Menelisik Sejarah yang Hilang

Dari perspektif antropologis, arkeologis, dan filologis, Abdul Alim Amin melihat pengaruh China begitu besar di Palembang. Hal ini ditandai: pertama, menjelang kemunduran Kerajaan Sriwijaya terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan pejabat Melayu Tuo dan generasi kaum Melayu Mudo. Gejolak kekuasaan pada saat itu melibatkan saudagar muslimin China yang menggalakkan gerakan tarekat (sufisme). Kedua, memasuki zaman bahari, penduduk negeri Kukang (Chiu Chiang) telah memeluk Islam yang diyakini sebagai keturunan campuran antara suku asli dan China muslimin pada masa Dinasti Yuan (1227 – 1369 Masehi). Keturunan penduduk Kukang (Faliyun) ini kemudian dipercaya sebagai suku Melayu Mudo yang menjadi leluhur Wong Palembang. Penduduk ini memiliki ciri khas telah memiliki budaya tinggi, gemar berkelana untuk menuntut ilmu, mahir membuat perahu dengan berbagai jenis dan ukuran. Sehingga setiap keluarga dipastikan memiliki kapal hiju atau perahu besar.

Pada masa Dinasti Ming (1369 – 1644), ekspedisi Laksamana Cheng Ho (Zheng He) singgah di Palembang. Dari sini kemudian terbina masyarakat yang bermazhab Hanafi, sehingga memunculkan tradisi sedekah. Di samping menumbuhkan sifat jujur dan profesional yang dibawa oleh pelaut muslimin asal negeri China tersebut. Dengan kata lain, ajaran Islam dapat meningkatkan disiplin dan kerja keras. Sedekah dengan demikian merupakan refleksi atas kesyukuran dan pengamalan ajaran Islam (tasawuf). Gesah ramai perdagangan serta penyebaran agama Islam pada aspek tasawuf ini masih dapat disaksikan di dalam kesenia drama Dul Muluk.

Ekspedisi Laksamana Cheng Ho juga diikuti oleh serombongan ulama guna meneguhkan semangat dan pengobatan di dalam perjalanan tersebut. Oleh karena itu, demikian Abdul Alim Amin mengutip Amir Syakib Arselan di dalam kitabnya Hadlirul Alam Islami, antara lain ditegaskan berbagai macam haflah (perayaan) digelar dan digemari oleh kaum muslimin China yang termanifestasi ke dalam bentuk: haflatuz zikri (pesta bersejarah kehidupan seseorang dari kelahiran, perjuangan, dan wafatnya. Haflatut takrim, pesta menghormati tamu. Dan, As-Shadaqah fil matim. Menghadiri keluarga yang beduka cita dengan menghibur dan memberi nasehat, kemudian menghidangkan makanan dan minuman khas oleh tuan rumah setelah acara doa bersama. Budaya yang dibawa oleh saudagar muslimin dari China, kemudian diwarisi oleh masyarakat Palembang berupa cara cara mendirikan bangunan gubah (makam), benteng, mesjid, pasar, dan rumah. Serta, beragam tradisi daur hidup seperti tradisi sedekah dengan berbagai rupa sajian makanan.

Sebagai budaya warisan dan dilihat dari aspek antropologis, sedekah memang merupakan warisan dari China yang suka menyuguhkan makanan dengan didukung oleh pembenaran ajaran agama untuk beramal saleh. Sehingga kegiatan sedekah tersebut sering dikaitkan dengan kegiatan daur hidup masyarakat Palembang. Sebab, di dalam kegiatan daur hidup tersebut terdapat tata cara pelaksanaan hajat. Dengan kata lain, tata cara pelaksanaan niat dalam kegiatan daur hidup tersebut adalah yang dinamakan sedekah. Sedekah sebagai aspek pelaksanaan budaya yang diselenggerakan masyarakat Palembang, kemudian dimasukkan unsur-unsur ajaran agama Islam sebagaimana berikut: 1) pelaksana sedekah mengundang beberapa tamu terhormat, 2) sebab pelaksanaannya, 3) waktu melaksanakannya, 4) tempat pelaksanaannya, dan 5) tokoh agama yang memimpin pelaksanaan acara sedekah.

Haflatut takrim sebagai salah satu bentuk manifestasi budaya sedekah tersebut berupaya mengaktualisasikan nikmat Allah yang telah diberikan ke dalam bentuk rasa syukur. Seperti terkandung di dalam surat Ad-Dhuha (93) ayat 11, wa amma bi nikmati Rabbika Fahaddits. Adapun nikmat dari Rabbmu itu haruslah dinyatakan. Proses awal sedekah tersebut selalu diawali dengan silaturahim, sebelum kemudian berdoa dengan memperbanyak berzikir dan bersalawat. Dan, diakhiri dengan keakraban menjamu makan para tetamu yang dimuliakan.

Acara inti berupa doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama dengan menyertakan niat dan tujuan hajat sohibul hajah dalam pelaksanaan sedekah tersebut. Sebelum acara inti, biasa dilaksanakan pembacaan surat Yasin, tahlil, ratib, marhaban, dan acara inti tersebut diakhiri dengan acara makan bersama.

Dari aspek arkeologis, terdapat batu nisan Pangeran Saudagar Kutjing sebagai petanda di Palembang. Di Pulau Kemaro terdapat makam Kapitan Bong Su, peninggalan abad ke-17. Di Pulau Kemaro terdapat prasasti beraksara China yang berbunyi, ”Di sini kuburan jenderal China dan prajuritnya.” Prasasti ini selaras dengan catatan keluarga Babah Palembang yang berbunyi, ”…Kapitan Bong Su bergelar Tua Pekong Su, mati selagi bujang, tenggelam kapal hiju serta wangkangnya, dan dikuburkan di pulau Kemaro.”

Berkaitan dengan batu nisan unik khas China ini diawali dari raja Palembang yang bertahta pada awal abad ke-18. Saat itu, Palembang dipimpin oleh Sultan Muhammad Mansyur Jayo ing Lago (1706 – 1714) bin Suhunan Agung Komaruddin Sri Teruno (1714 – 1724). Kemudian, dipimpin oleh Sultan Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I) (1724 – 1758). Sebagaimana silsilah tersebut telah disusun oleh Sultan Mahmud Badaruddin III alias Prabu Diraja tahun 2009.

Demikian, Pangeran Saudagar Kucing (Baba Yuchin) bin Kapitan Bela Minal Muslimin yang menjabat selaku Teku Suhunan Palembang adalah arsitek yang dipercaya Sultan Palembang untuk membangun Mesjid Agung. Sehingga dari bentuk bangunan atap tumpang dan menara mesjid terdapat pengaruh unsur budaya China. Dalam bangunan mesjid terdapat tempat bermusyawarah para ulama yang berciri khas China, gaya Candranaya. Setelah Baba Kucing wafat, pembangunan Mesjid Agung dilanjutkan oleh puteranya, Baba Muhammad Najib, yang bergelar Kiai Demang Wiroguno. Ia menjabat selaku menteri Kesultanan Palembang Darus Salam. Jasad Baba Kucing sendiri dimakamkan di kompleks makam (gubah) Talang Keranggo, 30 Ilir, Kampung Suro, Palembang. Tipe batu nisan yang digunakan pada makam tersebut berbentuk sederhana, tanpa bangunan jirat. Dalam pengamatan Riswinarno, dosen Fakultas Adab UIN Yogyakarta, nisan tersebut berbentuk ”Topi Mahkota Pangeran China”.

Pulau Kemaro

Misteri pulau Kemaro begitu hangat di Palembang. Kisah Fatimah dan Tan Bun An sangat menarik hati. Dikisahkan, Fatimah adalah salah satu puteri Raja Palembang yang dipinang Tan Bun An, saudagar China. Keduanya pun menikah dan pergi ke neg` eri China untuk berkenalana dengan orangtua Tan Bun An.

Pulang dari China, Fatimah dan Tan Bun An sudah dinanti-nanti oleh raja Palembang. Keduanya disediakan tujuh peti hadiah. Tiba di pulau Kemaro, keduanya membuka peti hadiah raja tersebut. Namun, sungguh tak menyenangkan hati. Berharap isi peti adalah berisi intan permata, justeru sawi-sawi busuk yang didapat. Dan, satu hal yang terlupakan oleh Tan Bun An, jika sang raja hanya menguji dirinya. Pada peti terakhir, benar-benar berisi berlian dan permata.

Peti itu terlanjur dibuang oleh Tan Bun An ke dalam sungai Musi. Hal itu sangat mengejutkannya. Ia pun tak berpikir panjang lagi dan langsung terjun mengejar peti yang tenggelam. Melihat Tan Bun An tak muncul-muncul ke permukaan, beberapa pengawal turut terjun. Begitu pun beberapa waktu tak kunjung ada jawaban. Fatimah pun gelisah dan terjun pula ke dalam sungai Musi.

Demikian, pengantin muda itu pun tinggal menjadi cerita.

Cerita tersebut menjadi legenda, namun di balik itu tersimpan kisah Kapitan Bong Su. Seorang berkebangsaan China yang menjadi panglima di Palembang. Ia seorang muslim. Tubuhnya terbujur dan terkubur di pulau Kemaro.

Sejarah akan mengingat jika Islam datang dibawa oleh bangsa China. Persilangan budaya melalui perkawinan telah menghantarkan sebuah peradaban yang sudah maju pada masanya. Kapitan Bong Su memang belum lama terkubur, ia bangsa China sesudah ekspedisi Laksamana Cheng He di Nusantara. Cheng He selalu diceritakan sebagai seorang kasim permaisuri yang dikebiri. Padahal, dengan kemuslimannya, itu berarti Cheng He tidak dikebiri, melainkan disunnat (khitan). Dengan kata lain, Cheng He menikah dan memiliki keturunan.

Namun demikian, perhatian sejarah budaya bangsa masih terlalu lemah, karena situs-situs bersejarah masih belum terawat dan terdata dengan baik. Sebagaimana tindihan sejarah makan Kapitan Bong Su yang ditutupi oleh kelenteng dan dirawat oleh kalangan China, sehingga ia dianggap sebagai malaikat atau dewa bagi mereka.

Begitupun situs-situs dan makam-makam yang berada di pedalaman, belum terjamah hingga pada penelitian Islam masuk.

Sejarah yang Hilang di Bukit Siguntang

Kebesaran Sriwijaya telah mengaburkan sejarah muslim di Sumatera Selatan. Hal ini karena terkesan ada keterputusan sejarah pasca Sriwijaya di abad kesembilan dan kesepuluh, terutama setelah masa Adityawarman dan Balaputera Dewa. Sejarah Arya Damar yang kemudian berganti nama menjadi Arya Dillah setelah masuk Islam, tidak terungkap dengan baik. Meskipun diketahui makamnya ada di pasar Cinde, dan ia dikenal sebagai adik dari Kertawijaya (Brawijaya V) dan Kebo Kanigoro, adipati Ponorogo. Paman Sultan Demak, Raden Patah. Bahkan, menurut sebagian riwayat, Sunan Ampel adalah yang mengajak Arya Damar masuk Islam. Keberlangsungan ini selalu ditutup-tutupi oleh kemegahan sejarah Sriwijaya dan agama Buddha.

Makam-makam di Bukit Siguntang adalah yang terutama. Bukit Siguntang memang dikenal sebagai pusat kerajaan Sriwijaya, karena didapati situs petirtaan dan tamansari. Namun, keberadaan makam-makam: Raja Segentar Alam atau Iskandar Syah, Puteri kembang Dadar, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang, Pangeran Raja BAtu Api, Puteri Rambut Selako, dan Panglima Tuan Junjungan yang masih menggunakan nama local, belum dipandang sebagai kalangan yang sudah memeluk Islam. Sehingga terdapat bangunan Pagoda Menara Buddha sebagai symbol mereka masih Buddha. Ini tindihan sejarah.

Sumber:

Abd Azim Amin, “Empat Abad Peradaban Islam di Palembang: Pembinaan, Perkembangan, dan Keruntuhannya”, makalah.

==========================

Penulis: M Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *