Dari Sisi yang Terlupakan

Gus Dur adalah buku terbuka, jadi tidak begitu sulit membacanya. Persoalan, bagaimanakah membaca Gus Dur dan buku apa saja yang akan kita butuhkan untuk membacanya? Tentu, di dalam diri Gus Dur yang multi tema tersebut, kita harus dapat dengan cermat membacanya, kalau tidak kita akan tersesat dalam penafsiran kita sendiri dan masuk pada lorong labirin.

Membaca Gus Dur membutuhkan pengetahuan yang mendalam, ketulusan dan kebersihan jiwa. Di dalam diri Gus Dur yang multi tema tersebut kita harus bersih memilah – milah tema yang akan kita dapatkan dari beliau. Dan harus konsisten, jangan sampai termakan oleh sampiran – sampiran.
Sebagai seorang pujangga, syair – syair pemikiran beliau bertebaran di berbagai media, mulai dari pengajian, diskusi publik, dialog terbatas, hingga pernyataan – pernyataan beliau yang mengundang kontroversial. Membersihkan diri dari prasangka – prasangka adalah langkah awal membaca Gus Dur. Sebab beliau sering melontarkan syair – syairnya yang berisi “puisi- puisi” masa depan. Atau prosa – prosa lirik yang mengharuskan kita garuk – garuk kepala karena kekurangan referensi.
Mengingat tingginya tingkat kegeniusan Gus Dur membuat orang-orang yang tingkat kecerdasanya pas-pasan: kelimpungan dan berakibat pada keberangan. “Gitu Aja Kok Repot” adalah salah satu “puisi” yang menggambarkan betapa cepatnya Gus Dur memecahkan sebuah permasalahan. “Puisi” gitu aja kok repot menjadi perbincangan dan life style beberapa dekade di kalangan penikmat seni Gus Dur, mulai dari kalangan tukang ojek hingga kalangan direktur utama dan para jet set. “Puisi” itu sangat laku hingga dimamah biak oleh mulut-mulut orang yang ingin memecahkan persoalan. Dan anak – anakpun ikut merayakannya.
Walaupun jadi semacam mimesis massal ini merupakan “puisi” termurah di dunia, “dibeli” oleh masyarakat puisi dunia dengan gratis, tanpa dicetak oleh penerbit, tanpa pemasaran, tanpa out let. “Puisi” celana pendek Gus Dur melambaikan tangan dari istana adalah satu – satunya “puisi” yang tak terlupakan, tak ayal lagi multi tafsirpun berhamburan dari para pengamat dan diliput oleh media seluruh dunia. “Puisi” tanpa kata – kata, “puitikal body language”.

Menyusuri “puisi – puisi” Gus Dur sama dengan menyusuri sumur tanpa dasar, mulai dari “puisi” sepak bola hingga “puisi” sirkus politik.
Don’t make trouble till trouble troubles you. Jangan membuat kesulitan karena kesulitan akan menyulitkanmu, lalu diterjemahkan Gus Dur “gitu aja kok repot”. Hingga kini belum ada pujangga besar yang menandingi Gus Dur apalagi melampauinya.
Membaca Gus Dur sebagai sastrawan adalah tulisan panjang yang berusaha memotret Gus Dur secara detail, melalui kamera “puisi”. Ini merupakan bidikan yang agak ganjil kedengaranya tetapi sebuah usaha yang belum pernah dilakukan oleh orang lain, mendekati pemikiran Gus Dur dengan kaca mata sastra.
Berusaha membingkai pemikiran Gus Dur dengan bingkai sastra memang hal luar biasa, karena selama ini banyak orang berusaha memahami tindakan dan pikiran Gus Dur dengan pendekatan tunggal yaitu penafsiran politik.
Padahal banyak sekali pemikiran Gus Dur tidak bisa dilihat hanya sebatas Politik an sich. Justru jika memahami pemikiran Gus Dur dengan kaca mata “puitik politision” maka seperti tarian ballet Flaminggo tidak cukup kata – kata untuk menggambarkan keindahannya. Dan memang keindahannya sering dangkal jika digambarkan dengan kata – kata, sebuah puisi justru menjadi verbal jika terlalu dijelaskan dengan kata – kata, apalagi dengan menggunakan kata – kata kaca mata kuda.
Sebuah puisi adalah letupan – letupan emosi spontan yang sangat indah, dirangkai dengan kata – kata padat makna. Dan prosa adalah usaha menguraikan keindahan tersebut dengan untaian bunga kata – kata. Disinilah tugas berat Bagus Dilla memilah mana yang puisi dan mana yang prosa atau sampiran semata dari pikiran panjang Gus Dur selama hidupnya.
Saat Gus Dur meninggal dunia, para “penyair palsu” melantunkan syair – syair salon mereka. Jutaan hamparan manusia membanjiri pipi mereka masing – masing dengan air mata, layar kacapun basah kuyup. Teaterikal puisi massal, sutradara dan skenariografi tetap Gus Dur. Pemeran utamanya juga Gus Dur dengan jutaan hamparan manusia sebagai aktornya yang memerankan diri masing – masing.
Sebuah puitikal ending. Tanda epos Gus Dur menutup layar. Jutaan bunga berhamburan mengantar Gus Dur Keharibaan-Nya. Tanpa standing applause. Hingga kini setiap hari epos Gus Dur tetap dirayakan dan di bacakan. “puitikal reading” Gus Dur tetap dimainkan dipojok – pojok kedai pelosok kampung maupun café – café gemerlap di kota metropolitan. Pantarey.
Jakarta, 30 September 2015
=======================
Penulis:
Dienaldo (Penyair, tinggal di Jakarta)

Categories: Apresiasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *