#khairukum anfa’ahum linnas

Menapakkan kaki di Trenggalek bukan sekali dua. Tapi, siang itu, aku tertidur di ruang tamu, kelelahan. Ia sempat menjenguk, tapi kembali balik kucing, tak ingin mengganggu lelapku. Baru, setelah malam, aku diantar ke pesantrennya, dan menemukan dirinya sedang main gaple.

Sejak itu, aku berikhtiar untuk tinggal di sana, di Gandusari.

Semula, aku diminta untuk membantu menjalankan majalah yang sudah beredar luas dengan oplah yang besar. Namun, aku punya ide dan gagasan untuk mencari bibit penulis-penulis muda. Walhasil, mulailah kami merencanakan sebuah event pelatihan menulis dan videografi.

Entah, kenapa Kiai Muh kemudian begitu percaya kepadaku. Gagasan-gagasanku hampir tak ada yang ditolak olehnya. Semua diakomodasi dan dipercayakan padaku.

Sebetulnya, berkat bantuan Pak Banny dan Pak Deki, semua berjalan sesuai rencana. Acara pelatihan itu berjalan sukses, meski ada kekurangan di sana-sini. Setidaknya, itulah penilaian Pak Alex, ketika bicara kepadaku.

Kiai Muh. Untuk ukuran Trenggalek sudah sangat dihormati. Tanpa lelah, mengabdi kepada masyarakat. Semua dibilang demi kemanfaatan.

Dermawan. Menghidupkan pesantrennya dengan usaha sendiri. Belum lagi, kegiatan-kegiatan besar yang di-support olehnya.

Ada rasa bersalahku atas tanggung jawab besar yang diberikan olehnya kepadaku. Ke manakah, calon-calon penulis yang mengikuti pelatihan dulu? Apakah mereka sudah berhasil menghasilkan karya?

Ah, perasaan berdosa itu semakin besar. Semakin menyesakkan dada bila mengingatnya. Harapan tidak seperti yang dibayangkan. Ide hanya sebatas cita-cita yang tidak bisa diukur tingkat keberhasilannya.

Kini, sudah satu tahun setengah waktu itu berlalu.

Di ujung jalan, pojok Ngetal, tempat biasa, aku menunggu bis menuju Tulungagung. Aku masih mengingat, makan nasi bakar dibungkus daun pisang yang enak rasanya malam itu. Diisi dengan sehelai ikan asin. Murah, dan lengket di lidah.

Ditemani secangkir kopi, tatapanku menerawang jauh. Ingat semuanya. Pak Banny, Pak Deki, Pak Topan, dan semua teman-teman yang membantu kegiatan itu berjalan lancar.

Di atas bis, aku hanya memandang kenangan itu. Seperti menari-nari di antara gunung-gunung yang menghimpit Trenggalek.

Saat itu, aku hanya memejamkan mata. Tak ingin melihat lagi. Mengikuti waktu yang menghantarku. Aku hanya mengingat penggalan-penggalan, tidak semua. Karena, akan semakin berat dan sesak di dada.

Maafkan atas semua.

Ngawi, 22.05; 12 Agustus 2018.

==========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Tokoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *