#juli citayam

aku diundang ke rumahnya pada pertengahan bulan Juli 2018. di rumah itu, hampir seminggu, aku tinggal bersama keluarganya.

setelah melalui direct yang cukup lama dari Kota Depok, aku dapat menemukan rumahnya di gang menurun di Citayam. rumah itu tidak luas. Rara, isterinya, menyambut dengan senyumnya. “The mystic man!”¬†ujar Stefan, menyambutku.

Sejak perkenalan dengannya di candi Borobudur pada 2016 yang lalu, aku dan Stefan mulai akrab. Dia selalu menghindar jika diajak berbicara dengan bahasa Inggris. Maksudku, agar speaking-ku bisa lancar. eh, dia malah terus mengajak berbahasa Indonesia. “agar bahasa Indonesia saya berkembang,” katanya, membalik. wah, sama.

sejak itu pula, setiap ada acara, aku selalu meminta Stefan membantuku, baik sebagai pemateri pelatihan maupun host pada produk filmku.

Stefan sangat ringan bila diajak bekerjasama. ia tidak menuntut fasilitas yang mewah. meski kuajak tinggal di gubuk, ia tidak menolak.

namun, Stefan tidak tahan apabila melihat air. antusiasmenya mendadak muncul. ia akan segera mandi untuk menyegarkan diri. mungkin, karena udara tropis yang membuatnya terasa gerah.

seperti biasa, apabila malam tiba, Stefan akan menemaniku sekadar minum kopi atau mencari makan. kami akan menghabiskan waktu dengan obrolan-obrolan reflektif di warung angkringan. ada saat, kami harus berziarah di makam Raden Sungging yang terletak di belakang rumahnya. adakalanya juga, aku diperkenalkan dengan sahabat-sahabatnya dari Australia, Swis, dan Algeria. seperti malam itu, aku sangat antusias menyimak pembicaraan antara Mr. Irfan, Mr. Robert, dan Mrs. Huriya yang mengupas tradisi dan organisasi Islam dunia. meski tergagap dalam menyimak, tapi aku dapat sedikit memahami obrolan itu. tujuanku memang ingin membiasakan diri dengan native dari orang asing secara langsung. aku tak beranjak ketika ada diskusi panjang dari sahabat-sahabat Taiwan yang sedang menjelaskan tentang filmnya.

Stefan bersama Rara malam Selasa itu berpamitan untuk pulang ke Swedia. dia mengambil program liburan dengan mengisi kuliah selama enam minggu. sekaligus menengok keluarganya di sana. meski terjadi delay selama lima jam, dari bandara Stefan memberi kabar melalui Rara bila mereka sudah akan berangkat beberapa menit lagi.

Citayam, 25 Juli 2018.

=============================

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities)

Categories: Rekreasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *