Kami senang gayanya. Dengan tutur katanya. Kami juga senang dengan anekdot-anekdotnya. Terlebih, saat-saat yang dinanti menjelang akhir pelajaran. Minta ijazah amalan darinya. ”Bungkus!” teriak kami. Sebuah kata isyarat untuk mendorong Gus Ishom, demikian sapaan akrabnya, agar mau memberikan amalan. Dan, dia memang memiliki segudang amalan. Mulai dari Majmu’ Syarif, Hirsul Jawsyan, dan lain-lain. Amalan yang selalu di nanti-nanti setiap usai Beliau menamatkan satu buah kitab. Satu amalan yang paling berharga darinya.

Ekskavator Karya-karya Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy’ari

Orang bilang ia prototype Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy’ari. Aku bilang, ah, itu fotokopinya. Aku berharap, ia bisa seperti Hadratus Syekh yang di foto itu. Setua itu. Tapi, Allah berkata lain. Ia meninggal dalam usia masih terbilang muda. 37 tahun. Allahummaghfir lahu.
Senyumnya manis. Suka tersipu-sipu. Tapi itulah daya tariknya.
Ia suka sendiri, bahkan menyendiri. Mungkin sedang mencari inspirasi atau sekadar melepas penat. Aku pernah memergokinya ketika ia sedang berada di tepi dam air sendirian di depan Pesantren Puteri Al-Masyruriyah yang dasuhnya. Karena merasa malu pagi-pagi sudah ke pasar Cukir, aku hanya diam dan berjalan sembari menunduk.
Ia idola semua orang, tidak terkecuali diriku. Namun, aku bukan pengambil kesempatan yang baik agar dekat dengannya atau sekadar bertanya ini-itu seperti kepada ustadz yang lain di pesantren. Yang dekat itu si Aci, temanku orang Jakarta yang bertubuh tambun. Aku hanya pengagum: kesantunan, ketekunan, kharisma, dan kepintarannya.
Ia sering mengritik Gus Dur melalui tulisan-tulisan di koran. Karena, mungkin pengaruh formalisme agama, hingga ia menulis di koran Nasional yang berbau Islamisis. Berbeda dengan Gus Dur yang sering menulis cenderung ke-kiri-kirian. Pengaruh apa yang begitu kuat pada dirinya, aku tidak tahu. Ia mungkin ingin menonjolkan kesantriannya. Kesalafannya. Karena, ia memang dibesarkan di pondok pesantren salaf Lirboyo-Kediri. Dan, sudah menjadi besar ketika pulang ke Tebuireng.
Pada masa itu, partai-partai Islam cuma ada PPP. Tidak seperti sekarang, ada partai putih, merah, kuning, hijau, dan biru. Kalau dulu, identitas Islam memang begitu kuat sebagai gerakan moral yang tidak bisa dibandingkan dengan sekarang yang cenderung sama saja, bahkan bisa lebih parah dengan cara menjual agama. Aku jadi teringat Gus Mus, kalau tidak bisa berpolitik, tidak usah menjual agama, katanya. Nah!
Terlepas dari gaya politik. Aku beruntung dan bersyukur masih diberi kesempatan belajar dengannya di kelas. Belajar ilmu sharaf yang njlimet itu. Terasa seperti mudah setelah diajarkan olehnya. Tidak perlu penjelasan panjang, namun bisa langsung nyantol di dalam benak kepala.
Kami senang gayanya. Dengan tutur katanya. Kami juga senang dengan anekdot-anekdotnya. Terlebih, saat-saat yang dinanti menjelang akhir pelajaran. Minta ijazah amalan darinya. ”Bungkus!” teriak kami. Sebuah kata isyarat untuk mendorong Gus Ishom, demikian sapaan akrabnya, agar mau memberikan amalan. Dan, dia memang memiliki segudang amalan. Mulai dari Majmu’ Syarif, Hirsul Jawsyan, dan lain-lain. Amalan yang selalu di nanti-nanti setiap usai Beliau menamatkan satu buah kitab. Satu amalan yang paling berharga darinya.
Suatu ketika setelah didesak oleh kami untuk memberikan amalan. Dengan tenang seperti biasa, ia diam sambil pura-pura mengingat-ingat sesuatu. Ia memainkan bola matanya. Kami menanti-nanti dengan penuh harap. Kira-kira, amalan apa yang akan diberikan olehnya? Ilmu menghilangkah? Murah rezekikah? Atau?
Tak lama kemudian, ia berkata, ”Siapkan pendengaran! Ini amalan ampuh! Fuh!” katanya.
Kami sigap menyiapkan pena dan kertas. Kami sudah hafal dengan kata “fuh” itu darinya.
”Tidak usah ditulis,” katanya, ”nanti tidak mandi!” katanya sambil tersenyum.
Kami menaruh pena kami.
”Siap?” tanyanya.
”Siap!” jawab kami serentak, tanpa komando.
Gus Ishom mengangkat kedua belah tangannya seperti berdoa. Matanya terpejam.
Kami masih menanti dengan sabar.
Ia membuka sedikit matanya, sambil mulut berkomat-kamit.
”Bismillah,” katanya.
Kami diam.
”Ikuti!” katanya, lagi. ”Bismillah!”
”Bismillah,” jawab kami serentak, penuh antusias.
”Allahumma…”
”Allahumma…”
”Dipekso!”
”Hahaha…,” kami tertawa.
”Lho, itu doa ampuh belajar, biar cepat pintar!” ujarnya dengan nada suara yang sangat kami kenal.
Gus Ishom.
Orangnya tinggi besar. Ganteng. Kulitnya coklat. Ia berjalan pelan, tidak pernah tergesa. Waktu baru pertama pulang rambutnya dibiarkan panjang, mengkilat. Ia suka membaca kitab-kitab kecil, terutama karangan Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy’ari yang sudah dikumpulkannya sejak di Lirboyo. Konon, dia adalah pewaris dan mendapat “mandat langit” untuk membuka secara khusus perpustakaan pribadi Hadratus Syekh yang keramat itu. Semua disalin, dan ditulis ulang. Dengan ketelitian bahasa, dan tentu di usianya yang masih sangat muda belia. Dua puluhan. Di usia itu, jarang ada orang yang memiliki kesadaran dan kepedulian tinggi untuk membaca, apalagi menulis ulang seperti karya-karya Hadratus Syekh yang sangat berharga itu.
Aku belum bisa membaca kitab besar Sahih Muslim. Hanya tabarukan, mengikuti pengajiannya di bulan puasa. Mengalap berkah darinya. Menamatkannya, dan mendapat sanad. Ya, siapa tahu suatu saat, ilmuku sudah cukup untuk membacanya. Yang penting barakah dulu.
Mesjid Tebuireng adalah simbol: kebesaran, kealiman, keagungan, dan kemuliaan. Orang yang membacakan kitab di situ benar-benar pilihan. Sudah tradisi dari zaman Hadratus Syekh, KH Syansuri Badawi, KH Adlan Ali, Gus Ishom, terakhir guru kami, KH Ahmad Musta’in Syafii. Orang-orang pilihan dengan standar kealiman dan disiplin keilmuan yang dimilikinya, karena pengajian itu akan diikuti oleh santri-santri atau kiai-kiai dari seantero negeri yang secara khusus mengalap barakah di sana.
Gus Ishom sering berkata, ”ada unsur horor!” bila ia menyinggung tentang tafsir-tafsir biologis yang memancing santri-santri untuk tertawa. Horor sering memiliki konotasi seksual yang menggugah antusiasme. Bahasa sensitif yang selalu hangat untuk dibicarakan. Tapi, itu bukan esensi. Hanya pancingan agar pengajian berjalan meriah dan tidak mengundang kantuk.
Ada sebuah cerita yang masih kuingat. Tentang tongkat khatib salat Jum’at. Pada suatu salat Jum’at, ceritanya, seorang khatib langsung naik ke mimbar setelah insyiral sudah dilafalkan. Sang khatib, entah lupa atau tergesa, langsung naik ke mimbar, tanpa meraih tongkat yang sudah disiapkan. Merasa tongkat masih dalam genggamannya, sang ma’asyir sambil merangkak sembari menarik jubah sang khatib. ”Anshitu-nya ketinggalan,” kata sang ma’asyir.
Sang khatib diam, kaget. ”Anshitu?” Keningnya berkerut dengan raut muka penuh tanda tanya.
Setelah menunjukkan tongkatnya, barulah sang khatib tersadar. ”Oh, alah, anshitu ternyata tongkat!”
Bagiku, Gus Ishom adalah ekskavator intelektual. Di usianya yang tidak panjang, ia telah menyempatkan jerih payahnya untuk membongkar dan mengeksplorasi karya-karya Hadratus Syekh yang tercecer. Karya-karya yang sudah lapuk itu diteliti lalu ditulis ulang olehnya hingga bisa dibaca kembali. Meski di dalam tulisan-tulisannya di media massa selalu mengritik langkah-langkah politik Gus Dur, namun setiap pulang ke Tebuireng justeru Gus Ishom-lah yang selalu pertama dicari oleh Gus Dur.
Allahumma yarham.
==========================
M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Pesantren

1 Comment

ADEL · Jum 7 Desember 2018 at 12:46

panutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *