#Kajayaan Maritim di Pedalaman Pulau Jawa

Bandar Sebutan Masa Lalu

Di Kediri terdapat tempat bernama “Bandar”. Tempat tersebut merupakan sebutan pelabuhan pada masa lalu. Dalam sejarah peradaban masa lalu, Bandar tak dapat dipisahkan. Karena, memiliki nilai strategis dalam menjalin hubungan sosial, ekonomi, dan budaya. Sebagaimana peradaban Mesir dengan sungai Nil, peradaban Mesopotamia dengan sungai Tigris, peradaban India dengan sungai Indus dan Gangga, serta China dengan sungai Kuning.

Begitu pula, peradaban di jawa pada umumnya. Sungai-sungai yang tercatat dalam sejarah seperti Ciliwung, Serayu, Bengawan Solo, dan Brantas.

Brantas menjadi bagian toponomi peradaban di Jawa Timur. Memengaruhi kerajaan-kerajaan besar seperti Kediri dan Majapahit. Kerajaan dan masyarakat Kediri memiliki ketergantungan pada sungai ini. Jika merunut penyerangan yang dilakukan oleh tentara Mongol, maka jalur yang digunakan pada masa itu adalah melalui sungai.

Kediri dahulu dikenal dengan nama Daha atau Gelang-gelang. Perdangan menjadi maju. Disebutkan pula, jika Raja Airlangga pernah memperbaiki tanggul sungai Brantas di dekat Wringin Sapta.

Sungai Brantas yang berarus deras tidak saja memiliki potensi jalur ekonomi, melainkan juga pertahanan militer. Jalur sungai Brantas memungkinkan terhubung pada pelabuhan-pelabuhan tepi pantai seperti Sedayu hingga Pacekan (Kali Mas). Pasang surut jalur Brantas ini tentu sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik, terutama ketika masa Raja Airlangga dan Dharmawangsa. Bahkan, pasca Airlangga, ketika terbelah menjadi Jenggala dan Panjalu. Agaknya, setiap perpecahan dan konflik akan melahirkan kesadaran. Dan, Kerajaan Kediri berdiri untuk menyatukan kembali cita-cita luhur Airlangga.

Kemajuan Kediri di bidang perdagangan, ekonomi, dan pertahanan telah mengundang pendatang-pendatang dari manca negara. Melintasi batas lautan, daratan, dan para wangsa. Bangsa-bangsa dari Persia, India, dan China dikenal menjadi mitra dagang dan perkembangan budaya-agama.

Bandar telah menjadi sebuah nama. Di sana masih tersisa geliat-geliat kejayaan masa lalu. Perdagangan masih berlangsung hingga kini. Termasuk, ekses-ekses negatifnya. Sebagaimana di setiap stasiun dan warung remang-remang bagi sopir truk, maka Bandar sebagai pusat perdagangan dan pertemuan budaya juga menyisakan praktek di lokalisasi. Dengan kata lain, pelacuran sudah berkembang sejak masa Bandar digunakan sebagai persinggahan.

Sementara, kemunculan pondok-pondok pesantren di Kediri telah menjadi sebuah counter budaya yang sudah lama ada. Dakwah Sayid Ali Sulaiman Al-Washil pada masa Jayabaya telah menjadi cikal bakal Islam masuk ke Kediri. Di samping terdapat pula mesjid Al-Alawi.

Kehadiran Syekh Al-Washil tersebut dapat ditandai dengan kehadirannya sebagai penasehat raja, sebagaimana kemudian di dalam Jangka Jayabaya disebutkan kitab Musarrar yang menjadi rujukannya.

Dawuh Sang Prabu Aji Jayabaya mengandung hukum yang abadi bagi masa depan dan kesemestaan. Demikian, Jangka Jayabaya selalu dipegang dan dipercaya sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini. Ramalannya dianggap tepat dalam membaca tanda-tanda zaman.

Prabu Jayabaya

Di Desa Menang di Timur Laut Kota Kediri sejak 1976 berdiri monumen spiritual yang megah, berupa petilasan, Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Petilasan ini adalah bekas wilayah Kerajaan Kediri, sekaligus tempa moksa sang Prabu yang memiliki nilai tertinggi. Oleh karena itu, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang dari segenap tempat, terutama pada hari malam Jum’at legi dan Selasa Kliwon.

Kitab Negarakertagama menyebutkan pada pupuh LXVIII, bahwa Raja Airlangga dengan perantaraan Mpu Barada membagi wilayah kerajaannya menjadi dua. Masing-masing untuk dua orang puteranya. Seorang menjadi raja di Panjalu (Kediri), sedangkan satu orang putera lagi di Jenggala. Batas wilayah kedua kerajaan ini adaah garis memanjang dari Gunung Kawi, membelok ke selatan, mengikuti aliran kali Leksa. Sampai sungai Brantas, kemudian membelok ke barat mengikuti aliran sungai, dan di dekat Singkil membelok ke selatan sampai laut Selatan. Kediri pada zaman dahulu dikenal juga dengan sebutan Daha, Gelang-gelang, atau Taha dan Kalang dalam Berita China. Cerita tentang kejayaan Kediri sangat terkenal dalam siklus Panji hingga ke Muangthai.

Kajayaan perdagangan Kediri sudah ada sejak masa Kerajaan Kahuripan era Prabu Dharmawangsa dan Airlangga, sehingga menjadi saingan Sriwijaya masa itu. Data jalur perdagangan memang tidak banyak diketahui, meski petunjuk dari Kitab Pararaton dan Kidung Panjiwaijayakrama menyebutkan demikian. Kedua kitab tersebut menyebutkan, ketika Kediri menyerang Singasari, pasukan Jayakatwang dipecah menjadi dua. Sebagian bergerak melalui Utara, dan sebagian lagi melalui Selatan. Dengan kata lain, ada dua jalur lalu lintas yang menghubungkan antara Kediri dan Malang.

Dengan diiringi oleh kemajuan peradaban, maka tidak salah jika kemudian diikuti pula oleh kemajuan karya-karya sastra dan seni. Sebuah indikasi kemajuan di bidang intelektual.

Prabu Jayabaya adalah salah satu Raja Kediri yang terkenal. Memerintah tahun 1135 – 1157 Masehi. Ia bergelar Sang Apanji dan dinamakan jelmaan Sang Hyang Wishnu Murti. Bukti-bukti ini diidentifikasi di dalam prasasti-prasasti berangka tahun 1056 Saka, 1057 Saka, 1957 Saka, dan 1136 Saka. Prasasti-prasasti tersebut dikenal dengan Prasasti Hantang (Ngantang) di daerah Malang. Berupa manusia, wayang, dan relief. Dalam prasasti tersebut nama lengkap Prabu Jayabaya adalah Ci Maharaja Sang Apanji Jayabhaya Cri Warmecwara Maddhusudhanawatara Sultrasinghapakrama Digjajottunggadewanama. Artinya, Yang Termulia Raja Agung Jayabaya. Yang Termulia Tuan dari keadilan titisan Dewa Wishnu yang tidak tercela, kuat, berani, seperti Singa, dan yang memenangkan dunia dengan nama Uttungga.

Prasasti Hantang 1057 Saka tersebut diberi nama Narasingha, manusia berbadan singa. Narasingha adalah salah satu wujud manifestasi Dewa Wisnu. Sebagaimana disebutkan kemudian, matangnya winangun sang hyang haji prasasti mungweng linggopala tinanda narasingha.

Di dalam kitab Baratayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada pupuh pertama dari kitab tersebut menyebutkan Prabu Jayabaya selalu menang dalam setiap peperangan. Dalam catatan Mpu Sedah, Dewa Siwa (Girinata) telah datang ke bumi untuk mengucapkan selamat kepada raja Jayabaya atas keberhasilan dan kebesarannya sebagai raja besar, cak rawatin.

Kebesaran Raja Jayabaya dapat dijumpai pada beberapa hal berikut:

  1. Ia memakai gelar Sang Apanji. Gelar ini sangat terkenal, baik pada zaman Kediri maupun setelahnya. Dari gelar ini kemudian muncul beragam versi cerita rakyat, di antaranya: Panji Inu Kertapati, Panji Kuda Semirang, Panji Kudalaleyan, dan Ande-ande Lumut. Inti ceritanya adalah pertemuan antara Puteri Daha, Galuh Candrakirana atau Klenting Kuning, dengan jejaka dari Jenggala, Inu Kertapati atau Ande-ande Lumut.
  2. Masyarakat Indonseia atau Jawa secara khusus gemar membicarakan tentang Jangka Jayabaya atau ramalan Jayabaya.
  3. Nama atau materi Jayabaya pernah digunakan dalam Prasasti Talam yang dikeluarkan oleh Cri Maharaja Sarwecwara pada tahun 1068 Saka.
  4. Keagungannya diikuti oleh kemasyhuran dua sastrawan besar, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Karya-karya keduanya adalah Baratayudha, Hariwangca, dan Gatotkaca Craja.

Bangunan Loka Moksa Prabu Jayabaya

Secara fisik, peninggalan Prabu Jayabaya hanya seperti legenda dan cerita dari mulut ke mulut. Hingga prasasti dan karya-karya sastra Mpu Sedah dan Mpu Panuluh hanya sebatas memberi informasi sejarah. Baru kemudian pada tahun 1860, Warsodikromo bermimpi ada areal gundukan tanah yang telah menjadi rawa dan diselingi oleh semak belukar. Dari mimpi tersebut, lalu masyarakat berinisiatif untuk bergotong royong mencari petilasan tersebut. Berkat bantuan seorang ahli metafisik, tempat tersebut akhirnya ditemukan, yaitu terletak di bawah naungan pohon kemuning.

Petilasan tersebut dijumpai hanya berupa tanah nisan. Di sana terdapat batu bara merah, baik dalam keadaan bertumpuk, berserakan, atau terjajar rapi mengelilingi onggokan tanah menyerupai makam.

Pemugaran secara besar-besaran dilakukan oleh Keluarga Besar Hondodento. Proses pemugaran berlangsung lebih kurang satu tahun. Dari sejak peletakan batu pertama pada tanggal 22 Pebruari 1975 (Sabtu Pahing) sampai dengan tanggal 17 April 1976 (Sabtu Pahing).

Corak dan wujud monument spiritual tersebut merupakan hasil perpaduan irrasional (makrokosmos) dan rasional (mikrokosmos). Secara irrasional, ada bimbingan wangsit dari Sri Aji Jayabaya yang diterima oleh Ki Wirjodikarso alias Pak Plered. Sedangkan secara rasional, digunakan bahan materi yang tahan lama agar bisa bertahan dalam waktu lama.

Sri ji Jayabaya melalui Pak Plered memberi petunjuk pembangunan petilasan Loka Moksa tersebut. Di antaranya, petunjuk tersebut adalah bahan batu yang digunakan harus dari Gunung Merapi, Jawa Tengah. Kemudian, bangunan terdiri dari: loka moksa, loka busana, serta loka makuta. Dengan syarat utama harus tanpa atap. Terbuka, langsung terkena sinar matahari dan hujan.

Selain petilasan, kurang lebih 500 meter ke arah timur laut terdapat Sendang Tirtokamandanu. Sebagaimana sendang sebagai sumber mata air alami yang memiliki kegunaan bagi kehidupan. Di dalam kenyataan, setiap situs cagar budaya yang ada cenderung dekat dengan sendang, petirtaan, atau tamansari di makam-makam kuno, candi-candi, atau tempat-tempat ibadah. Hal ini menandakan sumber air menjadi salah satu ciri ada kehidupan yang tertata sebelumnya. Sendang Tirtakamandanu ini oleh masyarakat Kediri diyakini sebagai bagian dari situs Petilasan Jayabaya tersebut.

Selomangleng

Salah satu relief yang paling menonjol adalah penampakan seorang perempuan cantik yang sedang bertapa. Perempuan itu digambarkan tengah bersila tepat di antara dua ruangan yang berada di kanan-kirinya. Mungkin, perempuan cantik tersebut adalah penggambaran dari Sang Dewi Kilisuci.

Aroma harum bunga dan dupa menyambut orang-orang yang hendak berkunjung ke goa Selomangleng, karena pada saat-saat tertentu masih terdapat tempat hening oleh penganut kepercayaan lokal yang masih menjunjung tinggi peninggalan para leluhur yang dianggap suci dan memiliki nilai sejarah tinggi. Oleh karena itu, mereka memperlakukan situs tersebut dengan penuh rasa hormat, menjunjung tinggi peninggalan leluhur sebagai wujud bakti dan penghormatan. Karena, tanpa para Leluhur tidak akan ada kelanjutan regenerasi hingga sekarang.

Namun sayang, banyak sekali yang terlanjur memberi stigma negatif, tanpa ingin mengetahui lebih mendalam lagi, sehingga bunga dan dupa sebagai persembahan kepada makhluk gaib dianggap perbuatan syirik.

Padahal, bunga sendiri memiliki makna simbol yang sangat luhur sebagai pengantar doa, ketika dipanjatkan:

  1. Bunga Mawar memiliki pengertian mawiarsa, supaya hati selalu “tawar” dari segala niat yang didasari dengan ketulusan, sebagaimana ketulusan Tuhan Sang Maha Pencipta/Alam Semesta agar selalu memberikan anugerah kepada seluruh makhluk tanpa pamrih. Bunga mawar merah-putih bisa juga melambangkan asal muasal/sangkan paraning dumadi kehidupan manusia agar selalu diingatkan asal dan akhir kehidupan;
  2. Bunga Melati memiliki pengertian rasa melad soko njero athi. Hendaknya, segala yang diucapkan adalah sebuah ketulusan, dan harus sama dengan kehendak di dalam hati. Diucapkan dan dilakukan semuanya dengan ketulusan (tidak munafik);
  3. Bunga Kanthil memiliki pengertian tansah kumanthil, atau mengandung filosofi kasih sayang yang tidak terputus kepada seluruh makhluk hidup dan alam semesta, tanpa terkecuali. Hendaknya, saling mengasihi, menyayangi, dan menghormati.
  4. Tentang dupa juga banyak yang belum paham benar atau mungkin langsung merasa seram. Jika mencium aroma dupa selalu dikaitkan dengan mistisisme semata. Padahal di tempat-tempat spa modern dupa atau aromatherapy sering digunakan untuk relaksasi; mengendorkan syaraf yang lelah dan menghilangkan stres. Begitu pula saat berdoa atau dalam laku spiritual, menyalakan dupa berfungsi untuk membuat rileks atau santai, melepaskan semua pikiran-pikiran, ego, nafsu duniawi dan permasalahan kehidupan, dan fokus pada keheningan. Diharapkan, dalam keadaan hening lebih dapat dirasakan, mendengarkan suara hati nurani, menyucikan batin, berserah diri, dan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta.

Candi Surowono

Merupakan tempat penyucian Raja Wengker yaitu salah seorang Raja Bawahan pada masa Pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Berbentuk Bujursangkar dengan ukuran 8 x 8 meter dan didirikan pada 1400 Masehi. Daya Tarik obyek wisata Candi Surowono adalah bangunan candi hasil karya sejarah peninggalan masa lalu dan bangunan terowongan bawah tanah vang dialiri air jernih dengan jalan yang bercabang – cabang cukup banyak yang terletak + 100 meter dari bangunan candi. Candi Surowono, terletak di Desa Canggu Kecamatan Pare, sekitar 25 Km arah Timur Laut dari Kota Kediri.

Gejolak Aliran Bhairawa Tantra

Tantrayana adalah salah satu aliran agama yang datang dari Hindustan. Aliran ini menitikberatkan ajaran pada semedi dan tapabrata, sehingga pada tingkatan tertinggi akan mencapai kekebalan tubuh yang disebut vajrasarira, tubuh intan. Aliran lain yang berkaitan dengan ajaran agama Hindustan tersebut adalah mantrayana yang menitikberatkan ajaran pada bacaan mantra-mantra.

  1. Prabu Kertanegara

Aliran Bhairawa Tantra mulai pesat ketika Prabu Kertanegara menjadi penguasa di Singasari. Aliran ini memuja sakti (lawan jenis para dewa), seperti Dewi Pertiwi, Dewi Durga, Dewi Kali, dan lain-lain. Aliran ini banyak tersebar di Jawa dan Sumatera.

Ajaran bertumpu pada lima ritual atau biasa disebut Panca Makara (lima ma). Mamsa (daging), matsya (ikan), madya (arak), maithuna (seksual), dan mudra (semedi). Dalam ritual ini, laki-laki dan perempuan masing-masing membentuk lingkaran (ksetra) seraya menanggalkan semua pakaian. Di tengah lingkaran tersedia ikan, daging, dan arak. Setelah menyantap hidangan hingga mabuk, lelaki dan perempuan tersebut melakukan persetubuhan (maithuna). Prosesi tersebut diiringi dengan semedi, sebagaimana biasa terurai di dalam kitab Kamasutra. Bedanya, ritual Bhairawa Tantra ini diselenggarakan secara beramai-ramai di arena terbuka.

Untuk tingkat semedi yang lebih tinggi, mamsa diganti dengan daging manusia, matsa diganti dengan ikan hiu (sura), dan madya diganti darah manusia. Di dalam novel Arok Dedes, karya Pramoedya Ananta Toer, disinggung pada masa Tunggul Ametung, kegiatan ini diselenggarakan di tengah-tengah hutan oleh sekelompok orang yang dianggap telah menyimpang dari ajaran dharma. Begitu pula di dalam novel yang lain, Calon Arang, dikisahkan pada masa Prabu Airlangga; seorang pendeta wanita, Calon Arang, melakukan ritual memuja Dewi Durga dengan membasuh rambut kepala dengan darah manusia untuk melakukan tenung, menyebar berbagai penyakit kepada penduduk negeri.

Di Kerajaan Singasari, Prabu Kertanegara adalah penganut resmi ajaran Bhairawa Tantra ini. Ia dilukiskan sebagai seorang raja yang lemah dan suka main perempauan. Dan, ini menjadi kesempatan baik bagi Prabu Jayakatwang di Kediri untuk menggalang kekuatan para resi dan biksu yang menentang Bhairawa Tantra untuk melakukan pemberontakan. Sehingga kemudian Prabu Kertanegara berhasil dikalahkan dalam sebuah pengepungan istana oleh Prabu Jayakatwang.

Di dalam catatan Agus Sunyoto, ada sebuah patung tokoh bernama Adityawarman di Museum Nasional Jakarta yang tingginya tiga meter berdiri di atas tumpukan tengkorak. Dialah pendeta Bhairawa Tantra yang dilantik dengan gelar Wisesa Dharani, Penguasa Bumi. Digambarkan, dia duduk di atas tumpukan mayat, seraya meminum darah, sambil tertawa.

  1. Totok Kerot

Jejak ajaran Bhairawa Tantra banyak terdapat pada arca-arca yang terserak di Kediri.

Totok Kerot merupakan arca berbentuk raksasa wanita berkalung tengkorak dengan tinggi arca + 300 cm, terletak di Dusun Kunir Desa Bulupasar Kecamatan Pagu + 8 Km ke arah timur dari kota Kediri. Legenda Totok Kerot dimulai dari seorang putri cantik dari Blitar yang melamar Sri Aji Jayabaya. Karena lamaran ditolak, maka terjadilah pertempuran antara pasukan Lodaya melawan pasukan Pamenang. Karena kalah, akhirnya, putri tersebut dikutuk oleh Sri Aji Jayabaya dan berubah wujud menjadi patung raksasa wanita, berbentuk dwarapala.

Namun demikian, apabila ditilik dari kemiripan dengan arca dwarapala di Singasari, arca Totok Kerot tidak jauh berbeda. Arca ini diperkirakan sebagai pintu masuk gerbang kerajaan dari sisi barat, sebagaimana pada umumnya dwarapala berfungsi demikian. Arca Totok Kerot masih penuh diselimuti misteri, karena belum ada penggalian arkeologis lebih intensif. Namun demikian, apabila dilihat dari corak perhiasan yang dikenakan oleh arca tersebut, maka jelas tengkorak manusia yang dijadikan kalung bisa berarti arca Totok Kerot sangat berkaitan erat dengan aliran Bhairawa Tantra.

Semampir, Jejak Maritim di Kediri

Di balik kegemerlapan Kediri sebagai daerah santri, ada pula terselip kisah-kisah kelamnya. Sebagaimana kehidupan manusiawi pada umumnya, denyut nadi yang tak pernah berhenti.

Begitu pula dengan dunia prostitusi yang sudah menjadi bagian dari dunia kelam di hampir setiap agama. Maka, dengan melihat Semampir sebagai bagian dari sejarah –tidak bisa tidak untuk tidak menutup mata – hal ini telah mengandung kemungkinan masih ada jejak-jejak masa lalu di dalamnya. Karena, masih ada aktivitas kehidupan demikian sejak zaman dahulu.

Memang, kata Semampir di Kediri memiliki konotasi negatif, karena telah menjadi tempat persinggahan para saudagar yang berlabuh di Pelabuhan Bandar Kediri. Di sana, terdapat punden yang dikeramatkan. Dia adalah punden Eyang Ronggo Patih yang diyakini sebagai salah satu sesepuh desa. Makamnya ada di tepi Sungai Brantas di belakang Balai Kelurahan Semampir. Makam itu dituakan oleh masyarakat desa. Dan, ketika terjadi pemindahan makam orang-orang Tionghoa ke Gunung Klotok tahun 1960, makam tersebut tidak turut dipindahkan. Dengan menilik denyut-denyut nadi kehidupan di Semampir dalam rentang waktu yang lama, hal ini memperkuat asumsi, jika sungai Brantas sudah menjadi jalur transportasi yang ramai dan utama.

Meskipun demikian, keberadaan punden Mbah Ronggo sebetulnya ditunjang pula oleh keberadaan punden yang lain: Mbah Donayan, Mbah Sengon, dan Nyi Rondo Kuning. Di samping, ada legenda Eyang Puteri yang melekat dengan Semampir.

Punden  Eyang Puteri terletak di tengah-tengah lokalisasi Semampir. Pada zaman dahulu, makam tersebut menjadi satu dengan makam-makam orang Belanda dan Tionghoa. Berbeda dengan makam Mbah Ronggo yang tidak dipindah, karena di-gandoli penduduk desa, makam Eyang Puteri tidak dipindah, karena memang tidak ada yang sanggup memindahkannya. Menurut cerita masyarakat desa Semampir, upaya untuk memindahkan makam tersebut gagal.

Tidak diketahui secara persis tentang cerita Eyang Puteri tersebut. Dari cerita tutur, dia adalah seorang puteri dari Solo blasteran Belanda-Tonghoa. Namanya Lio Juan Ho, biasa pula dipanggil Mariam. Di dalam perjalanannya, Eyang Puteri dulu mampir di desa Semampir tersebut. Sebab, daerah tersebut pada zaman dahulu merupakan tempat persinggahan atau ampiran para juru mudi kapal yang menyandarkan armada kapalnya di bandar pelabuhan Sungai Berantas. Area persinggahan kapal tersebut memanjang dari Semampir hingga Jongbiru.

Sebagai tempat persinggahan para awak kapal, maka tidak heran, jika Semampir dipenuhi oleh warung-warung makan dan tempat-tempat hiburan. Dalam suasana para awak kapal yang haus hiburan tersebut, nama Lio Juan Ho pun menjadi primadona. Tubuhnya yang nyaris sempurna dengan wajah yang cantik dan senyuman menawan telah banyak memikat tatapan mata kaum lelaki. Jika mariam tersenyum, setiap lelaki akan mudah tergoda untuk singgah. Dengan demikian, muncul istilah kata-kata, ”Lek mesem, mesti mampir”. Kalau sudah tersenyum, pasti singgah. Gabungan dari dua kata tersebut: mesem dan mampir, akhirnya menjadi sebutan Semampir. Hanya saja, punden Eyang Puteri tersebut tidak diakui oleh penduduk desa sebagai sesepuh, bila dibandingkan dengan punden Eyang Ronggo Patih, Mbah Doyanan, Mbah Sengon, dan Nyi Rondo Kuning yang selalu diziarahi di saat ruwatan desa.

Namun demikian, meski tidak diakui sebagai sesepuh desa, makam Eyang Puteri menjadi kunjungan pertama bagi penghuni baru di Lokalisasi Semampir. ”Pendatang baru” harus terlebih dahulu nyekar di makam tersebut. Hal ini menjadi kepercayaan umum bagi para pramuria, baik para penghuni Lokalisasi Semampir maupun dari lokalisasi di daerah lain. Bahkan, tidak sedikit dari kalangan pedagang dan pegawai yang nyekar di makam Eyang Puteri tersebut.

Keberadaan Bandar sebagai pusat transportasi sungai dan jalur ekonomi sudah ada sejak masa kerajaan hingga masa Kolonial Belanda. Ketika Bandar menjadi pusat persinggahan para awak kapal, maka warung-warung makan, penginapan, dan tempat-tempat hiburan bermunculan. Dan, keberadaan wanita-wanita penghibur menjadi suatu keniscayaan.

Namun demikian, meskipun pelabuhan Bandar kian surut seiring sistem transportasi beralih ke darat, terdapat bukti-bukti sejarah, jika sejak abad ke-12 sudah ada kehidupan ekonomis yang ramai dan maju. Hal ini ditandai dengan ditemukan koin kuno di bawah Jembatan Lama Sungai Brantas. Di dalam koin tersebut tertera tahun 1292 Masehi. Diduga, koin tersebut berasal dari sebuah kapal dagang China yang karam.

Jika dikaitkan dengan sejarah penyerbuan tentara Kubilai Khan yang menyerbu Kediri yang menyebabkan Raja Jayakatwang tertangkap, maka hal ini menjadi mungkin. terutama di dalam kitab Ling Wai Tai Ta disebutkan oleh Chou Ku Fei pada tahun 1178 Masehi, Kediri sudah maju dan tanahnya subur.

Demikian, dengan keberadaan punden-punden di Semampir sebagai tempat persinggahan telah memperkuat asumsi, jika Kediri sebagai kota maritim dan ramai, karena lalu lintas ekonomi yang sudah maju.

Rabu, 20 April 2016 – Kamis, 21 April 2016.

Sumber:

Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo (Yogyakarta: Yayasan Hondodento, t.t.)

Tauhid Wijaya (ed.), Brantas: Dari Pesantren Hingga Lokalisasi (Kediri: PT Kediri Intermedia Pers, 2012)

KH Busrol Karim A Mughni, Syekh Ihsan bin Dahlan Jampes Kediri Pengarang Siraj Al Thalibin (Kediri: Jampes Kediri, 2012).

========================

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities).

Categories: Laporan

1 Comment

FIRDA · Rab 12 Desember 2018 at 05:04

terimakasih ilmunya sangat bermanfaat sekali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *