Sudah menjadi ritual di setiap pagi dan sore, aku menunggu di tepi jalan Jombang-Malang. Mengharap rindu yang menyergap kesendirian. Meski, aku tahu itu hanya bayang saja, ketika ia masih sekolah di Aliyah. Atau, berdiri di terminal menanti seolah sekelebat tubuhnya sedang berkejaran dengan waktu. Dia, sebut saja namanya seperti itu.

Aku dicerca Platonis, karena keenggananku menemuinya secara langsung. Diam, menanti keajaiban.

Tapi, Dia juga memang tipe yang susah ditemukan pada masa-masa seperti saat kujumpai. Dia jengah dan risih terhadapku.

Aku hampir berputus asa, ketika ia memutuskan hubungan telepon denganku. Tak ada cara bagiku untuk mengetahui jejak-jejaknya lagi. Dia betul-betul marah padaku. Atau, mungkin lebih dari itu, benci.

Berbulan-bulan, tak ada kabar yang bisa kuakses. Dia benar-benar menghilang. Dunia seperti kiamat, meski rindu itu telah membelenggu di ujung tanduk penantian. Berulang kali, aku coba merangkaikan kata-kata sebagai pelepas hasratku padanya.

Entah, ide mana yang merasukiku. Aku tak lagi seliar pada beberapa masa silam. Aku tak bisa mengejar bayang-bayang tubuhnya, meski hanya melalui status-status rindunya.

Dia memang aneh bagi teman-teman wanitanya. Ada rahasia yang tersimpan erat. Sekelumit foto-foto tidak dapat menggambarkan misteri yang menyelimutinya.

”Itu dulu, Mas,” katanya, membuyarkan lamunanku. Dia telah mengambil posisi di depanku. Menatap tajam ke arah mataku.

Aku mendadak jengah. Lalu, memalingkan muka darinya.

Sekali, ia menarik daguku. ”Kini, sudah berbeda. Aku sekarang milikmu. Apapun itu yang ada pada diriku. Tubuhku, hatiku, bahkan jiwaku.”

Aku tak dapat menahan haru, ketika melihat wajahnya yang begitu memelas.  ”Apakah aku selalu merendahkanmu? Menghinakanmu?”

”Tidak, aku banyak belajar darimu, Mas. Kau bisa baca sendiri bahasaku, kan? Aku ingin menjadi lebih baik di matamu.”

Aku tak dapat menahan gejolak perasaan. Aku raih mukanya, lalu memberi satu kecupan di kening. ”Kau cerminku. Kau cahaya.”

”Itu yang selalu kau katakan, ketika sedang merayuku.”

”Tapi, itu kenyataan, Dia. Kau….”

”Ya, aku mengerti. Kau pun cahayaku.”

”Seberkas cahaya itu muncul dari sorot matamu. Tapi, tidak. Kelebat dan bayanganmu juga. Hanya, aku terlalu pecemburu. Aku telah mengekangmu.”

”Kau tak salah. Aku lah yang salah, terlalu protektif darimu.”

”Aku juga salah. Terlalu ingin tahu tentangmu.”

”Semua itu sudah berlalu, bukan?”

”Ya. Selamanya, aku akan seperti ini. Mereguk semua cahaya yang kau pancarkan. Kau wajah kerinduan,” usikku, dengan senyum.

Kayangan, 14.10; 2 September 2018

Senyumnya yang sumringah sangat membahagiakan. Tatap matanya dari muka yang tertunduk di hadapanku, seakan tak pernah hendak memangsa. Meski telah kuusahakan agar dia mendengar katakataku. Tak jua, Dia memandang dengan antusias. Aku tak tahu: apa yang sedang dipikirkan olehnya. Yang kutahu, hatiku pun penuh gejolak antara berani dan tidak. Dalam basabasi yang purna itulah menghendaki kami serasa tak ingin lagi berpisah.

Berbeda di kala Dia sedang berada di tengah-tengah keramaian. Dia akan selalu tampak bagai pujaan semua orang yang menyapa. Dan, di situ, ujian kesabaran mengharuskan aku bersikap.

Memang tidak semua orang yang dekat dengannya akan merasa tersanjung atau merasa mendapat tempat di hatinya. Simpatik dan pujian tak pernah dihiraukannya, meski sering ditanggapinya dengan serius. Banyak kumbang yang datang dan jatuh. Dan, aku merasa bangga telah mampu menjadi pengisi hatinya.

Dia tak mau diganggu seperti saat itu. Ketika aku menemuinya di dalam dekapan. Dia menumpahkan segala perasaannya bagai menemukan muara dari sungai yang mengalir panjang. Di hadapanku, Dia memang tak pernah berkutik dan mau mengakui semua kesalahannya. Dan, aku tak pernah jemu mengingatkannya, meskipun ia akan merasakan seperti diriku yang sesungguhnya.

Kini, bukan saja aku telah mengenal baik dirinya. Dia pun telah mengenal baik akan diriku, sebagaimana dia mengenal dirinya sendiri. Semua ujaranku selalu meresap di hatinya, seperti pagi itu. Ketika embun merasuk ke pori-pori dedaunan. Aku tak perlu lagi berkata-kata panjang lebar. Tapi, cukup hanya dengan memberikan isyarat hati.

Sama seperti dirinya, aku pun memiliki persoalan-persoalan yang pelik. Tapi, Dia cenderung untuk menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. Tak ingin diganggu, meski tak lepas dari saran-saran dan kehendakku.

Aku adalah  yang selalu hadir dalam jiwa dan pikirannya.

Trenggalek, 14.25, 15 Maret 2019.

==========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *