Riri menyambut pagi itu dengan senyum kecut. Sinar matahari yang lembut seakan tiba-tiba garang. Garis-garis yang menggurat di pipinya tersapu bedak tebal. Sampai ia tersandung sebuah batu kerikil oleh ujung sepatunya.

”Assalamu ’alaikum,” tiba-tiba suara berat menghadang langkahnya.

Ririn tertengadah, gugup. Matanya nanar. Hampir, ia terjerembab. Mulutnya terngaga hendak menjawab, tapi tersekat di tenggorokan.

”Selamat pagi, non! Apa kabar?” ujar suara berat di depannya.

Riri terpaku.

”Maafkan aku telah mengagetkanmu!” lanjutnya.

Dua manusia itu lama berdiri kaku di pintu gerbang kampus.

Riri mengambil inisiatif mengabaikan lelaki bersuara berat di hadapannya. Ia berjalan, menundukkan kepala.

”Riri!” tegur sang lelaki.

Riri berhenti sejenak. Lalu, melanjutkan langkahnya, tak hirau.

Lelaki itu berambut cepak. Tubuhnya ramping. Ia menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Menarik nafas, berat. Memandang tubuh Riri yang menghilang di balik kerumunan mahasiswa yang sedang asik mengobrol di tepi koridor.

Riri tersengal. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding tembok kelas. Tak ada seorang pun. Sejenak, ia memejamkan matanya. ”Aku tak mungkin sekejam ini pada diriku, tapi Rangga…,” ujarnya, lirih.

”Ri!” panggil Firda, ketika melihat Ririn sendirian, berdiri di dekat pintu masuk.

”A…,” kembali mulutnya terkunci. Ia mengumbar senyum, menyembunyikan perasaannya.

”Kau sakit?” tanya Firda, sembari menggenggam tangan sahabatnya.

”Ti…tidak. Aku….”

”Aku tahu. Sudah, ayo kita ke kantin saja!” ajak Firda, seraya menarik tangan Riri.

Riri menarik tangannya. ”Tapi….”

”Sudah! Aku yang traktir.”

”Bukan itu, tapi….”

Firda menatap dalam-dalam kedua mata Riri. ”Rin….”

”Maafkan aku, Fir! Aku hanya ingin sedang sendirian. Bila kau butuh ke kantin, coba ajak teman yang lain saja. Kali ini, aku tak bisa menemanimu.”

”Baiklah! Jika kau butuh aku, cari saja di kantin. Kita masuk masih lama. Pak Ganjar sepertinya agak terlambat hari ini.”

”Baiklah! Makasih, ya!”

Riri mendekati jendela kaca yang menghadap ke arah pintu gerbang. Ia tak melihat Rangga lagi. Pandangannya mencari-cari, tapi tetap tak ditemukan lelaki berambut cepak itu.

Hari itu, Riri tak bisa menyimak pelajaran Pak Ganjar dengan seksama. Berulang kali, ia terpergok sedang melamun.

”Anak-anak, hari ini mendung sedang menggelayut serasa hendak hujan,” sindir Pak Ganjar. ”Ada apa gerangan, padahal masih musim kemarau?” Dosen paruh baya itu melanjutkan keterangannya, tanpa menghiraukan Riri lagi.

Seusai pelajaran Pak Ganjar, Riri bergegas, beranjak dari bangkunya. Ia menghambur ke luar membawa tas gantungnya.

”Ri!” panggil Firda, mencegah, ”masih ada dua mata pelajaran lagi.”

”Bilang aku sakit! Aku butuh istirahat! Izinkan aku pada Bu Rima!” tukas Riri, berjalan cepat.

Firda hanya mematung, memandang punggung Riri yang berlalu. Bayangan tubuh itu menghilang di balik tembok pagar kampus.

Di atas tempat tidur itu, Riri membanting tubuhnya. Tak ada orang di kontrakan. Riri membenamkan mukanya di bantal.

Hari beranjak petang, ketika ia terjaga. Masih tak ada suara. Ia berdiri, mendekati cermin di pojok kamar. Lama, ia memandang bayangan tubuhnya. Wajah itu suram. Garis-garis yang membelah di antara bedaknya yang tebal telah memporak-porandakan dandanannya.

”Kau masih saja ceroboh, Ri,” tiba-tiba, suara halus dari arah belakangnya.

Riri terkejut, berdiri. ”Kau! Mengejutkanku!”

”Maafkan aku, Ri! Bukan maksudku untuk mengagetkanmu,” jawab Firda. ”Tadinya, aku akan membiarkanmu, tapi agaknya aku harus bicara padamu.”

For what?!”

Firda tersentak. Dia mundur beberapa langkah, melihat wajah Riri berubah pitam.

Riri kembali duduk di bangku depan cermin. Tubuhnya lunglai.

“Ri, dengarkan aku!” lanjut Firda, pelan.

”Aku mendengarkan!” jawab Riri, lirih. Tubuhnya miring ke samping kiri.

”Sampai kapan dirimu akan seperti ini? Dirimu keras, tapi rapuh.”

”Teruskan!” tukas Riri, lirih.

”Aku sahabatmu. Temanmu. Aku juga merasa bersalah padamu, tapi aku ingin menebus kesalahanku.”

”Salah apa?”

”Aku yang meminta Rangga menemuimu tadi. Aku pikir, itulah satu-satunya jalan agar kau bisa menyelesaikan persoalan yang membelitmu.”

”Aku bisa sendiri, Fir. Aku bisa sendiri menyelesaikan semua persoalanku,” jawab Riri. Dari pipinya mengalir air mata yang jatuh ke pangkuan.

”Kau hanya mengulur waktu saja, bukan menyelesaikan persoalan, Ri. Aku tahu siapa dirimu. Tapi, bagiku, hanya Rangga yang bisa menyelesaikan persoalanmu.”

”Kau mengada-ada,” tukas Riri, jumawa.

“Masih saja dirimu tak mengerti.”

”Aku mengerti, Firda. Ini persoalanku. Ini masalahku.”

”Kau masih tetap egois, sementara dirimu….”

“Kenapa dengan diriku?” jawab Riri, cepat.

Firda menarik nafas dalam-dalam. Ia mengambil tempat duduk di dekat Riri.

”Aku sudah melupakan semuanya, Fir. Untuk apa kau ikut campur urusanku?”

“Melupakan?”

“Ya, melupakan!”

“Apa kau tak sadar jika setiap hari kau bicara padaku? Siapa yang kau ceritakan? Setankah? Dia manusia, Ri. Sama sepertimu.”

Diam.

”Kalian saling membutuhkan satu sama lain, Ri, hanya egomu saja yang mengalahkan semuanya. Padahal, dirimu tak mampu mengalahkan perasaanmu.”

”Teruskan, Fir! Aku butuh tuduhanmu.”

”Bukan tuduhan, tapi caci maki!” jawab Firda, tegas.

”Apapun itu, aku butuh.”

”Kau harus menemui Rangga.”

”Kenapa? Apa alasannya?”

Diam.

Firda menggeser duduknya. Ia menggenggam jemari Riri, erat. ”Aku menyukai Rangga!” kata Firda, pelan.

Riri membelalakkan matanya. Ia menatap nanar pada Firda. ”Kau…!”

”Ya, aku menyukai Rangga, Ri.”

So, what else?”

“Tapi, Rangga menyukaimu, Ri. Betapa egoisnya diriku bila mengabaikan perasaan kalian berdua?”

Hening. Sayup-sayup terdengar suara azan Maghrib dari langgar di ujung jalan.

”Ri. Kau harus memaafkan Rangga. Dengan cara itu, kau memaafkan dirimu sendiri. Hanya mulutmu yang berbicara, tapi hatimu yang terluka. Mau sampai kapan dirimu mendera diri sendiri?”

”Sampai saat ini. Sampai dirimu tak terluka. Aku mencintai Rangga, Fir. Aku yang salah. Aku yang tak pernah jujur pada diri sendiri.”

Firda tersenyum, menggeleng. ”Kalian berhak atas cinta kalian, Ri. Aku hanya penyelia saja. Perantara atas keutuhan kalian. Rangga sudah menceritakan semua padaku. Dia cukup dewasa menyikapi perbedaan kalian. Dia tahu, kalau dirimu bukan tipe pendendam.”

”Sebaik itukah dirimu dan Rangga padaku?”

Firda merentangkan kedua tangannya. ”Ya, seperti selama ini, Ri.”

Kendal, 3.33; 8/8/2018.

===========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Sastra

1 Comment

TYRA · Sel 19 Februari 2019 at 10:13

Memandang tubuh Ririn yang menghilang di balik kerumunan mahasiswa yang sedang asik mengobrol di tepi koridor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *