“Ya, ada ‘sesuatu’ yang membuat saya masih tertarik ke Trenggalek,” jawabnya. Stefan selalu menyebut “sesuatu” untuk menerjemahkan kata something dalam ungkapan ceritanya.

Selama empat bulan tinggal di Trenggalek, sebuah kabupaten di selatan pulau Jawa bagian timur, saya merasakan suasana pedesaan yang harmoni. Harga pangan sangat murah bila dibandingkan dengan daerah lain. Ini sangat mengejutkan, tapi itulah yang membuat saya merasa at home. Stefan, sahabat saya dari Swedia, merasa sangat antusias dengan Trenggalek, ketika kami shooting film di Surabaya. “Masih ingin kembali ke Trenggalek, Om?” tanya saya.

“Ya, ada ‘sesuatu’ yang membuat saya masih tertarik ke Trenggalek,” jawabnya. Stefan selalu menyebut “sesuatu” untuk menerjemahkan kata something dalam ungkapan ceritanya.

Sejauh ini belum benar-benar ada yang bisa saya pikirkan tentang Trenggalek. Meski menurut cerita, Trenggalek pernah ramai oleh para pelancong yang datang ke pantai, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Semasa masih mesantren di Tebuireng dahulu, saya pernah berkunjung ke Trenggalek. Jadi, cukup akrab dalam ingatan tentang kemajuan-kemajuannya.

Tidak banyak data yang saya ketahui tentang Trenggalek. Sehingga tidak bisa mengambil kesimpulan yang tergesa.

Kemajuan pariwisata setidaknya masih menjadi andalan dan harapan masyarakat Trenggalek. Hal ini ditandai dengan kreativitas penduduknya yang berkeinginan kuat untuk melakukan kegiatan-kegiatan secara mandiri. Kolektivitas yang terbangun menjejaring hingga keluar daerah. Informasi dibangun dengan didukung oleh media sosial yang menjamin komunikasi terjalin baik.

Anugerah potensi alam untuk bumi Trenggalek secara obyektif harus dipandang secara positif. Gagasan untuk membuat perkebunan durian bisa menjadi daya tarik tersendiri dalam menarik minat wisatawan, misalnya. Begitu pula, renovasi infrastruktur yang baik akan sangat mendukung apabila diimbangi dengan fasilitas yang cukup. Seperti ketersediaan wahana wisata pantai.

Trenggalek secara geografis harus pula menyadari kelebihan dan kekurangannya. Sebagai perbandingan Kota Batu yang mampu menyedot wisatawan telah mampu mengalahkan Yogyakarta, di bawah Bali. Gagasan-gagasan inovasi untuk kemajuan wisata harus dipandang pula potensi-potensi wilayah di sekitar Trenggalek. Kabupaten Tulungagung misalnya yang tengah menggarap kemajuan dunia pendidikan. Banyaknya pelajar-pelajar yang datang ke Tulungagung harus diambil manfaat sebagai potensi ekonomi dan kajian-kajian serius dalam peningkatan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di Trenggalek. Dengan asumsi tidak menutup mata atas potensi yang sedang digalakkan di Tulungagung.

Studio Alam

Yang menarik dari Kota Batu selain Jatim Park adalah inovasi dan strategi dalam meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke sana. Musium Angkot adalah inovasi yang tidak populer bagi pengembangan wisata bila dibandingkan dengan ketersediaan tempat-tempat hiburan dan liburan. Namun, upaya pembuatan Musium Angkot merupakan terobosan Pemkot Batu untuk menarik sisi lain dunia wisata di Batu.

Kreativitas yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Trenggalek harus diimbangi dengan anugerah alam yang tersedia. Pilihan yang tepat adalah dengan mendirikan dan menyediakan fasilitas studio alam untuk pembuatan produksi film.

Keterlibatan masyarakat dalam produksi perfilman sebagaimana Bollywood dapat mendukung India menjadi salah satu kiblat dunia setelah Hollywood. Indonesia yang memiliki potensi pasar potensial menjadi salah satu pangsa pasar terbesar bagi film-film produksi Bollywood tersebut. Entah, berapa banyak film-film Bollywood yang masuk ke Indonesia sementara bioskop-bioskop dirajai oleh pengusaha asal India.

Revolusi Keempat dunia yang menitikberatkan pada proses digitalisasi budaya: lisan dan tulisan memaksa masyarakat dunia untuk akrab dengan alat-alat komunikasi yang kian canggih dan pintar. Film-film, baik yang serius maupun produksi ringan melalui telepon pintar, menjadi pilihan mudah yang bisa didayagunakan secara maksimal.

Intinya, membuat studio film yang berbasis alam dengan didukung oleh potensi-potensi sumberdaya manusia yang baik akan mendorong industri perfilman bisa berkembang pesat di Trenggalek. Di samping, upaya Presiden Joko Widodo untuk membuka 1.000 BLK bagi pondok-pondok pesantren bisa menjadi umpan balik bagi kemajuan industri perfilman dan proses kemajuan budaya bangsa.

Ngawi, 8 Agustus 2018.

=======================

Penulis:

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities).

Categories: Rekreasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *