Inisiatif mendirikan pondok pesantren bisa didasari dari pondok pesantren sebagai benteng—meminjam istilah yang sering digunakan oleh Kyai Priyanto Khoiruddin Musirawas—selanjutnya ditulis Mbah Yanto.

Satu Desa Satu Pesantren

Desa adalah basis NU. Di desa jamaah NU hidup dengan tradisi. Warga Nahdliyin yang bertransmigrasi dari Jawa ke luar Jawa telah membuat kemajuan di bidang pemerataan ekonomi bangsa. Melalui usaha-usaha seperti perkebunan sawit dan karet, taraf ekonomi dan ekonomi dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, setiap ada manusia pasti ada sejarah. Karena sejarah adalah manusia itu sendiri. Maka, sejarah pun telah menuliskan cerita di dunia baru yang jauh dari kampung halaman di Jawa.

Di Pulau Jawa, pondok-pondok pesantren sudah banyak berhamburan. Hampir setiap desa ada pesantren, bahkan ada yang lebih dari satu. Namun, di luar Jawa masih jarang tumbuh pesantren-pesantren. Di samping, pesantren memang masih merupakan institusi yang dipandang “wah”, bahkan sering di mata masyarakat, pesantren harus dipimpin oleh seorang kyai yang alim.

Ada hal yang menarik sebagaimana telah dituturkan oleh KH. Ahmad Mustain Syafi’i Tebuireng, “Orang bisa alim jika rajin dan istiqamah membuka kitab.” Pernyataan ini menggugah, kealiman seseorang bisa diukur bukan karena kepintaran dan kecerdasan otak. Ada banyak orang-orang cerdas justru tidak bisa istiqamah sehingga membuat kerjaan morat-marit tak berbentuk. Seseorang yang rajin membuka kitab dan kamus tentu akan alim melalui ketekunan. Berbeda dengan orang pintar yang malas, tidak akan bertambah ilmu.

Al-Allamah KHM Ahmad Sahal Mahfudh (1937-2014) atau Mbah Sahal adalah contoh yang baik. Suri teladan yang diberikan adalah senantiasa melakukan muthalaah dan munaqasah. Membaca dan diskusi. Tidak pernah merasa puas akan ilmu. Mbah Sahal suka berkores-ponden kepada Hadratus Syekh Muhammad Yasin Padang (1915-1990) yang bermukim di Mekkah. Untuk belajar tidak terbatas ruang dan waktu. Dapat dilakukan di mana dan kapan pun berada. Yang penting istiqamah.

Filosofi pohon yang beredar di masyarakat pesantren, untuk tunas-tunas muda agar dapat berkembang dan tumbuh subur yang harus dipisahkan dari induk semang seperti pohon pisang. Pada mula, memang tunas muda itu akan layu setelah dipisahkan, namun perlahan akar-akar baru akan muncul dan menghidupi tunas tersebut. Jika tunas-tunas tidak dipisahkan dari induk semang, maka tunas itu tidak pernah bisa tumbuh dengan subur hingga induk semang pun tumbang. Begitu pun di dalam belajar, tidak cukup hanya melalui pengajian bandongan, melainkan juga harus dengan sorogan. Di samping akan menumbuhkan gairah dan kesungguhan, metode sorogan akan memacu kreativitas santri secara otodidak menambah ilmu sendiri.

Ada ribuan dan bahkan jutaan santri yang keluar dari pondok pesantren setiap tahun. Ada yang pulang kampung, melanjutkan kuliah dan bekerja. Berapa persenkah yang bisa meneruskan jenjang pendidikan? Berapa persenkah yang pulang ke kampung halaman? Dan, berapa persenkah yang bekerja di pabrik atau kepada orang lain?

Inisiatif mendirikan pondok pesantren bisa didasari dari pondok pesantren sebagai benteng—meminjam istilah yang sering digunakan oleh Kyai Priyanto Khoiruddin Musirawas—selanjutnya ditulis Mbah Yanto. Benteng dalam artian menjadi cikal pembaharu sekaligus pendorong kemajuan umat di pedesaan, baik akhlak maupun ekonomi. Dalam bidang ekonomi, pondok pesantren dapat menjadi sentra, karena memiliki komponen yang lengkap untuk memajukan sebuah desa. Jaringan pesantren melalui organisasi NU atau secara khusus Rabithah Ma’ahid Islami (RMI) dapat lebih meningkatkan peran pondok pesantren menjadi lebih signifikan di tingkat ranting NU dan pedesaan.

Meskipun, gagasan ini bukan hal yang baru di lingkungan NU, namun perlu realisasi dan kemauan jihad di era sekarang, karena di samping kehidupan semakin makmur dimanja oleh teknologi dan informasi yang mudah, hidup jauh dari perkotaan dengan segala keterbatasan adalah sebuah tantangan tersendiri.

Namun demikian, ketika seorang alumni pondok pesantren mengeluh tentang masadepan kehidupan ekonomi, gagasan ini perlu dijalankan, karena seorang santri dengan kemandirian yang sudah diciptakan seusai menuntut ilmu di pondok pesantren memerlukan eksistensi diri.

Pengasuh pesantren tidak mensyaratkan orang alim. Sedikit ilmu dari pondok pesantren, jika diamalkan akan berbuah barakah. Kualitas bisa dipupuk melalui istiqamah. Dengan istiqamah, sebuah pesantren dapat tumbuh kembang menjadi besar. Problem mutu dan kualitas pengajaran dapat dilakukan dengan cara saling tukar menukar tenaga-tenaga pengajar. Hadratus Syekh telah mencontohkan demikian; mengirim sebagian santri untuk membantu KH Jazuli Usman ketika pertama mendirikan Pondok Pesantren al-Falah di desa Ploso, Kediri. Bahkan, yang memberikan nama Pondok Pesantren al-Falah adalah Hadratus Syekh sendiri.

Dengan hadir sebuah pesantren di desa, transformasi pengetahuan masyarakat bisa terbangun. Tenaga-tenaga terampil di sebuah desa atau sarjana-sarjana dapat turut berpartisipasi dan terakomodasi sesuai dengan potensi kesarjanaan yang dimiliki. Walhasil, pesantren pun dapat lebih komprehensif mengisi kemerdekaan dengan mengurangi pengangguran desa.

Ada banyak lembaga dan organisasi yang bisa diikuti oleh warga desa, namun pesantren memiliki nilai lebih. Di samping memiliki akar ke masyarakat, pesantren pun memiliki nilai istiqamah yang tidak dimiliki oleh lembaga atau organisasi lain.

Lubuklinggau, 2015.

=====================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)










gayatrimedia.co.id

Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *