Kabupaten Tuban merupakan salah satu kota tua di jalur pantai utara pulau Jawa. Luas wilayahnya mencapai 183.994.561 Ha., dan wilayah laut seluas 22.068 Km2. Letak astronomi Kabupaten Tuban pada koordinat 111® 30’ – 112®35’ BT dan 6®40’ – 7® 18’ LS. Panjang wilayah pantai 65 KM. secara administratif, daerah ini tergabung di dalam Provinsi Jawa Timur.[1]

Kabupaten Tuban berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan di sebelah timur; Kabupaten Bojonegoro di sebelah selatan, dan di sebelah barat dengan Kabupaten Rembang (Provoinsi Jawa Tengah). Sedangkan di bagian utara berbatasan dengan laut Jawa.

Nama “Tuban” sendiri berasal dari singkatan kata metu banyu yang artinya keluar air. Nama ini konon diberikan oleh Raden Arya Dangdang Wacana. Dalam cerita disebutkan bahwa Arya Dangdang Wacana sedang membuka hutan papringan dan secara tidak terduga keluar sumber air. Karena peristiwa ini, Arya Dangdang menyebutnya “Tuban”. Dulunya, Tuban bernama Kambang Putih.

Sebagai kota tua, tentu Tuban memilki kekayaan sejarah yang menarik. Ini dibuktikan dengan banyaknya situs-situs peninggalan sejarah masa lalu di Tuban. Di antara situs-situ tersebut adalah situs makam Syekh Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) terletak di Kutorejo (Tuban). Makam Syekh Jali atau yang sering disebut Syekh Makam Dowo terletak di Doromukti (Tuban). Situs Makam Ranggalawe terletak di Kajongan Sidomulyo (Tuban) dan situs Makam Syekh Asmaraqandi terletak di Gesikharjo Kecamatan Palang. Begitu pula, di Tuban, terdapat situs makam Sunan Bejagung Lor.

Selain situs-situs peninggalan masa lalu, yang menarik di Kabupaten Tuban adalah terdapat pondok pesantren tua yang didirikan oleh seorang ulama yang banyak mencetak ulama-ulama besar dan berpengaruh di Nusantara, seperti hadratus-Syekh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Sholeh Darat dan lain-lain. Pesantren itu dikenal dengan sebutan Pesantren Langitan. Hingga kini, pesantren tersebut masih mengasuh ribuan santri.

Syekh Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)

Sunan Bonang yang bernama lengkap Raden Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel (Raden Ali Rahmatullah) dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, putri Arya Teja, bupati Tuban. Dia, sebagaimana dalam catatan Babad Tuban dan Babad Cirebon, adalah saudara kandung Sunan Drajat dan sekaligus saudara sepupu Sunan Kalijaga.

Belum ada catatan pasti, kapan Sunan Bonang dilahirkan. Namun demikian, ada dua informasi yang menjelaskan tahun kelahirannya. Perndapat pertama didapat dari juru kunci makam Sunan Bonang. Menurut pendapat ini, Sunan Bonang diperkirakan lahir pada Tahun 1445 M.[2] Sedangkan pendapat kedua didapat dari B.J.O Sechreike yang menyatakan: Sunan Bonang kemungkinan dilahirkan pada tahun 1465 M.[3]

Sunan Bonang tercatat sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di pulau Jawa. Petualangannya di berbagai daerah menunjukkan: Sunan Bonang adalah seorang ulama yang aktif berkomunikasi dengan masyarakat di Jawa, bahkan konon sampai ke luar Jawa.

Di pulau Jawa, misalnya di Cirebon, Kediri, dan di Rembang, terdapat situs tapak tilas Sunan Bonang. Di Cirebon, tepatnya di Desa Cupang kecamatan Ciwaringin terdapat tapak tilas yang diabadikan dengan dibangun makam dan batu yang diyakini tempat sholat Sunan Bonang saat singgah di bukit Cupang.

Begitu pula di Rembang, terdapat bekas pasujudan Sunan bonang berupa batu yang ada bekas kakinya. Batu ini diyakini oleh masyarakat sebagai tempat yang pernah digunakan Sunan Bonang dalam menjalankan Sholat. Menurut cerita, Sunan Bonang selalu mebaca aurad sambil berdiri seusai melakukan sholat.[4] Bahkan di Rembang pula, terdapat sebuah makam yang diyakini oleh juru kuncinya sebagai makam Sunan Bonang yang sesungguhnya.

Di Demak juga demikian. Salah satu sakaguru (tiang penyanggah atap masjid Agung Demak) adalah buatan Sunan Bonang. Banyaknya tempat yang disinggahi Sunan Bonang menunjukkan: ia adalah seorang ulama penyebar Islam di pulau Jawa yang aktif berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Sunan Bonang juga sesungguhnya seorang ahli tafsir Al-Quran (mufassir). Ini dibuktikan dari naskah kitab peninggalan Sunan Bonang yang masih tersimpan utuh di museum Masjid Agung Demak. Kitab ditulis tangan berisi Al-Quran beserta tafsirnya. Bahkan menurut sumber, beliau sebenarnya banyak menulis kitab, tetapi hanya satu yang dapat ditemukan dan bisa diabadikan, selainnya masih dalam pelacakan para peneliti.[5]

Selain sebagai intelektual, Sunan Bonang juga seorang budayawan. Kemampuannya menggunakan kesenian sebagai media dakwah adalah bukti keahliannya sebagai seorang budayawan. Sunan Bonang atau Maulana Makhdum Ibrahim dalam berdakwah sering menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan bagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak, maka timbullah suaranya yang merdu di telinga penduduk setempat.[6] Karena kemampuannya menggunakan seni sebagai media dakwah, Sunan Bonang sering disebut sebagai wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi.

Selain bisa bermain musik, Sunan Bonang juga mampu merangkai syair-syair tembang seperti tombo ati yang hingga kini maih populer di tengah masyarakat Islam di seluruh penjuru Nusantara.

Maulana Ibrahim Asmaraqondi

Syekh Maulana Ibrahim Asmaraqandi diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh kedua abad ke-14.

Sunan Bejagung

Di bagian pintu gerbang masuk makam Sunan Bejagung Lor terdapat sebilah papan kayu dipahat dengan sebaris tulisan yang sudah aus. Tulisan itu menggunakan huruf Jawa baru dan berbunyi: “kang hamurwa lawing pu krayatingi” atau “kang hamurwa lawing pun arya tingi”, berarti: “yang membuat pintu”. Sedangkan “Pu Krayatingi” atau “Arya Tinggi” menunjuk nama orang.

Sunan Bejagung Lor bernama asli Sayyid Abdullah Asy’ari bin Sayyid Jamaluddin Kubro. Beliau adalah adik Sayyid Ibrahim Asmaraqandi (ayah Sunan Ampel). Syekh Abdullah Asy’ari mengemban misi dakwah, menyebarkan agama Islam ke tanah Jawa dari ayahnya, Syekh Jumadil Kubro.

Sumber:

[1] Sambutan bupati Tuban dan acara Dialog Lintas Agama, yang diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Islam Nusantara dan PC NU Tuban.

[2] Wawancara dengan Kuncen Sunan Bonang

[3] Pendapat ini menurut B.J.O Schrieke di dalam bukunya Het Boek van Bonang

[4] Wawancara dengan penjaga situs pasujudan Sunan Bonang di Rembang

[5] Wawancara dengan Suwanto, seorang peziarah yang pernah menulis Riwayat Sunan Bonang

[6] Wawancara dengan penggiat seni di Kabupaten Tuban.

Tuban, April 2016.

=========================

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *