Namanya tidak tercantum di dalam catatan tentang sejarah para kiai, karena ia memang tidak menghendaki dirinya terkenal. Ia hanya dikenal oleh kalangan keluarga di desa Bejaten yang setiap tahun di bulan Dzulhijjah dijadikan sebagai peringatan hari meninggalnya.

Tapi, KH Abdullah Umar memiliki rekam jejak yang tidak sepele, meski tidak banyak sumber data yang bisa dijadikan pijakan. Hanya cerita tutur yang dapat membangun sebuah pemikiran, bahwa ia pernah ada.

Secara genealogi, KH Abdullah Umar adalah putera KH Hasan Munawar dari Cirebonan, Banyubiru (Ambarawa). Ibunya adalah puteri Raden Surawijaya, keturunan kraton Surakarta. KH Abdullah Umar menikah dengan Nyai Umi Solichah, puteri KH Abdillah Bachri Pesantren Pulutan (Salatiga). Sementara KH Abdillah Bachri adalah putera KH Umar Zaid dari Grabag (Magelang).

Menjadi Santri di Pesantren Langitan

KH Abdullah Umar hidupnya semasa dengan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan organisasi Nahdlatul Ulama. Juga, semasa dengan KH Djazuli Usman pendiri Pesantren Ploso (Kediri).

Kala itu, Pesantren Langitan menjadi salah satu pesantren yang memiliki pengaruh besar. Menurut KH Dimyati Rais Kaliwungu, ada tiga kiai besar bernama Sholeh saat itu: Kiai Sholeh Daratan (Semarang), Kiai Sholeh Langitan (Tuban), dan Kiai Sholeh Gresik yang terkenal alim.

Di Pesantren Langitan itu, KH Abdullah Umar menjadi santri asuh KH Zainuddin Mojosari (Nganjuk). Pesantren Mojosari tersebut hingga sekarang menjadi pesantren yang memiliki ciri khas menggembleng para santri dengan gojlokan.

Dikisahkan, KH Zainuddin tidak ingin pulang ke Mojosari. Ia betah tinggal di Pesantren Langitan. Namun, atas inisiatif dan rayuan KH Abdullah Umar, KH Zainuddin mau pulang ke Mojosari. Keakraban KH Abdullah Umar dan KH Djazuli Usman di kemudian hari terlihat, ketika keduanya menamakan putera masing-masing dengan nama Zainuddin.

Menjadi Santri di Mekah

Setelah selesai mondok di Pesantren Langitan dan berhasil memboyong KH Zainuddin ke Mojosari, KH Abdullah Umar terus menimba ilmu di Pesantren Pacitan. Tidak lama kemudian, ia menunaikan ibadah haji dan berniat menuntut ilmu di Mekah.

Di Mekah, KH Abdullah Umar mesantren selama enam tahun. Di sana, ia bertemu dengan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Dalhar Watucongol.

Dalam satu cerita yang dikisahkan oleh KH Mahfud Tegaron (Banyubiru), KH Dalhar mengungkapkan jika dirinya adalah santri paling yunior saat itu. dan, hubungannya dengan KH Abdullah Umar sudah seperti kakak-adik.

Setelah pulang dari Mekah, KH Abdullah Umar menikah dengan Nyai Umi Sholichah. Ia menetap di desa Bejaten hingga akhir hayatnya. Peninggalannya hingga kini yang masih bisa dilihat adalah mesjid dan rumah tinggal. Ia melepas gelar keningratannya.

Dalam silsilah dari garis keturunan Mbah Wali Raden Ahmad, bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Nitinegara di Gagadalem, KH Abdullah Umar disebut sebagai Mbah Sepuh. Sebagaimana diketahui kemudian, Raden Nitinegara adalah yang menurunkan kiai-kiai pendiri pesantren besar yang tersebar di Salatiga dan sekitarnya.

=====================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Pesantren

2 Comments

Syarifudin bin Zaini Dachlan krajan bejaten · Sel 31 Juli 2018 at 14:08

Gaya penuturannya yg mengalir lugas jelas.
Ditunggu reportase / tulisan2 berikut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *