Pariaman merupakan daerah yang dikenal sebagai pusat pengembangan agama Islam di ranah Minangkabau. Tradisi dan budaya yang bernuansa nilai-nilai keislaman tumbuh subur di kota ini. Sebut saja misalnya tradisi tabui. Tradisi ini digelar untuk memperingati wafatnya Hasan dan Husain. Lantaran tradisi ini, corak keberagamaan masyarakat Pariaman sering dianggap sebagai penganut Syiah.

Syekh Burhanuddin Ulakan

Kota Pariaman adalah kota kecil salah satu dari 19 kota dan kabupaten di Provinsi Sumatera Barat. Pariaman menjadi Kota definitif di Sumatra Barua baru 14 tahun. Jarak Pariaman ke pusat kota provinsi kurang lebih 55 KM; ditempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam. Akses jalan menuju Kota Pariaman relatif mudah. Pemerintah menyediakan angkutan umum kendatipun tidak beroperasi sepanjang 24 jam.

Pariaman merupakan daerah yang dikenal sebagai pusat pengembangan agama Islam di ranah Minangkabau. Tradisi dan budaya yang bernuansa nilai-nilai keislaman tumbuh subur di kota ini. Sebut saja misalnya tradisi tabui. Tradisi ini digelar untuk memperingati wafatnya Hasan dan Husain. Lantaran tradisi ini, corak keberagamaan masyarakat Pariaman sering dianggap sebagai penganut Syiah.

Selain itu, Pariaman dikenal sebaga pusat pengembangan agama Islam, karena pada masa lalu terdapat seorang ulama yang aktif menyebarkan ajaran Islam di Pesisir Sumatra Barat. Ulama tersebut bernama Syekh Burhanuddin Ulakan.

Keberadaan Syekh Burhanuddin Ulakan dibuktikan dengan adanya situs makam kuno yang diyakini oleh masyarakat Pariaman makam Syekh Burhanuddin. Makam tersebut berada di kampung Ulakan Pariaman Sumatra Barat. Bukti lainnya adalah makam panjang di pulau Angsoduo. Makam panjang itu, sebagaimana di yakini oleh masyarakat Pariaman, adalah makam pengawal Syekh Burhanuddin.

Syekh Burhanuddin memiliki nama kecil Pono. Lahir di Pariangan Padang Panjang tahun 1066 H. atau 1646 M. Ayahnya bernama Pampak Suku Koto. Sedangkan ibunya bernama Cukuik suku Guci. Kedua orang tuanya bermatapencaharian sebagai peternak.

Konon, kesulitan hidup yang melilit Pampak beserta keluarganya memaksa untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Pono bersama ayah dan Ibunya hijrah meninggalkan Pariangan Padang Panjang menuju Sintuk Pariaman. Seluruh hewan ternaknya juga ikut diboyong. Dari Pariaman turun ke Malalo terus ke Asam Pulau (dekat kayu tanam). Dengan menghilirkan kayu tapakis sampailah keluarga ini di Nagari Sintuk.

Di tempat inilah, keluarga Pampak memulai kehidupan baru. Usaha peternakannya dikembangkan. Pono dengan rajin dan patuh ikut menggembalakan ternak ayahnya. Lambat laut peternakan Pampak meningkat. Ini karena didukung oleh lingkungan alamnya. Sintuk adalah daerah yang mempunyai padang rumput yang subur. Berkah dari peternakannya yang berkembang biak, keluarga Pampak menjadi salah satu di antara keluarga yang terpandang di daerah baru ini.

Di Sintuk, Pono mendapat teman baru yang sebaya. Dia bernama Idris Majolela suku Koto, berasal dari Tanjung (Medan). Idris Majolela bagi Pono adalah pemuda yang berbudi pekerti luhur. Jasanya cukup besar. Lantaran Idris Majolela menjadi jembatan bagi Pono untuk mengenal agama Islam.

 Riwayat Pendidikan Syekh Burhanuddin

Pono bukanlah anak yang terlahir dari lingkungan keluarga religuis. Dia hanyalah anak dari seorang petani ternak yang mengalami perubahan nasib baik. Karena itu, pengetahuan tentang agamanya sangat minim. Bahkan, tentang pengetahuan agama kapitayan (agama lokal Pariangan) yang dianut keluarganya juga sangat dangkal.

Namun demikian, Pono bukanlah anak pemalas. Keinginan untuk mengetahui tentang agama tumbuh subur dalam diri Pono. Oleh karenanya, ketika diajak sahabatnya, Idris Majolela, untuk berkunjung ke seorang ulama tersohor di Nagari Tapakis, Pono menyambutnya dengan riang gembira. Pono dikenalkan dengan seorang ulama alim bernama Syekh Abdul Arif yang berguru kepada Syekh Ahmad Kosasih dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani di Madinah. Berkat ajakan Idris, Pono menjadi muallaf. Dia mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan Syekh Abdul Arif. Dan dari sini, Pono pun mulai mulai belajar tentang ajaran Islam pada Syekh Abdul Arif.

Kecerdasan Pono membuatnya cepat menangkap yang disampaikan oleh gurunya. Di antara murid-murid Syekh Abdul Arif, Pono tercatat sebagai orang yang paling cerdas. Ia lebih cepat menangkap ajaran gurunya ketimbang sahabat-sahabatnya yang lain.

Di tengah keasyikan belajar tentang Islam, Pono kehilangan gurunya. Syekh Abdul Arif wafat. Sebelum Syeh Abdul Arif wafat, gurunya itu sempat mewasiatkan pada Pono agar melanjutkan studinya kepada Syekh Abdul Rouf Singkil, seorang sahabat Abdul Arif semasa belajar pada Syekh Ahmad Kosasih dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani di Madinah. Syekh Abdul Rouf adalah seorang ulama sufi Aceh yang alim dan produktif, pewaris tarekat Syatoriyyah dari gurunya Syekh Ahmad Kosasih.

Karena wasiat gurunya ini, Pono akhirnya melanjutkan studinya kepada Syekh Abdul Rouf Singkel. Pada Syekh Abdul Rouf Singkel, Pono belajar berbagai cabang ilmu-ilmu Islam seperti fiqih, tauhid, tasawuf, nahwu, sharaf, hadis dan juga belajar ilmu taqwim (hisab). Pono anak cerdas. Karena itu Syekh Abdul Rouf sangat menyayanginya. Sebagai bentuk kasih sayangnya pada Pono, Syekh Abdul Rouf mengganti nama Pono menjadi Burhanuddin yang kelak dikenal dengan sebutan Syekh Burhanuddin Ulakan. Dan dari gurunya ini pula, Burhanuddin mewarisi tarekat Syatoriyyah.

Catatan

Syekh Burhanuddin belajar kepada Syekh Abdul Rouf Singkel selama 13 tahun. Setelah itu, ia kembali ke tempat ayah dan ibunya tinggal.

Tahun 1416.  Ada sumur berair tawar. Setiap bulan safar banyak yang ziarah ke sana. Makam khotib Sangko.

Sejarahnya tabui : memperingati wafatnya Hasan dan Husain. Karena itu sering dituduh berbau Syiah. Tabui hanya ada dua: di Bengkulu taboi dan tabo.

Di Pariaman tari tabui sebatas ritual budaya, yang berbeda dengan Syiah.

Pariaman, April 2016.

==============================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *