Eksistensi hadis Nabi Saw sebagai sumber otoritatif kedua setelah al-Quran menempati posisi sentral dalam studi Islam. Otoritas hadis yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw tersebut telah mendapat pengakuan dan legitimasi ilahiah. Nabi Muhammad Saw merupakan manifestasi al-Quran yang bersifat praktis. Antara keduanya yakni al-Quran dan hadis Nabi Saw pada sebagian besar kandungannya dinilai berasal dari sumber yang sama. Perbedaan keduanya hanya pada bentuk dan tingkat otentisitasnya, bukan pada substansinya. Al-Quran dinyatakan sebagai “وحي متلو” (wahyu matluw) dalam arti dibacakan oleh malaikat Jibril, sementara hadis Nabi Saw dinyatakan sebagai “وحي غير متلو” (wahyu ghayr matluw) dalam arti tidak dibacakan oleh malaikat Jibril.[1]

Hadis Nabi Saw terintegrasi pada domain doktrin ilahiah setelah posisinya sebagai acuan bagi setiap muslim untuk mengabsahkan setiap perilaku di berbagai komunitas dan di setiap zaman. Hal ini terdapat vonis terhadap suatu pemahaman hadis tertentu yang kemudian dianggap بدعة ضلالة (bidah d}ala>lah) sebagaimana hadis yang secara eksplisit menginformasikan toleransi Nabi Saw terhadap wanita muslimah dewasa ketika menampakkan wajahnya di hadapan lelaki asing yang bukan mahram dan suaminya.

Sepanjang pembacaan penulis, mereka yang tidak menjadikan hadis tersebut sebagai hujjah – padahal s}ah}i>h}[2]lebih dikarenakan tidak memahami hadis tersebut secara موضوعي (mawd}u>‘i>), yakni metode pemahaman hadis dengan mencermati hadis-hadis lain yang bertema sama. Meteode tersebut dalam diskursus ilmiah dikenal sebagai metode tematik.

Dalam kerangka ini, maka salah satu hal yang menjadi perhatian penulis adalah bagaimana mendayagunakan metode tematik dalam kajian hadis-hadis Nabi Saw terhadap suatu permasalahan yang dihadapi oleh umat, tak terkecuali hadis kebolehan wanita muslimah dewasa menampakkan wajahnya di hadapan lelaki asing yang bukan mahram dan suaminya.

Istilah metode tematik yang dimaksud di dalam kajian hadis Nabi Saw pada tulisan ini merupakan terjemah dari المنهج الموضوعي في شرح الحديث (al-manhaj al-maud}u>‘i> fi> sharh} al-H{adi>th). Metode موضوعي (mawd}u>‘i>) tersebut mengandung pengertian pensyarahan atau kajian hadis berdasarkan tema yang dipermasalahkan, baik menyangkut aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis secara keseluruhan. Atau, salah satu aspek saja, seperti aspek ontologis, dan/atau salah satu sub dari salah satu aspek. Jika kedudukan hadis yang menempati sumber otoritatif di samping al-Quran dan keduanya berasal dari sumber yang sama, maka aspek ontologis terkait tema suatu persoalannya dapat diambil dari doktrin-doktrin di dalam al-Quran.[3]

[1] Ibra>hi>m bin Mu>sa> al-Sha>t}ibi>, al-Muwa>faqa>t, Vol. 4 (t.tp.: Da>r Ibn ‘Affa>n, 1417 H), 315.

[2] Argumentasi awal dari penulis terkait dinyatakannya Hadis tersebut s}ah}i>h} adalah bahwa Hadis tersebut kendati berstatus mursal akan tetapi juga diriwayatkan oleh banyak jalan. Inilah sebab utama yang menjadikan Hadis tersebut naik statusnya menjadi mursal s}ah}i>h} minimal h}asan sebagaimana dunyatakan  oleh Ibn Taymiyyah dan al-Nawawi>.  Secara موضوعي (mawd}u>‘i>) Hadis tersebut mendapatkan konfirmasi substansi dari al-Qur’an dan dijadikan bahan fatwa oleh banyak ulama. Argumentasi ini sesuai dengan kaidah-kaidah ke-s}ah}i>h}-an Hadis menurut ilmu Hadis. Selanjutnya lihat uraian argumentasi naiknya Hadis ini menjadi s}ah}i>h} secara lebih luas pada bab II dalam makalah ini.

[3] Ibra>hi>m bin Mu>sa> al-Sha>t}ibi>, al-Muwa>faqa>t, Vol. 4, 298.

==========================

Muhammad Ali (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Al-Akbar Surabaya)

Categories: Etika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *