Syekh Al-Washil

Tidak hanya Petilasan, keberadaan Jayabaya sebagai raja yang pernah memerintah di Kediri juga harus dilihat pada aspek lain yang berkaitan dengannya, sebagaimana makam kuno Setonogedong.

Penelusuran jejak umat Islam awal di Kediri baru berhenti pada makam Syekh Syamsuddin Al-Washil alias Mbah Washil di Setonogedong. Makam tersebut berada di kompleks Mesjid Aulia. Tak jauh dari tepian Sungai Brantas.

Makam Mbah Washil selalu ramai dikunjungi peziarah setiap hari, terutama pada malam Jum’at. Makam ini menjadi lebih populer setelah KH Hamim Djazuli alias Gus Miek sering berziarah ke sana.

Di kompleks pemakaman di lingkungan Mesjid Aulia tersebut terdapat beberapa makam tokoh-tokoh lain, baik yang bergelar sunan yang dipercaya sebagai seorang wali seperti Sunan Bagus, Sunan Demang, Sunan Penanggung, dan Sunan Kabul Bakul, atau bergelar ningrat seperti Pangeran Sumende dan Amangkurat, raja Kesunanan Surakarta. Ada pula Sunan Arba atau Sunan Empat yang disebut masih kerabat Mbah Washil.

Kehadiran Syekh Al-Washil di Kediri yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya masih kontroversi bagi kalangan pengamat sejarah. Hal ini memang didukung oleh Prabu Jayabaya yang memang masih misterius di dalam sejarah. Meskipun di dalam Jangka Jayabaya sendiri sudah menyebut rujukannya adalah kitab Musarrar yang menandakan ada pengaruh Arab-Islam di dalamnya. Dari rujukan kitab Musarrar tersebut kemudian muncul spekulasi, jika sudah terjalin hubungan antara Prabu Jayabaya dan Syekh Al-Washil.

Dugaan keraguan dimunculkan oleh Zainal Affandi, dosen sejarah Universitas Nusantara PGRI (UNP). Keraguan tersebut muncul, karena nama Maulana Ali Syamsuddin dengan Al-Washil Syamsuddin bukan mengarah pada nama satu orang yang sama. Bisa jadi, itu dua nama yang mirip. Di samping, pengaruh Hindu-Buddha masih sangat kuat di Kediri, bahkan sedang mengalami masa kejayaan. Dan, bila merujuk pada hasil temuan arkeologis dan ornamentasi, kompleks makam Setonogedong diperkirakan justru dibangun pada masa abad XVI Masehi.

Jika pendapat ini benar, maka Zainal Affandi lebih condong kepada pendapat yang mengatakan Syekh Al-Washil adalah tokoh penyebar Islam pada masa Walisanga. Bukan pada masa Prabu Jayabaya pada abad XII. Syekh Al-Washil lebih dekat dengan Sunan Drajat, karena ada dua indikasi kuat yang mendasarinya. Pertama, ada kesamaan arsitektur bangunan dan ornamentasi di kompleks bangunan pemakaman Setonogedong dengan kompleks bangunan pemakaman Sunan Drajat di Lamongan. Kedua, isteri Sunan Drajat, Retno Ayu Condro Sekar, adalah puteri Adipati Kediri yang bernama Suryo Adilogo.

Keberadaan sumur “tiban” di lokasi Mesjid Aulia memperkuat asumsi ada bangunan kuno. Hingga sekarang, air tersebut masih berfungsi. Sebab, dinding sumur terbuat dari susunan batu bata kuno. Dengan kata lain, sumur tiban merupakan salah satu bukti sejarah yang paling otentik tentang keberadaan makam Syekh Al-Washil tersebut.

Berbeda dengan Zainal Affandi yang menyatakan Syekh Al-Washil hidup pada zaman para Walisanga abad XVI. Agus Sunyoto lebih meyakini, Syekh Al-Washil hidup sezaman dengan Prabu Jayawijaya abad ke XII. Di dalam novelnya, Daeng Sekara, disebutkan jika Syekh Al-Washil adalah Syamsuddin Sagalor. Syamsuddin ini yang memiliki adik Ali Akbar Sagalor, ahli strategi dan penasehat perang Kerajaan Kediri yang diperintah Prabu Jayabaya.

Dengan taktik dan strategi perang Ali Akbar Sagalor, Prabu Jayabaya berhasil mengalahkan pasukan Jenggala dalam perang Ngantang (Malang). Makam Ali Akbar Sagalor ini terdapat di Ngantang dan dikenal dengan sebutan Mbah Sagalor.

Di samping itu, untuk mengatakan Prabu Jayabaya sudah memeluk Islam dan dekat dengan Syekh Al-Washil terdapat asumsi dengan keberadaan makam para wali di Tambak, Ngadi, Kecamatan Mojo. Di sana terdapat makam Syekh Herman Ar-Rumani yang berasal dari Persia. Syekh Herman tersebut yang dikatakan oleh Agus Sunyoto sebagai pengarang kitab Musarrar, rujukan Prabu Jayabaya, yang belakangan menjadi Serat Musarrar Jayabaya. Dengan kata lain, Syekh Herman adalah orang pertama yang datang ke Kediri, sebelum kemudian Syekh Al-Washil diundang Prabu Jayabaya untuk mendiskusikan kitab tersebut.

Pesantren Tua Setonogedong

Situs Setonogedong bisa menjadi pesantren tua di Kediri, setelah Tambak, Ngadi, Kecamatan Mojo. Hal ini ditengara dari keberadaan bangunan-bangunan tua dan kompleks pemakaman.

Di lokasi kompleks pemakaman Setonogedong terdapat bekas bangunan seperti candi. Namun demikian, Zainal Affandi berasumsi bekas bangunan tersebut merupakan bekas mesjid. Hal ini ditandai dengan letak posisi bangunan. Pertama, pola bangunan lebih mengarah pada bangunan mesjid. Pada bekas bangunan tersebut pola denahnya berupa bujur sangkar. Ada penambahan serambi dan satu ruangan khusus seperti mihrab. Kedua, bentuk pagar keliling bangunan merupakan ciri khas bangunan mesjid dan makam-makam kuno. Bentuk pagar keliling tersebut menyerupai pagar yang ada di makam Sendang Duwur, makam Sunan Drajat, atau makam Sunan Giri. Asumsi ini memperkuat argumentasi Zainal Affandi untuk mengatakan Syekh Al-Washil bukan hidup pada masa Prabu Jayabaya. Ketiga, letak dan jumlah pintu masuk pada pagar bekas bangunan ada tiga, yaitu bagian depan (timur), sisi samping kanan (utara), dan samping kiri (selatan). Jika bekas bangunan tersebut berupa candi, maka seharusnya pintu masuk hanya ada satu, di bagian barat.

Keempat, bahan bangunan pagar keliling terbuat dari batu kapur. Warna kapur yang putih tersebut melambangkan kesucian di dalam pandangan agama Islam.

Dengan demikian, di mesjid kuno Setonogedong tersebut ditengara Syekh Al-Washil mulai mengajarkan agama Islam kepada murid-murid dan para pengikutnya.

Secara silsilah, Syekh Al-Washil Syamsuddin dipercaya masyarakat Kediri masih memiliki garis keturunan hingga ke Rasulullah Saw. Ia disebut sebagai keturunan ke-25. Sedangkan ayahnya, Abdillah, menempati urutan ke-24.

Hingga sekarang, masyarakat Kediri masih percaya keturunan-keturunan Syekh Al-Washil masih ada. Sebagaimana Kiai Mubasyir Mundzir, pendiri Ponpes Maunah Sari, Bandarkidul, Mojoroto, Kediri. Di dalam buku silsilah Riyadlatul Quran terbitan Pondok Pesantren Maunah Sari, nama Syekh Al-Washil menempati urutan pertama untuk dibacakan kiriman surat Al-Fatihah. Di dalam buku tersebut, jika keturunan Syekh Al-Washil tersebar di berbagai daerah. Seperti Syekh Nurhasyim (Tuban), Syekh Nurmiyat (Bojonegoro), Syekh Karimun (Bagor, Nganjuk), Nyai Suminah binti Karim, serta Nyai Syarifah (Pondok Pesantren Mangunsari, Nganjuk). Terdapat kontroversi tentang keabsahan jalur silsilah tersebut. Namun demikian, masyarakat Kediri tetap meyakini, jika Syekh Al-Washil merupakan wali penyebar agama Islam di Kediri. Syekh Al-Washil yang datang dari Persia.

Menurut Ki Tuwu, Prabu Jayabaya pernah berguru kepada seorang pendeta sakti yang amat dihormatinya. Dalam atlas walisongo, karya R.Ng. Agus Sunyoto guru yang dihormati itu adalah Syaikh Syamsuddin yang dikenal dengan nama Syaikh Wasil yang makamnya berada di Komplek Makam Auliya Setonogedong, Kota Kediri. Hubungan kedua orang ini juga disinggung dalam Kakawin Hariwangsa.

Dalam epilog Kakawin Hariwangsa karya Mpu Panuluh yang memaparkan keberadaan Sri Mapanji Jayabaya dan guru penasehatnya dalam gambaran yang menyatakan bahwa Wisnu telah pulang ke surga, tetapi turun kembali ke bumi dalam bentuk Jayabaya untuk menyelamatkan tanah Jawa.

Sebagai titisan Wisnu Jayabaya ditemani oleh Agastya yang menitis dalam diri pendeta kepala Brahmin penasihat raja. Prof Dr. Poerbotjaraka dalam Agastya in den Archapel memaparkan hubungan Jayabaya (titisan Wisnu) dengan gurunya (titisan Agastya) dengan mengutip sajak Kakawin Hariwangsa yang ditulis Mpu Panuluh yakni :

hana desa lengong leyep langonya // ri yawadwipa kasankhya nusa sasri // palupuy hyang agastya tan hanoli // ya tika trasa hilang halepnya mangke // umuwah ta sira ng watek hyang aswi // anuduh te ri bhatara padmanabha // ya tika pulihen langonya raksan // ri sira, hyang hari tan wihan lumampah // irikan dadi bhupati prasidha // maripurnaken ikang prajatisobha // subhaga n madhusudanwatara // sira ta sri jaya satru kaprakasa.

(Terjemahan bebesnya adalah : Ada sebuah negeri yang indah, keindahannya laksana impian, disebut pulau Jawa, sebuah pulau yang megah. Jawa adalah kitab dari Agastya yang sakti tiada bandingan, pulau itu itu sekarang dihinggapi ketakutan, sehingga keindahnnya lenyap. Kemudian berkumpul dewa-dewa bersama Hyang Aswi. Bersama-sama memohon dengan sangat kepada bhatara Padmanabha, untuk memperbaiki dan menjaga keindahan pulau tersebut. Dewa Hari ikut serta pergi kesana. Kini ia telah benar-benar menjadi raja, yang menyempurnakan lagi kehidupan hamba sahayannya, dia adalah inkarnasi dari Madhusudana-awatara. Dia termasyhur dengan nama Sri Jaya-Satru (Jayabaya).

Sebagian orang menafsirkan guru Jayabaya adalah Mpu Sedah. Sementara sebagian yang lain menafsirkan bahwa Mpu Sedah adalah guru Jayabaya di bidang sastra. Sedangkan biksu pandhita adhikara yang disebut dalam Hariwangsa adalah Syaikh Syamsuddin Al Wasil, yang tidak sekadar mengajarkan ilmu perbintangan dan nujum, melainkan menunjukkan karomah-karomah yang digambarkan seperti kesaktian Rsi Agastya.

Menurut R. Ng Agus Sunyoto, penulis Atlas Walisongo, sebutan Biksu dan kemudian pandhita lazim digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh Islam pada zaman itu. Seperti area makam Fatimah binti Maimun yang dalam prasasti Leran disebut Susuk (tempat suci). Sebutan untuk Syaikh Maulana Malik Ibrahim, pengangkatan saudara tua Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang bernama Ali Murtadlo sebagai Raja Pandhita di Gresik. Sebutan Pandhita Ampel untuk Sunan Ampel dan Pandhita Giri untuk Sunan Giri.

Syekh Mursyad

Selain Syekh Al-Washil di Setonogedong, penyerabaran Islam di Kediri telah pula dilengkapi oleh perjuangan Syekh Mursyad yang dimakamkan di Setonolandean, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol, Kediri, di sisi barat sungai Brantas.

Syekh Mursyad atau dikenal pula dengan sebutan Syekh Abdul Mursyad ditengara hidup pada masa akhir Kerajaan Majapahit atau Kesultanan Demak sekitar abad XV atau XVI. Ada banyak versi yang menyebutkan tentang asal usulnya, di antaranya memiliki garis keturunan dari Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Menurut silsilah yang diterbitkan oleh Yayasan Kemanusiaan Syekh Abdul Mursyad Kediri, ia adalah salah satu putera Pangeran Demang II Ngadiluwih. Kakeknya dikenal sebagai Pangeran Jalu alias Pangeran Demang I Setonogedong, putera Raden Panembahan Wirasmoro Setonogedong, putera Sunan Prawoto, putera Sultan Trenggana, putera Sultan Patah.

Syekh Mursyad juga ditengara masih keturunan dari Sunan Giri, putera Maulana Ishaq. Hal ini diterangkan oleh para kiai dan pinisepuh makam.

Namun demikian, dari perolehan pendapat berbagai versi keturunan Syekh Mursyad yang mengarah kepada Kesultanan Demak – terutama yang menyebutkan dirinya pernah terlibat menjadi penasehat Sultan Demak – telah menambah kesimpangsiuran masa hidupnya. Apakah pada masa Kesultanan Demak atau masa Kesultanan Mataram? Mengingat, posisinya sebagai keturunan wayah yang cukup berjarak dari jalur Sultan Patah atau Sunan Giri. Mungkin, lebih tepat jika ia dikatakan hidup pada masa Mataram.

Cerita tentang Syekh Mursyad diperparah lagi dengan kasus pemindahan makamnya, karena akan didirikan pabrik gula pada zaman Belanda. Hal ini di dalam tradisi agama Islam sangat mustahil terjadi, tanpa ada alasan syar’i untuk dipindahkan. Apalagi cerita yang berkembang tentang pemindahan makam tersebut juga melibatkan dua ulama yang disegani di Kediri, Kiai Dahlan Jampes dan Kiai Makruf Kedunglo, di samping secara psikologis masyarakat Jawa sangat hormat terhadap tempat-tempat, benda-benda, dan makam-makam keramat.

Namun demikian, apabila Syekh Mursyad hidup sezaman dengan akhir masa Majapahit dan awal Kesultanan Demak, maka formasi silsilah dirinya sebagai putera dari Pangeran Demang II, putera dari Pangeran Jalu alias Pangeran Demang I, perlu diteliti lebih lanjut. Sebab, disebutkan di dalam tulisan KH Busrol Karim A Mughni, Syekh Ihsan bin Dahlan Jampes Kediri Pengarang Siraj Al Thalibin (2012); Syekh Mursyad adalah keturunan dari Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Sisa bangunan perguruan peninggalan Syekh Mursyad memang sudah tidak ada lagi. Namun demikian, diyakini anak keturunannya telah menyebar dan mendirikan pesantren sendiri-sendiri.

Menurut Abu Mansur, Ketua Yayasan Kemanusiaan Syekh Abdul Mursyad, di antara putera Syekh Mursyad yang melahirkan keturunan kiai-kiai besar di Kediri adalah Kiai Anom Besari yang makamnya terdapat di Kuncen, Caruban, Madiun.

Pernikahan Kiai Anom Besari dengan Nyai Anom Caruban telah melahirkan tiga orang putera: Abdul Rahman atau Kiai Ketib Anom, Kiai Mohammad Besari, dan Kiai Nur Sadiq. Kiai Abdul Rahman setelah meninggal, ia dimakamkan di Kalangbret, Srigading, Tulungagung. Ia berputera Kiai Basaruddin yang kemudian melahirkan keturunan Kiai Ambiya di Srigading, Tulungagung. Dari Kiai Ambiya melahirkan keturunan Kiai Ali Maklum, pendiri pesantren Banjarmlati. Sisa peninggalannya adalah Mesjid Al-Alawi Banjarmlati. Mesjid ini dikenal sebagai ”punjer” atau sumber pesantren-pesantren di Kediri.

Dari Kiai Ali Maklum ini kemudian lahir para pendiri pesantren besar di Kediri, baik dari putera sendiri maupun menantu.  Putera-puteri dari puterinya, Nyai Rubiah, yang menikah dengan Kiai Abror. Kemudian, lahir Kiai Sholeh Banjarmlati.

Kiai Sholeh melahirkan lima orang puteri, masing-masing menikah dengan KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Kiai Makruf, pendiri Pondok Pesantren Kedunglo; dan Kiai Dahlan, pendiri Pondok Pesantren Jampes.

Sementara keturunan Syekh Mursyad yang menyebarkan Islam di luar Kediri adalah cucunya, Kiai Mohammad Besari, putera kedua dari Kiai Anom Besari. Satu di antara putera Kiai Mohammad Besari ada yang menjadi raja di Selangor (Malaysia), Kiai Zaenal Abidin.

Ki Ageng Tukum

Meskipun keberadaan masa hidup Syekh Mursyad masih simpang siur, namun sebagian besar para pendiri pesantren di Kediri percaya, jika mereka masih keturunan Syekh Mursyad.

Dari cerita yang berkembang, kedatangan Syekh Mursyad di Kediri, karena ingin mengikuti sayembara yang diselenggarakan oleh Ki Ageng Tukum. Ki Ageng Tukum dipercaya sebagai bentuk penyemaran Gajah Mada menurut cerita masyarakat Kediri, meskipun belum ditemukan bukti yang otentik. Hanya saja bisa diambil kesimpulan, jika Kia Ageng Tukum adalah penguasa wilayah Mrican, Mojoroto.

Lokasi makam Ki Ageng Tukum berada di pinggir kanal aliran sungai Brantas. Pundennya ditandai dengan sebatang pohon Beringin. Masyarakat di sekitar makam tersebut, seperti Suwarno dan Abu Mansur,  mengenal sebagai makam Gajah Oling. Gajah Oling (oleng atau bingung) adalah nama lain dari Gajah Mada. Sementara Tukum diambil dari kata ”tu” yang berarti metu (keluar), dan ”kum” yang berarti hukuman. Jadi, Tukum bisa diartikan sebagai orang yang keluar dari hukuman. Dipertegas lagi oleh Abu Mansur, Ketua Yayasan Kemanusian Syekh Abdul Mursyid, kata Mrican yang menjadi nama tempat, itu berasal dari kata bahasa Jawa ”murca”, menghilang. Hal ini menandakan Gajah Mada menghilang dari ibukota Kerajaan Majapahit.

Zainal Affandi, dosen sejarah di Universitas Nusantara PGRI (UNP), meragukan penggunaan nama ”gajah” tersebut, bila dikonotasikan dengan Gajah Mada. Sebab, patih Majapahit yang menggunakan nama depan gajah itu ada empat. Dengan demikian, sosok Ki Ageng Tukum sebagai Gajah Mada yang menyamar tidak bisa diterima, karena tidak ada bukti-bukti sejarah yang mendukung argumentasi yang mengaitkan dengan Gajah Mada.

Namun demikian, sebagai penguasa wilayah Mrican, Ki Ageng Tukum memiliki petilasan berupa perguruan. Dikisahkan, Pangeran Demang II, ayah Syekh Mursyad, menghabiskan usia lanjutnya di perguruan Ki Ageng Tukum di Mrican, sampai akhirnya meninggal dan dikuburkan di perguruan tersebut. Begitu pula, tak lama kemudian, Ki Ageng Tukum meninggal dan dikuburkan pula. Perguruan tersebut dilanjutkan oleh Syekh Mursyad. Di sana, Syekh Mursyad mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu kanuragan. Namun sayang, ketika Syekh Mursyad meninggal dunia, perguruan tersebut tidak ada yang melanjutkan. Sementara putera-puteranya menyebar membangun perguruan (pesantren) sendiri-sendiri. Adapun makam Syekh Mursyad dan isterinya, Rara Dyah Wora Wari, dimakamkan di lokasi perguruan itu pula.

Hingga pada masa Kolonial Belanda, jejak perguruan Syekh Mursyad dihilangkan. Bangunannya dirobohkan, dan diganti dengan Pabrik Gula Meritjan. Akan tetapi, makam dan kompleks Setonogajah, tempat Ki Ageng Tukum dimakamkan masih ada, meskipun terpisah dengan makam Syekh Mursyad dan isterinya, serta makam Pangeran Demang II yang berada di dalam lokasi pabrik.

Syekh Ihsan Jampes

Kediri memang telah menjadi pusat peradaban yang maju. Dari aspek budaya, agama, ekonomi, bahkan hubungan politik antara negara. Dari aspek agama dan politik, berbagai aliran muncul di Kediri, baik dari yang berhaluan kiri maupun yang kanan. Sehingga memunculkan mitologi, jika seorang pemimpin negeri selayak tidak pergi mengunjungi Kediri.

Begitu pula dengan keberadaan pengembangan dakwah Islam di Kediri, memiliki corak dan warna perjuangan tersendiri. Sebagaimana cerita Sunan Bonang yang dikalahkan oleh salah seorang pendeta dari Bhairawa Tantra telah berhasil merusak wajahnya. Hingga pada aspek akulturasi sebagaimana ditemukan di mesjid Aulia yang masih menyisakan peninggalan-peninggalan arca dan arsitektur pra-Islam.

Syekh Ihsan Jampes adalah salah satu ulama yang gigih berjuang melalui karya pena. Dari sudut peradaban yang sedang berkembang, ia telah menulis kitab-kitab bermutu tinggi, bahkan menjadi koleksi di perpustakaan Universitas Al-Azhar, Mesir.

Ulama-ulama Nusantara sudah menunjukkan kepiawaian mereka di blantika intelektual dunia. Menurut keterangan dari petugas perpustakaan Mesjid Haram Mekah, pada tahun 1970, manuskrip (naskah tulis tangan) para ulama Jawi (Nusantara) sudah sebanyak 7.000 buah. Di antara karya-karya tersebut adalah Sullam Munajah, Sullam Taufiq, Kasyifah Asy-Saja karya Imam Nawawi Banten, Manhaju Dzawin Nadzar karangan KH Mahfudz Termas, Ar-Riyadh al-Wardiyah karangan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabau, Sabilul Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad Banjar,  Aqwalul Mardiyah susunan Syekh Sulaiman Ar-Rosuli Sumatera Barat, Tanwirul Hija karya Syekh Ahmad bin Shiddiq Al-LasiniAl-Fasuruani, dan lain-lain.

Syekh Ihsan Jampes di antara ulama-ulama Nusantara tersebut telah menulis sebuah karya masterpice, berupa syarah kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali, Siraj At-Thalibin, yang disusun pada tahun 1933 Masehi. Dicetak pertama kali pada tahun 1936 Masehi atas biaya Salim Nabhan Surabaya. Kemudian, kitab tersebut diterbitkan oleh Dar Al-Fikr, Beirut. Hingga kini, kitab tersebut telah diterbitkan beberapa penerbit. Untuk kajian filsafat, teosofi, dan islamologi telah dipelajari di Amerika, Kanada, dan Australia, bahkan menjadi kajian wajib di Nigeria dan Al-Azhar, Mesir.

Namanya Syekh Ihsan bin Muhammad Dahlan Al-Jampesi, Kediri. Ia dikenal sebagai ulama sufi, meskipun juga pandai di disiplin ilmu-ilmu yang lain, seperti falak, fiqh, dan hadis.

Syekh Ihsan adalah putera pendiri pesantren Jampes, KH Dahlan bin Saleh. Ia dilahirkan tahun 1901, anak kedua dari 14 bersaudara. Kakeknya, KH Saleh berasal dari Bogor, Jawa Barat.

Kiai Saleh, ayah Syekh Ihsan, adalah keturunan seorang sultan di Kuningan yang berjalur hingga Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati. Cukup lama, saleh muda menuntut ilmu di Jawa Timur sampai akhirnya ia menikah dengan seorang gadis bernama Istianah binti Kiai Mesir atau Mbah Mesir dari Durenan, Trenggalek. Pada masa muda itu pula, Saleh dikenal sebagai ahli pencak silat. Karena kepandaian yang dimiliki oleh Saleh tersebut sehingga menarik minat Kiai Mesir untuk menjadikannya menantu. Istianah adalah anak kesembilan dari sepuluh putera-puteri Kiai Mesir. Di antara saudara lelaki Istianah adalah Kiai Muhyin, mertua KH Djazuli Usman, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Sedangkan Kiai Mesir adalah putera kedua dari enam belas bersaudara dari Kiai Yahuda, seorang ulama dari Desa Nogosari, Kecamatan Lorog, Kabupaten Pacitan, yang masih keturunan Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram pada abad ke-16.

Kiai Yahuda dikenal sebagai seorang ulama yang ahli ilmu kanuragan tinggi. Di Lorog, di samping sebagai ulama, ia juga menjadi penguasa tanah perdikan. Dan, di antara putera-puteranya, hanya Kiai Mesir yang tidak diwarisi ilmu kanuragan darinya.

Ibu dari Istianah adalah juga cicit dari Syekh Hasan Besari. Ulama terkenal di Tegalsari, Ponorogo yang masih keturunan dari Raden Rahmat Sunan Ampel.

Setelah menikahi Istianah, Kiai Saleh kemudian menetap di Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kediri. Ia berputera empat orang: Mubarok, Mabari, Muhajir, dan Muhaji. Karena Desa Ngadi pada masa itu masih rawan kejahatan, maka Istianah pun pindah ke Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kediri.

Di tempat yang baru, Istianah menikah lagi dengan Kiai Barazi dari Mojoroto, Kediri. Dari pernikahan ini, ia mendapat seorang putera dan seorang puteri. Namun sayang, keduanya meninggal dunia ketika masih muda. Tak lama kemudian, Istianah bercerai dengan Kiai Barazi, dan kembali rujuk. Keduanya kembali mendapat seorang putera dan diberi nama Muharrar. Setelah itu, keduanya kembali bercerai untuk selamanya.

Istianah seorang wanita alim. Ia mampu mengajar kitab tafsir Al-Jalalain kepada putera-puteranya. Setelah dididik sendiri, putera-puteranya baru berangkat mondok di pesantren. Dan, salah seorang puteranya, Mubari, setelah merasa selesai mondok di pesantren Mangunsari, Nganjuk, tergerak hatinya untuk mendirikan pesantren. Atas restu dan bantuan beberapa orang santri dari kiainya, Kiai Bakri, iapun bertekad bulat mendirikan pesantren di samping rumah ibunya. Sejak itu, Mubari bersama santri-santri Kiai Bakri pada tahun 1886 Masehi menyelenggarakan pendidikan pesantren. Dan, setelah ia pulang dari menunaikan ibadah haji, Mubari dikenal dengan sebutan Kiai Dahlan bin Kiai Saleh, pendiri Pondok Pesantren di Jampes.

Kiai Dahlan kemudian menikah dengan seorang gadis bernama Artimah. Puteri KH Sholeh dari Desa Banjarmelati Kediri yang masih keturunan Syekh Abdul Mursyad, ulama terkenal sebagai Waliyullah di Kediri. Mertua Kiai Dahlan tersebut masih teman sejawat ayahnya selama belajar di Sepanjang, Sidoarjo.

Namun, pernikahan KH Dahlan dengan Artimah tidak berlanjut lama, mereka cerai setelah dikaruniai empat orang anak: Anak perempuan (meninggal semasa kecil), Bakri (terkenal dengan nama Kiai Ihsan), Dasuki (setelah menikah, ia tinggal di Jasem, Mojo, Kediri), Marzuqi (atau Kiai Marzuqi, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo).

Tak lama kemudian, Kiai Dahlan menikah lagi dengan seorang gadis dari Desa Banaran, Pare, Kediri, bernama Maryam, puteri Kiai Sholeh, pengasuh Pondok Pesantren Banaran. Dari pernikahan ini memperoleh beberapa putera-puteri: Khozin, Ruqayah, Tubaji, Maslamah, Halwiyah, Muhsin (dikenal kemudian dengan nama Kiai Muhsin), Muslim, Aminah, anak perempuan meninggal waktu kecil.

Kiai Ihsan lahir pada tahun 1901 Masehi. Nama kecilnya adalah Bakri. Anak kedua Kiai Dahlan. Kedua orangtuanya bercerai semasa ia berusia 5 tahun. Ketika ibunya kembali ke Banjarmelati, ia diasuh oleh neneknya di Jampes bersama adiknya, Dasuki. Marzuqi, adiknya yang lahir beberapa bulan setelah perceraian kedua orangtuanya, ikut dengan ibunya. Sedangkan ayahnya menikah lagi dengan seorang gadis dari Pare, Kediri.

Bakri dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga pesantren, namun demikian pergaulannya luas. Sejak kecil, ia memiliki kecerdasan dan daya ingat yang kuat. Hal ini menurun dari genetika Kiai Dahlan yang memang cerdas. Pada masa muda, Bakri menggemari bidang seni dan sastra Jawa. Ia sangat gemar menonton pertunjukan wayang kulit. Di setiap tempat pertunjukan wayang, Bakri selalu ada. Ia tak pernah melewatkan pertunjukan, baik dalang senior atau yang masih muda.

Bakri juga seorang yang tegas. Pernah, ia bertengekar dengan seorang dalang muda yang tidak mau mengakui kesalahannya, karena telah membawakan cerita yang keluar dari pakem. Pada awal perdebatan, sang dalang muda tak mau mengalah, namun setelah dibawa kedahapan seorang dalang senior di Gampengrejo baru kemudian dijelaskan, jika sang dalang muda tersebut yang salah.

Bakri muda juga suka bermain judi. Dia sering menantang para bandar dan dikalahkannya. Hal ini membuat susah hati neneknya, Nyai Istianah. Berbagai amarah dan larangan tak pernah dihiraukan oleh Bakri. Di dalam keputusasaannya, Nyai Istianah akhirnya membawa Bakri ke makam kakeknya, Kiai Yahuda, dan bertulah; jika Bakri tidak merubah tingkah lakunya, maka tidak dipanjangkan umurnya.

Setelah selesai ziarah, pada suatu malam, Bakri bermimpi. Di dalam mimpinya, ia didatangi oleh orangtua yang membawa batu besar. Orangtua tersebut memperingatkannya agar ia menghentikan perbuatannya, kalau tidak, batu tersebut akan menghancurkan kepalanya. Bakri masih membela diri tidak mau disalahkan. Orangtua itupun melempar batu besar ke arah kepala Bakri, dan kepalanya hancur. Bakri terjaga dari tidurnya, ia insaf tidak mau mengulangi perbuatannya lagi di hadapan nenek dan pamannya.

Bakri muda mendapatkan pendidikan agama hanya dari keluarganya, terutama nenak dan ayahnya. Kemudian, melanjutkan ke pesantren pamannya, KH Khozin, di Bendo, Pare, Kediri. Dan, ke berbagai pesantren lain. Pondok-pondok pesantren yang pernah disinggahinya adalah pesantren Jamsaren Solo, pesantren KH Ahmad Dahlan Darat Semarang, pesantren Punduh Magelang. Di pesantren Gondanglegi Nganjuk, ia belajar ilmu Arudl. Kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, ia menyelesaikan Alfiyah Ibn Malik, Nahwu dan Sharaf. Di setiap pesantren yang disinggahinya, ia tidak pernah tinggal lama. Sebagaimana di pesantren Bangkalan, ia hanya tinggal selama sebulan. Di Jamsaren, tidak lebih dari sebulan, dan di Darat Semarang hanya 20 hari.

Dalam setiap pergaulan, Bakri muda selalu rendah hati, tidak sombong, dan bergaul dengan siapa saja, sehingga ia di-gemati teman-teman atau guru-gurunya.

Karya-karya Syekh Ihsan

Bakri mengakhiri jadi santri kelana setelah ayahnya menghendakinya mengajar di pesantren sendiri di Jampes. Pada tahun 1926 Masehi, ia menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Namanya pun diganti menjadi Ihsan. Sejak itu, ia mulai dikenal dengan nama Kiai Ihsan Jampes.

Ayahnya, Kiai Dahlan, meninggal dunia tahun 1928 Masehi. Pesantren Jampes kemudian dipimpin oleh pamannya, KH Kholil (Muharrar). Tak lama kemudian, Kiai Ihsan melepas masa lajangnya. Ia menikah dengan seorang gadis dari Sumberrejo, Poncokusumo, Malang. Namun tak berselang lama, ia pun bercerai.

Ia menikah lagi dengan puteri KH Muhyin dari Durenan, Trenggalek. Namun tidak juga bertahan lama, iapun bercerai lagi. Mantan isterinya ini kemudian menjadi isteri KH Djazuli Usman pesantren Ploso, Kediri. Setelah itu, ia menikah lagi dengan seorang gadis dari Kapu, Pagu, Kediri, yang juga berakhir dengan perceraian. Sehingga iapun menikah lagi dengan seorang gadis dari Polaman, Kediri, yang juga tidak berlanjut.

Pada tahum 1932 Masehi, kepemimpinan pesantren Jampes Kediri diserahkan dari KH Kholil kepada Kiai Ihsan. Sebagai pengasuh pesantren, iapun menikah lagi dengan seorang gadis dari Desa Kayen Kidul, Kecamatan Pagu, Kediri. Dari isteri yang kelima ini, Surati atau Hj Zaenab, puteri H Abdurrahman, santri Kiai Dahlan, pernikahannya bisa langgeng.

Kiai Ihsan memiliki kegemaran membaca, baik kitab-kitab maupun suratkabar. Dari olah membaca ini, iapun menggemari pula dunia kepenulisan.

Pada tahun 1929 Masehi, Kiai Ihsan mulai menulis tentang ilmu falak. Sebuah kitab yang diberi judul Tasrih Al-Ibarat, syarah dari kitab KH Ahmad Dahlan Darat Semarang yang berjudul Natijat Al-Miqat. Kitab tersebut menjelaskan tentang tata cara penggunaan kuadran/rubu. Alat kuno perlengkapan ilmu falak yang berbentuk seperempat lingkaran dengan sisi lengkung 90 derajat. Pada bab terakhir kitab tersebut menjelaskan awal dan akhir waktu-waktu sholat fardlu.

Kitab Tasrih Al-Ibarat pernah diterbitkan di Kudus dengan isi setebal 48 halaman. Di pesantren Jampes, jadwal waktu sholat dibuat sendiri oleh Kiai Ihsan. Demikian pula, penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Di dalam ilmu falaknya, Kiai Ihsan menggunakan metode hisab taqribi yang diambil dari kitab-kitab Sullam Al-Nayirain karya Syekh Muhammad Mansur bin Muhammad Damiri Al-Batawi; Al-Qawaid Al-Falakiyah karya Syekh Abdul Fatah As-Sayyid Attuni Al-Falaki Al-Misri; Tadzkiratul Ikhwan karya KH Dahlan Semarang. Khusus dalam menentukan bulan Syawal, Kiai Ihsan mematok standar ketinggian hilal minimal 6 derajat, karena para ulama menetapkan awal bulan Syawal, hilal harus dilihat oleh dua orang saksi.

Pada tahun 1932 Masehi, setelah ia menduda dari isterinya yang keempat, Kiai Ihsan menulis sebuah kitab tasawuf, Sirajut Thalibin. Kitab ini merupakan syarah (penjelas) atas kitab terakhir karangan Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin. Kitab Imam Al-Ghazali tersebut setebal 93 halaman disyarahi oleh Kiai Ihsan menjadi 1.000 halaman. Kitab tersebut diselesaikan oleh Kiai Ihsan dalam waktu yang terbilang singkat, tidak kurang dari delapan bulan.

Sebelum diterbitkan, kitab Sirajut Thalibin terlebih dahulu disodorkan kepada bebarapa orang ulama untuk ditashih. Di antaranya adalah Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy’ari pengasuh pesantren Tebuireng, KH Abdurrahman bin Abdul Karim pengasuh pesantren Sekar Putih Nganjuk, KH Muhammad Yunus Kediri, KH Abdul Karim pengasuh pesantren Lirboyo Kediri, dan pamannya sendiri, KH Khozin Benda Pare Kediri. Ternyata, respon dan pujian ditujukan kepada Kiai Ihsan. Bahkan, Hadratus Syekh menyebutkannya sebagai orang alim allamah yang ahli sastra.

Sebagaimana kitab tasawuf yang mengutamakan kebersihan jiwa, Sirajut Thalibin menguraikan tentang perilaku jiwa yang buruk, seperti takabur (sombong), ujub (membanggakan amal), riya (pamer amal), dengki, hasud, dan lain-lain. Begitu pula tentang perilaku terpuji, seperti sabar, ikhlas, rendah hati, dan lain-lain.

Tasawuf akhlaqi merupakan amalan atau ibadah batin untuk mengimbangi amalan lahir atau syariat. Apabila diumpamakan syariat itu seperti batang pohon, maka tasawuf adalah akarnya. Tanpa akar yang menancap ke dalam tanah, maka pohon tersebut tidakada artinya. Demikian pula sebaliknya, keduanya merupakan satu kesatuan.

Kitab Sirajut Thalibin menjelaskan tentang alam akhirat nanti hanya ada dua tempat yang menjadi hunian abadi manusia: surga dan neraka. Untuk masuk ke surga dinilai sukar, karena harus menjalankan ibadah dengan benar, baik dari segi lahir maupun batinnya. Oleh sebab itu, Sirajut Thalibin membuat resep cara beribadah yang benar agar dapat menghasilkan tujuan akhir dari ibadah yang dilakukan, dapat menghuni surga dengan segala kenikmatannya yang abadi dan kekal.

Di dalam kitab tersebut dijelaskan tujuh aqabah bagi seorang hamba. Dari ketujuh aqabah tersebut didukung pula oleh cerita tentang nabi-nabi dan para sufi yang menempuh perjalanan kerohanian menuju Allah Ta’ala.

Kemudian, pada tahun 1940 Masehi, Syekh Ihsan menulis kitab Manahij Al-Imdad dua jilid. Masing-masing jilid 526 dan 559 halaman. Kitab ini merupakan syarah dari kitab Irsyad Al-Ibad karangan Syekh Zainuddin Al-Malibari (982 Hijriyah).

Kitab tersebut menjelaskan tentang rukun-rukun iman yang enam. Di bidang syariat dijelaskan tentang salat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain. Di bidang tasawuf dijelaskan tentang keutamaan zuhud, syukur, khauf, dan keburukan-keburukan riya, dengki, amarah, menggunjing orang, membanggakan amal, dan lain-lain. Kitab tersebut meskipun mengurai tentang syariat, namun didukung oleh ibarat-ibarat dan fadilah-fadilah ibadah melalui cerita. Seperti seseorang yang melakukan ibadah puasa Ramadan, ia menggunakan perhiasan dan mengqada salat-salat yang ditinggalkannya dengan alasan bertaubat dan menghormati bulan puasa. Orang ini bisa masuk surga, karena alasan tersebut.

Ketika Syekh Ihsan wafat, kitab ini belum sempat diterbitkan pada tahun 1950an. Dan, pada tahun 1980 Masehi, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berusaha membawa kitab tersebut kepada Syekh Yasin Padang di Mekah. Namun, sebelum sempat diterbitkan, Syekh Yasin terlanjur meninggal dunia tahun 1990 Masehi.

Selain tiga kitab monumental tersebut, Syekh Ihsan Jampes juga menulis kitab kecil-kecil, seperti Irsyad Al-Ikhwan fi Syurbi Al-Qahwati wa Al-Dukhan. Sebuah kitab setebal 48 halaman yang secara khusus membahas tentang minum kopi dan merokok.

Syekh Ihsan adalah seorang perokok dan peminum kopi. Ketika itu, ada seorang ulama Jawa Timur yang mengharamkan kaum muslimin minum kopi dan merokok.

Kitab Irsyad Al-Ikhwan mengupas perbedaan pendapat para ulama tentang hukum meminum kopi dan merokok. Di dalam kitab tersebut dituturkan, hukum merokok itu bersifat relatif oleh sebagian ulama, tergantung efek yang ditimbulkannya. Apabila merokok dapat mengakibatkan seseorang berbuat pada perkara yang diharamkan, maka hukum merokok adalah haram. Begitu pula, apabila merokok itu dapat mengakibatkan perbuatan makruh, mubah, bahkan dapat mendorong semangat pada perbuatan ibadah, maka hukumnya juga bisa bernilai ibadah. Akan tetapi, kitab Irsyad Al-Ikhwan tersebut menetapkan pada garis hukum mubah dan makruh. Syekh Ihsan mengunggulkan hukum makruh, selama tidak menimbulkan dampak kemudaratan yang nyata, seperti mengurangi nafkah karena digunakan untuk membeli rokok.

Demikian, Syekh Ihsan Jampes adalah seorang pengarang (muallif) yang produktif hingga tulisan-tulisannya dikenal dunia. Semenjak mengasuh pesantren Jampes, ia sangat disibukkan dengan berbagai aktivitas. Di kala siang, mulai dari subuh hingga sore dihabiskan untuk mengajar dan menulis, dan hanya sedikit waktu digunakan untuk istirahat siang. Sementara di malam hari, jika tidak ada tamu, maka sehabis mengajar santri-santrinya, ia menghabiskan waktu membaca dan menulis.

Rabu, 20 April 2016 – Kamis, 21 April 2016.

Sumber:

Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo (Yogyakarta: Yayasan Hondodento, t.t.)

Tauhid Wijaya (ed.), Brantas: Dari Pesantren Hingga Lokalisasi (Kediri: PT Kediri Intermedia Pers, 2012)

KH Busrol Karim A Mughni, Syekh Ihsan bin Dahlan Jampes Kediri Pengarang Siraj Al Thalibin (Kediri: Jampes Kediri, 2012).

========================

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *