Resensi Buku

Judul Buku: Barakallah Lakuma: Kisah-Kisah Berlimpah Seputar Pernikahan dan Keluarga.

Penulis: Muhammad Al-Faiz

Penerbit: Imtiyaz Surabaya
Tahun Terbit : Januari 2018
ISBN : 978-602-7661-93-6


Memetik Hikmah Kisah-Kisah Pernikahan dan Keluarga

Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa tidak ada kisah yang lebih menyentuh sanubari terdalam manusia melebihi kisah kasih dua insan dalam ikatan suci pernikahan dan keluarga. Jika Anda ingin mengetahuinya, maka buku ini layak dibaca. Buku ini berisi sekitar 50 kisah penuh hikmah seputar pernikahan dan keluarga sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’ at-tabi’in, dan salafuna as-shalih yang bersumber dari kitab-kitab turats Islam terdahulu.

Pernikahan pasti dimulai dengan proses melamar. Umumnya, pihak laki-laki (dia sendiri atau keluarganya) yang melamar seorang wanita. Namun demikian, boleh jadi wanita yang melamar lelaki. Seperti Rabiah binti Isma’il, seorang wanita sufi, yang melamar seorang imam yang hafidz serta panutan masyarakat Syam Ahmad bin Abi al-Hawari. Tujuannya bukan karena harta, tahta, dan kasta, namun Rabiah ingin mengabdikan diri dan melayani sang imam itu. Selain itu, dia yang kaya raya ingin menafkahkan hartanya dalam perjuangan Imam Ahmad. (hlm. 6-9).

Dalam kisah lain diceritakan bahwa Sayyidina Umar bin Khattab menikahkan salah seorang putranya dengan gadis pengembala kambing. Umar menemuinya tanpa sengaja. Suatu malam, dia melakukan ronda dan melintasi sebuah lereng gunung di Madinah. Di tengah istirahat sejenaknya, dia tidak sengaja mendengar percakapan antara seorang ibu dengan putrinya.
Si ibu menyuruhnya agar mencampuri susu kambing dengan air, agar susu itu semakin banyak dan penjualannya berlipat. Namun putrinya menolak karena Amirul Mukminin Umar bin Khattab melarang pencampuran susu dengan air. Si ibu tetap bersikeras karena toh Umar tidak mengetahuinya. “Sekalipun Umar tidak tahu, tapi Tuhannya mengetahui. Sungguh beliau telah melarangnya. Aku tidak mau hanya taat di depannya, namun membangkang di belakangnya,” jawab si putri. Kejujuran, sikap teguh, dan ucapan tegas si putri itulah yang membuat Umar terkesima, dan memilihnya untuk dinikahkan dengan seorang putranya. (hlm. 50-51).

Simak pula kisah ini. Seorang pemuda yang merasa sangat bersalah dan berdosa hanya gara-gara berbuka puasa dengan makan separuh buah apel yang dipungutnya saat terapung di sungai seusai ia berwudlu’. Sadar bahwa apel itu bukan miliknya, ia menyusuri aliran sungai hingga ke hulu. Sampai akhirnya, ia melihat kebun apel yang diyakininya sebagai tempat asal apel yang dimakannya separuh itu.
Kepada pemilik kebun, ia meminta maaf dan mohon diikhlaskan separuh apel yang terlanjur dimakannya itu. Jika tidak, maka ia sanggup membayarnya. Pemilik kebun diam-diam mengagumi kejujuran pemuda itu. Lalu, dicarilah cara agar pemuda itu bisa menjadi menantunya. Si pemilik kebun pura-pura menolak permohonan maaf dan pembayaran si pemuda. Ia hanya mau memaafkan jika si pemuda mau menikahi putrinya.
Dari pernikahan pemuda dan putri pemilik kebun itu lahirlah anak yang sangat cerdas Nu’man bin Tsabit (80-150 H), yang kelak dikenal dengan sebutan Imam Abu Hanifah (Imam al-Hanafi). Di hari pertama ia belajar, gurunya memberi kabar gembira bahwa ia telah berhasil menghafal separuh Alquran. Mendengar itu, ayahnya berujar, “Andai aku tak makan separuh buah apel itu, niscaya anakku dapat menghafal seluruh Alquran dalam sehari.” (hlm. 54-57).

Demikian pula dengan Sa’id bin al-Musayyib yang melamar seorang pria untuk dinikahkan dengan putrinya. Ibn Abi Wada’ah adalah nama pria yang beruntung itu. Dia termasuk di antara sekian banyak jemaah yang setia mengikuti pengajian Sa’id. Apa kelebihannya? Apa Ibn Abi Wada’ah kaya, dari keluarga terhormat, atau memiliki pekerjaan yang mapan? Ternyata bukan. Bahkan, ia tumbuh yatim dan hidup miskin. Sa’id mempercayakan putrinya untuk menjadi istrinya karena terkesan dengan akhlaknya. (hlm. 18-23).
Buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang telah menikah dan berkeluarga, namun bagi yang belum menikah. Tetapi, khusus lelaki jomblo harap berhati-hati. Jangan percaya begitu saja kepada informasi yang disampaikan oleh orang lain, bahkan oleh sahabat karibnya sendiri. Bisa jadi akan mengalami seperti halnya al-Mughirah bin Syu’bah. Ia yang mengincar gadis pujaannya harus merelakannya menikah dengan sahabatnya. Pasalnya, ia menuruti saran sahabatnya itu untuk tidak menikahi dengan gadis yang dimaksud itu karena sudah pernah dicium oleh seorang lelaki.
Tidak lama kemudian, sahabatnya itu menikah dengan si gadis yang diincar al-Mughirah. Saat ditanya mengapa justru ia menikahi gadis dulu dikatakannya pernah dicium laki-laki, dijawabnya “Memang ya, aku melihat ayahnya menciumnya sewaktu ia masih kecil,” katanya polos. (hlm. 44-45). Dan masih banyak kisah yang dimuat dalam buku ini.

Buku ini dilengkapi pula dengan kata-kata mutiara dan tuturan hikmah para tokoh. Seperti perkataan Mustafa al-‘Adawi, “Kesalehan kedua orang tua berpengaruh besar kepada kesalehan anak, dan kemanfaatannya di dunia, bahkan di akhirat. Oleh karena itu, kedua orang tua memperbanyak amal saleh agar efeknya memantul kepada anak. Perbaguslah makananmu, hai Ayah, juga minuman dan pakaianmu, supaya kau angkat permohonan doamu kepada Allah dengan tangan yang bersih dan jiwa yang suci sehingga Allah memperkenankannya untuk anak-anakmu, memperbaiki, dan memberkati mereka.” (hlm. 58).

===========================

Peresensi:

Moh. Mahrus Hasan adalah pengurus Pesantren Nurul Ma’rifah Poncogati Bondowoso dan guru MAN Bondowoso. Sedang menempuh S3 di IAIN Jember

Categories: Resensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *