Buku Kultur Hibrida : anak-anak muda NU di jalur kultural ini merupakan kotak Pandora yang menyajikan banyak sekali catatan sejarah tentang pahit getir pilihan hidup, jatuh bangun pencaharian jati diri, juga pergolakan intelektual subjek-subjek pemuda nahdliyin yg terlempar atau secara sengaja melemparkan dirinya keluar dari lingkaran struktur-hierarkis ke-NU-an pada masanya (NU struktur dalam buku ini juga mencakup pengertian segenap badan semi otonom di bawah kelembagaan PBNU).

Buku ini merangkum catatan dalam rentan waktu 1990-an awal hingga 1990-an akhir. Menjadi menarik kemudian karena hari ini atau tepatnya 20 tahun setelah buku ini diterbitkan, figur-figur tersebut justru menjadi lingkar utama NU struktur, sebut saja diantaranya ahmad baso dan savic ali. Keduanya kini menjadi figur elite dalam gerbongnya masing-masing. Baso merupakan salah satu ketua di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sementara savic muncul dipermukaan melalui sekian franchise medianya yg menggunakan NU sebagai trademark.

Dari sekitar sembilan nama yg menjadi highlight dalam buku ini saya hanya akan membahas baso dan savic secara spesifik, karena didalam catatan mereka terdapat komentar yang centang perenang mengenai PMII.

Baso berproses di PMII komisariat LIPIA jakarta dan savic merupakan Kader PMII sunan kalijaga jogjakarta.

Keduanya merupakan bagian dari gelombang lazim kader-kader grassroot yang acapkali skeptis akan progresifitas organisasi baik pada aras refleksi pemikiran maupun kerangka gerakan aksi langsung. Trend kecewa dan memilih keluar dari kekuatan hegemoni struktur seperti ini mungkin terinspirasi oleh buku pergolakan pemikiran islam milik ahmad wahib, dimana dalam buku tersebut tercatat djohan effendi dan wahib sendiri menyatakan sikap keluar secara resmi dan mengundurkan diri dari keanggotaan HMI. Ketokohan djohan juga wahib menimbulkan kesan yg mendalam seolah-olah langkah semacam ini merupakan gelombang besar arus balik untuk menghantam dominasi kekuatan struktur yg mangkrak pula stagnan.

Savic di tahun-tahun 97-99 adalah satu dari sekian aktor garda depan front aksi langsung dari Forkot hingga famred, tanpa ragu savic mengatakan kecewa dengan gaya kerja PMII yg acapkali ragu dalam melakukan aksi perlawanan langsung padahal pelatihan-pelatihan Analisis Sosial marak diadakan PB PMII kala itu. Savic menambahkan ada inkonsistensi dari diksi “Pergerakan” yang PMII kibarkan, karena dalam gelombang besar menuju reformasi organ ini tidak terlalu banyak terlibat. Sentimen savic sebenarnya dimulai sejak ia masih di jogja, menurutnya PMII terlalu berorientasi pada perebutan posisi strategis di kampus seperti senat mahasiswa dll daripada menekankan aspek refleksi teoretis dan perenungan konseptual sembari menyediakan wadah internal yg cukup tempat dimana kadernya menimba mata air pengetahuan.

Tentu lontaran savic diatas akan mendapat respon keras dari banyak sekali kader PMII yang seangkatan dengannya.

Saya juga merasa savic tidak cukup terlibat didalam pergulatan lingkar inti PMII, mengingat savic hanya berkutat tak lebih dari dua semester di sunan kalijaga juga PMII sebelum ia angkat koper ke jakarta untuk memulai studi di Driyarkara juga memulai jalan pedangnya di Forkot.

Berbeda dari savic yang cenderung melontarkan kritik atas peristiwa-peristiwa permukaan yg telah umum diperbincangkan, Baso melakukan kritik yg lebih sistematis atas tradisi intelektual PMII.

Ahmad baso berhabitat dilingkungan yang iklim intelektualnya bisa dibilang diatas rata-rata, ia tumbuh bersama kelompok studi 164, sebuah perkumpulan yang disegani karena keberadaan orang macam Ulil Abshar Abdala, Amsar abdul manan dan nama-nama intelektual muda beken lainnya. Kelompok ini bisa dikatakan semacam think-tank di PMII DKI Jakarta.

Keberadaan PMII dikampus semacam LIPIA merupakan respon balik atas menjamurnya geliat ikhwan dan spirit Panislamisme yg disponsori langsung oleh civitas akademik.

PMII kemudian menjadi kelompok yg mula-mula memperkenalkan pemikir-pemikir muslim pascakolonial macam hasan hanafi, abed al jabiri, ali syariati dll. Mengenalkan nama-nama yg sebelumnya belum mereka dengar semasa di pesantren tentu menjadi daya magnet tersendiri PMII, ini lebih menantang daripada mengikuti mata pelajaran menjemukan di kelas sembari mendengarkan dosen berceramah, salah satu diantara anak-anak muda yg terjaring ialah ahmad baso.

Kelompok 164 tidak hanya mencakup kajian pemikiran islam semata, melainkan juga diskursus ekonomi politik dan wacana postmodernisme. Gerbong ini mengkaji marxisme hingga yang paling Trendi kala itu yakni mazhab frankfurt.

Pada awalnya baso menganggap 164 merupakan kawah candradimuka yang ideal untuk mengasah ketajaman intelektualnya. Hingga sampai pada titik dimana baso merasa pengaruh pemikiran Gus dur dan masdar farid mas’udi terlalu pekat dalam lingkaran ini. Baso pula risih atas merembetnya benturan elite antara Fordem dan ICMI pada sikap pemikiran punggawa 164. Percikan gagasan yg lahir dari awak 164 cenderung subjektif dan partisan.

Dan yang paling keras baso menyentil bahwa anak-anak 164 menempatkan pemikiran Gus dur dan masdar farid seumpama sabda resi yang turun dari langit lalu tak bisa disanggah kebenarannya.

Sebagai salam perpisahan baso bersumpah serapah atas keterlibatan 164 didalam suksesi kepemimpinan cabang DKI Jakarta kala itu.

Baso lalu keluar dari hiruk pikuk PMII, beberapa bulan berselang ia juga keluar dari LIPIA sebelum studinya selesai.

Saat membaca prolog saya kira buku ini akan berisi puja-puji eksistensial akan keberadaan PMII sebagai lokomotif kaderisasi garda depan NU, karena Hairus Salim mengutip tulisan Martin Bruinessen bahwa kumpulan anak-anak muda tradisionalis ini telah melampaui bacaan kelompok modernis dan berani melakukan langkah-langkah radikal untuk menandingi stagnasi figur-figur sepuhnya.

Tetapi layaknya kotak Pandora yg penuh letupan tak terkira, perkiraan saya meleset. Buku ini justru menyajikan luapan amarah yg gaungnya mengarah ke dalam.

Dalam satu paragraf singkatnya savic dengan tanpa tedeng aling-aling mengkritik gelombang jamaah besar anak-anak muda NU (dan PMII sebagai unsur terbesar) yg berbondong-bondong antri untuk mengisi slot di Partai Kebangkitan Bangsa. Sebuah fenomena yang ia sebut sebagai lonceng berakhirnya spirit khittoh muktamar sukorejo 1984. Padahal NU baru memulai program-program pemberdayaan masyarakat berupa advokasi, pembangunan sekolah-sekolah juga rumah sakit. Sebuah ikhtiar untuk mengisi ketertinggalan NU dari muhammadiyah selama hampir 30 tahun karena jatuh-bangun kerja politik sejak pemilu 1955.

Tabik.

=========================

Kurator : Adil Satria






gayatrimedia.co.id

Categories: Resensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *