Kerinduan Kiai Zahruddin akan dunia pesantren sering diungkapkannya secara verbal. Sebagai santri KH Jazuli Usman Ploso Kediri, Kiai Zaharuddin bercerita jika pernah menjadi badal KH Abdurrohman Chudlory, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, ketika sama-sama masih belajar di Pondok Pesantren al-Falah Ploso Kediri dan juga menjadi teman kamar (Jawa: ghotaan) KH Hamim Djazuli atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Miek semasa kecil. Ceritanya, Gus Miek kalau siang suka tidur di gothaan sampai sore. Kalau malam menjelang, Gus Miek sudah ngelayap neracak di antara pucuk-pucuk dedaunan. Demikian, cerita Kiai Zahruddin.

Mula dari kunjungan kerja Menteri Agama R.I., KH Abdul Mukti Ali (1923-2004), ke Kabupaten Musirawas. Di Pendopo Bupati diundang hadir tokoh-tokoh agama daerah. Dua orang tokoh NU dan Muhammadiyah, KH Ahmad Zahruddin Syambasi (1939-2008)—selanjutnya ditulis Kiai Zahruddin—dan H. Nawawi Naning yang kebetulan adalah mahasiswa sang menteri ketika di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Keduanya ditanya tentang pondok pesantren.

Nawawi Naning menjelaskan tentang pondok pesantren dalam ingatannya dengan penuh semangat. Namun, Kiai Zahruddin yang biasa selalu memakai kopiah hitam khas pesantren juga tidak mau kalah mengemukakan argumentasinya. Ia mengatakan impiannya mendirikan pondok pesantren sudah tertanam sejak tahun 1971. Saat itu, ia sudah pindah rumah di jalan Malabar Kota Lubuklinggau dan mendirikan Yayasan Darul Maarif bersama KH Kemas Muhammad Hanan yang kemudian berganti status menjadi Pondok Pesantren Yatim Piatu, Hubbul Aitam, sebelum berganti nama lagi menjadi Pondok Pesantren Ittihadul Ulum. Nama Pondok Pesantren Hubbul Aitam sendiri masih digunakan oleh KH Kemas Muhammad Hanan untuk pondok pesantren di desa lain yang diurus oleh puterinya, Khoirunnisa, yang pernah menjadi santri KH Mahfud Anwar, Seblak, Kwaron, Jombang. Sebelum mendirikan Yayasan Darul Ma’arif, Kiai Zahruddin terlebih dahulu bersama KHA Yani Hamid dan kakak iparnya, A.M Sukarjo, mendirikan madrasah yang menjadi cikal bakal Madrasah Tsanawiyah Negeri di Muarakelingi, Musirawas.

Mendengar keterangan Kiai Zahruddin ketika itu, Menteri Agama yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren sejak kecil di Pesantren Termas Pacitan yang terkenal itu, memberi pujian kepada Kiai Zahruddin. “Nah, ini orang yang saya maksud.”

Kecintaan Kiai Zahruddin kepada pondok pesantren ditunjukkan dengan cara dan perilakunya yang tidak pernah melepaskan peci dan kain sarungnya sebagaimana kiai-kiai dan kaum santri pada umumnya. Belakangan, ia juga mentradisikan memakai sorban. Ini menjadi fenomena menarik ketika di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musirawas belum ada pondok pesantren yang berdiri.

Masyarakat Musirawas pada masa itu hanya mengenal tradisi, belum mengenal pendidikan pesantren, meski para lebai (marbot) yang mengurusi mesjid-mesjid banyak dari kalangan kiai yang beraliran Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hal ini ditandai dengan tradisi yang marak di lingkungan masyarakat seperti pembacaan al-Barzanji, tahlil, talqin, maupun yasin.

Kerinduan Kiai Zahruddin akan dunia pesantren sering diungkapkannya secara verbal. Sebagai santri KH Jazuli Usman Ploso Kediri, Kiai Zaharuddin bercerita jika pernah menjadi badal KH Abdurrohman Chudlory, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, ketika sama-sama masih belajar di Pondok Pesantren al-Falah Ploso Kediri dan juga menjadi teman kamar (Jawa: ghotaan) KH Hamim Djazuli atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Miek semasa kecil. Ceritanya, Gus Miek kalau siang suka tidur di gothaan sampai sore. Kalau malam menjelang, Gus Miek sudah ngelayap neracak di antara pucuk-pucuk dedaunan. Demikian, cerita Kiai Zahruddin.

Di rumah yang sederhana, Kiai Zahruddin sering ditempati anak-anak dari penjuru desa yang hendak menimba ilmu di kota dengan tanpa dipungut biaya. Meski tidak turun tangan sendiri, santri-santri yang merantau dan datang dari Jawa ke Lubuklinggau di tampung di rumahnya, seperti KH Syaiful Hadi Maafi yang datang dari Tanara Banten, H. Sulthoni dari Malang dan Kiai Imam Isa Mufti. Ketiganya aktif dan menjadi ketua PCNU Kabupaten Musirawas, sementara Kiai Imam Isa Mufti menjadi Rais PCNU Lubuklinggau dua periode masa khidmat.

Lahir dari keluarga Pondok Pesantren Bejaten, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Kiai Zahruddin memiliki nasab dan silsilah hingga ke Kanjeng Sunan Kalijaga dan KGPH Susuhunan Pakubuwono I melalui R. Surowijoyo, Salatiga. Konon, menjelang wafat, setelah menunaikan sholat hajat Kiai Zahruddin sempat bertemu dengan Kanjeng Sunan Kalijaga dan menyebut dirinya sebagai Sunan Kalijaga ke-4.

Meskipun ada keinginan untuk pulang ke Jawa begitu besar, namun atas saran keluarga, Kiai Zahruddin akhirnya menetapkan hati untuk mendirikan pondok pesantren di Lubuklinggau. Setelah turut merintis Pondok Pesantren Ittihadul Ulum dan ar-Risalah, Kyai Zahruddin terakhir mendirikan Pondok Pesantren al-Furqon di Tabajemekeh, Kota Lubuklinggau. Dan, juga senantiasa mendorong kerabat dan sahabat untuk mendirikan pondok pesantren seperti mantan Bupati Kabupaten Musirawas, H.M. Syueb Tamat—pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng—yang mendirikan Pondok Pesantren al-Ikhlas di Kota Lubuklinggau. Walhasil, sekarang sudah banyak bertumbuhan pondok-pondok pesantren hingga pedesaan.

Dalam sebuah refleksi, cita-cita Kiai Zahruddin untuk mempelopori pesantren sebagai basis kultural telah terwujud. Kini, pesantren-pesantren sudah dikenal sebagai lembaga pendidikan yang diminati. Sudah menjamur di wilayah bagian barat Provinsi Sumatera Selatan itu.

Lubuklinggau, 2015.

=====================

M. Sakdillah (author, director, anf culture activities).

Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *