Panjalu, Ciamis

Sebelum menapak jejak muslim di Tulungagung, ada baiknya mengenal kata Panjalu terlebih dahulu.

Panjalu merupakan sebuah kerajaan tua yang berpusat di Ciamis. Kerajaan ini memiliki pengaruh besar setelah Pajajaran dan Cirebon. Kerajaan tua tersebut, Saka Galuh Panjalu, kemudian terpecah menjadi dua: kerajaan Sumedang Larang dan Galuh Pakuan.

Kerajaan Saka Galuh Panjalu didirikan oleh Raden Borosngora atau Sayid Ali bin Muhammad bin Umar, atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Panjalu. Pusat kerajaan terletak di Situ Lengkong, Ciamis, Jawa Barat. Mbah Panjalu hidup sezaman dengan Sayid Husein Jamaluddin al-Akbar atau Syekh Maulana Jumadil Kubra (wafat 1376) dan puteranya, Syekh Maulana Ibrahim As-Samarakandi (ayah Sunan Ampel/1401-1481) dan Syekh Maulana Ishaq atau Sunan Giri (1443-1506). Menurut Gus Dur, Mbah Panjalu adalah penyebar tarekat Sadziliyah pertama. Keturunannya banyak yang menjadi ulama dan penyebar Islam di tanah Jawa, salah satunya adalah Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Raja Kesultanan Pajang.  Mbah Panjalu juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati (1448-1568). Mbah Panjalu adalah putera kedua Prabu Sanghyang Cakradewa yang bergelar Prabu Sanghyang Lembu Sempulur I.

Syekh Mustaqim (1901-1970)

Dia termasuk punjer, meskipun di bumi Tulungagung sudah dikenal banyak nama besar, seperti Rajapadmi Gayatri yang agung. Rajapadmi Gayatri adalah salah seorang isteri Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Wilwatikta, yang di akhir senja usianya membaktikan diri kepada ilmu pengetahuan. Syekh Mustaqim adalah pendiri Pesantren PETA di Tulungagung.

Tidak diketahui alasan pasti, Kiai Raden Abdul Jalil bin Muhammad Arifan melakukan hijrah ke bumi Tulungagung pada tahun 1870. Hanya sedikit informasi, Sang bangsawan Sunda ini hendak mencari saudara-saudaranya yang telah lebih dahulu mengembara ke Jawa Timur, selain memang tradisi pencari ilmu pada masa itu sebagai santri kelana. Tradisi kelana ini hilang di era sekarang setelah pesantren-pesantren mengadopsi sistem klasikal, sehingga ilmu pengetahuan pun bersifat fakultatif dan padat kurikulum.

Pada masa itu dikenal, ilmu pengetahuan di Jawa Timur sudah sangat berkembang. Materi-materi ajar di pesantren-pesantren menekankan pada keilmuan praksis, seperti fikih, gramatika, tafsir, maupun tasauf. Berbeda dengan pesantren-pesantren di Jawa Barat yang menekankan pada ketinggian spiritualitas sebagai lelaku hidup. Maka, tidak heran, jika santri-santri dari Jawa Barat sangat kental dengan ilmu-ilmu hikmah dan kanuragan dibandingkan dengan santri-santri dari Jawa Timur yang menguasai ilmu pengetahuan yang sistematik (syariat, hakikat, dan makrifat). Namun demikian, di dalam Islam, kedua metode tersebut tidak bisa dipisahkan, karena memang saling melengkapi. Seorang alim belum dikatakan alim bila belum melakukan lelaku. Begitu pula, seorang lelaku belum dikatakan sempurna bila belum belajar sistem-sistem pengetahuan dalam Islam.

Syekh Mustaqim dilahirkan di desa Kepatihan Tulungagung. Ibunya, Mbah Nyai Mursini berasal dari desa Kedungwaru Tulungagung. Syekh Mustaqim memiliki saudara laki-laki, Syekh Mustamir. Menurut Syekh Abdul Jalil, Syekh Mustaqim berteman akrab dengan Bung Karno hingga usia 6 tahun. Bung Karno yang memiliki nama asli Koesno pada saat itu diasuh oleh kakeknya yang bernama Raden Hardjodikromo. Di Tulungagung tersebut, Bung Karno berganti nama dari Koesno menjadi Karno atau Soekarno.

Di rumah kakeknya, Bung Karno diasuh oleh seorang perempuan bernama Sarinah. Kemudian, Bung Karno menulis buku khusus tentang sosok Sarinah sebagai perempuan ideal dan luar biasa. Bahkan, untuk pusat perbelanjaan modern pertama di Jakarta pada tahun 1964, Bung Karno menamainya Sarinah.

Berikut silsilah Syekh Mustaqim bin Muhammad Husein:

PRABU SANGHYANG CAKRADEWA

  1. PRABU SANGHYANG LEMBU SEMPULUR II
  2. PRABU SANGHYANG BOROSNGORA (MBAH PANJALU)
  3. SANGHYANG PANJI BARANI
  4. SANGHYANG ANGGARUNTING
  5. RATU MAMPRANG KANCANA ARTASWAYANG
  6. RATU PUNDUT AGUNG
  7. HARYANG KUNING
  8. HARYANG KANCANA
  9. HARYANG KULUK KUKUNANGTEKO
  10. HARYANG AGEUNG

PRABU HARYANG KANJUT KADALI KANCANA

PRABU HARYANG KADACAYUT MARTABAYA

PRABU HARYANG KUNANG NATABAYA

  1. RADEN ARYA SUMALAH
  2. RADEN ARYA SACANATA
  3. RADEN ARYA DIPANATA

RADEN DALEM SINGALAKSANA I (CIANJUR)

RADEN DALEM SINGALAKSANA II

RADEN DALEM UJU SURYANINGRAT

RADEN DALEM GARADAHA

RADEN DALAM QITHRI

RADEN DALEM BALEWANGSA (MALAKA, MALANGBONG)

  1. NUR YAMAN (MALANGBONG)
  2. NUR YAMIN (CIANTEN, MALANGBONG)
  3. NUR QOSIM (MALANGBONG)
  4. MUHAMMAD ZAHIDIN/SYEKH MUJAHIDIN (MALAKA, MALANGBONG)
  1. MAS ALI YAMAN (MALANG, JAWA TIMUR)
  2. KYAI MAS NUR SHIYAM (CALONAN, PURWODADI, KRAS, KEDIRI)
  3. NYIMAS SITI ANDEWI (NYIMAS AJENG SUMARANTEN) menikah SYEKH RADEN M. ARIFAN (MAS AJENG SUMARANTEN)
  4. KYAI MUHAMMAD SYARIF (KARANGASEM, SUKAMANAH, MALANGBONG)
  5. MUHAMMAD ATHLAB
  6. HABIL
  7. KYAI MAS ALI MUHAMMAD
  1. MUHAMMAD ALI MURTADHA (MALAKA, MALANGBONG)
  2. AIDU (CITALAHAB, CIHAUR KUNING, MALANGBONG)
  3. NYIMAS NAWI CHOLIFAH (MALANGBONG)
  4. NYIMAS NASIM (MALANGBONG)
  5. NYIMAS NASHIROH (MALANGBONG)
  6. KYAI ABDUL JALIL (CARI, BANJARSARI, NGANTRU, TULUNGAGUNG
  7. KH MUHAMMAD AGUS YAHYA (PASIRKUNCI, SUKAMANAH, MALANGBONG)
  8. ABI YANI (SIDAHAB)
  9. KYAI MUHAMMAD HASAN (CIBUYUT, SUKARATU, MALANGBONG)
  10. NYIMAS MASYQIYAH (CIANTEN, MALANGBONG)
  1. MUHAMMAD HUSEIN
  2. ROFI’AH
  3. MARYAMAH
  4. MUHAMMAD SHOLEH
  5. SINDIP
  6. SURIP
  7. ASFIYAH
  8. HABIB
  1. MUSTAMIR
  2. MUSTAQIM
  3. UMI MAIMUNAH
  4. MARIYATUN
  5. SANUSI
  6. MULYANAH
  7. JUARIYAH

SYEKH MUSTAQIM

  1. NYAI TOWILAH SUMARANTEN
  2. KH ARIF
  3. KH ABDUL GHOFUR
  4. NYAI Hj. ANNI SITI FATIMAH
  5. KIAI ALI MURTADLO
  6. SYEKH ABDUL JALIL
  7. NYAI Hj SITI MACHFIYAH

Pondok PETA

Syekh Mustaqim sejak berusia 17 tahun sudah belajar beladiri kepada Syekh Khudlori bin Muhammad Hasan Malangbong, Garut. Dari Syekh Khudlori, Syekh Mustaqim memperoleh berbagai amalan, juga ijazah muthlaqah dan talqin Qadiriyah wan Naqsyabandiyah.

Sejak tahun 1930, Syekh Mustaqim mulai menyebarkan ajaran tarekat ini di Tulungagung. Di sini, cikal bakal Pondok PETA dibangun. Kala itu disebut sebagai Pondok Kauman. Namun, meskipun Syekh Mustaqim mengajarkan tarekat di sana, di kalangan masyarakat justeru ia dikenal sebagai pendekar.

Penamaan Pondok PETA muncul sejak tahun 1963, ketika pondok ini diadakan muktamar Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah tanggal 28-30 Juli 1963.

PETA merupakan singkatan dari Pesulukan Thoriqot Agung yang berarti pondok pasulukan yang mengajarkan 3 tarekat agunng sekaligus: tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah.

Di samping, PETA juga singkatan dari Pembela Tanah Air yang bersifat penanaman patriotisme dan nasionalisme yang tinggi.

Sumber:

Purnawan Buchori, Perjalanan Sang Pendekar (Tulungagung: PONDOK PETA, 2016).

————————, jejak-jejak Mbah Djalil (Tulungagung: PONDOK PETA, 2017).

==========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *