Pribadinya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Nyaris tidak pernah terlihat, menurut periwayatan sahabat saya, mengumbar kemarahan.  Apalagi kata-kata kasar.

Ini cerita sahabat saya:

Di Martapura, ada seorang kiai (orang banjar menyebutnya Tuan Guru) yang masih berusia muda. Mungkin belum sampai 60 tahun. Tetapi orangnya sangat alim dan arif. Masih keturunan Syaikh Arsyad Al-Banjari, generasi ke 8 kalau gak salah. Dia murid langsung dari Tuan Guru Sekumpul (Syaikh Zaini bin Abdul Ghani) yang kemarin haulnya dihadiri Jokowi.

Pribadinya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Nyaris tidak pernah terlihat, menurut periwayatan sahabat saya, mengumbar kemarahan.  Apalagi kata-kata kasar. Bahkan, kepada santrinya pun dia berlaku sopan. Sehingga dia tidak pernah memanggil santrinya dengan namanya langsung. Tetapi dengan sebutan “ananda”. Layaknya panggilan seorang ayah kepada anaknya.

Masih menurut sahabat saya, tuan guru ini tidak pernah berkonflik ataupun bermasalah dengan pihak lain. Semua orang dihormati dan dimuliakan. Imbal baliknya, semua pihak menghormatinya. Karena memang dia tidak pernah menyinggung pihak lain. Dalam pengajian yang disampaikan, dia biasanya menyampaikan isi kitab saja. Tidak pernah merembet ke mana-mana. Isi pengajian mayoritas berkutat masalah perbaikan kualitas spiritual. Kitab tasawuf biasanya yang dibaca. Terakhir yang dikaji adalah Ihya’ Ulumiddin, karya Imam al-Ghazali.

Ada puluhan santri yang tinggal di asrama dekat rumahnya. Semua dijamin biaya hidup olehnya. Setiap hari, ada majelis taklim kitab-kitab salaf untuk masyarakat sekitar. Seluruh hadirin disuguhi snack. Yang pasti, ada sajian susu segar biar jamaah lebih sehat, kata kawan saya. Para santri, termasuk kawan saya ini, bertugas mengedarkan semua snack tersebut. Semua berasal dari kocek pribadi. Tidak ada bantuan dari pihak lain. Bahkan, setiap sebulan sekali, ada majelis yang lebih besar lagi. Jamaahnya ribuan orang. Semua disuguhi makanan oleh beliau. Sama sekali, tak ada rasa eman dengan harta untuk bersedekah.

Jangan ditanya dari mana uangnya? Apa pekerjaannnya? Punya bisnis apa? Kok, bisa menjamu orang begitu banyak? Kawan saya juga tidak tahu, karena setiap hari, dia ada di rumah. Tidak ke mana-mana layaknya orang bekerja. Apa mungkin ini yang disebut dengan rezeki min haitsu la yahtasib? Wallahu a’lam.

Dahulunya, menurut sahabat saya, tuan guru ini sosok yang sangat bersahaja, untuk tidak menyebut miskin. Tapi kemudian, beliau menjalankan riyadhoh dengan ber-uzlah (sebuah perilaku khas tasawuf) selama kurang lebih 5 tahun (kalau tidak salah) di makam kakeknya, pendiri ponpes Darussalam (pesantren terbesar di Kalsel). Khusus hanya beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga ketika keluar dari tempat uzlahnya, dia kurus kering. Tak tahu cerita selanjutnya, setelah uzlah yang begitu lama itu, semuanya berubah drastis. Secara lahiriah dan batiniah. Husnuzhan saya, Allah telah mengangkat derajatnya secara duniawi dan ukhrawi.

Syahdan, ada seseorang yang sowan kepadanya dan membicarakan ihwal keburukan seorang ustadz. Tapi sebelum pembicaraan lebih panjang, beliau malah berkata dengan lembut, “Tidak usah kita membicarakan keburukan orang lain. Kita perbaiki diri kita dulu saja lah. Kita ini masih banyak salah dan dosa. Belum tentu kita lebih baik daripada dia.”

Nasihat sederhana ini menyiratkan setidaknya beberapa hikmah bagi saya pribadi:

1. jauhi kebiasaan ngrasasni (menggunjing) orang lain. Ini perbuatan tercela.

2. perlu bagi kita untuk terus memperbaiki diri. Mengoreksi kesalahan dan bertaubat dari dosa. Hasibu anfusakum.

3. Tidak usah mencari aib orang lain. Cari saja aib sendiri. Kanjeng Nabi Saw sudah berpesan, kurang lebih sebagai berikut, “Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib sendiri daripada aib orang lain.”

4. jangan pernah menganggap merasa diri lebih pintar, alim, agung, mulia, bertakwa daripada orang lain (baca: kibr). Karena, yang tahu derajat seseorang di sisi Allah, hanya Allah sendiri. Sikap kibr ini sangat lembut sehingga sering muncul tanpa disadari.

5. tidak menganggap remeh orang lain. Apalagi menghinakannya. Boleh jadi, dia lebih dicintai Allah daripada kita. Tidak ada yang tahu, kecuali Allah sendiri. Ini adalah rahasia Ilahi. La yaskhor qoumun min qoumin.

==========================

Penulis:

M. Alaika Salamulloh (Penggiat sufisme, tinggal di Palaihari).

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *