foto koleksi M. Sakdillah. gayatri.co.id

Taman Indah di Balik Gunung

Kadipaten Sukapura adalah bagian dari wilayah kerajaan Mataram. Pada masa Sultan Agung, wilayah ini menjadi salah satu basis lumbung dan pertahanan untuk menyerang Batavia. Wilayah Sukapura berada di dalam apitan gunung-gunung.

Namun demikian, jauh sebelum itu sudah ada kehidupan masyarakat di bawah kuasa Kerajaan Priangan dan Galunggung. Dan, penyebar Islam sudah masuk ke wilayah yang disebut Gunung Raja. Gunung ini menjadi pusat pergerakan secara diam-diam dan sulit terdeteksi hingga sekarang.

Potensi Wisata Kampung Naga

Kampung Naga memiliki panorama yang indah selayak alam pegunungan pada umumnya di Indonesia. Di sana, pengelolaan alam menjadi sangat natural dan asri sehingga memancing minat pelancong-pelancong manca negara berdatangan. Dengan panorama yang indah tersebut bangunan-bangunan rumah penduduk masih asli menggunakan bambu dan ijuk.

foto koleksi M. Sakdillah. gayatrimedia.co.id

Penyiaran agama dan sikap gotong royong masih menawarkan sebuah destinasi yang tak terlupakan. Hal ini terlihat dari hamparan sawah dengan padi menguning. Jalan setapak menurun memacu energi untuk menguras keringat. Derai suara gemericik air sungai yang jernih dan dam pengairan mendorong masyarakat setempat dapat menyajikan sebuah nuansa indah dan penuh harmoni.

Kampung Naga sebagaimana bahasa setempat menyebutnya berarti “adat”. Naga adalah adat. Memelihara keasrian dan pelestarian. Sehingga dari potensi alam ini dapat mendatangkan wisatawan-wisatan untuk berakhir pekan atau sekadar melepas kepenatan.

Sukapura

Sukapura merupakan kerajaan lama sejak masa kejayaan Kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini dalam versi Babad Cirebon diwariskan kepada Raden Kiansantang, putera terakhir Prabu Siliwangi.

Pada masa Tumenggung Wiradadaha VIII, wilayah Sukapura terbagi menjadi tiga: Afdeeling (wilayah di bawah keresidenan) Sukapura Kolot, Afdeeling Sukapura, dan Afdeeling Tasikmalaya. Dengan batas-batas wilayah: sebelah utara dengan Keresidenan Cirebon, sebelah timur dengan Keresidenan Banyumas yang dipisahkan oleh Sungai Citanduy, sebelah selatan dengan Samudera Hindia, dan sebelah barat dengan Afdeeling Sukapura Kolot dan Afdeeling Tasikmalaya. Pada tahun 1831, jumlah penduduknya adalah 4.687 warga pribumi, 22 warga China, dan 6 warga Timur Asing.

Pada tahun 1832 Masehi, Bupati Raden Demang Anggadipa (Raden Tumenggung Wiradadaha VIII (1807 – 1811 dan 1814 – 1837) memindahkan ibukota Kabupaten Sukapura dari Leuwiloa di Sukaraja ke Harjawinangun. Berdasarkan Besluit Gubernemen No. 22 tanggal 10 Januari 1839, nama Harjawinangun dirubah menjadi Manonjaya. Sementara untuk penyelesaian proses pemindahan, pemerintahan sementara berkedudukan di Pasirpanjang.

Adapun masa pemindahan tersebut memakan waktu dua tahun yang dipimpin langsung oleh Patih Raden Tumenggung Danoeningrat. Sedangkan perencanaan pembangunannya berpedoman pada mesjid kecil yang sudah ada sebagai cikal bakal Mesjid Agung Manonjaya. Alasan-alasan pemindahan ibukota Sukapura tersebut adalah: pertama, untuk memudahkan menjalankan pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Wiradadaha VIII, kedua, karena alasan politis. Sebab, pasca Perang Diponegoro (1825 -1830 Masehi) sangat berpengaruh bagi pertahanan Belanda di Batavia. Sebagaimana Sukapura pernah menjadi lumbung dan benteng pertahanan, ketika Sultan Agung menyerang Batavia.

Tasikmalaya, April 2016.

=======================

Penulis:

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities)

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *