Dengan kata lain, keberadaan makam Puteri Campa di Trowulan tersebut lebih kuat diasumsikan sebagai isteri Sri Kertabhumi, Dewi Dwarawati. Oleh De Graaf dan Pigeud disebut sebagai, “de Moslimse gemalin van een der laaste Madjapahitse vorsten geweest zijn”, isteri muslimah terakhir.

Kontroversi Seputar Puteri Campa

Makam Puteri Campa terdapat di sudut timur laut Kolam Segaran. Makam tersebut berangka tahun 1230 Saka. Angka tersebut tidak sesuai dengan cerita-cerita yang dibangun oleh Babad Tanah Jawi dan Dharmagandul, karena angka tersebut menunjukkan masa kemunculan kerajaan Wilwatikta.

Nama Makam Puteri Campa banyak tersebar di Jawa Timur, seperti di Rembang, Leran, Gresik, Surabaya, dan Trowulan sendiri. Meski nama-nama tersebut selalu dikonotasikan dengan satu orang. Namun demikian, dapat pula diajukan sebuah kemungkinan, jika Puteri Campa yang muslimah tersebut merupakan simbol penamaan untuk puteri-puteri China yang dinikahi oleh kaum bangsawan kerajaan. Dari sini dapat dimengerti, jika proses pernikahan antara puteri-puteri China tersebut adalah salah satu strategi dakwah untuk menarik kalangan bangsawan masuk Islam. Dengan kata lain, Puteri Campa tersebut bukan satu orang dalam sebuah cerita kronologis, namun sebutan beberapa orang Puteri Campa yang diperisteri oleh kaum bangsawan pada masa itu. Hal ini diperkirakan karena ibukota Campa di Vijaya ditaklukkan Raja Vietnam, bernama Le Nanh-ton dan Tan-tonh pada tahun 1446 Masehi, sehingga sebagian penduduk Campa mengungsi ke Nusantara. Pada tragedi penyerbuan Le Nanh-ton yang kedua pada tahun 1471 Masehi – setelah ada perlawanan dari penduduk Campa – tidak kurang dari 60.000 orang disembelih, dan 30.000 orang ditawan, dijadikan budak. Kejatuhan Campa ini setidaknya tercatat di dalam Sulalatus Salatin (Sadjarah Melayu), Babad Tanah Djawi, Babad Ngampeldenta, Purwaka Caruban Nagari, dan Serat Kandha, demikian Agus Sunyoto.

Dalam catatan Ma Huan; penduduk Trowulan terdiri dari tiga golongan: orang-orang Islam yang datang dari barat dan memperoleh penghidupan di ibukota, orang-orang Tionghoa yang banyak beragama Islam, dan masyarakat yang masih menyembah berhala dan tinggal bersama anjing mereka. Hal ini sangat memungkinkan, karena toleransi terhadap pemeliharaan anjing terdapat di dalam hukum Islam penganut Mazhab Hanafi yang dibawa oleh orang-orang China, sebagaimana disebutkan oleh Slamet Mulyana, jika China muslim yang datang ke Jawa bermazhab Hanafi.

Dalam catatan Agus Sunyoto, pernikahan antara raja-raja Jawa dan puteri yang berasal dari Campa sudah terjadi pada saat Raja Jayasingawarman III dengan Ratu Tepasari, saudari Sri Kertanegara dari Singasari. Berlanjut pada masa Wilwatikta, ketika Sri Kertabhumi  menikah dengan Dwarawati, ibu Raden Patah (Raden Hasan).

Tentang keberadaan makam Puteri Campa di Trowulan ini terdapat asumsi yang terbangun di masyarakat, jika makam tersebut adalah makam Raja Kertabhumi yang selalu dipandang minor oleh lawan politiknya, terutama dalam cerita Dharmo Gandul yang terbit di era Belanda, sehingga selalu dilambangkan seperti perempuan. Karena, ada versi lain, jika Raja Kertabhumi moksa di Gunung Lawu atau dimakamkan di Tuban. Sebab, seorang raja semestinya dikuburkan atau disemayamkan di candi yang layak. Oleh karena itu, di dalam catatan Agus Sunyoto, makam Sri Kertabhumi yang terdapat di Trowulan adalah justru yang dipandang oleh masyarakat sebagai makam Damarwulan.

Diceritakan, Raja Kertabhumi memiliki banyak selir. Di antaranya puteri triman dari Tuban, yang masih kemenakan Dewi Dwarawati. Selir ini kemudian hari dihadiahkan kepada Arya Palembang, karena selalu bermimpi memangku rembulan dengan isyarat yang kurang baik. Padahal, ia sedang mengandung tiga bulan. Dengan kata lain, antara puteri Cempa (Dewi Dwarawati) isteri Raja Kertabhumi dan puteri Cempa yang lain (hadiah untuk Arya Damar) adalah dua orang yang berbeda.

Di samping itu, hubungan antara Raja Kertabhumi (Brawijaya V) dan Raden Ali Rahmatillah (Sunan Ampel) terjalin melalui isteri dari Campa tersebut. Demikian sebagian cerita mengatakan. Sebagaimana Dewi Dwarawati, isteri Sri Kertabhumi, adalah adik Dewi Candrawulan, isteri Syekh Maulana Ibrahim As-Samaraqandi (Sunan Wali Lanang), ayah Sunan Ampel dan Syekh Ali Murtadha (Raden Santri). Dengan demikian, Sunan Ampel adalah keponakan dari isteri Sri Kertabhumi tersebut.

Dengan kata lain, keberadaan makam Puteri Campa di Trowulan tersebut lebih kuat diasumsikan sebagai isteri Sri Kertabhumi, Dewi Dwarawati. Oleh De Graaf dan Pigeud disebut sebagai, “de Moslimse gemalin van een der laaste Madjapahitse vorsten geweest zijn”, isteri muslimah terakhir.

Orang Islam dari Barat dalam Versi Ma Huan

Dalam catatan Agus Sunyoto yang mengutip Harry W Hazard dalam Atlas of Islamic History; kontak perdagangan antara Arab dan Canton sudah terjadi sekitar tahun 600 Masehi melalui selat Malaka. Hanya saja, Islam mulai dianut oleh penduduk China pada pertengahan abad ke-8, ketika putera Mahkota Hsuan Tsung pada tahun 756 Masehi meminta bantuan Khalifah Al-Mansur dari Bani Abbasiyah untuk memadamkan pemberontakan.

Sementara itu, komunitas orang-orang Islam dari Barat dalam versi Ma Huan telah mengindikasikan, jika orang-orang muslim sudah mendapat tempat yang layak di ibukota Kerajaan Wilwatikta. Di samping memang sudah ada lembaga resmi kerajaan sebagaimana Raja Pandita.

Salah satu orang yang menduduki jabatan Raja Pandita adalah Syekh Ali Murtadha atau Ali Murtolo (wafat tahun 1317 Saka/1449 Masehi), kakak Sunan Ampel. Dia juga dikenal dengan sebutan Raden Santri dan dimakamkan di Desa Bedilan, Kebungson, Gresik.

Syekh Ali Murtadha memang memiliki banyak nama panggilan: Dian Santri Ali, Raja Pandita Wunut, Raja Pandita Bima, Raden Samat, Raden Atmaja, Ngali Murtolo, Ali Hutomo, Ali Musada, dan Sunan Gresik. Syekh Ali Murtadha hingga ia dikenal pula sebagai Raja Pandita Bima adalah karena tugas kejaraan yang diembannya di Bima.

Syekh Ali Murtadha menikah dengan Dyah Retno Maningrum dan Raden Ayu Maduretno (Puteri Arya Baribin Madura) dan memperoleh anak yang diberi nama Usman Haji. Setelah dewasa, Usman Haji menikah juga dengan Puteri Madura hingga berputera Djakfar Shodiq atau Sunan Kudus dalam salah satu versi.

Tidak banyak informasi sejarah yang dapat mengungkap keberadaannya, baik di Wilwatikta maupun di Bima. Namun demikian, sebagaimana sistem politik dan pemerintahan Wilwatikta telah diadopsi oleh negara-negara bawahan yang otonom, maka jabatan Raja Pandita Bima yang disandang Syekh Ali Murtadha adalah penugasan dari Wilwatikta. Karena, akan sulit diambil kesimpulan, jika keserupaan jabatan antara Wilwatikta dan Bima lahir dalam sebuah faktor kebetulan. Tanpa ada proses adopsi. Dan, karena mengadopsi, maka tidak ada jalan yang logis, kecuali jabatan itu diisi oleh orang-orang terdekat dengan keluarga Kerajaan Wilwatikta.

Dalam versi naskah resmi Bo’ Sangaji Kai disebutkan ada Dinasti yang pernah memimpin di Kerajaan Bima pada abad ke-16 Masehi. Bertepatan dengan kedatangan dan posisi jabatan Raden Raja Pandita Bima, Syekh Ali Murtadha, tahun 1450 Masehi, seabad sebelum masa pemerintahan Sultan Abdul Kahir Rumata Mabata Wadu tahun 1621 Masehi. Hal ini bisa berarti ada hubungan kekerabatan yang khusus antara Syekh Ali Murtadha dengan penguasa Bima saat itu.

Kekuatan Dinasti Muslim ini menguat setelah terbuka hubungan dengan Kesultanan Pattani. Sebagaimana pula disebutkan di dalam silsilah resmi Kerajaan Pattani, bahwa Raja ke-4, Sultan Mansyur Syah, mempunyai dua orang anak: Bahadur Syah dan Sultan Bima.

Di dalam naskah Bo’ Sangaji Kai, ada beberapa raja yang dinisbatkan dengan kata “yang diperanakkan di Wilwatikta” atau “yang pergi ke Wilwatikta“. Hal ini dapat dipadukan pada raja ke-16 setelah Raja Indera Zamrut yang menyatakan, “Laki-laki inilah dewa yang naik kerajaan dalam Tanah Bima digelarkan Nggampo Jawa, tiada beranak, tempatnya duduk dalam Bata Baharu yang diperbuat orang Wilwatikta tukangnya ajar panuli”. Artinya, ada seorang Raja Bima yang langsung berasal dari Jawa dan tiada beranak, yang didudukkan di atas singgasana baru. Di dalam Bo’ Sangaji Kai disebutkan, singgasana baru tersebut dibuat oleh tukang dari Wilwatikta bernama Ajar Panuli. Disebutkan pula, “Bini Nggampo Jawa inilah yang menentukan dan mendirikan segala jeneli, tureli dan bumi, jena, nentirasa dan  patarasa.”

Nggampo Jawa dalam naskah tersebut hanya menyebutkan uraian genetik yang menghubungkan Wilwatikta dan Bima, bukan sosok Rumata Mawa’a Bilmana, yang disebut sebagai putera dari Mawa’a Inda Mbojo. Dan yang menarik dari uraian naskah tersebut adalah rentang masa antara Bilmana dan Sultan Abdul Kahir Mabata Wadu adalah kurang lebih 240 tahun. Hal ini cocok dengan masa kehadiran Syekh Ali Murtadha di Bima, sekitar tahun 1440 Masehi dengan akhir masa kepemimpinan Sultan Abdul Kahir pada tahun 1640 Masehi. Juga, sebagai peletak moral dasar pergaulan di Bima yang terkenal, Tohora Nahu surampa dou Malabo Dana. Artinya, “Bagiku sudah cukup, yang lebih utama adalah kepentingan orang banyak dan bangsa.”

Setelah tugas sebagai Raja Pandita di Bima selesai, Syekh Ali Murtadha pun kembali ke Gresik. Di Gresik, ia masih mengemban tugas yang sama dengan gelar baru, Raden Santri Raja Pandita Wungut atau Raja Pandita di Wungut. Syekh Ali Murtadha wafat pada tahun 1317 Saka/1449 Masehi. Beliau mendapat gelar baru dan diberi tanah perdikan di wilayah Wunut.

Syekh Jumadil Kubra

Cerita dan asal usul Syekh Sayyid Jamaludin Jumadil Kubra di Trowulan memang memiliki banyak versi. Bahkan, di beberapa tempat terdapat makam yang memiliki nama yang sama, seperti di Terbaya (Semarang), di lereng Gunung Merapi, di desa Turgu di kaki Gunung Kawastu. Agus Sunyoto menekankan dari simpang siur kisah yang menyebutkan makam Syekh Jumadil Kubro yang ada di Trowulan, yang lebih otentik. Namun demikian, bukan tidak mungkin dari sebutan nama-nama yang serupa tersebut mengandung arti lain, jika semuanya otentik. Hal ini bisa dikatakan, nama-nama dengan makam-makam tersebut adalah suatu kelompok yang menyebar. Karena, pada kasus yang sama juga terjadi pada makam-makam: Syekh Makhdum, Syekh Maghribi, atau Sunan Geseng sendiri. Di luar dari pemahaman irrasional, bahwa wali autad yang empat itu adalah wujud satu yang menjadi empat, atau lebih. Sebagaimana kasus serupa juga terjadi pada makam Mbah Sonhaji di kompleks pemakaman Sunan Ampel. Dengan kata lain, ini menjadi fenomena yang lumrah dalam pemahaman masyarakat Jawa pada umumnya.

Syekh Jumadil Kubra, Syekh Jamaluddin Al-Akbar,  atau oleh Martin van Bruinessen disebut Najumadinil Al-Kubra, dari makam yang terletak di Tralaya adalah kakek Sunan Ampel.

Akhir Hayat Kertabhumi

Perselisihan antara Prabu Wikramawadhana dan Bhre Wirabhumi dalam Perang Paregreg telah mengakibatkan kondisi Kerajaan Wilwatikta semakin merosot. Satu per satu sistem yang telah dibangun sejak masa Tribhuwana Tungga Dewi mulai runtuh. Sentimen antar kelompok memicu konflik semakin tajam, dan negara-negara bawahan mulai lepas dari kendali. Sehingga setelah pemberontakan Adityawarman (Prameswara), Palembang pun berhasil dikuasai oleh Bajak Laut dari China.  Dalam cerita tutur Jawa-Bali, Usana Jawa dan Pamancangah, dikisahkan Arya Damar berperang dan menaklukkan seluruh Bali. Oleh Agus Sunyoto, hal ini ditafsirkan sebagai pemadaman api pemberontan yang telah terjadi di Bali. Begitu pula, Arya Damar pun menumpas pemberontakan Bhre Daha, putera Bhre Wirabhumi, pada tahun 1456 Saka/1434 Masehi yang sempat menguasai keraton Wilwatikta.

Setelah pemberontakan-pemberontakan dapat dipadamkan, Rani Suhita yang menjadi pemimpin saat itu tidak mampu sepenuhnya mengendalikan negara. Trik dan intrik perebutan kekuasaan semakin tajam, terutama terhadap pembesar-pembesar kerajaan yang telah berjasa besar menumpas pemberontakan. Tercatat, Mahapatih Tuan Kanaka mendadak diganti pada tahu 1332 Saka/1410 Masehi tanpa sebab. Ratu Anggabhaya Bhre Narapati dijatuhi hukuman mati pada tahun 1355 Saka/1430 Masehi. Dan, Arya Damar dikirim ke Palembang untuk menumpas Bajak Laut dari China.

Karena Rani Suhita (wafat tahun 1447 Masehi) tidak memiliki putera, maka kedudukan Raja Wilwatikta pun digantikan oleh adik lelakinya, Dyah Kertawijaya atau Raden Alit yang bergelar Abhiseka: Sri Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawardhana.

Pada masa kekuasaan Prabu Kertawijaya atau Kertabhumi ini, masyarakat muslim benar-benar mendapat tempat. Terutama, setelah Prabu Kertabhumi menikahi Puteri Campa dan Puteri China yang beragama Islam. Disebutkan oleh Agus Sunyoto dari Babad Ponorogo, Babad ing Gresik, Babad Pengging, Babad Sembar, Serat Kandha, dan silsilah keturunan Prabu Brawijaya V (Kertabhumi), seperti Tedhak Dermayudan, Tedhak Pusponegaran, Pustaka Dharah Agung, Silsilah Jayalelana, Serat Dharah, dan Layang Kekancingan. Diketahui nama-nama keluarga kerajaan yang telah memeluk Islam adalah: Arya Damar (Adipati Palembang), Raden Arak-kali Batthara Katwang (Adipati Ponorogo), Arya Lembu Peteng (Adipati Pamadegan), Arya Menak Koncar (Adipati Lumajang), Raden Patah (Adipati Demak), Raden Bondan Kejawen Kiai Ageng Tarub II, Raden Dandhum Wangsaprna yang bergelar Syekh Belabelu.

Begitu pula Arya Teja diangkat menjadi Adipati Tuban, Arya Lembu Sora menjadi Raja Surabaya, serta anak wayah isteri Prabu Kertabhumi, Sayyid Es, diangkat menjadi Adipati Kendal dengan gelar Syekh Suta Maharaja. Dan, kemenakan isteri Prabu Kertabhumi yang lain, Dewi Dwarawati, Raden Ali Rahmatullah diangkat menjadi Raja Surabaya dan Imam Mesjid, Raden Ali Murthada diangkat menjadi Raja Pandita sekaligus Imam Mesjid di Gresik. Sementara, Burereh (Abu Hurairah), kemenakan yang lain, diangkat menjadi Lebai di Wirasabha Trowulan, Wilwatikta.

Sri Prabu Kertawijaya (Brawijaya V) wafat pada tahun 1373 Saka/1451 Masehi. Menurut Pararaton, demikian Agus Sunyoto, jenazahnya didermakan di Kertawijayapura. Makam tua di samping makam Puteri Campa, Dewi Dwarawati. Makam tersebut dikenal sebagai makam Prabu Damarwulan dan makam isterinya disebut sebagai makam Ratu Kenconowungu. Namun demikian, Brawijaya V masih tetap misteri. Ia diberitakan juga moksa setelah berpisah dengan dua pembantunya, Sabdo Palon dan Nayagenggong. Dari versi umat Islam, Brawijaya V dimakamkan di Demak, di dekat makam puteranya, Raden Patah.

Sumber

I Made Kusumajaya, Aris Soviyani, Wicaksono Dwi Nugroho, Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan.

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *