Dia sosok bersahaja dan sederhana. Hampir mirip Gus Dur dan lurus. Dua kali, aku bertemu dengannya. Lebih tepat kukatakan sowan.

Pertama, ketika aku meminta endorsemen untuk sebuah novel. Yang kala itu ia sambut dengan hangat. Kedua, ketika aku meminta endosemen juga untuk bukuku yang menulis tentang kesastrawanan Gus Dur.

Yang membedakan antara Gus Sholah (KH Salahuddin Al-Ayyubi Wahid), demikian ia biasa disapa, dengan Gus Dur adalah dari latar belakang pendidikan. Meskipun sama-sama terlahir dari Bani Abdul Wahid Hasyim, namun Gus Sholah lebih mirip pamannya KHM Yusuf Hasyim. Tegas dan pekerja keras. Sementara Gus Dur lebih luwes dengan banyak ragam kepandaian diplomatif. Gus Sholah lebih kuat dan fokus di bidangnya sebagai manajer. Dan, itu memang dibutuhkan oleh Pesantren Tebuireng yang memiliki jaringan dan pengaruh kuat di Indonesia.

“Saya tak pandai teori,” katanya jujur, ketika aku mengemukakan tentang teori sastra. “Saya lebih melihat potensi yang bisa kita lakukan dan kembangkan. Sekarang saatnya bekerja. Saya bisa memberikan endorsemen yang bersifat novel, tidak berupa teori.”

Kejujurannya menaruh simpatiku yang dalam. Hingga akhir pertemuan, ia memberi support yang besar. Ia mendukung langkahku. Dan, aku hanya bisa meminta restu dan doa darinya.

Merenovasi Pesantren Tebuireng

Sekilas, orang akan melihat Gus Sholah sebagai “tukang insinyur”, meminjam istilah dalam film “Si Doel Anak Betawi”. Perkara-perkara serba sangat teknis. Beliau lulusan bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB). Karirnya pun tak jauh dari bidang profesi yang digelutinya. Tidak tanggung-tanggung, karir puncaknya hingga pada Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996). Namun bukan berarti kerja-kerja teknik itu membuat dirinya sangat rigid dan digit dalam menyikapi sesuatu. Melainkan masih ada senyum yang membuat para audiens turut memperhatikan candaannya, ketika kami melakukan acara nonton film bersama beliau. Kiprahnya yang rajin berorganisasi telah menempa jiwa kepemimpinan yang kuat, tak kalah dengan kakaknya Gus Dur (KH Abdurrahman Ad-Dakhil Wahid). Memang, putera-putera KHA Wahid Hasyim diberi nama “tafaul” pahlawan-pahlawan besar dan berjiwa kuat. Dan, bekasnya (atsar) begitu lekat dan tampak dari kiprah mereka di masyarakat.

Pak Ud (KHM Yusuf Hasyim) adalah peletak dasar konstruksi kepemimpinan manajerial di Pesantren Tebuireng. Pada era sebelumnya, kepemimpinan di Pesantren Tebuireng sama seperti pesantren-pesantren lain. Ketika kharismatika seorang pemimpin pesantren menjadi syarat. Terpilihnya Pak Ud untuk memimpin pesantren sebesar Tebuireng bukan tidak mendapat tantangan yang besar dari masyarakat, terutama ketika beliau berperan dalam film Walisanga (1983). Seolah kharismatika seorang kiai dipertaruhkan.

Perjalanan sejarah Pesantren Tebuireng dengan pola kharismatika hingga manajerial seperti saat ini bukan tidak memengaruhi pola kepemimpinan pesantren-pesantren yang lain. Justeru, belakangan pola managerial yang diletakkan oleh Pak Ud telah menjadi contoh; bagaimana sebuah pesantren mempertahankan eksistensinya ketika figur kharismatiknya tidak ada.

Penunjukan keluarga atas wasiat Pak Ud kepada Gus Sholah bukan berarti tanpa pertimbangan yang matang. Pola managerial tersebut harus diemban oleh seorang yang kuat secara managerial seperti dirinya. Sehingga tidak surut ke belakang.

Gus Sholah memimpin Pesantren Tebuireng berhasil dengan cemerlang merenovasi aspek fisik dan non fisik. Dari aspek fisik dapat dilihat dari renovasi bangunan pesantren hingga pembangunan museum, gedung dan asrama Pusat Kajian, Pesantren Trendsains, dan rumah sakit yang dilengkapi oleh ruang parkir yang luas. Bila dikatakan modern, Pesantren Tebuireng saat ini jauh lebih modern daripada pesantren-pesantren yang terlebih dahulu menyemat kata modern. Dari aspek non fisik, kembali kepada turats (intelektual warisan) adalah yang dilakukan oleh Gus Sholah melalui Pusat Kajian Pemikiran, penerbitan buku-buku bermutu, dan pendidikan tinggi (Ma’had Aly). Tiga lembaga yang menitikberatkan pada intelektualisme warisan kelas tinggi bagi santri-santri Tebuireng.

Demikian, pengamatan yang dapat kutulis secara singkat. Kendati mendapat kritikan-kritikan tajam, setidaknya di era saat ini, bagiku, model Pesantren Tebuireng layak ditiru bagi pesantren-pesantren lain. Bagaimana aspek fisik dan non fisik bisa sejalan.

Tebuireng, 2 Desember 2015-2019.

=====================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Tokoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *