#Bapak

Beliau adalah sosok yang mendidikku sejak masih bayi sampai sebesar ini. Bapak tidak pernah mengajariku tentang sopan santun, karena bisa terbentuk secara alamiah di dalam diri dan lingkungan setiap orang.

Bapak bagiku adalah gambaran dari salah satu tokoh wayangan yang bernama Werkudara, saudara ketiga dari Pandhawa Lima. Werkudara memiliki sifat keras, tidak bisa berbahasa halus, dan mendidik anaknya dengan tegas. Ketika Gatot Kaca, puteranya, membuat kesalahan, ia akan memukul agar jera.

Bapak pun seperti itu. Masa kecilku adalah yang ternakal. Seluruh desa tahu betapa nakalnya diriku. Aku sering menganiaya hewan tidak bersalah seperti mengobok-obok ikan di kolam sampai mati. Tapi, aku berwatak seperti Gatot Kaca yang keras, kaku, dan tidak berbasa basi. Hal itu sebagai gambaran sosok bapak yang menitis ke dalam diriku.

Tetapi, meskipun watak bapak sekeras Werkudara, ia memiliki hati sebening embun. Bapak adalah orang pertama yang tidak menerima bila anaknya disentuh oleh orang lain, apalagi sampai disakiti.

Sebenarnya bapak dan aku memiliki hobi yang sama, memiliki ketertarikan terhadap cerita wayang kulit. Kami memiliki beberapa jenis wayang di rumah, diantaranya adalah wayang gober dengan tokoh Pandhawa Lima yang dibingkai dengan bentuk rumah, terbuat dari kulit lembu asli dengan tokoh Hanoman, Arjuna, dan Patih Sengkuni.

Karena memiliki hobi yang sama, kami sering menyamakan watak masing-masing dengan tokoh-tokoh wayangan tersebut. Kami sering saling ejek. Bapak yang seringkali kusamakan dengan tokoh antagonis Begawan Durna dan Patih Sengkuni yang licik. Tapi, ibu malah menamaiku Sengkuni Kecil, karena mungkin dianggap selicik Sengkuni.

Bapak gemar menanam bunga, seperti mawar, melati, jarak hias, pucuk merah, dan bunga liar. Di rumah kami pun, ada sebuah kolam yang diisi oleh ikan hias sejenis Nila yang beragam warna.

Demikian, bapak yang telah mewarnai watak dan sikapku selama ini. Orang-orang dapat mengenali bapak dari sifat yang melekat pada diriku.

Trenggalek, 30 Juli 2018.

=====================

Penulis:

Krismiati adalah warga Trenggalek yang masih menempuh pendidikan tinggi di IAIN Tulungagung.

Editor:

M. Sakdillah.

Categories: Story

2 Comments

Bella Oktavia · Sel 31 Juli 2018 at 03:51

Keren ucis…. Sangat menginspirasi…. Istiqomahkan sobat….. 👍😊

    redaksi · Sel 31 Juli 2018 at 05:28

    Ucis memang keren seperti bapaknya…ha…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *