Sang Hyang Kamahayanikan adalah penghargaan bergengsi di bidang budaya kepada sosok yang telah memberi sumbangan besar bagi peradaban Nusantara.

Sebagaimana gunung menjadi simbol kehidupan di Nusantara, ketika puncak tertinggi dipercaya sebagai singgasana para arwah leluhur. Sehingga gunung mengandung pesan mitos yang dipercaya sebagai punden, pemberi kesuburan, penyeimbang alam, lingga buana, serta sahabat. Dari sini kemudian, jika memandang gunung pemberi bencana adalah sebuah pandangan yang keliru. Sebuah kesombongan, demikian Sutanto, Presiden Komunitas Lima Gunung mengatakan.
Dengan demikian, gunung bisa dipandang sebagai pusat peradaban masa lalu, karena orientasi masa lalu tidak melepaskan diri darinya. Gunung Kamput (Kelud) telah memberi tanda kelahiran Raja Hayamwuruk, juga kelahiran Putera Sang Fajar, Soekarno. Begitu pula gunung pun sering dimaknai sebagai petanda buruk seperti gunung Tambora meletus sebagai amarah gunung kepada kerajaan Tambora.
Tiga gunung besar yang telah merubah wajah dunia adalah gunung Tambora di Nusa Tenggara Timur, Samalas (Rinjani) di Nusa Tenggara Barat, serta danau Toba di Sumatera Utara. Kemunculan pulau Samosir di tengah-tengah danau Toba adalah fenomena anak gunung naik ke permukaan.

Keraguan akan fenomena gunung Padang yang penuh misteri, terungkap jika susunannya mirip Borobudur. Memang ada sebagian bersifat natural, tapi yang jelas susunan bebatuan itu adalah rekayasa tangan-tangan manusia. Peradaban itu memang ada 200.000 tahun sebelum Masehi. Sebelum masa gunung es mencair (glesser), ketika kehangatan hanya ada di Nusantara.
Hadi Sidomulyo atau nama aslinya Nigel Bullough, lahir di London, Inggris, 29 Desember 1951. Ia mendedikasikan sepertiga hidupnya (sejak tahun 1971) untuk meneliti kitab peninggalan kemegahan Majapahit, Negara Kretagama karya Empu Tantular. Ia menelusuri desa-desa yang tertulis di dalam lontar. Meskipun bukan berlatar belakang sebagai arkeolog, dia teliti mencari situs-situs tempat jejak Prabu Hayam Wuruk. Begitu pula setelah itu, ia menemukan ratusan candi di gunung Penanggungan. Setelah kebakaran hutan pada Agustus lalu, secara menakjubkan ia menemukan jalan asli seperti tembok China memlingkar hingga ke atas. Ketika kami tanya, cinta mana antara Indonesia dan Inggris? Ia mengatakan cinta Indonesia. Inggris hanya sebagai tempat lahir saja. Dan, kenapa tertarik dengan sejarah Indonesia? Ia menjawab, ”Karena sejarah Indonesia masih kelam!”
Kearifan masyarakat Tengger digambarkan oleh Ayu Sutarto. Masyarakat itu penuh kerukunan. Mereka bisa berbeda pandangan agama, namun mereka tetap rukun. Tak ada kriminalitas di sana dan juga masyarakat dengan pembayar pajak tertinggi karena kepatuhan mereka kepada pemerintah.
===========================
M. Sakdillah (author, director, and culture activities).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *