Satu keunggulan lain dan menarik dari karya ini adalah walaupun penulisnya mengenyam pendidikan dan belajar semenjak kecil hingga sekarang hanya di dunia pendidikan Nusantara (Pesantren Tebuireng), tetapi ia tidak “ketinggalan zaman” dengan dunia luar. Terbukti, saat ini, disamping ia sangat menguasai khazanah keilmuan klasik (kutubut-turas\), mahir berbahasa Arab, ia juga paham terhadap bahasa Inggris dan ilmu-ilmu modern lainnya. Sehingga banyak hasil produk karya tafsirnya “liberal” dibandingkan dengan pemahaman ulama mayoritas di Indonesia.

Aktualisasi Al-Quran

Al-Quran adalah wahyu Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia. Namun, tidaklah mudah untuk memahami kandungan makna yang tersimpan di balik teks Al-Quran. Apalagi bagi bangsa Indonesia yang memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh Al-Quran (bahasa Arab). Maka, satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk memahami kandungan Al-Quran bagi masyarakat Indonesia adalah melalui mufassir (ahli tafsir) yang menguasai ilmu-ilmu Al-Quran dan memahami bahasa Arab. Kemudian, disampaikan dan ditulis dengan bahasa Indonesia agar dapat dibaca, dipahami, dan diamalkan oleh bangsa Indonesia. Tafsir yang mengerti dan menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat, sesuai dengan budaya dan kondisi bangsa Indonesia.

Apalagi pada masa kontemporer ini, maka diperlukan penafsiran Al-Quran dalam konteks Indonesia, untuk selalu dihidup-hidupkan, diberi interpretasi sesuai watak, kepribadian, budaya bangsa dan perkembangan yang positif. Pemahaman terhadap Al-Quran sebagai jantung ajaran Islam dapat bersifat dialogis, menggunakan dialog antara wahyu di satu pihak dengan realitas praksis di pihak lain, sehingga kehadirannya lebih fungsional.[1]

Karena itu, penulis tertarik untuk mengangkat karya tafsir yang dihasilkan oleh Mufassir Indonesia. Karya Mufassir pribumi yang dapat memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, sesuai dengan kondisi, budaya bangsa dan negara Indonesia.

Salah satu karya tafsir Nusantara adalah “Tafsir Al-Quran Aktual”, ditulis oleh Drs. KH. Ahmad Musta’in Syafi’i, M.Ag (selanjutnya disebut Musta’in). Disamping integritas keilmuan yang tidak diragukan lagi, karena sejak kecil sudah hafal dan mengkaji Al-Quran. Ia juga sangat peka dengan permasalahan-permasalahan sosial yang ada. Dengan harapan, persoalan-persoalan kontemporer yang terjadi di masyarakat akan terekam dan terpecahkan dalam tafsir ini.

Hal ini hendaknya perlu diketahui guna memperlihatkan usaha pemahaman atau penafsirannya terhadap Al-Quran dalam konteks Indonesia dewasa ini. Apalagi, sarana yang digunakan melalui salah satu media massa: surat kabar. Kajian tafsirnya diterbitkan setiap hari (kecuali hari minggu dan hari libur nasional) sejak tahun 2000 hingga sekarang masih tetap eksis. Menafsirkan Al-Quran dengan cara runtut sebagaimana runtutnya mushaf Usmani. Padahal, tafsir selama ini, hanya disajikan oleh media massa dengan terbit mingguan atau bulanan dan penafsirannya pun dengan cara tematik: tidak urut sebagaimana urutan dalam mushaf Usmani.

Media massa tersebut adalah koran “Harian Bangsa”, cabangnya koran nasional “Jawa Pos”.[2] Surat kabar merupakan wadah yang tepat untuk dijadikan media dakwah bil-qalam, karena dapat menangkap dan menyampaikan serangkaian pesan-pesan dakwah dalam waktu yang relatif singkat dan materi yang disampaikan pun akan tersebar luas secara serentak.

Tanpa perlu bersusah payah harus membuka kitab-kitab tafsir yang besar, maka masyarakat secara instan, dapat langsung menyantap kajian-kajian Qurani ala Musta’in dikarenakan bahasa yang digunakan adalah bahasa populer, santai, dan tidak bertele-tele. Uraiannya mudah dicerna dengan tema yang aktual sehingga masyarakat secara umum, siapa saja dari golongan manapun, baik yang berpendidikan maupun tidak, elit ataupun melarat, akan sangat gampang dapat membaca dan memahaminya.

Satu keunggulan lain dan menarik dari karya ini adalah walaupun penulisnya mengenyam pendidikan dan belajar semenjak kecil hingga sekarang hanya di dunia pendidikan Nusantara (Pesantren Tebuireng), tetapi ia tidak “ketinggalan zaman” dengan dunia luar. Terbukti, saat ini, disamping ia sangat menguasai khazanah keilmuan klasik (kutubut-turas\), mahir berbahasa Arab, ia juga paham terhadap bahasa Inggris dan ilmu-ilmu modern lainnya. Sehingga banyak hasil produk karya tafsirnya “liberal” dibandingkan dengan pemahaman ulama mayoritas di Indonesia.[3]

Karena itu, hendaknya usaha pemahaman dan penafsiran yang dilakukan Musta’in tetap dibiarkan berjalan terus dan dikembangkan, karena Al-Quran sendiri memberi kesempatan untuk selalu diperiksa secara berkesinambungan untuk dapat menjawab segala problematika kehidupan, khususnya dalam konteks kehidupan ke-Indonesian dewasa ini.

Sejarah, Guru, dan Karya

Musta’in adalah salah seorang Mufassir Indonesia.[4] Ia menafsirkan Al-Quran sesuai dengan disiplin ilmu yang diraihnya. Ia seorang Hafiz (hafal Al-Quran 30 juz), mempunyai sanad Al-Quran yang silsilah gurunya mutawatir/bersambung sampai pada Nabi Muhammad Saw dan juga seorang sarjana dalam bidang Al-Quran dan tafsir.

Dalam hasil wawancara dengan penulis,[5] ia menguraikan nama lengkapnya, Ahmad Musta’in. Ia lahir tanggal 3 Desember 1955 di Desa Paloh Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Ayahnya bernama Syafi’i, seorang nelayan yang wafat ketika Musta’in masih berusia 7 tahun. Sedangkan ibunya bernama Ma’shumah binti Muthohhar, seorang ibu rumah tangga, wafat sepuluh tahun yang lalu.

Musta’in memulai aktivitas keilmuan dari kampung halamannya pada tahun 1968. Ia telah menamatkan pendidikan Sekolah Dasar di M.I Muhammadiyah Paloh (satu-satunya pendidikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah di desanya ketika itu). Kemudian ia melanjutkan Pendidikan Menengah di Madrasah Mu’allimin Nahdlatul ‘Ulama Mazra’atul ‘Ulum Paciran Lamongan, daerah kakeknya yang berjarak kurang lebih 12 KM dari rumah orang tuanya selama 4 tahun. Akan tetapi ijazah Pendidikan Menengah yang berhasil diraihnya adalah melalui ujian persamaan Tsanawiyah Negeri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang[6] sebagai peserta extraine pada tahun 1971 M.

Karena Musta’in berasal dari keluarga miskin, maka setelah itu ia tidak langsung melanjutkan Pendidikan Atas, sembari membantu pamannya (adik kandung ibunya) untuk berjualan kain di pasar selama satu tahun. Pamannya bernama Muhbib bin Muthohhar adalah seorang Hafiz Al-Quran dan memiliki Pondok Pesantren Huffaz Raudhatul Quran di Desa Dungus Kabupaten Madiun.

Setahun kemudian, Musta’in melanjutkan pendidikan formal yang sempat terhenti ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang[7]. Dengan catatan dari pamannya, ia harus menghafal Al-Quran sebagaimana pamannya yang telah menjadi Hafiz, karena kalau tidak mau, maka ia tidak akan mendapat bantuan biaya dari pamannya untuk melanjutkan pendidikan di manapun berada. Jadi, syarat untuk melanjutkan pendidikan Musta’in adalah harus menghafal Al-Quran di tempat pendidikan tersebut. Akhirnya, pada tahun 1973 ia pun mendaftar untuk menjadi salah seorang santri di Pondok Pesantren Tebuireng dan masuk pada sekolah Aliyah. Musta’in sebelumnya tidak mengetahui siapa guru yang akan mengajarnya menghafal Al-Quran, hanya diberitahu oleh pamannya, nanti ia menghafal Al-Quran harus dengan guru yang bernama KH.  Muhammad ‘Adlan Ali (1900-1990 M).[8]

Satu hal yang dibanggakan sebagai santri yang mengaku pernah menjadi tukang masak nasi untuk seluruh santri, ketika menginjak akhir kelas dua Aliyah, Musta’in sudah dapat menyelesaikan hafalan Al-Quran dengan fasih kurang dari dua tahun walaupun harus dibarengi dengan sekolah Aliyah di Tebuireng.

Ketika menginjak tahun kedua di Pesantren Tebuireng, Musta’in melanjutkan pindah ke Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng Jombang yang diasuh oleh KHM. Yusuf Masyhar (1925-1993 M).[9] Uniknya, ketika itu oleh KH. M. Yusuf Masyhar, ia diberikan waktu khusus dan berbeda dari santri-santri Madrasatul Quran lainnya untuk menyetorkan hafalan Al-Quran kembali mulai dari juz satu pada saat jam istirahat sekolah Aliyah berlangsung. Karena ketika itu, untuk santri Madrasatul Quran yang menghafal Al-Quran dan dibarengi dengan sekolah di sekolahan formal hanya Musta’in saja. Akhirnya, di hadapan kedua kyai (KHM. Adlan Ali dan KHM. Yusuf Masyhar), Musta’in dapat menghafal Al-Quran dengan fasih dan lancar.

Menarik untuk diketahui: pada tahun 1975 dalam Wisuda Hafiz pertama Pondok Pesantren Madrasatul Quran, Musta’in menjadi salah seorang peserta sekaligus sebagai Ketua Panitia dalam acara tersebut. Menjadi Ketua Panitia pada acara Wisuda Hafiz merupakan suatu penghargaan untuknya dari Pondok Pesantren Madrasatul Quran (khususnya dari KHM. Yusuf Masyhar), karena ia dianggap layak dan mampu dibandingkan dengan santri-santri lainnya.

Adapun prosesi acara wisuda ini diadakan sebagaimana halnya wisuda Sarjana di Perguruan Tinggi. Sebagaimana diketahui, sebelum wisuda tersebut, belum pernah ada prosesi acara wisuda Hafiz seformal dan sekhidmat seperti layaknya wisuda untuk para sarjana di Perguruan Tinggi.

Kemudian Musta’in melanjutkan pendidikannya ke Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang.[10] Pada tahun 1979, ia berhasil menempuh program Sarjana Muda Syari’ah dengan gelar BA (Bachelor of Arts) dengan judul risalah “Mu’amalah di Pantai Paloh”, dan gelar Drs (Dokterandus) pada jurusan Syari’ah tahun 1981 dengan judul skripsi “Antara Ibnul Arabi dan Al-Qurthubi dalam Ayat-ayat Ahkam dan Ta’ashshub masing-masing kepada Madzhab Maliki (Sebuah Studi Banding)”[11] dan gelar S.Ag (Sarjana Agama) di IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) Tebuireng yang menjadi Rayon Kopertais pada IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1990. Kemudian dilanjutkannya ke jenjang S.2 Program Studi Aqidah dan Filsafat di IAIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta,[12] dan berhasil meraih gelar M.Ag (Magister Agama) pada tahun 1998 dengan judul tesis “Hadis Kontradiktif (Studi Pemikiran Ibn Qutayba dalam Kitab Ta’wil Mukhtalif al-Hadith)”.[13]

Tidak lama berselang, Musta’in dipercaya untuk mengajar tafsir di Tebuireng. Dari sinilah, ia mulai mengkaji Al-Quran dan mendalami tafsir. Dari latar belakang keluarga dan  pendidikan yang dilaluinya, tampak: hal itulah yang menjadikannya seorang yang mempunyai kompetensi yang cukup menonjol dan mendalam di bidang Al-Quran dan Tafsir.

Tidak seperti kebanyakan guru lain, ternyata Musta’in tidak suka menonjolkan identitas kekiaiannya. Ia bahkan tidak mau terkungkung dalam tradisi homogenitas pesantren yang hanya mewarisi ilmu keagamaan, khususnya perihal tafsir Al-Quran. Ia lebih suka berkreasi, maka konsekuensinya, muncullah ide-idenya kontroversial. Ia juga lebih salut pada penafsir-penafsir muslim jebolan Eropa daripada Timur Tengah, karena kaya akan metodologi, sehingga mereka mampu melakukan improvisasi dalam menafsirkan Al-Quran melalui instrumen-instrumen tafsir.

Hal ini, bukanlah suatu hal yang aneh, karena ia adalah anak seorang nelayan. Sejak lahir ia sudah terbiasa hidup di lingkungan alam bebas, di pinggir pantai dan memandang lautan, sehingga dapat mempengaruhi filosofis kehidupannya ketika memandang dunia yang luas, bebas dan tanpa sekat bagaikan memandang lautan yang tak bertepi.

Sebagaimana contoh yang di utarakan Zamakhsyari Dhofier[14] dalam disertasinya[15]: ketika di Pesantren Tebuireng, Musta’in sering dilihatnya memutar kaset-kaset ABBA dan The Beatles, padahal ketika itu kamar Musta’in berada di samping ruang pengimaman masjid Tebuireng, seorang yang Hafiz, serta menjadi salah seorang Khatib di Pesantren Tebuireng. Begitu pula pada tanggal 23 Juni 1978, Musta’in melancarkan kritik pedas melalui khutbah jumat: kedudukan ilmu Agama di Tebuireng dianggapnya semakin terdesak oleh ilmu pengetahuan umum. Dikatakannya ketika itu, Pesantren Tebuireng lebih cenderung mendidik calon-calon insinyur, pengacara, dokter, dan lain-lain, serta tidak lagi mengutamakan pendidikan ulama. Sehingga pada akhirnya (pada sore hari yang sama) Kiai Syansuri merespons terhadap kritik Musta’in tersebut dengan menjelaskan bahwa:

“Banyak perbuatan manusia yang nampaknya hanya bertalian dengan urusan-urusan duniawi, tetapi karena niatnya yang bagus, maka perbuatan tersebut diterima oleh Allah Swt sebagai amal akhirat. Tetapi banyak pula perbuatan manusia yang nampaknya bertalian dengan urusan-urusan akhirat, tetapi karena disertai dengan niat yang buruk, maka tuhan tidak memberinya pahala sama sekali”.

Dari kenyataan ini, menunjukkan: Musta’in sudah sangat terbiasa kritis dan responsif terhadap lingkungan sekitarnya. Apalagi ditunjang dengan pendidikan formal yang dilaluinya dari Pesantren Tebuireng hingga Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang memberikan ruang kebebasan untuknya berpendapat.

Mengenai tafsir Al-Quran, Musta’in berpendapat, untuk memahami tafsir Al-Quran saat ini, orang harus menguasai: (1) latar belakang historis (khusus as-sabab), (2) bias lafaz yang biasa disebut ‘umum al-lafzi,[16] (3) munasabah dan (4) siyaq al-kalam.[17] Dengan itu, maka Al-Quran akan dinamis dan tidak akan pernah habis maknanya sepanjang zaman.

Musta’in berhasil menafsirkan Al-Quran dengan selalu melakukan analisis aktual dan dikaitkan dengan situasi sosial yang sedang terjadi. Tidak hanya itu, metode tafsir yang dilakukannya juga membentuk wacana keagamaan baru, mencerahkan kehidupan masyarakat muslim Indonesia secara umum.

Tidak banyak kiai yang hidup di lingkungan pesantren salaf yang berani medekontruksikan wacana keagamaan, apalagi berkenaan dengan tafsir dan ilmu Al-Quran, karena bisa menjadi sasaran kritik. Tetapi, Musta’in tampaknya punya alasan kuat. Karena itu, ia berani melangkah. Misalnya, pada tahun 1980-an, ia mendapat kritik dari banyak ulama gara-gara tafsir gendernya. Ia memperbolehkan wanita potensial seperti wanita Hafizah menjadi imam di hadapan laki-laki awam di ruangan tertutup, apalagi masih dalam lingkungan keluarga. Padahal pada umumnya para kiai tidak membolehkan terhadap hal tersebut.[18]

Begitu juga pada awal tahun 2000, ketika ia menjabat Dekan Fakultas Dakwah Institut Keislaman Hasyim Asya’ri (IKAHA) Jombang selama dua periode, menyampaikan orasi ilmiah di acara wisuda Hafiz Madrasatul Quran tentang kritik historis pembukuan Al-Quran pada periode awal. Musta’in menyatakan, isi hadis yang menerangkan bahwa orang yang membaca surah al-Ikhlas seperti membaca keseluruhan Al-Quran dan mushaf-mushaf yang ditulis sahabat di atas pelepah kurma adalah ahistoris.[19]

Menurutnya, hadis yang berangkat dari kisah Nabi Saw ketika mengambil menantu sahabat ‘Ali ibn Abi Talib Karramallahu wajhah melalui lomba baca Al-Quran sampai khatam itu tidak sesuai dengan realitas sejarah. Sebab, ketika itu Al-Quran belum diturunkan seutuhnya sebanyak 30 juz seperti sekarang ini.[20]

Demikian juga dengan kebenaran cerita awal penulisan mushaf di atas pelepah kurma, batang pohon, dan di atas batu pada periode awal. Menurutnya, teknologi lembaran pada zaman itu sudah ada, juga benda-benda halus, kain, dan kertas. Bahkan benda-benda itu sudah tersedia sejak zaman Nabi Sulaiman As.

Terbukti dalam suatu ayat, Sulaiman pernah mengirim surat kepada Ratu Bilqis, melalui burung Hud-hud “Innahu min sulaymana wa innahu bismillahir-rahmanir-rahim”. Secara logis, betapa ringan benda itu sehingga burung Hud-hud mampu membawa surat Nabi Sulaiman. Di samping itu juga, tidak mungkin sahabat-sahabat menulis Al-Quran di tempat kotor seperti itu. Jadi, hal ini menurutnya hanyalah bahasa metaforik yang digunakan oleh para penulis Arab sebagai bahasa kiasan yang digunakan untuk mendramatisir sportivitas, bukan arti lahirnya.[21] Dan masih banyak lagi contoh-contoh dekontruksi wacana keagamaannya yang berbeda dengan mainstream keagamaan mayoritas ulama, khususnya di Indonesia.[22]

Perlu diketahui, pada tahun 1980-hingga sekarang, Musta’in adalah Mudir (Direktur) Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng bersama KH. Abdul Hadi Yusuf, SH dan KH. Ahmad Syakir Ridwan, LC, M.HI. Pada tahun yang sama, Musta’in juga menjadi dosen di IKAHA-hingga sekarang. Musta’in sering disibukkan dengan persiapan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) dan MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub)[23] tingkat Nasional. Ia bahkan sering dilibatkan dalam penjurian MTQ dan MQK, terutama di tingkat Nasional.

Walaupun Musta’in sangat menguasai khazanah ilmu klasik dan paham ilmu-ilmu modern, fasih berbahasa Arab dan paham bahasa Inggris tetapi sikapnya selalu tawadu’ (rendah hati) dan santun.

Sekarang, Musta’in pernah bertempat tinggal di sebuah rumah yang menjadi awal mulanya Pondok Pesantren Madrasatul Quran didirikan (ketika masih satu kompleks dalam area Pesantren Tebuireng). Rumah tempat tinggal KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika masih di Pesantren Tebuireng.

Sebagaimana lazimnya seorang santri ketika belajar, Musta’in mempunyai beberapa guru. Di antara guru-guru yang dipandang sangat berjasa dan banyak mempengaruhi keperibadiannya dalam bidang Al-Quran, antara lain: pertama, Muhbib bin Muthahhar. Beliau adalah paman Musta’in, adik kandung dari ibunya. Pamannya adalah alumni Pondok Pesantren Huffaz Yanbu’ul Quran yang diasuh oleh KH. Arwani Amin Kudus al-Hafiz (1905-1994 M).[24] Muhbib bin Muthahhar telah mendirikan Pondok Pesantren Huffaz Raudhatul Quran di Madiun yang banyak dikunjungi oleh para santri untuk belajar ilmu agama. Ia banyak memperhatikan, mengawasi perkembangan keilmuan dan memenuhi kebutuhan hidup Musta’in, baik secara moral dan materi, ketika masih menjadi santri di Tebuireng, terutama ketika masih awal-awalnya ia di pesantren tersebut.

Dari Muhbib bin Muthahhar, Musta’in banyak mengambil spirit belajar untuk menghafal Al-Quran secara lancar dan fasih.[25]

Kedua, KHM. ‘Adlan Ali (1900-1990 M). Ulama yang lahir di Maskumambang, Sedayu Gresik pada tanggal 3 Juni 1900 M. KHM. ‘Adlan Ali adalah adik kandung Syekh M. Maksum Ali Seblak.[26] KHM. ‘Adlan Ali terkenal sebagai seorang kiai sufi yang hafal Al-Quran 30 juz di bawah asuhan KH. Munawwar Pondok Pesantren Kauman Sedayu Gresik. Kemudian, setelah selesai menghafal Al-Quran, KHM. ‘Adlan Ali melanjutkan studi di Pesantren Tebuireng mengikuti jejak kakaknya.

KHM. ‘Adlan Ali dijodohkan dengan Nyai Halimah yang tak lain adalah keponakan KHM. Hasyim Asy’ari untuk dijadikan sebagai istri kedua, setelah istri pertamanya (Nyai Romlah) meninggal dunia pada tahun 1939 M.

Pada tahun 1951 M dan atas persetujuan KHM. Hasyim Asy’ari, KHM. ‘Adlan Ali mendirikan Pondok Pesantren Putri “Wali Songo”. Beliau juga menjadi Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdiyyah (Tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah).

Pada usia 90 tahun, KHM. ‘Adlan Ali wafat, tepatnya tanggal 6 Oktober 1990 atau 17 Rabiul Awwal 1401 H dan dimakamkan di komplek pemakaman zurriyyah KHM. Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng, sebelah barat masjid.[27]

Ketiga, KHM. Yusuf Masyhar (1925-1993 M). Nama lengkapnya adalah Muhammad Yusuf Masyhar. Beliau dilahirkan di desa Jenu Tuban pada tahun 1925 M.

Ketika muda, KHM. Yusuf Masyhar sangat rajin mempelajari ilmu-ilmu agama, terutama ilmu Al-Quran yang dipelajarinya kepada para kiai yang masyhur di pulau Jawa seperti Kiai Husein Tuban dan Kiai Dahlan Khalil Rejoso Jombang.

Setelah selesai menghafal Al-Quran, KHM. Yusuf Masyhar melanjutkan studinya ke Pesantren Tebuireng. Selama di Tebuireng, KHM. Yusuf Masyhar menjadi salah satu murid kesayangan KHM. Hasyim Asy’ari, karena ia seorang hafiz yang paling muda dan memiliki suara merdu di antara santri-santri lainnya.

Akhirnya, pada saat beliau berusia 24 tahun, KHM. Yusuf Masyhar dinikahkan dengan cucu KHM. Hasyim Asy’ari yang bernama Nyai Ruqayyah binti KH. Ahmad Baidhawi, karena pada saat itu semua putri-putri KHM. Hasyim Asy’ari semuanya sudah menikah.

Pada tanggal 27 Syawal 1319 H/15 Desember 1971, dari hasil musyawarah 9 kiai Pondok Pesantren dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng (ketika itu yang menjadi pengasuh adalah KHM. Yusuf Hasyim periode 1965-2006). Sebagai perwujudan cita-cita luhur dari KHM. Hasyim Asy’ari (1871-1947 M) dan KHA. Wahid Hasyim (1914-1953 M) untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Al-Quran. Maka, ditetapkanlah KHM. Yusuf Masyhar sebagai pendiri sekaligus pengasuh pertama pesantren tersebut.[28] Sekarang Pondok Pesantren Madrasatul Quran dipimpin secara kolektif oleh puteranya bernama KH. Abdul Hadi Yusuf, SH, bersama KH. Ahmad Musta’in Syafi’i, M. Ag dan KH. Ahmad Syakir Ridlwan, LC, M. HI.

Para murid yang diasuhnya, sekarang menjadi pemimpin-pemimpin dan kiai-kiai besar. KHM. Yusuf Masyhar adalah seorang kiai besar, perumus Qira’ah al-Masyhurah al-Muwahhadah bagi Keluarga Besar Madrasatul Quran Tebuireng.[29]

KHM. Yusuf Masyhar wafat pada tanggal 3 Ramadahan 1414 H /12 Februari 1994 M). Dari RSDU Jombang, KHM. Yusuf Masyhar dibawa ke Tebuireng dan disemayamkan di komplek pemakaman PP. Madrasatul Quran sebelah barat Masjid.

Ada beberapa pesan beliau kepada para santri diantaranya:

“Ojo lali, shalat dijogo (jangan lupa, shalat dijaga), “Wes, nggak usah belajar ilmu kanuragan, salawate wae seng akeh” (Sudahlah, tidak usah belajar ilmu kanuragan, perbanyak saja salawat), “Aku nggak duwe opo-opo, mung duwe Al-Quran lan salawat” (Aku tidak memiliki sesuatu apapun kecuali Al-Quran dan salawat), “Ngaji ojo kesusu seng penting sitik tapi bener” (Kalau mengaji jangan tergesa-gesa, sedikit yang penting benar).[30]

Musta’in banyak menimba ilmu dari kiai-kiai tersebut, bahkan dapat dikatakan KHM. Yusuf Masyhar lah sebagai guru utamanya.

Musta’in termasuk orang yang kreatif dan produktif, selain aktif memberikan pelajaran keagamaan, baik di Pondok Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren lainnya di sekitar Tebuireng[31]  maupun di Perguruan Tinggi, ia juga rajin menulis.

Di sela-sela kesibukannya, Musta’in terlibat di berbagai kegiatan ilmiah, menjadi pembicara dalam mengisi seminar-seminar, baik dalam maupun luar negeri. Yang tidak kalah penting adalah keaktifannya dalam kegiatan tulis-menulis di media massa, seperti: Tafsir Al-Quran Aktual (Koran Harian Bangsa sejak tahun 2000 s/d sekarang), Menafsirkan Ilmu Tafsir, Jurnal Gerbang, Nomor. 11, Vol IV, 2002, Tafsir Quran Aktual, 3 Jilid, (Jombang: PP. Madrasatul Quran Tebuireng, 2000), Tafsir Al-Quran Bahasa Koran, Buku 1, Cet. 1, (Surabaya: Harian Bangsa, 2004),  pengasuh rubrik tafsir pada Majalah Risalah Nahdlatul Ulama, Nomor: 1, Tahun I (Rajab 1428 H) s/d sekarang,[32] dan Majalah Tebuireng (Media Pendidikan dan Keagamaan), Edisi 1, Tahun I, (Juli-September 2007) s/d sekarang dan lain-lain.[33] Beliau juga menjabat sebagai Dewan Redaksi pada penerbit eLSAQ Press Yogyakarta[34] bersama Prof. Dr. Phil. H.M. Nur Kholis Setiawan, MA[35] dan Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA.[36]

Kegiatan tulis menulis, bagi Musta’in, merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan dari aktifitasnya. Terbukti, hasil dari karya monumentalnya (sampai saat ini) adalah Tafsir Al-Quran Aktual, ditulis sejak Maret 2000-hingga sekarang masih tetap eksis ditulis.

[1] Ahmad Musta’in Syafi’i, Menafsirkan Ilmu Tafsir, Jurnal Gerbang, Nomor. 11, Vol IV, 2002, hal. 145.

[2] Mamik Farida, Wacana Pesan-pesan Dakwah Pada Rubrik Religia di Media “Harian Bangsa”, Skripsi S.1 Fakultas dakwah, Jombang: IKAHA, 2006), hal. 45.

[3] Contoh: Musta’in membolehkan perempuan menjadi Imam shalat jama’ah dihadapan laki-laki, Makmum shalat kepada Imam melalui siaran langsung (seperti TV, dan lain-lain), Untuk lebih jelasnya contoh-contoh yang lain dapat dilihat pada Bab III dari tesis ini.

[4] Banyak Mufassir Indonesia yang terkenal seperti: M. Quraish Shihab, Buya Hamka, A. Hassan, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya lihat: Howard M. Frederspiel, Kajian Al-Quran Di Indonesia Dari Mahmud Yunus Hingga M. Quraish Shihab, diterjemahkan oleh Tajul Arifin, Cet. I, (Bandung: Mizan, 1996).

[5] Wawancara dengan Ahmad Musta’in Syafi’i di kediamannya Tebuireng. Jombang, tanggal 06 Februari 2011.

[6]Nama Pondok Pesantren Tambak Beras adalah “Bahrul Ulum”. Dinisbahkan dengan nama desanya yakni desa Tambak Beras. Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras ketika itu adalah KH. A. Wahab Hasbullah (1888-1971 M), beliau adalah penggagas terhadap pendirian Organisasi Nahdhatul Ulama. Lihat: H. M. Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara; Riwayat Hidup, Karya dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, Cet. I, (Jakarta: Gelegar Media Indonesia, 2009), hal. 132-138.

[7] Pondok Pesantren Tebuireng didirikan pada tahun 1899 oleh Hadratusy Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari (1871-1947 M) di desa Tebuireng Jombang. Lebih jelasnya lihat: Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cet. IV, (Jakarta: LP3ES, 1985), hal. 103-126 dan Muhamad Rifa’i, KH. Hasyim Asy’ari (Biografi Singkat 1871-1947), Cet. II, (Yogyakarta: Garasi, 2009), hal. 41-50. Sekarang Pondok Pesantren Tebuireng diasuh oleh cucunya bernama Ir. KH. Sholahuddin Wahid (Periode 2006-sekarang).

[8]  Beliau menjadi murid sekaligus suami dari keponakannya KH. M. Hasyim Asy’ari. Beliau adalah Pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Jombang dan Mursyid T}ari>qah Mu’tabarah an-Nahd}iyyah (Tarekat Qadiriyyah Wan Naqsabandiyyah). Lihat: “Alm. KH. M. ‘Adlan Ali (1900-1990 M); Kyai Sepuh Yang Tetap Cinta Ilmu”, Majalah Tebuireng (Media Pendidikan dan Keagamaan), Edisi 08, Tahun II, (September-Desember 2009), Jombang, hal. 72-75.

[9] Nama Pondok Pesantren Madrasatul Quran awalnya adalah Madrasah Al-Huffadh Tebuireng. Berdiri pada tanggal 27 Syawal 1319 H/15 Desember 1971, hasil musyawarah 9 kyai Pondok Pesantren dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng (ketika itu yang menjadi pengasuh Tebuireng adalah KH. M. Yusuf Hasyim Periode 1965-2006 M). Kemudian ditetapkanlah KH. M. Yusuf Masyhar (1925-1993 M) sebagai pendiri sekaligus pengasuh pertama. Lihat: Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cet. IV., hal. 117-118 dan Memori Wisuda Hafidh XI dan Binnadhar IX tahun 1999 M/1420 H, Madrasatul Quran Tebuireng Jombang.

[10] UNHASY didirikan pada tanggal 11 Maret 1967. Sekarang berubah nama menjadi IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) dilakukan sejak tanggal 1 September 1988 berdasarkan SK Menteri Agama RI Nomor: 3 tahun 1987 tentang Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta. Rektor Pertama adalah KH. Mohammad Ilyas (Alm) Mantan Menteri Agama RI (1967 s/d 1971). Untuk lebih jelasnya, lihat: Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cet. IV., hal. 119, “IKAHA dan Perkembangannya” dalam buku Wisuda Ahli Muda (D-2) dan Sarjana (S-1), 2004, hal. 28. Sejak Maret 2011, Rektornya adalah Ir. KH. Sholahuddin Wahid (Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Periode 2006-sekarang).

[11]  Ahmad Musta’in Syafi’i di kediamannya Tebuireng Jombang, tanggal 30 Mei 2011.

[12] IAIN Sunan Kalijaga didirikan pada tanggal 8 Juli 1945 di Jakarta dengan nama STI (Sekolah Tinggi Islam). Rektor pertama adalah Prof. KH. A. Kahar Muzakkir. Sekarang Rektornya adalah Prof. Dr. H. Musa Asy’ari. Untuk Lebih Jelasnya tentang sejarah perjalanan Perguruan Tinggi ini, lihat: Situs Web http://www.uin-suka.ac.id

[13] Ahmad Musta’in Syafi’i, “Menafsirkan Ilmu Tafsir”, Jurnal Gerbang, Nomor. 11, Vol IV, 2002, hal. 167.

[14] Beliau adalah Rektor UNSIQ (Universita Sains Al-Quran) Jawa Tengah di Wonosobo. lahir pada tanggal 25 Juli 1940. Memperoleh gelar Doktor nya dalam bidang Anthropologi Sosial pada Australian National University (A.N.U) Canberra Australia pada 1980. Lihat Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Memadu Modernitas Untuk Kemajuan Bangsa), Jilid I, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009).

[15]  Zamakhsyari Dhofier, The Pesantren Tradition: The Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, Terj. Tradisi Pesantren; Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cet. IV, (Jakarta: LP3ES, 1985).

[16]  Ahmad Musta’in Syafi’i, “Siapa Penyandang Gelar Ulil Amri?”, Risalah Nahdlatul Ulama, Nomor: 17, Tahun III, 1431 H/2010 M, Jakarta, hal. 71.

[17] Ahmad Musta’in Syafi’i, “Menafsirkan Ilmu Tafsir”, Jurnal Gerbang., hal. 162-163

[18] Ahmad Musta’in Syafi’i, Tafsir Al-Quran Bahasa Koran, Buku 1, Cet. 1, (Surabaya: Harian Bangsa, 2004), hal. viii.

[19]  Ahmad Musta’in Syafi’i, Tafsir Al-Quran Bahasa Koran, Buku 1., hal. x

[20] Ahmad Musta’in Syafi’i, Tafsir Al-Quran Bahasa Koran, Buku 1., hal. x

[21] Ahmad Musta’in Syafi’i, Tafsir Al-Quran Bahasa Koran, Buku 1., hal. xi.

[22] Untuk contoh-contoh dekontruksi penasiran lainnya dapat dilihat pada Bab III dari tesis ini.

[23] Sekarang berganti nama menjadi MUFAKAT (Musabaqah Fahmi Kutub at-Turas).

[24] Beliau lahir di Kudus, selasa kliwon, 5 Rajab 1323 H/5 September 1905 M dan wafat pada 1 Oktober 1994 M/25 Rabi’ul Akhir 1415 H. Beliau adalah pendiri Pondok Huffa>z} Yanbu’ul Quran dan seorang Mursyid (pimpinan) Thariqah yang mempunyai ribuan jama’ah. Lihat: Rosidi, Penjaga Wahyu Dari Kudus, Cet. I, (Kudus: Al-Makmun, 2008).

[25] Wawancara dengan Ahmad Musta’in Syafi’i di kediamannya Tebuireng Jombang, tanggal 30 Mei 2011

[26] Seorang ahli astronomi yang juga pengarang kitab Ams\ilati> at-Tas}rifiyyah, Wafat tahun 1933 M. dan dimakamkan di kompleks pemakaman pesantren Tebuireng. Lihat: “Profil Tokoh; Biografi Singkat Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim (1908-1983), Majalah Tebuireng, Edisi 15, 2011, Jombang, hal. 46.

[27] “Alm. KH. M. ‘Adlan Ali (1900-1990 M) Kyai Sepuh Yang Tetap Cinta Ilmu”, Majalah Tebuireng, hal. 72-75.

[28] Lihat: “Biografi KH. M. Yusuf Masyhar (Pecinta Al-Quran Sepanjang Zaman)”, Majalah Tebuireng (Media Pendidikan dan Keagamaan), Edisi 11, Tahun II, (Juli-September 2010), Jombang, hal. 34-36.

[29] Tentang Qira>’ah al-Masyhu>rah al-Muwah}h}adah dapat dilihat: Unit Tahfidh Madrasatul Quran Tebuireng Jombang, Study Al-Quran Qiraah Muwahhadah Versi Madrasatul Quran, 2009.

[30] “Biografi KHM. Yusuf Masyhar (Pecinta Al-Quran Sepanjang Zaman)”, Majalah Tebuireng., hal. 36.

[31] Saat ini, telah ada puluhan Pondok Pesantren di sekitar Pondok Pesantren Tebuireng seperti Pondok Pesantren Madrasatul Quran, Pesantren Seblak, Pesantren Walisongo, Pesantren Darul Falah, Pesantren Mamba’ul Hikam, Pesantren al-Aqobah, Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Pacul Goang dan lain sebagainya. Lihat: “Tebuireng (Kawah Candradimukahnya Santri)”, Majalah Menara Sunan Drajat, Edisi 3, (Januari-Juni 2010, Paciran Lamongan, hal. 26-30.

[32] Risalah Nahdlatul Ulama adalah majalah yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Sejak awal penerbitannya, Musta’in dipercaya untuk mengasuh rubric tafsir pada majalah tersebut.

[33] Penulisan karya-karya tersebut berdasarkan tahun penerbitannya. Dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan pemikiran Musta’in dari waktu ke waktu.

[34] eLSAQ (Lembaga Studi Al-Quran) adalah penerbit yang berusaha untuk konsen mengkaji dan menerbitkan wacana-wacana Al-Quran secara khusus, dan wacana keislaman secara umum, sebagai upaya pengayaan khazanah Islam di indonesia.

[35] Beliau lahir di Kebumen, 10 November 1970. Menjadi Guru Besar Fakultas Syari’ah UIN Kalijaga Yogyakarta. Menguasai enam bahasa asing. Lihat: “Profil Alumni; Mohammad Nur Kholis Setiawan”, Majalah Tebuireng (Media Pendidikan dan Keagamaan), Edisi 2, Tahun I, (Oktober-Desember 2007), Jombang, hal. 46-51.

[36] Beliau adalah Dosen Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir-Hadis UIN Kalijaga dan menjabat sebagai Pembantu Rektor IV Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ) Jawa Tengah. Lihat: Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsuddin (ed.), Studi Al-Quran Kontemporer: Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir, Cet. I, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 2002), hal. 230.

=========================

Penulis:

M. Junaidi (Santri Madrasatul Quran Tebuireng, tinggal di Pontianak)

Categories: Tokoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *