Selain para kiai, di pondok pesantrenku juga ada dikenal dengan panggilan “si mbah”. Yang pertama, Mbah Nur Rohman. Dia adalah sahabat karib satu kelas di madrasah. Orangnya khusu dan tawadu. Qurannya lancar, ngewes. Kalau di madrasah sambil nggeremeng (nggumam) membaca Al-Quran secara perlahan. Karena, ia mengambil program sosial di pondok, maka kalau malam hari sering tidak tidur. Ia harus menanak nasi dan memasak sayur di dapur umum. Di pondokku memang demikian, bagi santri yang tidak mampu bisa masuk program ini.

Tapi, pokok persoalan bukan pada program sosial itu. Kelancaran (kelanyahan) serta kepintaran Mbah Nur, demikian aku sering memanggilnya, tidak pernah diragukan. Orangnya zuhud minta ampun, meski sering kuamati dia jarang puasa tirakat. Aku sering iri bahkan coba mencuri-curi ilmu darinya: bagaimana bisa lancar dan pintar sepertinya. Mbah Nur yang “ngantukan” di kelas, tapi pintar. Aku tak tahu kapan ia belajar. Tidak pernah ada waktu luang selalu dijadikannya jam tidur. Tidak duduk di kelas. Duduk di mesjid. Atau, menunggu di kantin. Selalu saja tidur. Wah, bagaimana aku harus seperti itu? Ikutan tidur? Tambah tidak pintar-pintar diriku.
Si Mbah yang kedua adalah Kiai Suryo Ali. Yang satu ini, memang guruku yang suka tirakat. Cukup lama ia puasa menahun. Tidak pernah moka kecuali pada hari diharamkan puasa. Setiap hari sehingga matanya pun kalah. Minus tebal. Apakah dengan puasa mengurangi aktivitasnya? Ternyata tidak. Mungkin, sudah terbiasa, iapun sama saja seperti orang yang tidak puasa. Bahkan, menurut cerita Beliau, pernah ikut kerja kuli angkut batu dan tetap berpuasa. Aku sering ikut sahur dengannya. Hm, yang dimakan cuma nasi dan tahu mentah dipenyet. Sesederhana itu. Tahu dan cabe dipenyet, dijadikan lauk. Begitu dilakukan setiap hari. “Jangan meniru saya,” katanya, melarang. Wah, aku pingin juga sakti, Mbah, pikirku.
Namun, ia memang layak dikagumi. Pintar dan lanyah Al-Qurannya. Tidak percaya? Dia bisa membaca secara sungsang. Membaca Ayat mau dari pangkal, mau dari ujung, mau dari tengah, mau dari pinggir. Hm, seperti sudah menyatu di dalam jiwa dan raganya.
Well, yang satu sahabat, yang satu guru. Kedua-duanya sama sakti dan ajaib! Namun, Mbah Nur Rohman itupun telah kembali keharibaan ilahi ketika sedang menenuaikan salat tahajudnya.
Selasa, 27 Oktober 2015.
======================
M. Sakdillah (author, director, and culture activities)
Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *