islam Indonesia. Dan, kita tetap mempertahankan Islam kita yang sifatnya pluralis, yang kemudian dikemas dalam Pancasila. Bhinneka tunggal ika. Berbeda-beda tapi tetap satu. Jadi, saya kira ini.”

Dan, dunia memandang Islam sebagai Arab semata, tanpa melihat isi di dalamnya. Tanpa melihat perbedaan-perbedaan dan keragaman manusia dan kulturnya. Demikian pula sebalik, dunia di luar Islam-Arab telah dianggap bukan bagian dari mereka. Hal yang serupa menimpa ke dalam pandangan pondok-pondok pesantren terhadap kesenian dan budaya. Keterlibatan pondok-pondok pesantren terhadap seni dan budaya yang hidup di masyarakat masih sangat jarang. KH Agus Sunyoto mengungkapkan tentang kesenian Ludruk yang banyak berkembang di komunitas masyarakat Jawa Timur. “Termasuk pesantren, ada kesenian ludruk yang oleh orang tidak paham, itu dianggap lahir dan berkembang di luar pesantren. Padahal yang mengembangkan ludruk itu para santri, terutama dari pesantren Tebuireng. Yang dulu dipimpin Pak Asmuri (ayah pelawak Asmuni, red.) namanya. Itu santrinya Kiai Hasyim Asy’ari, tidak dilarang sama Mbah Hasyim. Kenapa ludruk itu tidak dilarang? Karena, ludruk itu sandiwara. Artinya, apa sandiwara itu? E, menyampaikan berita, tapi yang sifatnya rahasia. Itu sebabnya lakon-lakon dalam ludruk itu semua lakon perlawanan terhadap kolonial. Mulai Sawunggaling, Pak Sakera, Togo, Sarip, itu semua; itu etos perlawanan yang dibangun dalam cerita ludruk.

Itu sebabnya, ketika harlah NU, 31 januari 2017 kemarin, salah satu tokoh ludruk, Cak Durasim, memperoleh hadiah budaya dari PBNU. Di situ, sebagian orang bertanya, loh, kenapa ludruk? Loh, memangnya ludruk tidak ada hubungannya dengan pesantren? Ludruk lahir dari pesantren. Para santri. Karena dalam kesenian ludruk, perempuan tidak boleh ikut main. Kenapa? Nggak boleh? Pesantren begitu. Yang main laki-laki semua. Yang memerankan perempuan, juga laki-laki. Ini yang banyak tidak dipahami orang. Jadi, itu ciri khas kesenian rakyat. Itu adalah ciri khas kesenian Islam. Sebelum itu tidak “gelap”, jadi itu menjadi satu: itu yang menjadi kabupaten, bahwa Trenggalek ini jelas nama Islam, perubahan dari wilayah Kabupaten Kampak menuju Trenggalek. Itu artinya bintang dan bulan sabit. Tapi bahasa Jawa Kuno. Jangan ada lagi yang keliru menafsirkan Tranggalek: terang nggon elek. Itu otak-atik matuk. Bintang dan bulan sabit. Begitu pula berkaitan dengan kesenian rakyat, kesenian Islam adalah hasil usaha dakwah walisanga dulu dalam
menyebarkan Islam yang sifatnya rakyat.”

Demikian, pemahaman terhadap sejarah budaya sangat perlu, terutama ketika membaca persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat. Bagaimana proses globalisasi pada saat yang sama hendak menghancurkan identitas-identitas yang menjadi ciri keragaman seseorang, komunitas, bahkan suatu bangsa yang hidup di alam lingkungan yang berbeda.

Perkenalan untuk Belajar

KH Ahmad Tohari, sastrawan penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam pernyataan yang disampaikan olehnya, kiai yang lebih suka disebut sastrawan ini mengungkapkan dengan rendah hati, “Saya sebetulnya tidak punya kompetensi untuk bicara masalah agama, karena saya seorang sastrawan,” katanya, membuka orasi. “Tapi, karena dawuh Kiai Musyaroh ini terpaksa saya berani-beranikan bicara masalah ini.”

“Hadirin sekalian,” dia mengawali,” “tentu Anda sering mendengar atau membaca satu ayat Al-Quran yang dilalahi sering dicetak di dalam surat undangan pernikahan. Itu kalau tidak salah surat al-Hujarat:13 yang kira-kira artinya bahwa manusia diseru dan diberi tahu bahwa dirinya manusia itu diciptakan oleh Allah dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku untuk saling berkenalan. Dan di antara manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang bertakwa.”

Dari kutipan ayat tersebut, KH Ahmad Tohari memberi penjelasan tentang keluasan makna “berbangsa-bangsa” dan “bersuku-suku”. Biasa, para pendakwah mengulas panjang lebar tentang makna “ketakwaan”, namun sering mengabaikan kosakata-kosakata sebelumnya. “Biasanya kita hanya memaknai ayat ini tentang ketakwaan dan kemuliaaan orang yang bertakwa itu,” katanya, lembut. “Mungkin tidak sedikit saya merenungkan sisi lain bahwa di dalam ayat ini ada kosakata-kosakata “bangsa” dan “suku”. Bahwa, bangsa dan suku itu adalah ciptaan Allah sendiri. Kalau demikian eksistensi bangsa dan suku adalah suatu yang haq, diciptakan oleh Allah sendiri.”

Dari pemaknaan tersebut kemudian muncul pemikiran tentang eksistensi manusia. Dan, agar eksistensi itu ada, maka jatidiri itu harus dipelihara untuk menunjukkan identitas melalui kesenian dan budaya. “Maka, bangsa dan suku itu harus tetap eksis. Misalnya, bangsa Indonesia mestinya seperti bangsa Stefan ini, bangsa Swedia. Harus ada. Harus ada suku Jawa. Harus ada. Karena ini ciptaan Allah sendiri. Jadi, ini tafsiran saya, mudah-mudahan tidak salah, kalau salah ya memang manusiawi menafsir kita salah. Bahwa di dalam ayat ini sebetulnya manusia diminta disuruh menjaga eksistensi setiap bangsa dan setiap suku. Untuk menjaga eksistensi setiap bangsa dan suku, maka pasti jatidirinya harus dipelihara. Kalau orang Trenggalek sudah tidak bisa ngomong Jawa…, jatidiri orang Trenggalek itu hilang. Entah, sebutan orang apa namanya?” tanyanya. “Kalau begitu yang tadi terpampang di sini (jaranan, red.) adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga jatidirinya orang Trenggalek. Tadi, saya saksikan mereka, karena eksistensi suatu suku harus tetap ada. Harus tetap maujud. Kalau tidak maujud bagaimana relevansinya dengan ayat Al-Hujarat. Kalau semua orang harus China semua. Arab semua. Atau, Swedia semua kayak Stefan. Gimana?”

Dari jatidiri dan identitas yang mewujud itu kemudian, satu orang dengan yang lain, satu bangsa dengan bangsa lain, berusaha untuk saling mengenal. Sehingga muncul rasa ingin tahu (curiosity) dan minat belajar. “Iya, jadi kita diciptakan bermacam-macam saling berkenalan. Saya kira berkenalan ini perlu ditafsirkan lebih tajam, yaitu saling belajar. Saya kira, berkenalan untuk belajar.

Jadi, kalau kita misalnya berkenalan dengan Stefan, orang Swedia. Kita bisa banyak belajar dari Stefan. Orang Swedia itu tingkat literasinya tinggi. Rasa ingin tahunya tinggi. Kemauan belajarnya tinggi. Kita bisa belajar dari Stefan, okay?” tandasnya, seraya berpaling dan memandang Hans Stefan Danerek di samping kanannya. “Stefan semestinya orang Swedia ini belajar dari Jawa ini tentang keselarasan hidup. Tentang Tuhan, alam, dan manusia yang sudah mati di Barat akan belajar dari sini, karena orang Barat sudah terlalu eksploratif.

Ketika ditanya olehnya tentang sikap eksploratif bangsa Barat tersebut, dengan kening berkerut Stefan menjawab singkat, “Orang yang sudah beradab butuh diperadabkan lagi.”

Menutup orasinya, KH Ahmad Tohari menegaskan tentang isi atau jiwa sebuah kebudayaan. Karena, baju bisa saja sama tapi yang memakai bisa berbeda. Jika di dalam tradisi lokal mengenal kesenian yang menghendaki ritual “mabuk-mabukan”, maka isinya harus diganti dengan isi-isi yang bernilai sufistik, seperti zikir yang sama-sama “mabuk”nya. Bedanya, yang pertama bernilai tradisi an sich, sementara yang kedua lebih bersifat ilahiyah (ketuhanan). Di sini letak keunikan budaya. “Jadi, apa yang saya tadi berada di sini, apa yang diutarakan Pak Agus, bahwa Islam Indonesia adalah Islam Indonesia, yang mungkin ini dugaan saya, dulu, para wali itu ketika membawa Islam ini tidak pernah lupa tentang surat Al-Hujarat ayat 13. Bahwa, bangsa dan suku adalah ciptaan Allah sendiri. Maka, eksistensinya wajib dijaga. Menjaga eksistensi suatu suku adalah bahasanya, tradisinya, keseniannya, nelung dino, matang puluh dino tetap dijaga, biarkan. Yang bisa diwadahi, diberi, diganti isinya itu nanti akan kita kembangkan. Tapi, pasti ada yang dibuang. Seperti tradisi-tadisi dan budaya minum ciu harus ditinggalkan, karena tidak sesuai dengan syariat Islam,” pungkasnya.

Demikian, jika kesenian dan budaya yang berkembang di masyarakat justeru dijauhi oleh pondok-pondok pesantren, maka yang berkembang kemudian hanya tradisi-tradisi yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah. Kesenian dan budaya yang melandaskan pada nafsu semata, seperti mengumbar “materi” dan kenikmatan tubuh.

Malam itu, cahaya-cahaya lampu menyala terang. Masyarakat Kabupaten Trenggalek yang khusyuk menikmati sajian jaranan Turanggayakso yang menyita perhatian, pun puisi syahdu Ajeng Puspo Endah yang mengesima mata. Hingga larut berselimut kabut.

Trenggalek, 10 April 2018.

=======================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Followers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *