Empat atau lima kali, aku berjumpa dengannya. Pertemuan pertama di Pesantren Tebuireng tahun 2015, ketika Muktamar NU yang ke-33. Pada pertemuan kedua di IAIN Nurjati Cirebon, ketika aku mau meminta kata pengantar bukuku tentang Gus Dur.

Spontan, dia langsung membacakan satu penggalan puisinya. Dan, berbicara panjang lebar tentang diskusi yang akan dia masuki pada session sore itu.

Aku menyimak.

Abah Husein. Kiai yang sering disangkakan liberal. Karena, sering menggunakan logika-logika dan pikiran bebas untuk berdiskusi.

Bagi santri yang selalu merujuk setiap pendapat kepada literatur-literatur kitab kuning akan sulit bila berhadapan dengannya. “Tidak usah kitab-kitaban!” tuturnya. Tapi, bagiku, itu menunjukkan kealimannya. Sudah sangat hafal dengan teori wacana yang sering menjadi kendala dalam memahami persoalan yang tersekat dan fakultatif. Hal ini sekaligus pula memberi keluasanku untuk ngangsu kaweruh kepadanya.

”Aku disuruh Gus Mus minta pengantar dari Abah,” kataku, singkat.

Dia tersenyum. “Gus Mus,” sahutnya. “Gus Mus suka begitu.”

Seperti sudah lama berteman, pembicaraan singkat itu terasa pekat dan padat. Hingga akhirnya, panitia meminta dirinya segera masuk ke ruangan, memutus pembicaran kami.

Dia memberi kata pengantarnya setelah aku di Jogja.

Pada mimpi tidur siangku, aku mendapatkan Abah Husein dan bapakku duduk bersanding, seraya tersenyum kepadaku. Lalu, aku bercerita kepadanya.

Abah Husein menjawab, ”Semoga beralamat baik!”

Ada gamang di hatiku. Antara ragu dan bahagia. Ragu kepada kemampuanku untuk berbicara sastra, bahagia karena mendapat anugerah besar berupa kepercayaannya kepadaku. Namun, tekad itu kukuatkan, ketika mengingat pesan ayahanda Gus Mus yang disampaikan kepadaku. “Kalau menurut ayah saya, KH Bisri Mustofa, agar tulisan dibaca orang, ya harus diterbitkan,” ujar Gus Mus, kalem.

Namun, aku terlalu sibuk sendiri hingga penerbitan buku itu tertunda, berlarut-larut. Di samping, memang, aku tak punya biaya untuk menerbitkan sendiri, juga karena belum yakin akan ada penerbitan yang mau menerbitkannya.

Yang jelas, akau membutuhkan seorang yang memiliki pemahaman secara detil tentang kesastrawanan Gus Dur. Bacaan-bacaan Gus Dur, idiomatik-idiomatik yang digunakan, serta pencapaian yang diterima olehnya. Gus Dur bagiku memiliki wawasan sastra yang luas. Sentuhan-sentuhannya bak  sihir yang dapat menghidupkan sesuatu yang mati. Belum lagi kedalaman-kedalaman diksinya. Memang ada orang yang mengenal sastra Indonesia dengan baik. Sastra yang sudah terpola pada bentuk. Tapi, mereka tidak menguasai sastra Arab sebagai basis pengetahuan Gus Dur. Pun, banyak yang menguasai sastra Arab dengan baik, tapi tidak mengenal bahasa idiomatik Gus Dur dalam kehidupan sehari-hari. Keraguan ini yang membebaniku untuk meluangkan waktu panjang mengedit sendiri buku hasil karyaku.

Abah Husein menjadi seperti bapakku sendiri seperi kiai-kiai lain. Dia mengajak diskusi setiap kali bertemu seolah sidang skripsi. Pertanyaannya tidak menuntutku untuk menjawab semua yang kutulis, melainkan memberi jawaban dari pertanyaan yang tak bisa kujawab. Demikian santunnya dia. Sehingga tidak membuatku merasa takut atau sungkan. Abah Husein telah membaca habis bukuku, batinku.

Namun, terakhir berjumpa dengannya di Kudus. Abah Husein masih bertanya tentang buku itu. ”Mana bukumu? Mau aku bawa untuk haul Gus Dur sebentar lagi?” tanyanya.

Aku masih mengelak. Meski dalam hati, aku berjanji akan segera menerbitkannya.

Dalam sebuah pertemuan dengan adiknya, Abah Ahsin Sakho, di Surabaya, kembali aku ceritakan tentang bukuku. Abah Ahsin sangat antusias. Dia memelukku, erat.

Di meja makan, Abah Ahsin sambil tersenyum-senyum, bercerita tentang kelakar Gus Mus kepada Abah Husein. “Orang masih suka dunia, kok, nulis Sang Zahid?”

Demikian, cerita Abah Ahsin di sore menjelang kepualangannya ke Cirebon.

Tetap sehat, Abah! Anakmu yang bandel ini tetap akan berkarya.

Kayangan, 5.47, 31 Januari 2018.

======================

Penulis:

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Tokoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *