Menjaga kehormatan dan harga diri manusia khususnya kehormatan wanita adalah suatu asas yang telah diterima dalam agama Islam yang tercermin dalam seluruh aturan-aturan dan hukum-hukumnya. Berkenaan dengan busana wanita Muslimah dewasa, Allah Swt berfirman Firman Allah Swt dalam al-Qur’an pada surah al-Ahzab (33), ayat ke-59 yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[1]

Berdasarkan informasi ayat al-Qur’an di atas, sebagian kalangan ulama dalam Islam yang diikuti oleh sebagian umat Islam khususnya yang tinggal di perkotaan, menerbitkan kesimpulan bahwa wanita Muslimah dewasa wajib mengenakan hijab untuk menutupi seluruh wajahnya, kecuali kedua matanya.

Bagi mereka, perintah mengulurkan jilbab hingga meliputi menutup wajah ini, mereka topang dengan sekian argumentasi berikut ini:[2]

  1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.
  2. Dalam tradisi masyarakat jahiliah dulu, sebagian wanita menampakkan wajah mereka. Latar belakang fenomena inilah yang menyebabkan ayat di atas turun.
  3. Para sahabat wanita di masa Nabi Saw terbiasa menutupi wajah mereka dan perhiasan yang mereka miliki dengan jilbab.
  4. Ayat di atas secara tegas memerintahkan kepada para istri Nabi Saw, anak-anak perempuan Nabi Saw serta istri-istri para sahabat.

Di tempat lain, Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n, tokoh yang pemikirannya dijadikan referensi oleh sebagian komunitas Muslim perkotaan, berkata dalam kitabnya yakni Risa>lah al-H{ija>b, bahwa ketika Allah Swt memerintahkan wanita Muslimah dewasa untuk memelihara aurat (maksud dari aurat di sini adalah farji) mereka sebagaimana tertulis dalam al-Qur’an pada surah al-Nur (24) ayat ke-31 yang berbunyi:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن

Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.

Menurut Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n, Hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara aurat dimaksud. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara aurat dimaksud, maka juga diperintahkan untuk ditutupi, karena sarana memiliki hukum tujuan.[3] Namun sayangnya ayat tersebut tidak dibaca lanjut sehingga menghasilkan kesimpulan parsial. Padahal lanjutan potongan ayat tersebut menyebutkan adanya pengecualian dari yang harus ditutupi atau disembunyikan. Di bawah ini akan penulis ketengahkan lanjutan potongan ayat dimaksud:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Selain dengan al-Qur’an, Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n juga mendasarkan pendapatnya pada Hadis tentang kebiasaan wanita Muslimah di masa Nabi Saw yang pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Shubuh secara berjama’ah dalam keadaan menutupi tubuh.[4]

Namun sayang, menurut pembacaan penulis, pemahaman Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n terhadap Hadis di atas, masih bersifat umum dalam kaitannya menutupi tubuh wanita. Dengan kata lain apakah yang ditutup itu seluruh tubuh wanita atau ada sebagian kecil yang dikecualikannya, misalnya wajah. Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n hanya menyatakan bahwa model busana wanita yang pergi masjid dalam Hadis ini layak untuk dijadikan teladan oleh para wanita Muslimah lainnya terutama generasi modern dewasa ini.[5]

Dalil-dalil di atas adalah bagian dari argumentasi yang digunakan oleh sementara kalangan Muslim perkotaan pada umumnya untuk mewajibkan wanita Muslimah agar menutupi wajahnya ketika berada di ruang publik dan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat.

Seluruh dalil yang dijadikan sandaran mereka tersebut dan dalil lainnya pada dasarnya tidak relevan dengan adanya toleransi dari sang pemilik Syari’at yakni Allah Swt yang dalam hal ini Allah Swt melalui ayat ke-31 dari surah al-Nur (24) dalam al-Qur’an memerintahkan kepada seluruh wanita Muslimah agar menyembunyikan segala perhiasan yang ada pada dirinya kecuali perhiasan yang memang tampak secara alamiah. Namun informasi al-Qur’an terkait hal ini bersifat implisit yakni tidak secara tegas menyebut perhiasan yang dikecualikannya itu.

Pada saat yang sama, di sisi lain, terdapat sebuah Hadis yang secara ekplisit menegaskan bahwa wajah wanita Muslimah dewasa dan kedua telapak tangannya boleh atau diizinkan oleh agama ketika ia terlihat oleh lelaki asing yang bukan mahramnya selain suami. Adapun selain kedua anggota tubuh dimaksud terlarang ditampakkan kepada golongan tertentu yang tidak diizinkan untuk melihatnya. Demikian bunyi Hadis tersebut. Namun Hadis yang akan penulis bawakan ini dipandang remeh oleh sebagain komunitas Muslim perkotaan karena menurutnya d}a‘i>f. Selain itu sebagaimana klaim mereka, adanya Hadis-hadis lain kendati s}ah}i>h} termasuk ayat al-Qur’an yang mendukung Hadis tersebut, substansinya tidak jelas meniadakan larangan terbukanya wajah wanita itu di hadapan lelaki asing. Tidak ketinggalan, mereka mengklaim bahwa Hadis-hadis dimaksud disabdakan oleh Nabi Saw sebelum masa ayat hijab turun. Dengan demikian Hadis-hadis tersebut berstatus mansu>kh. Oleh karenanya tidak dapat dijadikan sebagai hujjah .[6]

Dalam kesempatan ini, penulis menyajikan makalah sederhana untuk mengetahui benarkah syari’at Islam yang agung itu mengharamkan wanita Muslimah dewasa untuk membuka wajahnya di hadapan lelaki asing yang tidak halal baginya untuk dilihat. Bagaimanakah sebenarnya kualitas Hadis tentang toleransi Nabi Saw kepada wanita Muslimah ketika wajah mereka terbuka di hadapan lelaki asing. Kemudian adakah ayat al-Qur’an atau Hadis-hadis lain yang mendukung kandungan Hadis dimaksud. Terakhir, bagaimana pendapat para ulama tentang kandungan Hadis dimaksud.

Tidak jarang dijumpai sebagian kaum wanita Muslimah di Indonesia kususnya yang tinggal di perkotaan, yang mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya bahkan putri-putri mereka dengan kekuasaan mereka sebagai orang tua ikut serta memakai cadar. Mereka melakukan hal yang demikian, menurutnya, sebagai manifestasi kepatuhan mereka terhadap tuntunan agama termasuk kewajiban bercadar sebagaimana yang mereka pahami terhadap teks-teks keagamaan yang dalam pemahaman mereka, mengharuskan mereka memakai cadar. Sebagaimana dimaklumi, teks-teks keagamaan hanya bersumber pada al-Qur’an dan Hadis. Dari dua sumber ajaran Islam ini kemudian lahirlah fatwa-fatwa keagamaan yang dikemukakan oleh para ulama. Canggihnya teknologi informasi dan komunikasi di era modern dewasa ini turut serta bahkan menjadi andil terbesar penyebaran fatwa-fatwa para ulama ke segenap lapisan masyarakat apalagi bagi mereka yang tinggal di perkotaan.

[1] Terjemahan ayat di atas dan seterusnya dikutip dari Depag RI, Al-Qur΄an Dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989).

[2] Bakr bin Fad}i>lah Abu> Zayd, H{ira>sah al-Fad}i>lah (Riyad: Da>r al-‘A<s}mah, 2005), 38-39.

[3] Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n, Risa>lah al-H{ija>b (t.tp.: Mu’assasah al-Shaykh Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n, 1429 H , 3.

[4] Hadis mengenai ini, akan penulis bahas dalam bab II pada sub bab konfirmasi Hadis dengan Hadis-hadis lain yang bertemakan serupa.

[5] Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaymi>n, Risa>lah al-H{ija>b, 10.

[6] Lihat selengkapnya dalam Bakr bin Fad}i>lah Abu> Zayd, H{ira>sah al-Fad}i>lah, 38-53.

========================

Muhammad Ali (Dosen STIU Al-Akbar Surabaya)

Categories: Etika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *