#Gus Ipin

Nama lengkapnya adalah Muhammad Nur Arifin. Dia adalah Wakil Bupati Trenggalek yang biasa dipanggil Mas Ipin atau Gus Ipin. Ia mendampingi Pak Emil Dardak membangun Trenggalek.

Gus Ipin memiliki program menginap di rumah warga pada malam Jumat untuk mewujudkan visi dan misi dari kampanyenya. Hal itu bertujuan untuk mengetahui keluh kesah masyarakat Trenggalek secara langsung.

Gus Ipin memiliki program GERTAK. Kantornya bersebelahan dengan rumah dinas Wakil Bupati. GERTAK adalah program bagi masyarakat yang tidak mampu, seperti membangun rumah tidak layak huni, warga yang mengalami kecelakaan dan sakit parah, serta melancarkan pendidikan.

Gu Ipin tanggap dalam merespon keluh kesah masyarakat dengan sangat cepat. Saya merasakan sendiri ketika Budhe tidak mampu membangun rumah, karena penghasilan dari memungut barang bekas tidak cukup. Padahal, rumah Budhe tersebut hampir roboh. Berpuluh-puluh bambu digunakan untuk menopang bangunan rumah agar tidak roboh.

Saya memfoto rumah Budhe dari segala sisi arah yang memang tidak layak huni itu. Saya mengirimkan pesan kepada Gus Ipin via WA. Gus Ipin pun langsung membalas dan meminta alamat rumah Budhe. Mendadak, saya senang sekali saat itu. Saya pun langsung memberitahu alamat rumah budhe saya.

Paginya, tim dari Gus Ipin langsung datang mensurvei rumah Budhe dan memfoto dari segala sudut. Tim itu mewawancarai Budhe sekeluarga. Betapa senyum renta itu bahagia, mengucapkan beribu terimakasih kepada Gus Ipin.

Akhirnya, rumah Budhe direnovasi dan sudah layak huni. Rumah itu dilengkapi WC dan sanitasi yang baik. Rumah yang nyaman.

Saya belum sempat bertemu Gus Ipin untuk mengucapkan terimakasih. Bagi saya, Gus Ipin adalah Wakil Bupati terkeren yang pernah memimpin Trenggalek.

Problem Krusial

Sudah sejak lama, pernikahan dini atau young married menjadi salah satu problem masyarakat di Trenggalek. Anak usia 15 tahun menikah dengan anak usia 16 tahun.

Orangtua mendukung pernikahan bocah belia tersebut dengan alasan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti hamil di luar nikah.

Apakah tindakan orang tua tersebut benar ?

Bagi saya, justeru hal tersebut akan berakibat fatal terhadap anak anak. Pada awalnya tidak terjadi masalah, ketika sidang tinggal sogok, nikah siri, selesai.

Namun, apakah hal itu akan berhenti begitu saja ? Tidak, justeru dampak panjangnya adalah psikologi bagi anak -anak tersebut akan terganggu. Pola kehidupannya akan berubah drastis.

Apakah yang bisa dilakukan seorang anak seusia tersebut di masa pertumbuhannya? Seharusnya, seorang anak masih asik bermain bersama teman-temannya dan bermanja-manja dengan kedua orangtuanya. Tetapi, ketika sudah menikah, apa yang bisa mereka lakukan?

Pentingnya pendidikan dalam lingkungan masyarakat adalah penyadaran terhadap orangtua untuk mendidik anaknya. Lebih menjaga pertumbuhan sang anak dari pengaruh lingkungan yang kurang baik.

Akibat dari pernikahan dini adalah tingginya angka perceraian, kematian ibu muda, dan kematian bayi. Bukankah organ reproduksi anak-anak masih belum sepenuhnya matang, kehamilan ibu muda akan menimbulkan gangguan psikis, serta belum siapnya organ reproduksi itu sendiri?

Dari data Tulungagung, tercatat 1.536 janda dalam enam bulan terakhir. Jadi, diperkirakan ada 8-9 janda setiap harin. Bukankah hal itu juga disebabkan karena pernikahan usia dini, kurangnya pengalaman dari masing-masing pasangan muda, hingga terjadi konflik yang dapat menimbulkan perceraian?????????=====================

Penulis:

Krismiati, warga Trenggalek yang sedang menyelesaikan kuliah di IAIN Tulungagung.

Editor:

M. Sakdillah.

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *