Sistem Pertahanan Aceh Darusalam

Dalam sejarah kolonial di Indonesia, Aceh merupakan salah satu daerah yang tidak pernah jatuh di tangan negara-negara penjajah. Portugis, VOC, Belanda, dan Jepang sama sekali tidak pernah mampu merebut tanah rencong ini.

Karena ketangguhan ini, Aceh diberi porsi sebagai daerah istimewa selain Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, Aceh di berikan keistimewaan dalam berbagai hal, termasuk satu-satunya daerah yang diberi kesempatan untuk menerapkan syariat Islam dalam makna yang lebih luas.

Mengapa Aceh begitu tangguh dalam menghadang pasukan penjajah? Berikut akan ditulis beberapa hal yang membuat Aceh dapat bertahan dari serangan para penjajah.

Benteng Inong Balee

Situs benteng ini terletak di jalan Malahayati, Aceh Besar. Sisa-sisa tembok yang terbentuk dari susunan batu-batu itu masih terlihat kokoh. Yang paling menarik dari benteng ini adalah letaknya yang stategis, yaitu d atas bukit di tepi pantai.

Dari bukit yang di bawahnya terdapat laut itu sangat strategis untuk mengintai kapal-kapal yang datang dari selat Malaka untuk berlabuh di Aceh. Sehingga, dari jarak yang jauh, dapat di ketahui, jumlah kekuatan kapal asing yang masuk. Dengan pengintaian ini, tentu saja, sebelum kapal itu berlabuh, tentara-tentara Aceh sudah dsiapkan untuk menghadang kedatangan pihak musuh.

Dari benteng Inong Balee ini memungkinkan untuk melakukan penyerangan dari atas, jika kapal-kapal asing hendak mengganggu keamanan dan stabilitas kerajaan. Dengan kondisi seperti itu, benteng Inong Balee menjadi salah satu benteng andalan bagi pertahanan kerajaan Aceh Darussalam di bawah panglima perang Laksamana Malahayati.

Benteng Indrapatra

Benteng Indrapatra terletak di tepi pantai. Benteng indrapatra didirikan sebelum Aceh Darussalam. Dan pada masa Aceh Darussalam, terutama pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, benteng ini djadikan sebagai tempat pertahanan yang diandalkan.

Benteng Indrapatra dibentuk dengan mendirikan pagar tembok persegi empat setinggi kurang lebih empat meter. Di tengah-tengah pagar tembok terdapat lapangan yang cukup luas dan dua buah bangunan menggunung yang di bawahnya terdapat gua atau ruangan untuk berlindung dari hujan dan terik matahari.

Bangunan yang biasanya hanya terdiri dari tembok kokoh persegi empat dan lapangan di tengahnya, serta bangunan menggunung di dalamnya, di benteng Indrapatra terdapat dua buah.

Dari atas tembok setinggi empat meter dan berada di tepi pantai, sangat memungkinkan untuk mengintah kapal-kapal asing yang hendak berlabuh. Sebelum mereka mendatangi Banda Aceh sebagai pusat pemerintahan, meraka akan lebih dulu diintrogasi dan sekaligus dihadang oleh para prajurit, jika mengancam keamanan dan stabilitas kerajaan.

UdepSareeMateeSjahid adalah upaya Sultan Iskandar Muda memupuk jiwa patriotisme bangsa Aceh. Dalam setiap bangsa, kehadiran sebuah semboyan sangatlah penting. Begitu pula dengan bangsa Aceh Darussalam. Semboyan menjadi salah satu media untuk memberikan semangat dan kebangkitan.

“Udep Saree Matee Sjahid” merupakan semboyan yang dicetuskan oleh Sultan Iskandar Muda untuk membangkitkan jiwa patriotism warga Aceh dalam menghalau para penjajah: Portugis, VOC, Belanda, dan Jepang.

“Udep Saree Matee Sjahid” berarti hidup atau mati syahid. Ini semboyan perang. Menyeru pertempuran sampai titik darah penghabisan untuk membela tanah air. Semoboyan ini diungkapkan oleh Sultan Iskandar Muda untuk memompa kesemangatan dan kekompakan rakyat dalam menghadapi serangan kolonial Belanda.

Aceh, 30 April 2016.

=======================

M. Sakdillah (writer, director, culture activities)

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *