Dia alumni Pesantren Ploso Kediri, sehingga kitab kuningnya mapan. Sesuai tradisi di pesantren Ploso yang istiqamah dengan kitab fikih Fathul Qarib (Taqrib), KH Chamim Syufaat (selanjut, ditulis Kiai Chamim) pun mengampu pelajaran fikih dengan menggunakan kitab tersebut. Sebagai kiai yang rajin, Kiai Chamim tak pernah telat masuk jam-jam pelajaran. Selalu tepat waktu seperti Immanuel Kant yang setia dengan dentang bel gereja. Kiai Chamim mengajar selama tiga tahun selama aku di Tsanawiyah. Dari awal, ia mengajar dari Bab Thaharah hingga Bab Budak (‘itq).
Senyumnya selalu sumringah. Sering menjewer kuping, kalau ada santri yang bandel. Dan, kepala sekolah yang rajin.
Dia alumni Pesantren Ploso Kediri, sehingga kitab kuningnya mapan. Sesuai tradisi di pesantren Ploso yang istiqamah dengan kitab fikih Fathul Qarib (Taqrib), KH Chamim Syufaat (selanjut, ditulis Kiai Chamim) pun mengampu pelajaran fikih dengan menggunakan kitab tersebut. Sebagai kiai yang rajin, Kiai Chamim tak pernah telat masuk jam-jam pelajaran. Selalu tepat waktu seperti Immanuel Kant yang setia dengan dentang bel gereja. Kiai Chamim mengajar selama tiga tahun selama aku di Tsanawiyah. Dari awal, ia mengajar dari Bab Thaharah hingga Bab Budak (‘itq).

Berdiri, nomor 2 dari kiri.

Fikih adalah pelajaran yang membosankan karena melulu berkaitan dengan hukum. Santri-santri banyak yang jenuh mengikuti pelajaran itu. Namun, di tangan Kiai Chamim, fikih menjadi hidup, karena sering diselingi dengan perdebatan dan adu argumen. Antara guru dan murid seolah tidak berjarak, dan itu menjadi metode paling mujarab dari Kiai Chamim untuk memancing keingintahuan (curiosity) yang tinggi dari santri-santrinya. Aku termasuk kelompok yang diam-diam mengamati, tidak seagresif sahabat-sahabat sejawat: Alimun Ichwan, Jihaduddin, Untung Maliki, Gus Kholik, Cak Ulum, dan Cholili. Yang selalu dengan berani beradu argumen dengan Kiai Chamim.
Di ruang kelas itu, Kiai Chamim selalu dinanti untuk diajak beradu argumen. Di saat santri-santri sudah mempersiapkan diri, beliau justru menghabiskan waktu dengan membaca kitab hingga akhir jam pelajaran. Ada rona kecewa, namun begitulah caranya ia memancing emosi santri-santri untuk giat belajar.
Syahdan, di suatu kesempatan. Kiai Chamim membuka perdebatan tentang tafsir ayat: “Matahari berputar di porosnya.” Kiai Chamim ngotot berpendapat jika matahari berputar mengelilingi bumi. Hal ini memancing protes yang besar di ruang kelas. Santri-santri tidak menerima argumen itu. Mereka mengeluarkan dalil-dalil astronomi, dan bla bla bla.
Perdebatan tak berhujung. Kiai Chamim masih bertahan dengan argumennya. Sampai Cholili, sahabatku, berseloroh, ”Sak lancip-lancip pucuk’e dhom, masih lancip argumen Kiai Chamim.” Dia kesal.
Tidak ada benar salah dalam penilaian Kiai Chamim, mungkin. Meskipun fikih selalu berbicara benar dan salah. Tujuannya bukan mencari benar salah dalam diskusi, melainkan semangat belajar dan mengetahui yang harus ditumbuhkan dari santri-santrinya. Dalam kondisi yang salah, Kiai Chamim masih bertahan dan konsisten. Namun, itu bukan sebuah kesalahan, melainkan konsistensi membangun argumen, meski dalam posisi yang salah.
Selasa, 27 Oktober 2015.
=======================
Penulis: M. Sakdillah (author, director, and culture activities).










gayatrimedia.co.id

Categories: Tokoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *