Madrasatul Quran adalah salah satu pondok pesantren penghapal Al-Quran di Tebuireng Jombang. Makna filosofis yang hendak dibangun adalah Al-Quran yang dimadrasahkan. Al-Quran yang tidak saja dihapal lafadh, melainkan juga mendalami makna dan pengamalan. Maka, misi yang kemudian dibawa adalah hamilul Quran: lafdhan, wa ma’nan, wa amalan. Tiga terma utama pembentuk nalar Pondok Pesantren Madrasatul Quran.

Pondok Pesantren Madrasatul Quran

Hadratus Syekh KHM. Yusuf Masyhar (w 1994)—selanjutnya ditulis Kyai Yusuf Masyhar—adalah seorang santri hapal Al-Quran yang menjadi cucu menantu Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng.

Kyai Yusuf Masyhar muda memulai usaha berdagang ke Jakarta sebelum mulai istiqamah membuka pesantren. Usahanya tidak demikian maju hingga sang ipar, KH Abdul Hamid Baidlowi, meminta dirinya untuk istiqamah mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng. Kyai Yusuf Masyhar pun mengumpulkan beberapa santri berbakat untuk menghapal Al-Quran dalam majelis tersendiri di mesjid Tebuireng. Seperti ashabul suffah, sahabat-sahabat Hadrat Rasulullah Saw. yang berdiam di mesjid, santri-santri asuhan Kyai Yusuf Masyhar berkumpul di rumah kediaman KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1950) yang telah lama mencita-citakan ada madrasah khusus penghapal Al-Quran bersama Hadratus Syekh. Dari rumah tersebut cikal bakal Pondok Pesantren Madrasatul Quran yang bernama Madrasatul Huffadh pada tahun1971 berdiri. Setiap bulan santri-santri mendapatkan santunan dari KH Abdul Hamid Baidlowi, pengusaha sukses di Jakarta, dan Kyai Yusuf Masyhar pun istiqamah mengopeni santri-santrinya.

Tampilan wajah menarik dari pondok pesantren ini adalah memang diawali oleh santri santunan. Kehidupan yang mengikuti pola ashabus suffah telah menjadikan santri-santri benar-benar khusuk dan mendalami proses menjadi (being) di dalam belajar dan menghapal Al-Quran. Tidak ada intervensi dari dunia luar. Dan, santri-santri benar-benar alim di bidangnya. Sehingga setiap keluaran Madrasatul Quran, santri-santri sudah hapal Al-Quran sekaligus bisa membaca kitab-kitab kuning.

Lebih lanjut, perkembangan menuntut Kyai Yusuf Masyhar mendirikan pesantren sendiri di sebelah timur Pondok Pesantren Tebuireng sekarang, didukung oleh KHM Yusuf Hasyim (selanjutnya akrab disapa Pak Ud), KH Abdul Hamid Baidlowi serta hasil musyawarah dari sembilan kyai: KH Mansur Paculgowang, KH Kholil Sukopuro, KH Shobari Bogem, KH Adlan Aly Cukir, KH Mahfudh Anwar Seblak, KH Ya’kub Bulurejo, KH Syansuri Badawi Tebuireng, KHM Yusuf Masyhar Tebuireng sendiri, dan KHM Yusuf Hasyim Tebuireng. Kemudian hari, Madrasatul Quran pun lebih dikenal dengan sebutan MQ atau Tebuireng timur.

Kalau pun kemudian pola ashabus suffah masih tetap dipertahankan, maka identitas secara lafdhi adalah ciri asli (indegenous) yang dipertahankan Pondok Pesantren Madrasatul Quran.

Tiga terma nalar yang dibangun oleh Pondok Pesantren Madrasatul Quran mengutamakan Al-Quran yang dihapal secara lafdhi dengan bacaan qiraah muwahidah, standar qiraah Hasyim ‘an Ashim. Pada level ‘aliyah, santri-santri dipersilakan mendalami qiraah sab’ah masyhurah, tujuh bacaan yang terkenal. Budaya semaan dan khataman Al-Quran pun dikenalkan di lingkungan masyarakat. Upaya ini di samping untuk melatih keberanian santri membaca Al-Quran bil ghaib, juga melibatkan partisipasi masyarakat untuk mencintai al-Quran.

Orientasi Makna

Untuk memperdalam makna kandungan Al-Quran, para penghapal Al-Quran dilembagakan ke dalam pendidikan madrasah, Gus Dur ketika pulang dari Mesir diberi kepercayaan untuk meracik kurikulum yang dapat menopang pendalaman makna Al-Quran, baik ilmu-ilmu nahwu, sharaf, balaghah, mutholaah, muhadatsah, ta’bir, tafsir, fiqih, ushul fiqih, tasawuf, maupun falak dan mawaris. Pelajaran umum hanya diberikan bahasa Inggris dan Pendidikan Pancasila. Untuk beberapa lama, Madrasatul Quran masih bertahan dengan pola tersebut.

Implementasi amal dipraktekkan di dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana akhlak mulia. Namun, implementasi yang luas telah menuntut pengetahuan yang lebih luas lagi. Demikian, Pondok Pesantren Madrasatul Quran pun mulai membuka madrasah yang berorientasi lulus dengan ijazah negeri ditambah pengetahuan umum. Dengan demikian—tidak menutup kemungkinan—jika santri-santri lulusan Madrasatul Quran pun di kemudian hari bisa kuliah di luar negeri seperti di Jerman yang memiliki kelengkapan kitab-kitab referensi tentang kajian Al-Quran. Proses menjadi dengan lebih jelas dapat dilihat sebagai berikut:

Dimensi 1: lafdhan         Dimensi 2: ma’nan      Dimensi 3: amalan

nderes                                madrasah (ilmu)             tajribah (laku)

Mula memang Pondok Pesantren Madrasatul Quran tidak mengeluarkan ijazah negeri. Santri-santri yang mondok hanya menghapal dan sekolah di madrasah sebagaimana umum di pondok pesantren salaf, karena dengan harapan akan menghasilkan ulama-kyai khusus al-Quran. Seorang kyai lebih konsen dan istiqamah di bidang keilmuan ketika berada di tengah-tengah masyarakat tanpa harus diembel-embeli gelar atau titel. Tanpa disadari, kyai-kyai model seperti ini benar-benar menjadi kyai dengan kedalaman ilmu. Karena, pendidikan karakter sebagaimana sering didengung-dengungkan saat ini tak luput dari pola didik dan uswatun hasanah dari kyai sang guru.

Namun demikian, kemajuan di bidang madrasah yang kemudian menerbitkan ijazah negeri, juga tidak kalah penting untuk dedikasi dan karir santri-santri Madrasatul Quran sebagai ahli di bidang metode dan tafsir al-Quran. Meskipun sudah tamat belajar dan menghapal, tuntutan karir dan interaksi keilmuan yang lebih luas juga dapat menjadi jembatan. Metode fami bi syauqin, lisan senantiasa dalam kerinduan membaca (nderes) yang diterapkan di Madrasatul Quran mempermudah santri-santri tidak saja hapal al-Quran, namun memberi kesempatan kepada santri-santri untuk memperdalam makna di madrasah, bahkan karir sebagai ilmuwan al-Quran.

Meskipun ilmu alat sudah diberikan dan belajar hingga paripurna di pondok pesantren, namun belum menjamin tuntas sudah masa belajar. Itu baru awal, dan harus melakukan “perkawinan” pula dengan senantiasa nderes dan muthalaah di dalam mengeksplorasi realitas pengalaman lain (tajribah) di dunia luar pondok pesantren, baik sebagai kyai yang turun langsung ke masyarakat atau sarjana ahli (intelektual) yang mengkaji al-Quran.

Dengan kata lain, jika Pondok Pesantren al-Falah Ploso Kediri memantapkan diri pada Nalar Fiqih dan Pondok Pesantren Tebuireng dengan Nalar Hadis sebagaimana Hadratus Syekh dikenal sebagai pakar hadis pada masanya, maka Madrasatul Quran memantapkan diri pada Nalar Quran. Mendatang, Pondok Pesantren Madrasatul Quran dapat membuat sebuah Pusat Kajian al-Quran yang dapat memproduksi wacana keilmuan al-Quran atau Pondok Pesantren Tebuireng dapat membuat Pusat Kajian Hadis, di samping ada Ma’had Aly dan Universitas, dengan kajian dan literatur yang lengkap dan kaya.

Di samping, tidak melupakan figur KH Abdul Hamid Baidlowi yang dermawan dapat menjadi inspirasi santri-santri dan aghniya secara umum, bahwa masih ada bagian dari umat Islam yang membutuhkan biaya untuk studi-studi yang lebih serius untuk pengembangan kajian-kajian strategis, baik di bidang sosial-ekonomi-budaya-politik-agama maupun keilmuan murni yang menjadi ciri khas dan tradisi di setiap pesantren.

Lubuklinggau, 2015.

====================

Penulis: M. Sakdillah (writer, director, and culture activities)

Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *