Bagi Hans Stefan Danerek, Trenggalek merupakan wilayah yang baru pertama kali dikunjunginya. Pernah sebelum, dia bersama rombongan ke pabrik rokok besar di Kediri, namun tidak sampai ke Trenggalek.

Stefan, demikian panggilannya, atau Abul, demikian candanya, singkatan dari kata “Abang Bule”, adalah pecinta air. Terutama, air laut. Dia tidak bisa menahan diri, apabila melihat dan mencium aroma air.

Pagi itu, dia harus berangkat menuju Jakarta pukul 15.46 dari stasiun Tulungagung. Kepenatannya berkeliling Trenggalek membuat jam tidurnya berkurang. Bibirnya yang pecah-pecah, karena tertimpa panas terik matahari di pulau Palue, NTT, menambah kesan kelelahan yang sangat dari sorot matanya yang cekung. Dan, menjelang keberangkatan di pagi itu (Selasa, 11/4/2017), ia menyempatkan diri mampir ke pantai Prigi yang tertunda sejak Minggu.

Stefan adalah petualang. Dia merambah banyak panorama pantai dan keragaman budaya dari berbagai negara. Dan, sudah 15 tahun, ia tinggal di Indonesia. “Saya sedang menanti aplikasi program ke Jepang,” katanya, mengingatkan. Ia akan terus memburu keindahan dunia. Cawa Lunda, adalah nama samaran Stefan Danerek, seorang penterjemah dan peneliti, yang pernah membuat buku panduan wisata ke Propinsi Skane, Swedia, berjudul Scania – Nordic Bathing Paradise.

Stefan Danerek is a translator of Indonesian literature, researcher and writer. He is a Swedish native who loves to explore Indonesia, especially places where local culture is still alive or coastal areas with good snorkelling. You can contact him at Cawalunda@yahoo.se.

Stefan Danerek adalah penerjemah sastra, peneliti, dan penulis tentang Indonesia. Dia adalah penduduk asli Swedia yang suka menjelajahi Indonesia, terutama tempat di mana budaya lokal masih hidup atau daerah pesisir dengan snorkelling yang baik. Anda bisa menghubunginya di Cawalunda@yahoo.se.

Bagi Stefan, “Kawasan laut bagian selatan Jawa Timur, Samudera Hindia, memiliki banyak pesona alam, salah satunya berupa pantai-pantai, baik yang berprasarana maupun yang tidak. Kabupaten Trenggalek tidak kurang memiliki pesona pantai tersebut. Tercatat, ada sekitar 10 pantai panjang yang menarik hati pengunjung, belum terhitung pantai-pantai terpencil (off-the-beaten-track). “Aku, pelancong yang memiliki cukup banyak pengalaman dalam wisata laut dan pantai, hingga sempat merasakan pesona laut Kabupaten Trenggalek sewaktu berkunjung dalam rangka non-wisata (orasi budaya),” ceritanya dalam sebuah catatan kecil.
Siang itu, Stefan dikawal oleh teman-teman barunya dari Trenggalek: Deki dan C-kugh. Dua lelaki itu belum seminggu dikenalnya. Dua lelaki yang eksentrik dengan gaya seniman lokal khas Trenggalek.

“Berkat kawan-kawan baru di Trenggalek, yang berbekal mobil, kami berangkat dari kota Trenggalek sekitar jam 11 siang. Mas Deki yang mengemudi ternyata memilih jalur yang tidak biasa ke pantai Prigi, tujuan utama, dan yang menarik, yaitu melintasi gunung. Dengan demikian, kami mendapat pemandangan yang lumayan spektakuler, dan kopi lokal di rumahnya C-kugh, kawan yang punya warung di daerah Prigi, dekat puncak sebuah bukit yang dilintasi. Bukit-bukit tersebut hijau oleh pohon-pohon, di antaranya durian yang tumbuh, baik secara alami maupun di kebun-kebun orang kampung bukit ini.”

Mereka naik mobil jeep-trooper untuk mengarungi naik turun gunung. Meskipun tidak terlalu tinggi, boleh dikatakan bebukitan, kawasan itu dikelilingi oleh pohon-pohon hijau. Jalan berkelok itu terasa nyaman. Terutama, dalam kendali Deki yang bisa membawa mobil itu melaju kencang dengan kehalusan naluri yang peka. Deki seorang kreator seni yang menguasai desain grafis. Sentuhan halus telah membawa watak yang sesungguh.

Foto: dari dalam mobil. Jalur bukit, dokumentasi: Hans Stefan Danerek, Selasa (11/4/2014).

Sementara C-kugh adalah seorang beach boy yang hapal seluk beluk pantai Prigi. Ia biasa menjaja kaos khas Prigi, guide yang handal, dan penyelenggara event setiap momen yang telah menjadi tradisi di Prigi, seperti upacara larung setiap bulan tertentu. Ia rela mengeluarkan dana dari kocek pribadinya guna menutupi kekurangan anggaran biaya kegiatan.

“Di pantai Prigi, ada desa nelayan bernama Desa Tasikmadu yang berada di Kecamatan Watulimo. Lokasi pantai tersebut sekitar 65 km dari kota Trenggalek. Kalau ikut jalur biasa ada beberapa angkutan umum yang bisa mengantar pengunjung sampai ke Desa Tasikmadu. Di sana terdapat tempat pelelangan ikan dan pelabuhan nelayan terbesar di pantai selatan Jawa. Anda bisa melihat ratusan perahu berwarna-warni berlabuh, dan membeli ikan-ikan segar hasil tangkapan para nelayan.”

Memang, pada hari-hari biasa, pantai Prigi terlihat tidak terlalu ramai dikunjungi wisatawan. Namun, bukan berarti tidak ada aktivitas berarti. Kesibukan para nelayan hilir mudik mengarungi laut dan singgah di pantai membuat pantai itu tetap hidup.

“Karena saya orang yang senang tempat alami, tidak terlalu ramai, hobi renang, dan hanya satu hari saja berkunjung ke pantai-pantai di sana, maka kami memilih pergi langsung ke pasir putih Prigi, sebuah pantai dua kilometer dari pantai Prigi utama. Di hari biasa pengunjung tidak terlalu banyak, katanya, sementara di akhir pekan ramai sekali. Pilihan kami tidak salah ternyata; pantai pasir putih itu memang indah, dikelilingi bukit-bukit batu yang mengesankan, dan pohon-pohon rindang yang kami bisa bernaung di bawahnya. Fasilitas di sana cukup lengkap, kecuali penginapan yang hanya beberapa, dan ada banyak warung pantai yang sederhana. Anda di sana akan ditawari untuk ikut perahu rombongan atau speedboat. Sementara kami memilih untuk bersantai dan berenang saja.”

Selain pantai yang bisa direnangi, pantai Prigi menyajikan limpahan berkah laut selatan. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dapat mengundang selera. Perut keroncongan, karena melintasi perjalanan naik turun, serta udara panas di siang itu telah memaksa mereka berteduh.

“Baik pasir dan air laut di sana masih bersih. Karena saya tidak tahan lama di daratan yang panas, saya pun terjun ke air laut untuk mandi. Dengan bekal sepasang kacamata renang, saya menuju batu-batu karang untuk menyelam dan melihat beberapa ikan. Berjalan, main di pantai nan indah, para pengunjung masih sedikit, karena hari masih siang. Kenikmatan yang lain di sana kuliner, yaitu ikan bakar dan sajian es kelapa muda yang segar, dan jangan lupa, ikan asap yang mantap. Ternyata di sana, seperti di banyak pantai di daerah asal saya di Swedia selatan, ada ikan asap yang khas dan lezat yang bisa disantap langsung keluar dari pengasapan. Jelas, buat saya bahwa kawasan Jawa Timur itu punya potensi wisata alam yang tidak kalah dengan pantai-pantai di Bali atau Lombok. Dan, saya senang bahwa pengunjung banyak yang domestik. Untuk eksplorasi selanjutnya, ada banyak pantai yang masih sedikit diketahui dan belum bersarana. Pantai-pantai di Trenggalek umumnya masih menggunakan tiket masuk yang harganya beberapa ribu.”

Setelah puas berenang di pantai, serta menikmati sajian ikan laut bakar dan kelapa muda, Stefan melihat jam yang sudah mendekati pukul 14.00. Tak terasa, waktu begitu singkat. Ia pun berdiri dari tempat duduk dan bersiap-siap beranjak. Ia berkemas. Diringkasnya barang-barang souvenir yang dibelinya dari warung-warung sederhana di pantai itu.
Dan, laju mobil jeep-troper itu mengantarnya pergi, meninggalkan pantai itu menuju Tulungagung. Suara itu menghilang, ketika sudah salip di tanjakan dan belokan.

Trenggalek, 20 April 2017.

==============================

M. Sakdillah adalah author, director, and culture activities

Categories: Rekreasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *