Syekh Abdul Muhyi Safarwadi

Syekh Abdul Muhyi diperkirakan hidup pada masa abad ke-17. Ia ditengara masih memiliki hubungan pertalian darah dari Sunan Giri. Dari  garis ayah disebutkan, ia putera Sembah Lebe Warto Kusumah bin Entol Penengah bin Mudik Cikawung Ading bin Kuda Lanjar bin Ratu Puhun bin Ratu Galuh. Sedangkan dari ibunya disebutkan: Raden Ajeng Tanganziah bin Kentol Sumbirana bin Wira Candera bin Sunan Giri Laya bin Muhammad Ainul Yaqin bin Maulana Ishak bin As-Samaraqandi bin Jamaluddin Akbar, hingga Rasulullah Saw.

Syekh Abdul Muhyi diperkirakan lahir tahun 1650 Masehi di Mataram. Ia memiliki empat orang isteri: Sembah Bahta, Sembah Ayu Fatimah, Sembah Ayu Selamah, Sembah Ayu Winangun.

Adapun putera-puterinya dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Dari Sembah Bahta, ia berputera: Syekh Abdullah, Dalem Bojong, Syekh Faqih Ibrahim, dan Nyi Madya Kusumah;
  2. Dari Sembah Fatimah, ia berputera-puteri: Syekh Kiai Nadzar, Syekh Atam, Nyi Raden Usim, Nyi Raden Arunah, Nyi Raden Hatisah;
  3. Dari Sembah Selamah, ia berputera-puteri: Kiai Bagus Muhammad, Nyi Raden Siti, Nyi Raden Ajeng;
  4. Dari Sembah Winangun, ia berputera-puteri: Nyi Raden Candra, Nyi Raden Ajeng Enur, Nyi Raden Jabaniah, Nyi Raden Ajeng Nidor, dan Raden Ali Akbar.

Dikisahkan, Syekh Abdul Muhyi semasa kecil diasuh oleh kedua orangtuanya di Padepokan Giri Kedaton.

Silsilah Tarekat Syathariyah Syekh Abdul Muhyi

Syekh Abdul Muhyi adalah salah satu murid kinasih Syekh Abdur Rauf Singkil, Aceh, selain Syekh Burhanuddin, Ulakan, Padangpariaman, Sumatera Barat. Berikut adalah silsilah ijazah tarekat Syathariyah yang diamalkannya:

Utawe ikilah kitab anyata’aken turun-turune dedalan Syathoriyyah kang tedak saking

  1. Sayyidina Muhammad Saw maring
  2. Sayyidina Ali K.W. maring
  3. Sayyidina Husain Asy-Syahid maring
  4. Muhammad Zainal Abidin maring
  5. Imam Muhammad Baqir maring
  6. Ruhaniyah Imam Ja’far Shodiq maring
  7. Ruhaniyah Sulthonul Arifin Abu Yazid Al-Busthomi maring
  8. Syaikh Muhammad Maghribi maring
  9. Syaikh Arobi Yazid Al-Usy Syaqi/Al-Isyqi maring
  10. Quthub Maulana Rumi Abu Mudhoffar At Thusi maring
  11. Quthub Abu Hasan Ali Bin Ja’far Al Hurqoni maring
  12. Syaikh Hudaquli Ma’wurinnahari maring
  13. Sayyid Muhammad Asyiq maring
  14. Sayyid Muhammad Arif maring
  15. Syaikh Abdullah Asy-Syathori maring
  16. Imam Qodhi Asy-Syathori maring
  17. Syaikh Hidayatullah Sarmad/Sarmasad maring
  18. Syaikh Haji Huduri maring
  19. Syaikh Muhammad Ghoust Ibnu Khotiruddin maring
  20. Syaikh Wajihuddin Al Alawi maring
  21. Sayyid
  22. Syaikh Abu Muwahib Abdullah Ahmad Ibnu Ali As Sanawi maring
  23. Syaikh Ahmad Ibnu Muhammad Qusyasi maring
  24. Syaikh Abdur Rauf Ibnu Ali Assingkili maring
  25. Syaikh Abdul Muhyi As Safarwadi **
  26. Syaikh Najmudin Haji Abdullah Assafarwadi
  27. Syaikh Muhammad Yunus As Safarwadi
  28. Syaikh Muhammad Adzkiya’ Assafarwadi
  29. Syaikh Muhammad Sa’i Sangi
  30. Syaikh Muhammad Shufi
  31. Raden Mas Tubagus Sayid Hasanuddin
  32. Syaikh Imam Mursadah
  33. Syaikh Imam Mustahal
  34. Syaikh Abdurrahman
  35. Syaikh Muhammad Abu Bakar
  36. Syaikh Imam Raawin
  37. Syaikh Arja Muhammad
  38. Syaikh Muhammad Suryan
  39. Syaikh Ali Muthohhar
  40. Syaikh Imam Syufa’at Sentono
  41. Syaikh Muhammad Sufyan Ibnu Lasimin Bin Rafu’ah

*( Ket: No. 1-21, termaktub ing dalem kitab Jawahir Khamsi, halaman 353 – 355, /Syaikh Muhammad Al-Ath-Thor.)

**(Ket: No. 1-25 Termaktub ing dalem kitab kuno tulisan tangan, tanpa judul,tanpa nami kang nganggit meniko kitab).

Politik Underground Syekh Abdul Muhyi Safarwadi Pamijahan

Syekh Abdul Muhyi wafat pada bulan Jumadal Ula tahun 1149 Hijriyah bertepatan dengan 1728 Masehi di Sapawardi Pamijahan Kabupaten Tasikmalaya. Ia masih keturunan Raden Paku Sunan Giri dan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya.

Di Tasikmalaya, Syekh Abdul Muhyi menyebarkan tarekat Syatthariyah. Ia mengajarkan martabat tujuh dan dibukukan. Melalui tarekat ini gerakan penyebaran agama, pertahanan, dan perlawanan terhadap penjajah bergelora. Sehingga seni bela diri sangat berkembang di wilayah ini.

Syekhona Kholil Bangkalan, guru sekaligus teman seperjuangan Hadratus Syekh dalam mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama, adalah cucu dari Syekh Abdul Muhyi ini.

Di goa Saparwadi, Syekh Abdul Muhyi membangun komunikasi batin. Ada tiga arah yang menjadi tujuan komunikasi, yaitu: Surabaya, Cirebon, dan Mekah. Secara simbolik, Syekh Abdul Muhyi membangun komunkasi batin dan politik. Hal ini menjadi kerangka acu baginya untuk menghadapi situasi dan kondisi masyarakat di Pamijahan.

Di goa Saparwadi terdapat sembilan belas titik petilasan. Ada mesjid dan petilasan yang ditengara sebagai tempat berkumpul para walisanga. Pada malam-malam tertentu dipercaya walisanga bermusyawarah di sana untuk memecahkan berbagai macam persoalan agama dan politik.

Gentur

Gentur adalah gerakan kultural berbasis ajaran tarekat yang diwariskan oleh Syekh Abdul Muhyi hingga sekarang. Kegiatan-kegiatan seperti pada umumnya adalah wirid dan pencak. Pusatnya adalah di Gunung Raja. Dan, sekarang diasuh oleh KH Lukmanul Hakim Abdullah atau Ang Oman di Sangkali, Cogreg, kecamatan Cikatomas. Dulu, tidak ada orang yang mampu menembus ke sana, karena terlalu misterius.

Gentur singkatan dari kata getar nurani untuk risalah yang ditranspormasikan dari ajarang Aang Nu. Dan, sekarang Gentur dikenal sebagai sebuah nama tempat di daerah Cianjur.

Jika para peziarah mengunjungi makam Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, di gerbang masuk terdapat lambang atau simbol gerakan ini, berupa bulan sabit dan bintang tiga.

Untuk mengenang perjuangan Syekh Abdul Muhyi tersebut, setiap tanggal 10 Muharram diadakan kegiatan peringatan (haul). Dewasa ini, kegiatan ini diselenggarakan dengan menyantuni anak yatim, kerukunan antar umat beragama, dan membagi 1.800 sembako bagi anak yatim. Di samping, acara tersebut untuk mengingat asal penciptaan alam.

Arsitektur Mesjid Agung Manonjaya

Mesjid Agung Manonjaya mengalami renovasi dan penambahan ruang beberapa kali. Tercatat, pada tahun 1837 Masehi, ketika Raden Tumenggung Danoeningrat (1837 – 1844 Masehi) menggantikan Kanjeng Adipati Wiradadaha VIII sebagai Bupati Sukapura, ia merenovasi bangunan mesjid dan melakukan penambahkan alun-alun. Dengan luas 637 meter persegi dan 29 tiang penyangga, mesjid dibangun dengan atap tumpang, bersusun tiga. Bagian paling atas (kemuncak atau mustaka), menurut cerita, berasal dari Mesjid Pamihajan, peninggalan Syekh Abdul Muhyi. Tinggi cungkupnya 1,80 meter, sedangkan lebar bagian bawah 0,6 meter. Terbuat dari tembaga dengan ketebalan 3 milimeter.

Pada tahun 1889, Raden Danoekoesoemah atau Raden Tumenggung Wirahadiningrat (1875 – 1901 Masehi) memperluas mesjid bagian timur dengan menambah serambi dan bangunan menara, berbentuk segi delapan di sisi kiri dan kanan yang dihubungkan dengan koridor. Menurut cerita, mustaka yang tengah terbuat dari tanah liat yang dibuat oleh pengrajin dari Banjarsari. Dengan penambahan tersebut, luas mesjid menjadi 927 meter dengan 61 tiang penyangga.

Dari segi arsitektur, Mesjid Agung Manonjaya setelah mengalami perombakan dan renovasi telah memasukkan unsur-unsur: lokal, Hindu, dan Eropa. Ketiga unsur tersebut dapat dilihat pada penggunaan atap tumpang tiga, berdenah segi empat, dan prinsip struktur soko guru di tengahnya. Pawastren (ruang sholat wanita) di sebelah selatan, serambi di sebelah timur, hingga mustaka, merupakan adaptasi elemen bangunan pra-Islam. Unusr-unsur Eropa tergambar ke dalam serambi atau pendapa, penggunaan kolom-kolom berjajar. Bentuk menara kembar segi delapan, pilar-pilar di sekeliling bangunan, serta hiasan segitiga pada ambang, jendela, dan hampir seluruh detil pada menara kembar memberikan ciri-ciri langgam Eropa.

Pada ruang utama, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 22,8 meter x 16,7 meter, dan dibatasi oleh dinding. Pintu terdapat di sisi timur, utara, dan selatan. Masing-masing dua pintu berbahan baku kayu, dengan ukuran tinggi 3,15 meter dan lebar 1,15 meter. Disamping kiri dan kanan pintu terdapat jendela berukuran 1,82 meter x 0,81 meter. Berbentuk persegi panjang dengan dengan jendela rangkap, bagian dalam terbuat dari kaca. Sedangkan bagian luar dari bilah-bilah papan yang dipasang secara vertikal.

Pada dinding selatan membatasi ruang pawastren dan gudang. Pada dinding terdapat tiga buah pintu yang menghubungkan luar pawastren, dan dua buah lagi tanpa daun pintu menuju pawastren. Dinding utara menjadi pembatas antara perpustakaan dan serambi utara.

Pawastren adalah ruangan khusus sholat wanita. Berada di sebelah selatan ruang utama dan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 11,40 meter x 3,80 meter. Ada tiga buah pintu masuk ke pawastren, dua dari ruang utama dan sebuah dari serambi.

Pada ruang utama terdapat 10 buahtiang terdiri dari empat tiang sokoguru. Empat tiang penyangga atap di antara tiang sokoguru. Dua tiang lainnya terletak di depan mihrab. Tiang sokoguru berbentuk segi delapan, tingginya 4 meter dengan garis tengah 1 meter, berfungsi sebagai penopang atap. Enam buah tiang lainnya mempunyai ketinggian 4 meter dengan garis tengah 0,70 meter.

Mihrab Mesjid Agung Manonjaya berbentuk ruangan persegi panjang dengan ukuran 6,30 meter x 4,30 meter, dan tinggi 4 meter. Dihubungkan dengan tiga buah pintu berjajar berukuran 2,60 meter x 1,28 meter, tanpa daun pintu. Pintu kiri berfungsi untuk imam memimpin sholat. Sebelah kanan merupakan tempat muazin, dan pintu tengah tempat mimbar. Di atas pintu ada kaligrafi.

Mimbar Mesjid Agung Manonjaya terletak di dalam mihrab berbentuk segi enam, tinggi 1 meter, dan memiliki anak tangga. Pada tiap sudut bidang segi enam terdapat empat buah tiang yang berdiri di atas pagar mimbar, terbuat dari kayu. Tiang-tiang tersebut bagian atasnya dihubungkan dengan palang kayu mendatar.

Serambi Mesjid Agung Manonjaya terletak di sisi utara dan timur. Serambi utara berukuran 19,90 meter x 3,80 meter. Sedangkan serambi di sebelah timur berukuran 12,60 meter x 9,40 meter. Tangga masuk menuju serambi terdapat di sebelah timur, utara, dan selatan.

Gudang pada Mesjid Agung Manonjaya terletak di sudut barat pawastren, berbentuk bujur sangkar. Tinggi dinding gudang adalah 4 meter dengan pintu masuk di sebelah timur. Pada dinding selatan terdapat lubang angin berbentuk persegi panjang dengan bilah-bilah papan yang disusun tegak. Pada bagian dalamnya diberi kawat.

Atap Mesjid Agung Manonjaya berbentuk tumpang bersusun tiga, di antara tingkatan tersebut terdapat jendela kaca. Atap disangga oleh tiang-tiang yang terdapat pada bangunan dan mempergunakan genteng berwarna hijau. Puncak atap dihiasi mustaka berupa bunga teratai dengan kelopaknya.

Mesjid Agung Manonjaya juga mempunyai dua buah menara yang terletak di depan serambi timur sebelah utara dan selatan. Anatar serambi timur dan menara dihubungkan dengan penampil serambi. Menara terbagi atas kaki, badan, atap, dan koridor menara. Menara terbagi atas dua tingkat. Pada lantai pertama terdapat pintu masuk berukuran 2,26 meter x 1,20 meter. Letak pintu menara utara dan selatan saling berhadapan yang dihubungkan oleh koridor. Menara mempunyai 12 buah jendela. Masing-masing enam buah menara. Berbentuk persegi panjang, berukuran 1,80 meter x 0,80 meter.

Koridor mempunyai atap limasan dari genteng hijau. Pada atap sebelah timur berbentuk segitiga dari tembok. Hiasan terdapat pada permukaan tembok atap di sebelah timur berupa bunga teratai dengan tulisan angka tahun pendirian menara.

 Sumber

Yoyon Haryanto, “Masjid Agung Manonjaya 1832 – 2014”, makalah.

========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *