Foto ilustrasi.

Memang, keunggulan subyektivitas kyai yang mengakar di lingkungan masyarakat telah menjadi sesuatu yang positif sebagai personal guarantee sehingga pondok pesantren dan turunannya dapat memiliki bank, klinik, atau koperasi pondok pesantren. Akar individu yang melekat pada kyai senantiasa menjadi pemersatu di dalam sebuah rasionalitas imajinasi sosial.

Tidak semua orang suka dan nyaman menjadi pemula (for beginner), meski terkadang di dalam kerja teknis selalu saja mengulang-ulang pada satu hal. Namun, selalu merasa menjadi lebih berpengalaman adalah sebuah kebanggaan tersendiri yang bisa melupakan sebuah proses. Terutama proses pemahaman.

Aset-aset NU di tanah air sangat banyak dan hampir tidak terkelola dengan baik. Hal ini biasa terjadi karena tidak tercipta kader-kader yang memiliki motivasi pergerakan dan keikhlasan bertindak untuk orang banyak. Menunggu hasil yang sudah jadi dan kemudian menjadi pecundang dari hasil kerja-kerja orang lain adalah fenomena biasa. Di satu sisi, ada kemandirian subyektif yang sengaja ingin diciptakan oleh individu kyai di NU sebagaimana benar-benar terbangun seperti di sebuah pondok pesantren dengan berjerih payah sendiri. Sementara di sisi yang lain, NU tidak melahirkan tenaga-tenaga profesional untuk membidangi satu usaha bersama sebagaimana sekolah dan rumah sakit seperti di Muhammadiyah.

Memang, keunggulan subyektivitas kyai yang mengakar di lingkungan masyarakat telah menjadi sesuatu yang positif sebagai personal guarantee sehingga pondok pesantren dan turunannya dapat memiliki bank, klinik, atau koperasi pondok pesantren. Akar individu yang melekat pada kyai senantiasa menjadi pemersatu di dalam sebuah rasionalitas imajinasi sosial. Namun, seorang kyai tidak benar-benar mampu di dalam membangun satu asumsi bersama sebagaimana di tubuh NU. Di lingkungan NU, sering muncul pandangan-pandangan subyektif yang tajam antar sesama kyai sehingga dorongan untuk kerja-kerja kongkrit menjadi abai.

Dan, selalu menjadi pemula bukan sebuah ketabuan, karena potensi yang bisa dikembangkan selalu saja ada. Contoh kemandirian yang sengaja diciptakan oleh pondok pesantren adalah satu upaya agar tidak tergantung pada satu pekerjaan yang akan membebani negara, namun upaya yang dapat meringankan dan produktif. Misal, pada problem pengelolaan sampah yang menjadi problem di kota-kota besar dapat difungsikan secara maksimal oleh santri-santri sebuah pondok pesantren untuk pengelolaan bank sampah atau pembuatan pupuk organik.

NU dilahirkan dari akar sejarah yang kokoh. Berlandaskan tradisi yang diterjemahkan dari kaidah: al-‘adah muhakkamah. NU memiliki jargon tersendiri yang selalu menjunjung tinggi pemeliharaan atas tradisi. Karena tradisi merupakan roh hidup turun temurun dari generasi ke generasi di dalam tubuh NU. Roh hidup yang senantiasa menjadi milik bersama pada sebuah jamaah. Memiliki nilai-nilai etis yang sama-sama dapat diterima oleh akal sehat (common sense) orang banyak.

Kaidah al-muhafadhoh ‘alal qadimis sholih wal akhdzu bil jadidi ashlah. Senantiasa memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Menandakan elastisitas NU dan dinamisasi personal yang memunculkan multi tafsir dari para kyai, bahwa Islam itu tidak saklek. Islam itu tidak jumud. Melainkan seperti yang dulu sering dituduhkan kepada NU, bahwa NU jumud di dalam bidang pembaharuan. Padahal, NU di dalam rentang sejarah senantiasa menerima dengan lapang dada akan perubahan seperti penerimaan gagasan asas tunggal Pancasila yang sumber galian berdasar tradisi yang telah lama hidup dalam sanubari bangsa Indonesia, tidak bertentangan dengan asas-asas ajaran Islam yang secara substantif sudah tersurat di dalam ayat-ayat suci.

Kekurangan tenaga-tenaga teknis-profesional di bidang teknis telah membuat langkah organisasi NU tidak cepat berkembang sejalan dengan kian tumbuh pondok-pondok pesantren. Terlihat pula pada pembagian tugas antara NU secara organisasi masih tumpang tindih dengan NU secara lembaga. Sehingga yang terjadi pembauran kerja organisasi dengan lembaga. Tidak ada pemilahan obyektif secara jelas. Contoh konkrit di dalam penarikan dana-dana sholawat ataun infaq: organisasi menarik iuran, sementara lembaga menarik juga.

Tuntutan akan obyektivitas inilah yang harus ditindaklanjuti dari nilai-nilai subyektivitas NU. Pengembangan lembaga harus didukung penuh oleh pengurus organisasi untuk pemenuhan dan pengembangan secara mapan. Bahwa, lembaga harus bergerak untuk mandiri tidak boleh dipandang sebagai pemberontakan di dalam pelaksanaan program. Harus sinergi dan membutuhkan kerja-kerja yang tidak melelahkan karena saling tarik menarik kepentingan. Umpama, laporan-laporan yang senantiasa diberikan per triwulan akan memberikan gambaran bahwa lembaga bertindak profesional dan obyektif. Dan, pengurus organisasi tidak menunggu-nunggu laporan dari lembaga untuk menentukan kebijakan dan program-program sendiri sesuai dengan visi dan misi organisasi.

Lubuklinggau, 2015.

=====================

M. Sakdillah (author, director, culture activities)

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *