Muhammadun Muhammadun basyarun laa kalbasyari

Bal huwa kal yaaquuti bainal hajari

Muhammadun asyroful A’roobi wal ‘Ajami

Muhammadun khoiru man yamsyii ‘alaa qodami

Terdengar sayup-sayup lantunan suara empuk Habib Syekh mendendangkannya. Syair lagu yang pernah populer di era tahun 50an itu sering didendang di Desa Bejaten.

Diketahui, Habib Syekh mengambil syair itu dari Sang Putera, KH Adib Zen. Murid kinasih Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan dan pernah dipercaya sebagai Sekretaris Jam’iyyah Thariqah Muktabarah An-Nahdliyyah. Organisasi para sufi kalangan NU.

Sudah menjadi kebiasaaan, keluarga itu tak suka dengan popularitas. Sehingga tak banyak dikenal hingga kini.

Keturunan Para Wali

KH Zainuddin atau lebih dikenal dengan panggilan Mbah Nud itu tidak berumur panjang. Selazim trah Jaka Tingkir yang memiliki makna menataforis seperti itu. Sudah menjadi takdir barangkali, Jaka Tingkir dan anak turunnya tidak akan lama memangku lama dalam urusan duniawi. Selayak Pangeran Benawa, Pangeran Sambu, Panembahan Rama Kajoran, Sunan Pakubuwana I, Syekh Ahmad Mutamakkin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sudah takdir, mereka hanya dititipkan kekuasaan dalam sebuah peralihan peradaban. Tak lama. Mereka akan hadir ke permukaan, ketika peradaban sedang goyah. Mereka sudah ditakdirkan untuk membangun kekuasaan kultural, demikian Gus Dur mengistilahkan. Kekuasaan yang tak jauh dari rakyat dan khalayak: pondok pesantren. Maka, tak heran, jika jalinan tali silsilah dari hampir semua pondok pesantren di Jawa memiliki keterikatan darah Jaka Tingkir.

Demikian pula dengan Mbah Nud. Dia putera ulama tak terkenal, KH Abdullah Umar. Kiai yang menanggalkan gelar Raden demi pondok pesantren, dan melucuti simbol-simbol keradenan peninggalan leluhurnya, Raden Surawijaya. Meskipun, ketika belajar di Mekah selama enam tahun, KH Abdullah Umar menjadi salah satu kakak senior Mbah Dalhar Watucongol. Ketika sama-sama berguru kepada keturunan Sultan Patah, KH Raden Ali Hafidh Demak.

KH Raden Ali Hafidh adalah saudagar kaya di Mekah. Ia memiliki rumah, dan mengajar santri-santri yang datang dari Nusantara, seperti Hadratu Syekh KHM Hasyim Asy’ari, dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Terakhir, KH Abdul Wahab Chasbullah adalah yang dipercaya menjual rumah KH Raden Ali Hafidh di Mekah, ketika sudah pulang ke Demak.

Tentang KH Raden Abdullah Umar, Mbah Dalhar pernah bertutur kepada KH Mahfud, adik Mbah Nud, ”Bapakmu mbiyen koncoku di Mekah. Aku sing cilik dewe.”

KH Raden Abdullah Umar meninggalkan mesjid di Desa Bejaten yang masih berdiri hingga sekarang. Dulu, ada pohon sawo di halamannya sebagaimana sandi perjuangan kaum santri. Ia mesantren di Langitan Tuban bersama Hadratu Syekh KHM Hasyim Asy’ari sebelum ke Mekah, dan Termas Pacitan. Jika Gus Dur mengatakan setiap desa di pulau Jawa ada walinya, maka KH Raden Abdullah Umar adalah wali Desa Bejaten.

Melacak garis keturunan Mbah Nud, tidak saja sampai hingga Jaka Tingkir. Melainkan juga kepada Sunan Kalijaga, melalui cicitnya, Raden Ahmad atau Tumenggung Nitinegara atau Wali Sentana di Gagadalem. Yang menurunkan kiai-kiai dan pesantren-pesantren di daerah Salatiga dan sekitarnya, seperti , Rowosari, Jombor, Bejaten, Tegalsari, Bancaan, Seraten, Kauman, Tingkir, Kecandran, Nggading, Ngelembu, Reksosari, dan Pulutan. Putera Raden Ahmad Tumenggung Nitinegara, Raden Larasehan, memiliki isteri yang bernama Raden Ayu Dewi Suni dari Kertakesanga Lamongan, adalah keturunan dari Sunan Ampel. Makam Wali Tumenggung Nitinegara ini dulu pernah diziarahi oleh Gus Dur.

Ibu Mbah Nud, Nyai Umi Solichah, adalah puteri KH Abdillah Bachri Pulutan, kakak perempuan Mbah Najad Tingkir (badal KH Munawwir Krapyak). KH Abdillah Bachri adalah putera KH Umar Zaid Tlagareja Grabag Magelang, yang memiliki garis keturunan ke atas Mbah Wali Hasan Munadi Nyatnyono Ungaran.

Kakek Mbah Nud, KH Hasan Munawar, adalah menantu Raden Surawijaya yang berasal dari desa Cerbonan Banyubiru. Desa ini dinamakan Cerbonan, karena menjadi tempat orang-orang keturunan dari trah Cirebon. Tidak dapat ditelusuri hubungan Cerbon dengan Cirebon, meski pada makam Maulana Akbar di Kuningan terdapat makam tentara-tentara Mataram. Makam Maulana Akbar berhadapan dengan makam Arya Kemuning, putera Sunan Gunungjati dari isteri Ong Tien.

Komandan Pemberani yang Jireh

Mbah Nud memiliki perawakan tinggi, gagah, dan berhidung mancung. Perawakan itu hampir sama dimiliki oleh keluarga itu. Dari enam laki-laki bersaudara, laksana kembar enam.

Mbah Nud tidak belajar khusus di pondok pesantren tertentu. Ia belajar langsung kepada ayah dan kakak iparnya, KH Ahmad Ushfuri. Berbeda dengan adik-adiknya yang mesantren secara khusus, Mbah Nud sudah memikul beban sebagai kepala keluarga sejak kakaknya, KH Ahmad Zainal Abidin, hijrah ke Desa Candi Tuntang. Ayahnya meninggal, ketika usianya masih belia. Hanya saja, menjelang usia dewasa, ia menjadi santri kelana dari pesantren ke pesantren. ”Untuk memperbanyak guru,” katanya.

Tempaan hidup menjadi yatim sejak kecil telah mengasah mentalnya. Ketika Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk dikenal sebagai kawah Candradimuka bagi santri-santri saat itu. Ia mendatanginya dengan berani. Dikisahkan, Mbah Nud mesantren kepada Mbah Kiai Zainuddin (nama yang serupa), karena sama-sama mesantren dengan KH Raden Abdullah Umar di Langitan.

Santri-santri Pesantren Mojosari yang dikenal sangar dan suka memlonco ”pendatang baru” itu menguji keberaniannya. Sudah menjadi adat kebiasaan, setiap santri memiliki ketawaduan yang tinggi. Seusai Mbah Nud melaksanakan salat di mesjid, sandal bakiaknya sudah ditaruh surban Mbah Kiai Zainuddin. Disangka, ia tidak berani melangkahi surban itu. Namun, dengan keberaniannya, ia tetap memakai bakiaknya. Pun, ketika ia harus tidur satu kamar dengan ”penguasa pondok” yang disegani dan ditakuti. Ia justeru mendapat keuntungan ”perbawa” dari santri-santri yang lain.

Mbah Nud mendapat pendidikan militer pada masa Jepang sebagai tentara Heiho di Bogor. Teman pendidikan seangkatannya adalah Menteri Agama, H Munawir Sadzali, dan KH Munasir. Ia menjadi Komandan Heiho untuk Kabupaten Semarang. Ia melatih pemuda-pemuda dari kalangan pesantren untuk menjadi tentara. ”Kalau saya tinggal di Jakarta, saya pasti menjadi menteri,” kenangnya, ketika memulai hidup sebagai kiai di Bejaten. Hal ini tidak berlebihan. Jabatan prestisius sebagai menteri telah menjadi sesuatu yang ”wah” pada masanya.

Kedekatannya dengan KH Abdul Wahid Hasyim telah menempatkannya sebagai kader NU yang militan. Beberapa peristiwa penting seperti menyambut kedatangan Presiden Soekarno di Salatiga telah mampu menghijaukan lapangan yang semula merah. Ia membentuk Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Semarang dengan nama ”Ordon” (Orbit Doenia). Berbagai pertunjukan kesenian ditampilkannya untuk menyaingi Lekra pada saat itu. Lesbumi yang kala itu menjadi underbouw Partai NU adalah yang terdepan dalam menggalang kekuatan massa.

Namun demikian, keberanian Mbah Nud sebagai komandan Heiho, bukan berarti ia seorang pemberani di tempat gelap. Pernah, sepulang dari Salatiga menuju Desa Bejaten, ia berhenti dan membangunkan Kiai Masyhadi untuk minta ditemani.

Karir politik Mbah Nud dimulai dari mengikuti para kiai, dan secara tidak sengaja. Ketika lembaga Konstituante dibubarkan oleh Presiden Soekarno, Kiai Sidiq yang saat itu tidak bisa maju menjadi wakil rakyat menunjuk Mbah Nud sebagai wakil Partai NU untuk duduk di DPR GR Kabupaten Semarang. Mbah Nud kemudian tercatat sebagai ketua DPRD pertama Kabupaten Semarang.

Puncak karir duniawi ini tidak memanjangkan umurnya. Seperti sahabatnya, KH Abdul Wahid Hasyim, Mbah Nud meninggal dunia di kala usia muda. Desa Bejaten yang jauh dari kota dan terpotong oleh garis Kaliwaru yang curam mendadak ramai oleh gerombolan anak muda yang mengenakan seragam Banser. Ia meninggalkan anak-anaknya yang masih belia. Jikalau ia masih hidup hingga masa senja, ia akan melihat bukti perkataannya benar. Ketika anak asuhnya di madrasah dan IPNU, Mathori Abdul Djalil, telah menjadi Ketua Partai dan seoarang menteri. Pun, keponakannya, Muhammad Mu’tashim Billah, yang menjadi salah seorang pelopor LSM di Indonesia. ”Jaka Tingkir mendirikan pesantren di Ujungpangkah sebagai cikal bakal LSM, setelah ia mendapat tujuh ilmu dari gurunya untuk tidak haus kekuasaan,” tulis Gus Dur.

Bejaten, 2016.

============================

Kurator:

M. Sakdillah (writer, director, and culture activities).

Categories: Pesantren

2 Comments

naila · Rab 12 Desember 2018 at 05:07

saya baru tahu kalau Pak Nud itu berkarir di bidang politik juga, terimakasih infonya sangat membantu.

    redaksi · Rab 6 Maret 2019 at 12:12

    BELIAU KETUA DPRD GR KABUPATEN SEMARANG PERTAMA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *