Memasuki tahun 2018, Unuversitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) membuat sebuah film dokumenter Jejak-jejak Cak Durasim. Melalui Lembaga Pengembangan dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM), film ini mendapat fasilitasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan R.I.

Dr. Istas Pratomo, selaku ketua LPPM UNUSA, menyampaikan, bahwa memasuki Revolusi Industri Keempat ini, generasi muda, terutama mahasiswa, harus siap menghadapi tantangan global. Ketika masyarakat tidak lagi membutuhkan rentang jarak ruang dan waktu yang menghambat komunikasi, maka inovasi dan pengembangan budaya harus segera disadari.

Ludruk sebagai karya budaya masyarakat Jawa Timur adalah yang utama harus segera diberi sentuhan-sentuhan inovatif. Karena ludruk telah memuat spirit perjuangan masyarakat yang telah digambarkan dalam sejarah Cak Durasim. Elan vital ludruk yang memuat spirit masyarakat tersebut harus diikuti oleh perkembangan laju teknologi terkini. Maka, tidak mustahil, sejarah ludruk yang telah melalui proses yang sangat panjang tersebut dapat terus lestari.

Semula, ludruk adalah ekspresi spontan masyarakat dalam menghadapi kepenatan aktivitas sehari-hari yang digambarkan oleh Pak Santik asal Jombang sebagai petani. Diikuti oleh budaya-budaya baru yang bersenyawa sebagaimana tonil (drama) yang membawa ludruk pada struktur baku menjadi drama empat babak (remo, kidung, lawak, dan cerita). Ludruk mengalami proses ekspresi dari desa ke desa melalui ludruk gedongan. Terakhir, ludruk sudah menempati posisi tanggapan di atas panggung.

Sejalan kemajuan informasi dan teknologi, ludruk dihadapkan pada era digital, baik melalui radio, televisi, bahkan media sosial. Ini yang harus disiasati dalam menghadapi perubahan zaman.

Kebumen, 27 Juli 2018.

=======================

Kurator: M. Sakdillah (author, director, culture activities).

Categories: Film

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *