#Puncak Kejayaan Demokrasi, Politik, Hukum, dan Arsitektur di Nusantara

Situs Trowulan

Sebagai pusat kerajaan Wilwatikta, Trowulan meninggalkan banyak situs. Situs-situs tersebut adalah Gapura Bajangratu, Situs Sentonorejo, Makam Tralaya, Makam Puteri Campa, Candi Brahu, Candi Gentong, Situs Kedaton, Gapura Wringin Lawang, Kolam Segaran, Situs Pendopo Agung, Makam Panjang, Situs Klinterejo, dan Situs Pemukiman BPA.

Dari beberapa situs tersebut, makam menjadi penanda keberadaan kaum muslim yang sudah hidup pada masa itu. Situs Tralaya yang diambil dari kata bahasa Sansekerta setra atau tanah lapang, dan laya yang berarti rusak/mati. Dengan demikian, Tralaya berarti tanah lapang yang digunakan untuk orang mati (kuburan).

Situs Tralaya ini menandakan sudah ada komunitas muslim di ibukota kerajaan Wilwatikta. Sebagaimana kemudian disebut di dalam Kidung Sunda, Ying-Yai Sheng-Lan yang ditulis oleh Ma Huan tahun 1416 M. HJE de Graaf dalam The Malay Annals of Semarang and Cerbon menyebutkan orang-orang China-muslim yang diutus oleh Dinasti Ming pada abad ke-15. Menurut Dr LC Damais, makam-makam yang ada di Tralaya tersebut berjangka waktu antara 1368-1611 M. Di antara keluarga kerajaan yang sudah muslim dan dimakamkan di Tralaya tersebut adalah Puteri Kencana Wungu dan Dewi Anjasmoro. Juga, terdapat sebuah makam yang bernama Zainuddin, yang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya.

Arkeologi dan Arsitektur Istana Wilwatika

Situs Trowulan adalah salah satu situs perkotaan modern yang tersisa di Nusantara. Ketika modernitas mengenal teknologi sebagai citra pembangunan, Trowulan sudah mencapai puncak peradaban pada masanya. Kejayaan ini, karena telah berhasil memadukan dua paradigma, telJ mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Nusantara. Ketika Peradaban Mataram Kuno memuncak pada peradaban maritim dengan relief perahu bberhasil yang terlukis di langkan dinding Borobudur. Begitu pula Mpu Sindok dengan teknologi agraris di Megaluh. Kedua paradigma tersebut menjadi kekuatan tidak sadar yang melatari dan berpengaruh pada pola pikir dan kebijakan politik Wilwatikta. Hal ini ditandai oleh kemajuan di  bidang sastra dan keberadaan situs-situs peninggalan yang ada di Wilwatikta, sebagaimana sastra dipahami sebagai puncak rasionalitas dan keluhuran akal budi suatu masyarakat bangsa. Dari sini kemudian, modernitas yang seharus dipahami.

Luasan situs Trowulan hingga 11 x 9 KM, meliputi wilayah kecamatan Trowulan dan Soko di Mojokerto, serta Mojoagung dan Mojowarno di Kabupaten Jombang. Letak situs kerajaan ini merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran pegunungan: Penanggungan, Welirang, dan Anjasmara. Sebagaimana disebutkan di dalam Negarakertagama pupuh VIII – XII tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk tahun 1359 Masehi, posisi Desa Warna sepanjang 700 Kilometer hingga ke Blambangan dan situs candi-candi di Gunung Penanggungan yang menyerupai jalan Tembok China hingga ke puncak yang ditemukan oleh Nigel Bullough pada tahun 2015 setelah terjadi kebaran hutan besar-besaran.

Situs Trowulan sudah menjadi daya tarik dunia, ketika Wardenaar pada tahun 1815 Masehi diperintah oleh Stanford Raffles untuk melakukan penelitian secara intensif dan termaktub ke dalam History of Java (1817). Begitu pula, W.R. Van Hovell (1849), JVG Brumund dan Jonathan Rigg yang dipublikasikan ke dalam Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia, J. Hageman dalam Toelichting over den Ouden Pilaar van Majapahit tahun 1958, RDM Verbeek dalam artikel “Oudheden van Majapahit in 1815 en 1887”, termuat dalam TBG XXXIII tahun 1889. N.J Krom dalam Inleiding tot de Hindoe Javansche Kunst (1923).

Demikian, sebuah teknologi tidak bisa diukur dalam satu kesamaan ukuran saja, tanpa melibatkan ruang dan waktu. Begitu pula, keramik bukan satu-satunya sebuah ukuran kemajuan di bidang teknologi bahan bangunan, ketika masyarakat bangsa Nusantara menggunakan kayu dan batu-batu andesit. Dengan kata lain, kemajuan arsitektur tidak dapat diukur dari segi penggunaan semen dan keramik semata, melainkan juga melibatkan kearifan dan tata kelola alam. Hal ini dapat dibuktikan, apabila merujuk pada hasil penelitian Stutterheim yang menyebutkan, bahwa kota Keraton Wilwatikta dapat dianalogikan dengan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Ada harmonisasi pada pola pandang makrokosmos dan mikrokosmos masyarakat Nusantara.

Nomenklatur Trowulan sebagai situs kota berparit dapat dipahami setelah melalui foto udara. Situs tersebut meninggalkan jenis-jenis benda tidak saja berupa situs tempat tinggal, melainkan juga situs tempat upacara, situs agama, situs bangunan suci, situs industri, situs penjagalan, situs makam, situs sawah, situs pasar, situs kanal, dan situs waduk.

Sisi arsitektur candi sebagai simbol dan spirit religius, Dewa-Raja, yang hadir dalam percandian sebagai pendermaan bagi seorang raja, titisan Sang Dewa, disebutkan di dalam Negarakertagama ada 27 buah candi. Namun, yang bisa teridentifikasi tidak banyak, seperti Candi Singosari, Candi Kidal, Candi Jago, Candi Jawi, Candi Simping, dan Bhayalango. Oleh Ma Huan, arsitektur kota Wilwatikta digambarkan sebagai tempat tinggal raja yang dikelilingi tembok bata. Istana seperti rumah bertingkat dan atap terbuat dari kayu tipis yang disusun seperti ubin keramik (sirap). Lantai dari papan yang ditutupi anyaman tikar pandan atau rotan. Sementara rumah penduduk biasa beratap jerami.

Raden Wijaya

Puncak kejayaan Nusantara termanifestasikan ke dalam citra Wilwatikta. Ketika sistem teknologi, politik, ekonomi, sosial, militer, dan agama berjalan rasional. Puncak rasionalitas tersebut termanifestasi pula di dalam tinggalan-tinggalan literasi (sastra bernilai estitika yang cukup tinggi) yang tercatat dengan baik. Wilwatikta telah meninggalkan jejak-jejak rekam sejarah yang komplit. Hal ini yang menjadi dorongan mental bangsa Indonesia dalam membangun pondasi sebagai negara yang berperadaban dan beragam.

Kerajaan Wilwatikta didirkan pada tahun 1293 Masehi oleh Raden Wijaya. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari trah (dinasti) Singasari, karena Raden Wijaya adalah putera dari Lembu Tal, keturunan Raja Rajasa (Ken Arok). Ia juga menantu Sri Kertanegara, raja terakhir Singasari.

Wilayah kerajaan ini terletak di lembah Sungai Brantas. Sebelah tenggara Kota Mojokerto yang berada di tempuran Sungai Mas dan Sungai Porong. Peristiwa penting dalam catatan sejarah Nusantara adalah kembali kepada kejayaan maritim yang telah dirintis oleh Raja Kertanegara. Hal ini didorong oleh mimpi untuk membangun kekuatan maritim, sebagaimana telah dicapai oleh Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra di abad ke-8 sampai ke-9. Dan, dibuktikan pula dengan Ekspedisi Pamalayu yang terkenal.

Namun, mimpi Raja Kertanegara untuk mengembalikan kejayaan maritim telah mendapatkan tantangan sendiri, baik dari dalam maupun dari mancanegara (Mongol).

Ketika itu pula, Raja Jayakatwang, raja Kediri, keturunan Kertajaya dari trah Airlangga (Isyana) yang bercorak agraris berhasil mengalahkannya. Raja Jayakatwang dengan didukung seratus ribu pasukannya berhasil mengepung ibukota Singasari yang dipimpin langsung oleh Raden Wijaya. Kekuatan militer yang sedang melakukan Ekspedisi Pamalayu telah melemahkan istana. Raja Kertanegara gugur. Namun, Raden Wijaya berhasil lolos dan melarikan diri ke Madura untuk mendapatkan perlindungan dari Adipati Sumenep, Arya Wiraraja.

Konstelasi politik memang sulit terbaca, karena pemahaman sejarah sering dilihat dari aspek kronologis saja, sehingga mengabaikan aspek “diakronis” yang melatarikan kebijakan politik di antara kedua belah pihak. Terutama, pada ideologi yang dianut oleh kedua belah pihak. Ideologi kejayaan maritim dan ideologi kejayaan agraris.

Kedatangan bala tentara Tartar (Mongol) yang dipimpin oleh Sih Pi dan Ike Mese berhasil dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk mengalahkan Raja Jayakatwang di Kediri. Dan, usaha ini berhasil. Raden Wijaya menjadi Raja Wilwatikta pada pureneng kartika panca dasi sukleng catur (15 bulan Kartika, tahun 1293 Masehi) dengan gelar Abhiseka Kertarajasa Jayawardana. Diabadikan dalam Negarakertagama XLV/1, serta Piagam Kudadu 1223 Saka.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Wilwatikta

Puncak peradaban Wilwatikta mengalami kejayaan setelah Dyah Hayam Wuruk naik tahta dengan gelar Sri Rajasa Negara. Namun demikian, sistem kerajaan mulai terbangun sejak Tribhuana Tungga Dewi naik tahta, pasca pemberontakan Ra Kuti tahun 1329 Masehi. Sistem ini dinamakan Bhatara Saptha Prabu yang mereformasi sistem sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan adalah: pertama, membentuk negara-negara khusus yang dikuasakan kepada kerabat raja dengan sebutan Bhre. Kedua, membentuk dewan pertimbangan agung yang terdiri dari keluarga istana dan raja-raja khusus. Dengan kata lain, Wilwatikta mengalami perubahan sistem pemerintahan dari monarkhi absolut menjadi monarkhi-aristokrat yang berdasarkan musyawarah. Dengan demikian, pada masa Raja Hayam Wuruk, sistem pemerintahan pun terbentuk melalui fakta teritorial. Sebagaimana dapat digolongkan berikut:

  1. Negara Agung atau Negara Utama, yang termasuk area ini adalah ibukota kerajaan dan sekitarnya, tempat raja memerintah secara efektif. Area ini meliputi juga setengah bagian Jawa dengan semua wilayah di bawah kuasa para Bhre.
  2. Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Wilayah di bawah lingkup budaya Jawa yang wajib membayar upeti. Area-area tersebut tetap memiliki penguasa setempat, yang membentuk persekutuan atau hubungan pernikahan dengan Wilwatikta. Pengelolaan birokrasi dan perdagangan diatur oleh Wilwatikta dengan otonomi internal yang cukup besar. Termasuk di antara wilayah mancanegera ini adalah Madura, Bali, Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung, dan Palembang.
  3. Nusantara, area yang tidak masuk dalam cermin kebudayaan Jawa, tetapi masuk ke dalam koloni. Mereka wajib membayar upeti. Mereka memiliki otonomi yang luas, dan kebebasan internal. Wilwatikta tidak berkepentingan menempatkan pejabat militer dan birokrasi. Termasuk ke dalam area ini adalah Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Di samping tiga wilayah teritorial tersebut, Kerajaan Wilwatikta mengenal lingkup hubungan diplomatik luar negeri yang dinamakan Mitreka Satata, yang secara harfiah berarti “mitra dengan tatanan yang sama”. Negara independen di luar negeri yang dianggap setara, bukan sebagai bawahan. Menurut Negarakertagama, termasuk kategori negara seperti ini adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya, Tahiland), Dharmmanagari (Nakhon Si Thammarat, Thailand), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (Myanmar), Campa (Kamboja), dan Yawana (Annam). Negara-negara ini dinamakan negara-negara aliansi, tidak termasuk di dalamnya China dan India.

Sistem geo-politik seperti ini oleh sarjana belakangan dinamakan “Mandala”. Pola kesatuan politik khas Asia Tenggara yang ditentukan oleh pusat kekuasaan, bukan berdasarkan perbatasan, yang dapat tersusun pada unit politik, tanpa ada integrasi administratif. Dengan arti kata, masih memiliki hak kuasa otonom tanpa pengaruh dari Wilwatikta.

Struktur pemerintahan di Wilatikta diangkat lima pejabat tinggi kerajaan yang disebut Sang Panca Wilwatikta. Adapaun lima pejabat tersebut adalah:

  1. Rakean Mahapatih. Orang nomor dua setelah raja. Kepala pemerintahan yang merancang dan menentukan kebijakan. Ia mengepalai para menteri, adipati, dan raja-raja bawahan.
  2. Rakean Demung. Panglima kerajaan yang bertugas dalam bidang pertahanan dan keamanan. Membawahi kekuatan militer dan pasukan kerajaan.
  3. Rakean Kanaruhan. Pembantu utama raja yang melaksanakan tugas-tugas kerajaan, juga sebagai duta resmi, baik di dalam maupun ke luar negeri.
  4. Rakean Rangga. Sekretaris dan juru bicara raja yang bertugas mengurusi administrasi dan protokoler istana.
  5. Rakean Tumenggung. Mengatur urusan rumah tangga dan keamanannya.

Puncak administrasi di bidang keagamaan terdapat lembaga kementerian Dharmadhyaksa Kasogatan untuk kalangan umat Buddha, Dharmadyaksa Kasaiwan bagi umat Syiwa, Dharma-papati yang mengurusi kepercayaan masyarakat (Kapitayan), dan Raja Pandita bagi Umat Islam. Masing-masing membidangi pengadilan hukum agama bergelar Dhang Accarya.

Hukum yang ditegakkan Hayam Wuruk

Wilwatikta sudah memiliki peraturan hukum atau sistem perundang-undangan yang baik. Sebagaimana peraturan berlaku bagi setiap orang. Terutama pada tiga model penerapan agama, ugama, dan igami.

Pada pasal 6 Kitab Agama disebutkan; “Hamba raja mesti ia mentri sekalipun jika menjalankan dusta, corah dan tatayi akan dikenakan pidana pati.” Menurut perundang-undangan Wilwatikta pasal 259 dan 261 disebutkan, “Barang siapa menelantarkan sawah dan ternaknya akan dikenakan denda atau diperlakukan sebagai pencuri dan dikenakan pidana mati.” Pada aspek ini terlihat hukum yang diterapkan oleh Prabu Hayam Wuruk sangat mementingkan kehidupan ekonomi, di samping kekuatan maritim dan perdagangan.

Sumber

I Made Kusumajaya, Aris Soviyani, Wicaksono Dwi Nugroho, Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan.

Categories: Rekreasi

1 Comment

rani · Sen 10 Desember 2018 at 08:42

apa program yang di adakan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *