entah, sudah berapa puluh tahun Pak Salam dan istrinya berjualan Cemoe, makanan khas Ngawi sejenis bajigur ini. namun, keduanya masih tegar dan kukuh bersama waktu. usia lanjut seperti tak menghentikan niat mereka mencari rupiah demi rupiah yang tak banyak.
bertahan dalam keheningan. Pak Salam dan istrinya tak begitu hirau dalam hiruk pikuk dunia. Mereka hanya diam, tak bereaksi. di bawah kaki gunung Lawu. dari hari ke hari membuka tenda sederhana yang mudah rusak terterpa angin.
di sudut yang lain, kemarin malam, aku sempat bertanya kepada pedagang warung nasi kikil yang masih buka hingga larut. harus bertahan. enak tidak enak pilihan. semua pekerjaan harus ditekuni. laku gak laku tetap buka. meski sekarang kian banyak saingan. Demikian, si pedagang yang juga seusia Pak Salam.
kendal. desa ramai hingga pagi. di tengah arus global yang cepat, masih kutemukan juga orang-orang yang memiliki kepasrahan. aku membayangkan: bagaimana dulu, masyarakat Gunung Kidul banyak yang melakukan bunuh diri karena kerasnya alam, karena kesulitan air.

Kendal, 11.56; 12 Agustus 2018.

========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Rekreasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *