Di Pertempuran Surabaya

Kota Pahlawan disematkan oleh Presiden Soekarno untuk Surabaya, tempat pertempuran 10 November 1945, pada puncak peringatan Hari Pahlawan tahun 1959 di Alun-Alun Utara Yogyakarta yang dihadiri ribuan orang.

Bagi bangsa Indonesia, Soekarno menyebut 10 November adalah “salah satu hari besar yang menjadi mercusuar, yang menjadi monumen batin, monumen jiwa, monumen roh, dan monumen semangat.” Menurutnya, Candi Prambanan dan Candi Borobudur adalah monumen bersejarah, sedangkan 10 November adalah geestelijk monument (monumen mental) yang “harus menjiwai semangat kita dalam meneruskan perjuangan menyelesaikan revolusi.”

***

Buku ini secara umum menggambarkan pertempuran heroik antara para pejuang Indonesia dengan pasukan pemenang Perang Dunia II yang berlangsung di Surabaya pada 10 November 1945 lengkap dengan data-data visualnya (foto dan lukisan).

Namun demikian, secara khusus buku ini mendedah peran segolongan orang yang tidak banyak—bahkan boleh dikata tidak ada—buku sejarah nasional yang mengupasnya, yakni andil besar para kiai dan kaum sarungan (santri) dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan yang baru berusia tiga bulan itu. Sehingga, penulisnya memberi judul untuk buku (sejarah) yang istimewa ini dengan “Surabaya: Kota Pahlawan Santri.”

***

Pembahasan buku ini dimulai dengan upaya Sekutu, termasuk Belanda, untuk menduduki kembali Indonesia setelah kekalahan Jepang. Bahkan, Belanda meminta Pimpinan Kota Surabaya untuk mengibarkan bendera triwarna (bendera Belanda) untuk memperingati ulang tahun Ratu Wilhelmina. Akibatnya, terjadi bentrokan antara rakyat Surabaya dengan serdadu Belanda. Suasana panas mencapai puncaknya saat sekelompok pemuda berhasil menyobek bendera triwarna di tiang atas Hotel Oranje/Yamato hingga menyisakan warna merah putih. Penyobekan bendera triwarna itu semakin membakar semangat perlawanan rakyat Surabaya terhadap Belanda dan sekutunya. Dan pertempuran sporadis pun terjadi di beberapa tempat.

Di tengah upaya diplomasi pemerintah yang berjalan alot, Presiden Soekarno melalui utusannya menanyakan kepada Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari—karena pengaruh beliau yang sangat besar bagi para ulama dan rakyat santri—tentang hukum mempertahankan kemerdekaan. Kiai Hasyim menjawab dengan tegas bahwa sudah terang bagi umat Islam untuk melakukan pembelaan terhadap tanah airnya dari ancaman asing. Dengan jawaban ini, Bung Karno mendapatkan legitimasi strategis untuk mempertahankan RI dalam perspektif hukum agama dan karenanya dia semakin mantap dan kokoh mempertahankan kemerdekaan negara yang baru diproklamirkan itu.

Di antara pengaruh terpenting Kiai Hasyim adalah fatwa jihad pertamanya, 17 September 1945, yang kemudian dikukuhkan menjadi Resolusi Jihad pada rapat ulama Jawa-Madura pada 21-22 Oktober 1945 di kantor PBNU di Bubutan Surabaya. Fatwa ini antara lain berbunyi: (1) hukumnya memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardlu ‘ ain bagi tiap-tiap orang Islam meskipun bagi orang kafir: (2) hukumnya orang yang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta komplotannya adalah mati syahid: (3) hukumnya orang yang memecah persatuan kita sekarang ini wajib dibunuh.

Demikian pula dengan fatwa jihadnya yang kedua, 9 November 1945, yang berbunyi: “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itu fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak 94 km dari Soerabaja. Fardloe ‘ain hoekoemnya membela Soerabaja.”

Resolusi Jihad itu, selain memberi semangat pada pasukan-pasukan Islam (Hizbullah, Sabilillah,  dan pasukan santri lainnya) di Surabaya yang dipimpin oleh para kiai dan tokoh agama, juga menarik pasukan-pasukan serupa dari berbagai penjuru Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk datang ke Surabaya. Seperti KHR. As’ad Syamsul Arifin yang memimpin Hizbullah Situbondo, termasuk Bondowoso. Laskar Hizbullah Jember dipimpin oleh Haji Syekh dan Sulthon Fadjar Njoto. Hizbullah Pasuruan dipimpin oleh KH. Achmad Jufri dan KH. Mahfudz Jufri, sedangkan KH. Masjkur mengomandani Laskar Sabilillah Malang. Dari Kediri, KH. Mahrus Aly Lirboyo membawa 97 santri mujahid dan beberapa kali mengirim pasukan. Demikian pula dengan pasukan-pasukan Islam dari Mojokerto, Jombang, serta daerah-daerah lainnya.

Demikianlah, seandainya tidak keluar Resolusi Jihad yang menyemangati pasukan-pasukan Islam—tanpa menafikan peran pihak lain tentunya—niscaya pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya itu tidak akan dimenangkan oleh pihak Indonesia.

Semoga spirit Resolusi Jihad itu tetap memompa semangat seluruh warga negara Indonesia untuk membela tanah air ini dari berbagai serangan yang bisa  memporakporandakan tatanan beragama, berbangsa, dan bernegara kita. Semoga berkah!

***

Judul Buku:       Surabaya: Kota Pahlawan Santri

Penulis:               Rijal Mumazziq Z

Penerbit:             LTN NU Kota Surabaya

Tahun Terbit:   Cet. I November 2017              

ISBN:                   978-602-7661-91-2

========================

Moh. Mahrus Hasan adalah pengurus Pesantren Nurul Ma’rifah Poncogati Bondowoso dan guru MAN Bondowoso. Sedang menempuh S3 di IAIN Jember.

Categories: Resensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *