Pada awal abad ke-16, seorang tokoh terkemuka dari Cirebon bernama Syekh Syarif Hidayatullah menyambangi Banten Girang; sebuah kadipaten di bawah kekuasaan Pajajaran.

Potret Ekonomi Di Era Kesultanan Banten

Dalam rentang waktu yang cukup panjang jauh sebelum masuk dan berkembangnya agama Islam di Banten Girang (Lama) pada awal abad ke-16, di daerah ini ditemukan gejala budaya prasejarah melalui tradisi bercocok tanam dan beternak yang berkembang pada sekitar 6.000 tahun sebeum masehi. Salah satu bukti tinggalan yang pernah ditemukan adalah beliung persegi, alat serpih, bilah, batu inti, dan manik-manik di situs Odel, Kampung Odel Kecamatan Kaseman, Kota Serang. Situs ini disimpan di museum Banten Lama, dekat Mesjid Agung Banten Lama. Sebagai informasi yang didapat melalui wawancara dengan pemandu museum Banten Lama pada Jumat, 29 April 2016, pukul 10.00 wib.

Namun demikian, pengaruh budaya Hindustan yang berkembang di pulau Jawa pada abad X – XVI juga terdapat di Banten Girang. Bukti pengaruh tersebut ditemukan pada sebuah Arca Nandi, wahana atau kendaraan Dewa Siwa. Menurut keterangan, Arca Nandi ini semula ditempatkan di Pancaniti Kabupaten Serang, kemudian hilang, dan ditemukan kembali di timur pelabuhan Karangantu.

Di Banten Girang juga terdapat sebuah gua yang di dalamnya ada tiga ruangan. Salah satu ruangan itu diperkirakan sebagai tempat bersemedi Ucuk Umun.

Pada awal abad ke-16, seorang tokoh terkemuka dari Cirebon bernama Syekh Syarif Hidayatullah menyambangi Banten Girang; sebuah kadipaten di bawah kekuasaan Pajajaran. Kedatangan Syekh Syarief Hidayatullah ke Banten Girang ini—selain membawa misi penyebaran agama Islam—juga mengemban misi untuk memburu Pucuk Umun, salah satu pejabat di Pajajaran.

Di Banten Girang, Syekh Syarif Hidayatullah menikah dengan adik Adipati Banten bernama Nyai Kawunganten. Dari hasil pernikahan itu dikaruniai dua orang anak, bernama Ratu Wulung Ayu atau Ratu Winaon (1477) dan Maulana Hasanuddin (1478). Di kemudian hari, Ratu Winaon menikah dengan Pangeran Atas Angin alias Pangeran Raja Lautan alias Pangeran Muhammad Al-Minangkabawi. Sedangkan Maulana Hasanuddin menikah dengan Ratu Ayu Kirana, puteri Raden Patah, Sultan Demak.

Di daerah ini pula, Syekh Syarief Hidayatullah mendapatkan simpati dari dua orang Suku Badui bernama Ajar Ju dan Ajar Jong. Ajar Ju mengabdi pada Syekh Syarif, sementara Ajar Jong merawat putra Syekh Syarif, Maulana Hasanuddin. Kedua orang tersebut di dalam sejarah Islam di Banten tercatat sebagai orang pertama masuk Islam dari kalangan Suku Badui. Di kompleks pemakaman Banten Girang, makam kedua orang tersebut ditandai dengan bentuk nisan yang berbeda. Nisan makam Ajar Ju atau Arya Ju bermotif Aceh, sementara nisan makam Mas Jong atau Ajar Jong bermotif Demak. Hal ini untuk menandakan, bahwa Ajar Ju mengabdi pada Syekh Syarif, sementara Ajar Jong merawat Maulana Hasanuddin. Sebagaimana wawancara yang didapat dari kuncen makam Ajar Ju dan Ajar Jong pada Kamis, 28 April 2016, pukul 13.00 Wib di Desa Sempu, Kota Serang.

Setelah putranya yang kedua, Maulana Hasanuddin, menginjak usia dewasa, Syekh Syarif kembali lagi ke Cirebon. Pada saat itu pula, Maulana Hasanuddin diperintah ayahnya untuk membangun sebuah keraton di tepi pantai utara. Atas keberhasilannya ini, Maulana Hasanuddin diberi penghargaan oleh Sultan Trenggono dari Demak sebuah meriam yang diberi nama Ki Amuk dengan beban berat 7 ton dan panjang 431 cm. Di dalam riwayat yang lain, meriam ini merupakan pemberian dari Sultan Demak, ketika Maulana Hasanuddin menikahi putri Sultan Demak.

Di tepi pantai utara di ujung barat Pulau Jawa tersebut, Maulana Hasanuddin membangun Keraton Surosowan di atas luas lahan tanah sekitar 3,8 H. Dengan menggaet seorang aristektur handal asal Majapahit bernama Raden Sepat. Keraton Surosowan atau sering disebut Kedaton Pakuwon adalah tempat tinggal para Sultan Banten. Orang Belanda menyebutnya Fort Diamant atau Kota Intan. Keraton tersebut sengaja didirikan sebagai pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama.

Sistem Sosial Banten Lama

Masyarakat atau penduduk pada masa Kesultanan Banten secara garis besar terdiri dari: pertama, golongan Bangsawan dan pejabat tinggi kesultanan; kedua, masyarakat umum; dan ketiga, golongan budak. Golongan bangsawan dan pejabat tinggi kesultanan terdiri dari sultan sebagai penguasa dan keluarganya, menteri, mangkubumi, qadi, senopati, laksamana, dan syahbandar.

Masyarakat umum merupakan jumlah terbanyak di Kesultanan Banten. Golongan masyarakat ini banyak bekerja sebagai petani, pedagang, tukang, dan nelayan. Adapun golongan budak adalah orang yang tidak memiliki kebebasan diri sendiri: keberadaannya disebabkan sebagai tawanan perang, pembayar hutang, atau sebab lainnya.

Sultan Maulana Hasanuddin (1526 – 1570 Masehi)

Ia adalah putera Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati, Cirebon. Ia dikenal pula dengan nama kecil Pangeran Sabakingkin. Pangeran yang berani menghadapi kezaliman. Pengaruh kekuasaannya sampai ke Palembang, sehingga terdapat sebuah nama tempat Sabakingkin di Kota Palembang hingga saat ini.

Pada suatu hari, Maulana Hasanuddin mendapat titah dari ayahnya, Sunan Gunugjati, untuk berdakwah menyebarkan Islam. Ia pun berangkat menuju ke arah barat. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya ia tiba di Gunung Munara yangterletak di antara Bogor dan Jasinga. Di gunung tersebut, ia bermunajat kepada Allah Ta’ala. Di dalam munajatnya, ia bermimpi dengan ayahnya agar berjalan ke arah barat lagi menuju Gunung Pulosari.

Di Gunung Pulosari tersebut terdapat negeri Azar yang diperintah oleh Pucuk Umun atau Ratu Azar Domas. Dari petunjuk tersebut, Maulana Hasanuddin pun turun dan berhenti di negeri Banten Girang di Sungai Dalung, tempat Ajar Jong dan Ajar Ju bersemedi. Dua murid Syekh Syarif Hidayatullah. Keduanya adalah saudara Ratu Pakuan dan Ratu Pajajaran. Ratu Pakuan dinamakan Dewa Ratu, sementara Ratu Pajajaran dinamakan Prabu Siliwangi.

Setelah Maulana Hasanuddin tiba di Sungai Dalung, maka Ajar Jong dan Ajar Ju keluar dari goa pertapaannya di Banten Girang. Nama Ajar Jong diganti menjadi Mas Jong, sedangkan Ajar Ju diganti menjadi Agus Ju. Berkat Maulana Hasanuddin pula, anak turun Mas Jong yang tertua diberi ciri tambahan Mas, yang termuda Entul. Dan, apabila perempuan diberi ciri Nyi Mas. Kepada Agus Ju, diberi ciri tambahan Ki Agus untuk anak tertua dan Ki Entul untuk yang termuda. Dan, diberi ciri tambahan Nyi Ayu untuk anak perempuan.

Dikisahkan di dalam legenda, Prabu Pucuk Umun yang mewakili tokoh Banten Girang masih berpegang teguh pada keyakinan lama dan Maulana Hasanuddin yang mewakili tokoh muslim. Keduanya terlibat dalam perebutan pengaruh dan kekuasaan.

Ada versi yang menyebutkan Prabu Pucuk Umun adalah putera Prabu Surosowan, saudara ipar Syekh Syarif Hidayatullah yang berkuasa di Pulosari. Hal ini bisa memberikan asumsi, jika perselisihan antara Prabu Pucuk Umun dan Maulana Hasanuddin sebenarnya adalah perebutan kekuasaan di Banten Girang. Tidak bersangkut paut dengan agama, sebagaimana cerita-cerita pada umumnya di Nusantara dan banyak terjadi selalu dipertentangkan antara Islam dan adat (agama lama).

Prabu Pucuk Umun atau Arya Suryajaya adalah pewaris kerajaan atau Kadipaten Banten Girang setelah Prabu Surosowan wafat.

Dikisahkan, Prabu Pucuk Umun menantang Maulana Hasanuddin untuk berperang dalam bentuk adu ayam. Sebab, perang dalam arti sesungguhnya dapat berarti pertumpahan darah. Dalam perang adu ayam tersebut masing-masing mengeluarkan jurus dan kesaktian masing-masing. Dan singkat cerita, ayam jago milik Prabu Pucuk Umun kalah. Sehingga dalam bentuk simbolik, peralihan kekuasaan selanjutnya berupa penyerahan golok dan tombak, dua senjata asli masyarakat Banten.

Prosesi penyerahan golok dan tombak tersebut dapat bermakna budaya. Sebagaimana Golok Candung Ciomas yang terkenal di Banten dapat menyelesaikan perselisihan, karena golok tersebut sangat ampuh untuk “menaklukkan” musuh. Menaklukkan di sini bukan berarti menyakiti secara fisik, melainkan berbentuk seserahan. Yang tua menyerahkan urusan kepada yang muda. Sebagaimana pula filosofi golok tersebut adalah bentuknya yang mengecil di bagian ujung, menandakan semakin ke ujung kehidupan semakin harus bijaksana. Atau, semakin berilmu seseorang semakin merendah seperti padi.

Di dalam kisah Pucuk Umun tersebut dapat dimengerti telah terjadi seserahan kekuasaan, karena ia telah merasa sudah tua dan harus mengasingkan diri di selatan. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Maulana Hasanuddin yang lebih muda dan pantas.

Sultan Maulana Hasanuddin memusatkan pemerintahannya di Pelabuhan Karangantu, tidak jauh dari Istana Surosowan.

Sistem Pertahanan Istana Kesultanan

Raden Sepat adalah seorang pejabat Majapahit dari Lumajang yang mengabdi kepada Raden Patah di Demak. Dia memilki keahlian arsitektur dan tata kota yang tinggi. Beberapa tempat, seperti Keraton Demak, Keraton Mataram, Keraton Cirebon, dan Keraton Surosowan Banten diarsiteki olehnya. Oleh karena itu, ada kemiripan antara satu keraton dengan yang lain. Kesamaan itu terutama pada tata ruang, yakni di sebelah barat alun-alun terdapat masjid, di sebelah selatan terdapat keraton yang menghadap ke utara, dan di sebelah utara alun-alun terdapat pasar tradisional.

Istana Sultan atau Keraton Surosowan didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1526 Masehi, kemudian dilanjutkan oleh Sultan Maulana Yusuf (1570 – 1580) dengan menambah tembok benteng dan pintu gerbang yang terbuat dari bata dan batu karang. Pada masa dulu, jarak rentang antar benteng dan laut tidak terlalu jauh seperti saat ini. Sehingga Sultan Maulana Yusuf pun membuat kanal-kanal yang menghubungkan benteng dan laut, yang dapat dilalui oleh perahu kecil. Adagium terkenal yang dikumandangkan padasaat itu adalah gawe kuta galuwati bata kalawan kawis, pembangunan benteng dengan batu bata dan karang.

berada di dalam benteng persegi empat di dalam benteng yang hanya meninggalkan sisa-sisa fondasi dan bekas Petirtaan Raradenok. Keraton tersebut sudah dihancurkan oleh Daendels, ketika hendak membuat jalan darat Anyer – Panarukan. Karena, Sultan Maulana Aliuddin II tidak berkenan menyediakan tenaga-tenaga rakyatnya untuk bekerja rodi.

Benteng ini mengalami dua kali penghancuran. Pertama, ketika Sultan Maulana Ageng Tirtayasa bertempur melawan Sultan Maulana Haji atas dukungan Belanda. Kedua, Perang Sultan Aliuddin II melawan Herman Willem Daendels, karena menolak mengirimkan 1000 tenaga kerja paksa, menolak ibukota pindah ke Anyer, dan menolak benteng Belanda didirikan di sekitar Surosowan. Sultan aliuddin kemudian dibuang ke Ambon, sedangkan Patih Mangkubumi Wirgadiraja dihukum pancung. Pada tahun 1813 MAsehi, Daendels membakar Istana Surosowan.

Di sebelah barat alun-alun terdapat dua buah batu petilasan. Watu Gilang Sriman Seriwicana, tempat penobatan sultan-sultan, adalah batu yang dibawa oleh Sultan Maulana Yusuf dari Bogor atas perintah ayahnya, Sultan Maulana Hasanuddin. Berbentuk segi empat dengan permukaan datar. Batu tersebut dipercaya sebagai tempat sholat Sultan Maulana Hasanuddin. Batu tersebut sengaja diboyong dari Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran. Batu tersebut melambangkan Sultan Maulana Hasanuddin sebagai pewaris sah Kerajaan Pajajaran. Besarbatu tersebut adala 200 cm x 160 cm x 20 cm.

Sedangkan Watu Singayaksa, terletak di pojok sebelah utara, digunakan untuk mengumumkan semua titah Sultan. Dalam Babad Banten, batu ini digunakan oleh Batara Guru Jampang untuk bertapa.

Tidak jauh dari Watu Gilang terdapat Mariam Amuk.

Di sudut-sudut benteng dibangun menara penjaga (bastion). Di sekeliling benteng dibangun tembok bata merah yang tebal.

Sistem Pengairan

Raradenok 30 x 14 meter, kedalaman 4,5 mater. Di tengahnya ada kolam yang lebih kecil dinamakan balekambang.

Sistem pengairan di dalam benteng, terutama digunakan untuk mengisi air di petirtaan berasal dari Tasikardi. Sebuah danau seluas 6,5 hektar terletak di selatan keraton, berjarak 2,5 KM. Tasikardi tersebut dibuat pada masa Sultan Maulana Yusuf (1570 – 1580 Masehi). Pengairan melalui pipa tanah liat menyerupai gerbong kereta api setelah melewati tiga tahap penyaringan: (1) melalui pangindelan abang, (2), dengan pangindelan putih, dan (3), pangindelan emas. Saluran tersebut dibuat pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651 – 1683 Masehi) dengan arsitek Hendrick Lucasz Cardeel, warga bangsa Belanda.

Banten, April 2016.

============================

 

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *