Hayam Wuruk

Kawasan Nganjuk tidak seperti Kediri yang ramai oleh perniagaan melalui jalur sungai Brantas. Dengan toponomi yang lebat oleh hutan dan Gunung Wilis, Nganjuk menjadi tempat yang jauh dari peradaban. Tempat strategis untuk melarikan diri. Sementara di sisi barat, Saradan adalah hutan angker sejak dahulu, baik sebagai wilayah perampokan atau pembegalan konvoi-konvoi tentara Belanda.

Di kaki gunung Wilis, jejak terakhir Raja Besar Majapahit, Prabu Hayam Wuruk, melabuhkan hatinya. Abu persemayamannya dibangun candi Parama Salakapura di Ngetos, Nganjuk.

Di Ngetos, Hayam Wuruk mengasingkan diri. Di dalam kitab Negarakertagama dilukiskan oleh Mpu Prapanca, jika Prabu Hayam Wuruk adalah seorang pelancong dan penyendiri. Ia suka mendatangi tempat-tempat suci, pantai selatan, dan gunung-gunung untuk bermeditasi dan beribadah.

Ngetos adalah tempat yang sejuk dan asri. Selain tempat persemayaman abu jasad Prabu Hayam Wuruk, di sekitar candi Parama Salakapura tersebut juga terdapat makam-makam tua yang seusia candi. Sebagaimana makam adalah ciri khas tempat peristirahatan terakhir umat Islam. Apakah makam-makam tersebut merupakan makam-makam pejabat negara yang menyertai Prabu Hayam Wuruk?

Pola Agraris Mpu Sindok

Konstruks ideologi yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat sangat ditentukan oleh alam lingkungannya, sehingga keakraban dengan kehidupan hewan-hewan telah turut mewarnai. Hal ini dapat dilihat dari nama-nama yang sering digunakan di dalam cerita-cerita legenda dan dongeng-dongeng seperti Mpu Bango, Ciungwanara, atau narasingha untuk nama salah satu batara Wisnu. Namun demikian, kontruks yang dibangun oleh alam lingkungan ditentukan pula oleh unsur cerita-cerita dari kitab suci, seperti kisah Baratayudha dan Ramayana.

Mpu Sindok (929 – 947 Masehi) adalah raja Kerajaan Medang pertama yang memerintah di Jawa Timur setelah era Jawa Tengah berakhir (Borobudur dan Prambanan). Ia bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmattunggadewa. Ia pendiri Wangsa Isyana di Jawa Timur.

Sebelum hijrah ke Jawa Timur, Mpu Sindok pernah menjabat sebagai Rakai Mahamantri di Halu pada masa pemerintahan Rakai Dyah Tulodong. Pada masa pemerintahan Rakai Dyah Wawa, jabatannya menjadi Rakai Mahamantri di Hino. Ia memiliki permaisuri bernama Sri Parameswari Dyah Kebi, puteri Rakai Bawa. Meskipun terdapat kontroversi seputar garis keturunan Mpu Sindok dan permaisurinya, yang bisa diambil sebagai catatan adalah keduanya memiliki garis keturunan bangsawan pada masa Mataram Kuno. Sehingga berbagai spekulasi sejarah yang menyatakan Kerajaan Mataram Kuno runtuh, karena diserang oleh Sriwijaya atau Gunung Merapi meletus bisa diambil argumentasi lain, bahwa perpindahan tersebut disebabkan oleh eksploitasi tenaga-tenaga manusia untuk membangun Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Di dalam prasasti, Mpu Sindok menyebut dirinya sebagai penerus Dinasti Medang (Mataram Kuno), sebagaimana diungkapkan dalam kalimat: Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i bhumi Mataram i Watugaluh.

Dalam hijrah ke timur, Mpu Sindok mendirikan dua pusat pemerintahan. Pertama di Tamwlang (prasasti Turyan, 929 Masehi), kemudian pindah ke Watugaluh (prasasti Anjukladang, 937 Masehi).

Akibat dari eksploitasi besar-besaran terhadap tenaga-tenaga manusia untuk membangun Candi Borobudur dan Candi Prambanan, dan juga ditengara pernah terjadi perang besar-besaran antara Rakai Pikatan dan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang banyak memakan korban jiwa, maka kemungkinan inisiatif Mpu Sindok hijrah ke Jawa Timur adalah untuk menghindari perang berkelanjutan antar wangsa di Mataram. Dengan demikian, pola pertahanan yang dibangun oleh Mpu Sindok kemudian adalah pertahanan agraris dengan membuat komunitas Sima.

Sebagaimana disebutkan di dalam prasasti-prasasti berikut:

  1. Prasasti Turyan (929 Masehi) berupa permohonan Dang Atu Mpu Sahitya untuk tanah di barat sungai Desa Turyan agar dijadikan tempat bangunan suci;
  2. Prasasti Linggasutan (929 Masehi) berupa penetapan Desa Linggasutan, wilayah Rakryan Hujung Mpu Madhura Lokaranjana, sebagai sima swatantra guna penambahan biaya pemujaan bathara di Wilandit setiap tahun;
  3. Prasasti Gulung-gulung (929 Masehi) berupa permohonan Rakryan Hujung Mpu Madhura agar sawah di Desa Gulung-gulung dijadikan sima bagi bangunan suci Mahaprasada di Himad;
  4. Prasasti Cunggrang (929 Masehi) berupa penetapan Desa Cunggrang sebagai sima swatantra untuk merawat makam Rakryan Bawang Dyah Srawana (diduga ayah permaisuri, Sri Parameswari Dyah Kebi);
  5. Prasasti Jru-jru (930 Masehi) berupa permohonan Rakai Hujung Mpu Madhura agar Jru-jru di Linggasutan dijadikan sima swatantra untuk merawat bangunan suci Sang Sala di Himad;
  6. Prasasti Waharu (931 Masehi) berupa anugerah untuk penduduk Desa Waharu yang dipimpin Buyut Manggali, karena setia pada negara;
  7. Prasasti Sumbut (931 Masehi) berupa penetapan Desa Sumbut sebagai sima swatantra, karena kesetiaan Mapanji Jatu Ireng dan penduduk desa, ketika menghalau musuh negara;
  8. Prasasti Wulig (935 Masehi) berupa peresmian bendungan di Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya yang dibangun penduduk Wulig di bawah pimpinan Sang Pamngat Susuhan. Peresmian ini dilakukan oleh salah satu isteri Mpu Sindok, Rakryan Mangibil;
  9. Prasasti Anjukladang (937 Masehi) berupa penetapan tanah sawah di desa Anjukladang sebagai Sima Swatantra dan persembahan kepada bhatara di Sang Hyang Prasada.

Dari keterangan beberapa prasasti ini dapat disimpulkan, jika Mpu Sindok telah membangun sebuah tatanan agraris dengan bercocok tanam. Di samping, sebuah komunitas sima yang bebas pajak dengan pola pemerintahan sendiri secara otonom (swatantra). Mengingat, sima adalah tanah istimewa sama seperti tanah perdikan pada masa kerajaan-kerajaan muslim yang dihadiahkan oleh seorang raja. Pola agraris ini terus bertahan hingga masa kegemilangan Raja Airlangga.

Mojosari

Mojosari memiliki nilai sejarah perjuangan sejak masa kerajaan Mataram.  Pada masa geger China di keraton Mataram, Pakubuwono III melarikan diri ke Mojosari dan diselamatkan oleh Kiai Kasan Besari.

Pondok Pesantren Mojosari terletak di Ds.Mojosari, Kec.Ngepeh, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Pesantren ini merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang didirikan oleh KH.Zainuddin pada pertengahan abad XIX, lebih tepatnya pada tahun 1845. Menurut dokumen Staatsblad Hindia Belanda yang saat ini dipegang oleh ahli warisnya.

K.H. Zainudin dikenal sebagai kiai yang diplomatis, birokratis terhadap hukum Hindia Belanda namun berpihak sepenuhnya pada rakyat. Hal ini dibuktikan dengan beberapa dokumen resmi pemerintah yang dimiliki oleh beliau mulai dari Akta Tanah, Surat Izin pendirian Tempat Belajar dan tempat ibadah, Surat Izin berangkat Haji dan lain sebagainya yang diantaranya ditulis menggunakan bahasa belanda, Aksara Jawa dan Aksara Pegon Melayu. sedangkan keberpihakan beliau kepada rakyat dibuktikan dengan kepedulian mengayomi masyarakat melalui pendidikan dan menyediakan Pondok untuk siapa saja yang mau belajar.

Di antara pendidikan yang diajarkan oleh K.H. Zainuddin adalah tentang riyadlah dan tirakat yang berbeda dengan kiai-kiai lainya. Jika Kiai yang lain mengajakan riyadlah dan tirakat lebih spesifik berupa amalan-amalan laku atau wirid, KH.Zainuddin menanamkan doktrin kepada santrinya untuk riyadlah dan tirakat dengan cara belajar mengaji dengan khusyu dan mengamalkanya di tengah masyarakat, karena riyadlah dan tirakat atau wirid sudah dijalankan oleh kiai-kiai terdahulu untuk santri-santrinya.

Jejak Sunan Bonang di Singkal

Singkalan masuk wilayah kabupaten Nganjuk. Namun, secara kultur masih terlibat dengan sejarah Kediri, seperti ajaran Tantra Bhairawa dan Pesantren Setonolarean. Pesantren tua di Kediri.

Singkal yang berarti membajak sawah adalah sebuah desa yang sudah masuk wilayah Nganjuk sekarang di sebelah barat Sungai Brantas yang menjadi pusat penyebaran agama Islam oleh Sunan Bonang. Sebagaimana dijelaskan tersebut di atas, aliran Bhairawa Tantra telah mengambil peran peradaban di Kerajaan Kediri. Sehingga di dalam setiap ritualnya selalu meminta korban nyawa manusia.

Sunan Bonang yang melakukan dakwah hingga ke Kediri sebagai pusat pengajaran Bhairawa Tantra membuat pola upacara tandingan ritual Bhairawa Tantra tersebut. Sebagai pusat, semboyan Kediri masih menggunakan kata Canda Bhairawa. Dalam catatan Agus Sunyoto, Sunan Bonang membuat acara yang mirip sebagaimana ritual yang diselenggarakan oleh kalangan Bhairawa Tantra. Ia mengenalkan slametan dengan membuat lingkaran, tetapi pesertanya lelaki semua, dan di tengah-tengah ada makanan yang diiringi dengan doa. Hal ini di kemudian hari dikenal dengan sebutan kenduri. Oleh karena itu, Sunan Bonang dikenal pula dengan sebutan Sunan Wadat Cakrawati, sebab ia menjadi pemimpin atau imam Cakra Iswara (Cakreswara).

Hingga kini, upacara slametan tersebut masih diselenggarakan dari kampung ke kampung. Dan khusus di Desa Suruh Kecamatan Njuwet Kabupaten Nganjuk, ritual slametan tersebut diselenggarakan pada hari-hari tertentu, seperti peringatan tujuh bulan bayi di dalam kandungan (mithoni), dengan mengundang tetangga tidak mampu. Makanan yang tersaji di atas daun-daun pisang, kemudian dibungkus dan dibagi-bagikan.

Jumat, 22 April 2016.

=========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *